ANMELDEN“Bertambah?” tanya Wei Chen dengan ekspedisi wajah berubah.Penjaga Heishan mengangguk cepat.“Pasukan baru datang dari arah timur. Jumlahnya belum jelas karena kabut terlalu tebal, tapi pengintai melihat banyak obor.”Gu Liang langsung mengumpat pelan. “Mereka mau perang penuh sekarang?”Lu Yan menyipitkan mata tajam.“Huo Ren tidak mungkin bergerak sebesar itu tanpa izin istana.”“Artinya istana memang ingin menyelesaikan semuanya malam ini,” sambung Shen Yu santai.Namun sorot matanya jauh lebih dingin dibanding nada suaranya.Tabib tua langsung berdiri sambil menunjuk Zhao Fenglin.“Aku tidak peduli siapa yang datang. Dia tidak boleh keluar dari ruangan ini.”“Kalau mereka menyerbu lagi, seluruh desa akan hancur,” balas Lu Yan dingin.“Dan kalau dia mati sekarang, kalian semua bisa langsung bunuh diri bersama.”Suasana kembali menegang.Di atas ranjang, Zhao Fenglin memejamkan mata beberapa detik.Kepalanya terasa semakin berat.Demam membuat pendengarannya mulai berdengung samar,
Ruangan tetap sunyi setelah kalimat itu keluar dari mulut Zhao Fenglin. Bahkan api tungku seolah terdengar lebih pelan.Lin Shao masih berlutut di lantai dengan wajah pucat pasi. Keringat dingin mengalir di pelipisnya saat tekanan dari ruangan itu semakin menyesakkan.Karena semua orang tahu. Saat Zhao Fenglin berkata akan membunuh seseorang, itu bukan ancaman kosong.Wei Chen akhirnya menarik napas pelan.“Kita harus bergerak lebih cepat dari istana.”Lu Yan mengangguk dingin.“Kalau Xu Guang sudah kembali ke ibu kota, kemungkinan besar mereka sedang menyusun langkah berikutnya.”Shen Yu menyeringai tipis dari sudut ruangan.“Atau mungkin mereka sedang merayakan kematian Jenderal Zhao.”Tatapan Zhao Fenglin turun perlahan.Kematian.Seluruh ibu kota pasti sudah mendengar kabar itu sekarang.Mungkin aula istana sudah dipenuhi ucapan belasungkawa palsu. Para pejabat yang selama ini takut padanya mungkin sedang bernapas lega.Dan di antara semua itu...Yuwen Shuang pasti juga sudah mend
Ruangan langsung sunyi.Api tungku berderak pelan di sudut rumah kayu, namun hawa dingin justru terasa semakin menusuk.Wei Chen berdiri paling dekat dengan pintu. Tatapannya tajam menembus prajurit yang baru masuk tadi.“Di mana dia?”“Diikat di balai desa.”Lu Yan langsung berbalik. “Aku mau lihat sendiri.”Namun sebelum mereka bergerak, suara serak tiba-tiba terdengar dari ranjang. “Bawa dia ke sini.”Semua kepala menoleh.Zhao Fenglin masih terbaring lemah, wajahnya pucat karena demam. Namun matanya sudah terbuka lagi. Dan seperti biasa, sorot itu tetap dingin.Zhao Fenglin menghela napas sejenak. Dibalik ketenangannya, dan ketegangan aura yang keluar darinya itu. Ada kekhawatiran yang tak bisa ia tahan, kepalanya bukan hanya dipenuhi tentang Huo Ren, keadaannya, dan segala masalah yang akan ia hadapi. Melainkan Yuwen Shuang, dan juga Ibunya di Ibu kota yang pasti mengkhawatirkannya. Mereka pasti sudah mendengar tentang kabar kematiannya. Tabib tua langsung mengernyit. “Kau bahka
Kabut malam masih menggantung di atas Desa Heishan saat pasukan kekaisaran mulai mundur perlahan.Namun tak ada seorang pun benar-benar menurunkan kewaspadaan.Api masih membakar beberapa rumah kayu. Asap hitam memenuhi udara dingin, sementara mayat dan darah berserakan di tanah berlumpur. Suara kayu runtuh terdengar sesekali memecah kesunyian.Huo Ren berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya berbalik.Tatapannya tak pernah lepas dari Zhao Fenglin.Dingin, dan tajam. Penuh niat membunuh yang belum tersampaikan.Sementara di sisi lain desa, Lu Yan juga menatapnya tanpa berkedip. Tangan pria besar itu sudah berada di gagang pedang, seolah tinggal menunggu satu gerakan salah untuk langsung menerjang.Ketegangan memenuhi udara.Bahkan para prajurit di belakang Huo Ren ikut menegang.Karena semua orang tahu, jika dua monster itu benar-benar bertarung malam ini, darah yang tumpah tidak akan sedikit.Namun akhirnya Huo Ren tersenyum tipis.“Aku akan menunggu,” katanya pelan.Lalu tatapann
Suara terompet perang kembali menggema dari luar hutan. Panjang. Berat. Menggetarkan seluruh lembah Heishan.Semua orang otomatis berhenti sesaat.Bahkan Huo Ren ikut menoleh ke arah kabut di luar desa.Langkah kaki mulai terdengar. Bukan sedikit, melainkan puluhan. Atau mungkin ratusan.Getarannya bahkan terasa sampai tanah.Wajah wakil pasukan Huo Ren langsung berubah.“Komandan ada pasukan lain masuk.”Tatapan Huo Ren menyipit tajam. “Siapa?”Tak ada yang bisa menjawab.Kabut terlalu tebal untuk melihat jelas. Namun suara derap kuda semakin dekat dari arah utara.Berbeda dengan pasukan kekaisaran yang masuk dari sungai selatan.Api masih berkobar di sekitar desa saat semua orang menunggu dalam tegang. Lalu akhirnya, bayangan pertama muncul dari balik kabut.Penunggang kuda.Berbaju zirah hitam gelap.Diikuti barisan pasukan di belakangnya.Dan saat lentera api memantulkan lambang di dada zirah mereka, wajah Huo Ren akhirnya berubah untuk pertama kalinya malam itu.Wei Chen langsung
Api menyebar cepat di Desa Heishan. Rumah-rumah kayu yang kering langsung terbakar begitu obor jatuh mengenai atap. Asap hitam membubung tinggi bercampur kabut malam, sementara suara teriakan memenuhi seluruh lembah. Anak-anak dan wanita desa mulai berlarian keluar rumah. Penduduk Heishan yang tadi masih bertarung kini berubah semakin brutal setelah melihat desa mereka dibakar. “Bunuh mereka.” “Kepung dari belakang.” Panah-panah kembali melesat dari kegelapan. Seorang prajurit kekaisaran roboh dengan tenggorokan tertembus sebelum sempat berteriak. Namun jumlah pasukan Huo Ren terlalu banyak. Semakin lama, mereka terus mendesak masuk ke pusat desa. Kepala Desa Heishan menghantam kapaknya ke dada seorang pengawal hingga pria itu terpental ke api yang membakar pagar kayu. Wajahnya penuh darah dan amarah. “Anjing istana.” Pria tua pemburu berdiri di atas batu besar sambil terus melepaskan anak panah tanpa henti. Setiap panah selalu menemukan sasaran. Namun tatapannya mulai
Yuwen Shuang melangkah menyusuri koridor. Kini tujuannya jelas, ia ingin menemui Zhao Fenglin di ruang belajar. Di kepalanya ucapan Mei’er berputar, tatapannya fokus ke depan. Beberapa pelayan yang berpapasan dengannya memberikan hormat. Wajah mereka terkejut, tapi Yuwen Shuang tak peduli. Ia hanya
“Nyonya, maaf aku sedikit terlambat.”Yuwen Shuang menghampiri Han Ruoxi yang telah menunggunya di bawah atap teras gerbang dalam. Kereta kuda keluarga Zhao sudah terparkir beberapa langkah dari sana. Dua ekor kuda hitam berdiri tenang, sesekali mengibaskan ekornya. Seorang kusir memegang kendali d
Jantung Han Ruoxi berdegup lebih keras.Ia tidak tahu permintaan apa yang akan disampaikan.Ia menunggu dengan sabar ucapan lanjutan dari Selir Li Mei.“Kalau besok, lusa, atau kapanpun. Ada orang Istana yang datang berkunjung kemari, tolong beritahu aku,” lanjut Selir Li Mei dengan pelan. Derajat
‘Suami?’ Sejujurnya itu masih terasa asing di pendengarannya. Yuwen Shuang menatap Han Ruoxi dengan senyuman sebelum menjawab. “Jenderal Zhao pergi ke ruang belajar, Nyonya,” jawab Yuwen Shuang pada akhirnya. Han Ruoxi terdiam mendengar panggilan Yuwen Shuang padanya. “Putri, maaf sebelumnya. Ak







