LOGINRuangan menjadi sunyi setelah kalimat Zhao Fenglin selesai. Api tungku berderak pelan di sudut rumah kayu, sementara angin dingin dari celah jendela membawa aroma asap dan darah yang masih tersisa dari pertempuran sebelumnya. Tatapan semua orang tertuju pada Zhao Fenglin. Karena mereka tahu, pria itu benar. Jika istana mengirim seorang kasim alih-alih langsung menyerbu bersama tiga ribu pasukan, berarti ada sesuatu yang berubah.Wei Chen menyipitkan mata."Menurutmu apa tujuan mereka?"Zhao Fenglin bersandar pelan pada sandaran ranjang. Wajahnya masih pucat karena demam, tetapi sorot matanya tetap tenang."Mereka ingin memastikan sesuatu."Lu Yan mengernyit. "Memastikan apa?""Aku."Ruangan kembali hening.Tatapan Zhao Fenglin jatuh ke arah jendela yang gelap. "Kalau mereka benar-benar yakin aku sekarat, mereka tidak perlu mengirim utusan."Shen Yu yang sejak tadi bersandar di dinding menyeringai tipis. "Jadi mereka takut.""Bukan takut padaku." Suara Zhao Fenglin terdengar pelan. "M
Yuwen Zhen langsung mengerutkan kening. Wajah tenangnya yang sejak tadi hampir tidak berubah kini menunjukkan sedikit ketegangan. "Di mana kurir itu sekarang?" "Sudah diamankan oleh pengawal Gerbang Barat, Yang Mulia," jawab kasim itu cepat. "Kementerian Pengawasan telah menerima laporan dan mengirim orang untuk menginterogasinya." Tatapan Putra Mahkota langsung berubah lebih dalam. "Siapa yang pertama kali membaca surat itu?" "Kepala penjaga gerbang, Yang Mulia." Kasim itu menunduk lebih rendah. "Namun sebelum surat disegel kembali, beberapa orang sudah melihat isinya." Yuwen Zhen terdiam sejenak. Ia tahu apa artinya. Kabar itu akan menyebar jauh lebih cepat daripada yang bisa dikendalikan istana. Di sampingnya, Yuwen Shuang perlahan menurunkan pandangan. Jemarinya yang berada di bawah meja mengepal pelan di balik lengan baju. Masih hidup. Pikiran itu terus terulang di kepalanya. Meski belum ada bukti pasti, secercah harapan yang selama ini berusaha ia tekan
Yuwen Shuang berdiri cukup lama di koridor setelah sidang berakhir. Angin pagi membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, namun pikirannya jauh lebih dingin daripada cuaca hari itu. Ia memahami satu hal dengan sangat jelas. Sidang tadi bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk melihat siapa saja yang masih berani berdiri di pihak Zhao Fenglin. Langkah kaki pelan terdengar dari belakang. "Putri Kedua." Yuwen Shuang menoleh. Seorang kasim tua berdiri beberapa langkah darinya. Ia mengenali pria itu sebagai pelayan yang sering bertugas di sekitar kediaman Putra Mahkota. Wajah pria itu tampak hormat, tetapi juga sedikit gugup. "Ada apa?" tanyanya. Kasim itu membungkuk lebih rendah. "Yang Mulia Putra Mahkota ingin berbicara dengan Putri." Mata Yuwen Shuang sedikit menyipit. Ia tidak menunjukkan keterkejutan, namun rasa waspada kembali muncul. Sejak kembali ke istana, ini adalah pertama kalinya Yuwen Zhen secara pribadi meminta bertemu dengannya. "Di mana?" "Di Paviliu
Aula sidang tetap sunyi setelah Yuwen Shuang selesai berbicara. Puluhan pejabat saling bertukar pandang, namun tidak ada yang segera menjawab. Bukan karena mereka tidak memiliki bantahan, melainkan karena kata-kata Yuwen Shuang terlalu sulit disangkal. Semua orang di ruangan itu tahu berapa banyak perang yang telah dimenangkan Zhao Fenglin untuk kekaisaran.Pejabat yang tadi berbicara berdeham pelan sebelum kembali membuka mulut. Wajahnya masih mempertahankan kesopanan, tetapi sorot matanya mulai tidak nyaman. Ia jelas tidak menyangka Putri Kedua akan melawannya secara langsung di tengah sidang. Selama ini Yuwen Shuang dikenal sebagai putri yang jarang terlibat dalam urusan politik. Karena Yuwen Shuang sejak bayi hingga umur 21 tahun hidup jauh dari Istana, gadis itu tak akan kembali ke Ibu kota kalau Kaisar tak ingin menikahkannya dengan Jenderal Zhao. "Hamba tidak bermaksud menghina jasa Jenderal Zhao," katanya perlahan. "Namun keselamatan kekaisaran harus selalu menjadi prioritas
Yuwen Shuang tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap kasim muda itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. Wajahnya tetap tenang, seolah undangan mendadak menuju sidang istana bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Namun jauh di dalam hatinya, kewaspadaan telah mencapai puncaknya."Katakan pada Putra Mahkota bahwa aku akan segera datang."Kasim itu membungkuk hormat lalu mundur beberapa langkah sebelum pergi. Begitu pria itu menghilang dari halaman, Yuwen Shuang perlahan mengangkat pandangannya ke arah para penjaga yang berdiri di sekitar Istana Musim Semi. Jumlah mereka terlalu banyak untuk sekadar pengamanan biasa. Bahkan beberapa di antaranya adalah pengawal istana yang biasanya bertugas di dekat Aula Naga Emas.Mereka benar-benar tidak berniat menyembunyikan apa pun.Setengah jam kemudian, Yuwen Shuang berjalan menyusuri koridor panjang menuju aula sidang. Para pelayan dan kasim yang berpapasan segera menundukkan kepala memberi hormat. Namun setelah ia lewat, bisika
Fajar datang bersama kabut tipis yang menyelimuti ibu kota. Hujan semalam telah berhenti, meninggalkan udara dingin dan jalanan batu yang masih basah. Langit tampak suram, seolah bahkan cuaca pun memahami suasana yang menyelimuti kediaman keluarga Zhao.Yuwen Shuang sudah bangun jauh sebelum matahari terbit. Ia duduk di depan meja rias tanpa banyak bicara sementara Yunxi menyisir rambutnya perlahan. Di atas meja, beberapa kotak perhiasan terbuka, tetapi hampir semuanya tidak disentuh. Hari ini ia kembali ke istana, namun tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang merasa sedang pulang. Karena tempat megah itu adalah neraka baginya. Ia tidak pernah merasa nyaman, dan aman di sana. Karena selama hidup ia hanya tinggal dalam hitungan bulan di Istana, sebelum akhirnya ia menikah dengan Zhao Fenglin.Mei'er berdiri di samping sambil melipat pakaian terakhir yang akan dibawa. Gadis itu beberapa kali membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Pada akhirnya ia tetap tidak sanggup menyembunyikan
Bibi Sun tidak langsung menjawab pertanyaan itu.Pelayan tua itu menundukkan kepalanya sejenak, seolah sedang mengingat kembali semua percakapan yang ia dengar dari para kasim dan pelayan di luar.“Sejauh yang hamba dengar … belum ada kabar seperti itu, Niangniang.”Li Mei menatapnya tanpa berkedip
‘Rasanya mustahil dia mencariku. Aku tak sepenting itu dalam hidupnya.’Yuwen Shuang masih mengingat jelas ucapan Zhao Fenglin di ruang belajar hari itu. Dia tidak akan peduli padanya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau diragukan lagi. Yuwen Shuang pergi menjalankan perintah Kaisar dengan
Han Ruoxi tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan kepada kepala pelayan itu, lalu menoleh pada Yuwen Shuang.“Putri, lanjutkan makanmu. Aku akan kembali sebentar lagi.”Setelah memastikan Yunxi dan Mei’er tetap berada di dalam, ia melangkah keluar dan menutup pintu kamar itu dengan hati-
Jantung Han Ruoxi berdegup lebih keras.Ia tidak tahu permintaan apa yang akan disampaikan.Ia menunggu dengan sabar ucapan lanjutan dari Selir Li Mei.“Kalau besok, lusa, atau kapanpun. Ada orang Istana yang datang berkunjung kemari, tolong beritahu aku,” lanjut Selir Li Mei dengan pelan. Derajat







