LOGINZhao Fenglin tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap pada ayahnya, tenang, dan dalam. Detik terus berganti. Masih dengan keheningan yang sama. “Ayah sudah memiliki jawaban sendiri,” ucapnya akhirnya.Nada suaranya rendah. Tidak mengiyakan. Namun juga tidak membantah.Zhao Jianwu menatapnya tanpa berkedip.“Kalau aku sudah punya jawaban,” balasnya pelan, “aku tidak akan bertanya padamu.”Kalimat itu terdengar sederhana. Namun cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat.Zhao Fenglin tidak mengalihkan pandangan.“Terkadang,” lanjutnya, “jawaban yang terlalu jelas justru bukan jawaban yang benar.”Zhao Jianwu mengernyit tipis. “Apa maksudmu?”Zhao Fenglin terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab. Seolah menimbang setiap kata yang akan keluar.“Serangan itu tidak bertujuan membunuh,” katanya akhirnya. “Mereka hanya memastikan.”Zhao Jianwu tidak menyela. Ia sudah mendengar bagian ini. Namun ia tetap menunggu.“Jika itu hanya untuk memastikan,” lanjut Zhao Fenglin pe
Langkah kaki itu berhenti tidak jauh dari mereka.Seorang pria paruh baya berdiri di sana. Tubuhnya tegap, auranya tidak kalah kuat dari Zhao Fenglin, namun tidak menekan. Tatapannya lurus, tenang, dan dalam. Tidak ada kemarahan yang terlihat, tapi juga tidak bisa dianggap biasa. “Jenderal Zhao Jianwu,” ucap Yuwen Shuang pelan, sedikit menundukkan kepala.Nada suaranya sopan.Zhao Jianwu mengangguk kecil sebagai balasan. Tatapannya sempat berhenti sejenak pada Yuwen Shuang, cukup lama untuk menunjukkan bahwa ia memperhatikannya, sebelum akhirnya beralih pada putranya.“Fenglin.”Satu panggilan singkat. Namun cukup untuk mengubah suasana.Zhao Fenglin menegakkan tubuhnya sedikit. “Ayah.”Nada suaranya datar seperti biasa. Namun sikapnya berubah. Lebih formal, dan kaku. Zhao Jianwu melangkah mendekat. Tidak terburu-buru. Ia berhenti beberapa langkah dari mereka, menjaga jarak yang cukup. Tatapannya kembali beralih pada Yuwen Shuang.“Putri, maaf mengganggu.”Ucapannya tenang. Tidak ka
Yuwen Shuang tidak langsung menjawab. Ia hanya menahan pandangannya beberapa detik lagi, sebelum akhirnya mengalihkan wajahnya.“Jenderal berbeda dari yang kudengar,” ucapnya perlahan.Kalimat itu sederhana.Namun cukup untuk membuat Zhao Fenglin sedikit mengangkat alisnya.“Berbeda bagaimana?” tanyanya singkat.Yuwen Shuang terdiam sejenak, seolah memilih kata yang tepat. Tatapannya kembali jatuh ke depan, mengikuti arah angin yang bergerak pelan di antara pepohonan.“Tidak sedingin itu,” jawabnya akhirnya.Nada suaranya ringan. Zhao Fenglin tidak langsung merespon. Tatapannya tetap lurus ke depan, sorot matanya berubah sedikit. Lebih dalam, dan sulit dibaca.“Rumor jarang menggambarkan sesuatu dengan tepat,” ujarnya pelan.Jawaban itu terdengar biasa. Namun entah mengapa, ada sesuatu di baliknya.Yuwen Shuang mengangguk kecil. Ia tidak membantah.Beberapa saat berlalu tanpa kata.Lalu, tanpa peringatan, Zhao Fenglin bergerak. Ia melangkah menuju rak senjata yang berada di sisi hal
Cahaya matahari masuk perlahan melalui celah jendela, jatuh tipis di lantai kamar. Udara masih dingin, menyisakan sisa-sisa malam yang belum sepenuhnya hilang. Di atas tempat tidur, Yuwen Shuang sudah terjaga. Namun ia tidak langsung bangkit.Tatapannya lurus ke langit-langit. Pikirannya masih tertinggal pada malam sebelumnya. Tentang percakapan dengan Zhao Fenglin. Tentang peringatan yang ia berikan. Dan entah mengapa, semua itu tidak terasa seperti sekadar kewaspadaan biasa.Ia menghela napas pelan. Lalu, perlahan, ia bangkit dari tempat tidur.Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Seorang pelayan masuk dengan langkah hati-hati, membawa air hangat untuk membersihkan diri. Yuwen Shuang tidak banyak berbicara. Ia hanya mengangguk kecil, membiarkan semuanya berjalan seperti biasa.Namun pikirannya tidak benar-benar tenang.Setelah selesai bersiap, ia melangkah keluar dari kamar.Koridor Kediaman Zhao masih rsepi. Beberapa pelayan sudah mulai bergerak, namun tidak banyak su
Malam di paviliun yang ditinggali Yuwen Liao terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara selain angin yang masuk pelan dari jendela, menggerakkan tirai tipis di sudut ruangan. Lampion kecil masih menyala, tapi cahayanya redup, tidak cukup untuk menghangatkan suasana. Di dekat pintu, Yuwen Liao berdiri dalam diam. Tatapannya lurus ke depan, namun jelas tidak benar-benar fokus pada apa pun.Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia bergerak.Tangannya terangkat, lalu mendorong pintu itu perlahan. Tidak ada suara. Seolah bahkan kayu pun enggan mengganggu malam itu. Ia melangkah keluar tanpa ragu, langkahnya ringan, nyaris tidak terdengar. Para pelayan yang berjaga di luar tetap menundukkan kepala, tidak ada yang berani mengangkat wajah.Yuwen Liao tidak berhenti.Ia berjalan melewati lorong utama, lalu berbelok ke arah yang lebih gelap. Tempat yang jarang dilalui, bahkan di siang hari. Lampu minyak di dinding hanya beberapa yang menyala, sisanya dibiarkan mati. Bayangan jatuh panj
Senyum di wajah Yuwen Shuang perlahan menghilang. Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya sedikit menurun, seolah sedang mengingat sesuatu. Suasana di dalam kamar itu menjadi sunyi, hanya suara api kecil dari lampu minyak yang sesekali berderak pelan.Zhao Fenglin tidak mendesak.Ia berdiri beberapa langkah dari pintu, namun tatapannya tidak pernah lepas dari wajah gadis itu. Perubahan kecil pada ekspresi Yuwen Shuang tidak luput dari perhatiannya.“Aku bertemu dengan Ibu,” jawab Yuwen Shuang akhirnya. Suaranya tenang, tetapi terdengar lebih pelan dari biasanya. “Dan beberapa pelayan Istana dingin.”Zhao Fenglin masih diam.Tatapannya sedikit menyipit, seolah menunggu sesuatu yang belum diucapkan. Yuwen Shuang menyadari itu.Ia mengangkat wajahnya sedikit. “Mengapa Jenderal menanyakan hal ini?”Pertanyaan itu sederhana.Namun Zhao Fenglin tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata, “Ada seseorang yang mencurigakan muncul di Istana dingin.”Nada suarany
Jantung Han Ruoxi berdegup lebih keras.Ia tidak tahu permintaan apa yang akan disampaikan.Ia menunggu dengan sabar ucapan lanjutan dari Selir Li Mei.“Kalau besok, lusa, atau kapanpun. Ada orang Istana yang datang berkunjung kemari, tolong beritahu aku,” lanjut Selir Li Mei dengan pelan. Derajat
“Ibu ….”Suara itu kembali lolos dari bibir Yuwen Shuang. Selir Li Mei kembali berbalik. Ia mendekat kembali, jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas. Kedua mata itu masih terpejam, bulu matanya bergetar pelan seolah sedang terjebak dalam mimpi yang tak ingin dilepaskan.“Ibu, jangan pergi .…”
Han Ruoxi tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan kepada kepala pelayan itu, lalu menoleh pada Yuwen Shuang.“Putri, lanjutkan makanmu. Aku akan kembali sebentar lagi.”Setelah memastikan Yunxi dan Mei’er tetap berada di dalam, ia melangkah keluar dan menutup pintu kamar itu dengan hati-
‘Rasanya mustahil dia mencariku. Aku tak sepenting itu dalam hidupnya.’Yuwen Shuang masih mengingat jelas ucapan Zhao Fenglin di ruang belajar hari itu. Dia tidak akan peduli padanya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau diragukan lagi. Yuwen Shuang pergi menjalankan perintah Kaisar dengan