เข้าสู่ระบบYuwen Shuang berdiri cukup lama di koridor setelah sidang berakhir. Angin pagi membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, namun pikirannya jauh lebih dingin daripada cuaca hari itu. Ia memahami satu hal dengan sangat jelas. Sidang tadi bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk melihat siapa saja yang masih berani berdiri di pihak Zhao Fenglin. Langkah kaki pelan terdengar dari belakang. "Putri Kedua." Yuwen Shuang menoleh. Seorang kasim tua berdiri beberapa langkah darinya. Ia mengenali pria itu sebagai pelayan yang sering bertugas di sekitar kediaman Putra Mahkota. Wajah pria itu tampak hormat, tetapi juga sedikit gugup. "Ada apa?" tanyanya. Kasim itu membungkuk lebih rendah. "Yang Mulia Putra Mahkota ingin berbicara dengan Putri." Mata Yuwen Shuang sedikit menyipit. Ia tidak menunjukkan keterkejutan, namun rasa waspada kembali muncul. Sejak kembali ke istana, ini adalah pertama kalinya Yuwen Zhen secara pribadi meminta bertemu dengannya. "Di mana?" "Di Paviliu
Aula sidang tetap sunyi setelah Yuwen Shuang selesai berbicara. Puluhan pejabat saling bertukar pandang, namun tidak ada yang segera menjawab. Bukan karena mereka tidak memiliki bantahan, melainkan karena kata-kata Yuwen Shuang terlalu sulit disangkal. Semua orang di ruangan itu tahu berapa banyak perang yang telah dimenangkan Zhao Fenglin untuk kekaisaran.Pejabat yang tadi berbicara berdeham pelan sebelum kembali membuka mulut. Wajahnya masih mempertahankan kesopanan, tetapi sorot matanya mulai tidak nyaman. Ia jelas tidak menyangka Putri Kedua akan melawannya secara langsung di tengah sidang. Selama ini Yuwen Shuang dikenal sebagai putri yang jarang terlibat dalam urusan politik. Karena Yuwen Shuang sejak bayi hingga umur 21 tahun hidup jauh dari Istana, gadis itu tak akan kembali ke Ibu kota kalau Kaisar tak ingin menikahkannya dengan Jenderal Zhao. "Hamba tidak bermaksud menghina jasa Jenderal Zhao," katanya perlahan. "Namun keselamatan kekaisaran harus selalu menjadi prioritas
Yuwen Shuang tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap kasim muda itu beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. Wajahnya tetap tenang, seolah undangan mendadak menuju sidang istana bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Namun jauh di dalam hatinya, kewaspadaan telah mencapai puncaknya."Katakan pada Putra Mahkota bahwa aku akan segera datang."Kasim itu membungkuk hormat lalu mundur beberapa langkah sebelum pergi. Begitu pria itu menghilang dari halaman, Yuwen Shuang perlahan mengangkat pandangannya ke arah para penjaga yang berdiri di sekitar Istana Musim Semi. Jumlah mereka terlalu banyak untuk sekadar pengamanan biasa. Bahkan beberapa di antaranya adalah pengawal istana yang biasanya bertugas di dekat Aula Naga Emas.Mereka benar-benar tidak berniat menyembunyikan apa pun.Setengah jam kemudian, Yuwen Shuang berjalan menyusuri koridor panjang menuju aula sidang. Para pelayan dan kasim yang berpapasan segera menundukkan kepala memberi hormat. Namun setelah ia lewat, bisika
Fajar datang bersama kabut tipis yang menyelimuti ibu kota. Hujan semalam telah berhenti, meninggalkan udara dingin dan jalanan batu yang masih basah. Langit tampak suram, seolah bahkan cuaca pun memahami suasana yang menyelimuti kediaman keluarga Zhao.Yuwen Shuang sudah bangun jauh sebelum matahari terbit. Ia duduk di depan meja rias tanpa banyak bicara sementara Yunxi menyisir rambutnya perlahan. Di atas meja, beberapa kotak perhiasan terbuka, tetapi hampir semuanya tidak disentuh. Hari ini ia kembali ke istana, namun tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang merasa sedang pulang. Karena tempat megah itu adalah neraka baginya. Ia tidak pernah merasa nyaman, dan aman di sana. Karena selama hidup ia hanya tinggal dalam hitungan bulan di Istana, sebelum akhirnya ia menikah dengan Zhao Fenglin.Mei'er berdiri di samping sambil melipat pakaian terakhir yang akan dibawa. Gadis itu beberapa kali membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Pada akhirnya ia tetap tidak sanggup menyembunyikan
Hujan tidak berhenti sampai menjelang tengah malam. Setelah mengatakan semua akan baik-baik saja, Yuwen Shuang tetap berdiri di aula beberapa saat. Tatapannya mengarah ke halaman yang gelap di luar, sementara pikirannya bergerak jauh lebih cepat dibanding siapa pun di ruangan itu. Perintah Kaisar terdengar sederhana, tetapi maknanya terlalu jelas untuk diabaikan.Han Ruoxi memperhatikan wajah menantunya cukup lama sebelum akhirnya menghela napas pelan.“Shuang'er, kau tidak perlu berpura-pura kuat di depanku.”Yuwen Shuang menoleh. Sorot matanya langsung melunak sedikit saat melihat wanita itu.“Aku tidak berpura-pura, Ibu.”“Kalau begitu kenapa wajahmu seperti orang yang akan pergi berperang?”Pertanyaan itu membuat ruangan hening sejenak.Yunxi dan Mei'er sama-sama menunduk. Karena mereka juga memikirkan hal yang sama sejak tadi.Yuwen Shuang tersenyum tipis.“Mungkin karena memang begitu.”Han Ruoxi membeku.Yuwen Shuang berjalan mendekat lalu menggenggam tangan wanita itu perlahan
Hujan masih turun tipis saat Yuwen Shuang melangkah keluar dari kamar Zhao Fenglin. Angin malam yang dingin menyapu ujung lengan bajunya. Lentera-lentera di sepanjang koridor bergoyang pelan, menciptakan bayangan samar di lantai batu yang basah.Mei'er dan Yunxi mengikuti beberapa langkah di belakang.Tak ada yang berbicara. Karena semua orang merasakan hal yang sama.Kasim pribadi Kaisar datang ke kediaman keluarga Zhao di tengah malam.Itu bukan pertanda baik.Semakin dekat ke aula utama, langkah Yuwen Shuang justru semakin tenang.Air mata yang tadi masih memenuhi matanya perlahan menghilang.Digantikan kewaspadaa.Saat tiba di depan aula, ia langsung melihat beberapa penjaga keluarga Zhao berdiri di luar dengan wajah tegang.Pintu aula terbuka. Cahaya lampu menerangi ruangan yang luas itu.Han Ruoxi sudah berada di dalam. Wajah wanita itu tampak pucat, namun punggungnya tetap tegak.Di hadapannya berdiri seorang pria tua berpakaian kasim istana. Rambutnya sudah memutih sebagian.W
Bibi Sun tidak langsung menjawab pertanyaan itu.Pelayan tua itu menundukkan kepalanya sejenak, seolah sedang mengingat kembali semua percakapan yang ia dengar dari para kasim dan pelayan di luar.“Sejauh yang hamba dengar … belum ada kabar seperti itu, Niangniang.”Li Mei menatapnya tanpa berkedip
“Ibu ….”Suara Yuwen Shuang tenggelam di tengah hiruk-pikuk pertempuran.Kereta kembali berguncang keras. Sesuatu menghantam sisi luarnya hingga kayu tebal itu berderak seakan ingin pecah. Mei’er menjerit pelan dan semakin merapat, sementara Yunxi memeluk tubuh majikannya erat, berusaha menahan gun
‘Rasanya mustahil dia mencariku. Aku tak sepenting itu dalam hidupnya.’Yuwen Shuang masih mengingat jelas ucapan Zhao Fenglin di ruang belajar hari itu. Dia tidak akan peduli padanya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan atau diragukan lagi. Yuwen Shuang pergi menjalankan perintah Kaisar dengan
Han Ruoxi tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan kepada kepala pelayan itu, lalu menoleh pada Yuwen Shuang.“Putri, lanjutkan makanmu. Aku akan kembali sebentar lagi.”Setelah memastikan Yunxi dan Mei’er tetap berada di dalam, ia melangkah keluar dan menutup pintu kamar itu dengan hati-







