Share

3. Kemarahan Nyonya Theresia

Alamat yang Katie berikan menuntun Amelie tiba di sebuah rumah sederhana dengan cat berwarna abu-abu, dengan hamparan rumput tumbuh subur di pekarangan rumah.

Rumah itu tampak sepi, Amelie ragu jika alamat rumah yang Katie berikan ternyata salah.

Tapi, bukankah mustahil jika gadis itu lupa alamat rumah tempat ia dibesarkan oleh kedua orang tuanya?

Amelie menatap sekeliling untuk menunggu seseorang lewat di jalan tersebut. Gadis itu ingin bertanya, 'benarkah rumah yang ada di hadapannya saat ini adalah rumah orang tua Katie?' Sangat disayangkan, jalanan itu sepi.

Suara knop pintu yang bergerak membuat gadis itu menoleh dengan mata berbinar. Dia berharap bisa mendapatkan jawaban yang pasti tentang rumah orang tua Katie.

Seorang wanita kisaran umur 50 tahun muncul dari balik pintu. Wanita itu tersenyum ramah dan segera menghampiri Amelie.

"Kau Amelie Anderson?" tanya wanita tua itu dengan memiringkan kepala.

"Benar, Nyonya, saya Amelie Anderson yang-" belum selesai dengan ucapannya wanita tua itu memotong ucapan Amelie.

"Katie sudah bercerita banyak tentangmu, silahkan masuk," wanita itu menggandeng lengan Amelie dengan antusias.

Melihat kehadirannya disambut baik, Amelie pun tersenyum.

"Perkenalkan, namaku itu Matilda. Panggil saja Bibi, jangan memanggilku Nyonya. Apa kau mengerti?"

Amelie menanggapi ucapan Matilda dengan anggukan kepala.

Wanita itu sedikit cerewet. Dapat Amelie pastikan kecerewetan sahabatnya merupakan turunan dari Matilda.

"Mari aku tunjukkan kamarmu." Matilda membantu Amelie membawakan salah satu tas besar berisi pakaian sembari menunjukan kamar yang hendak ditempati oleh gadis itu.

Sepanjang lorong yang dilalui, Amelie tidak berhenti melihat jajaran foto yang ditempel di dinding. Tak terhitung berapa kali dia melihat wajah Katie mendominasi hampir seluruh figura yang ada disana.

"Dasar gadis narsis," gumam Amelie sembari tersenyum.

Langkah Amelie terhenti saat ia menemukan foto dirinya juga tertempel di dinding.

Gadis itu mengulum senyum. Tampak di foto itu Amelie dan Katie menggunakan gaun yang sama di salah satu gereja di Auckland.

"Kau mungkin tidak akan heran. Semua foto yang tertempel di dinding hampir sembilan puluh persen adalah foto Katie. Kau pasti tahu betapa narsisnya gadis itu." Matilda berdecah sembari menggeleng.

Amelie tertawa mendengarnya. Apa yang wanita itu katakan memang benar.

"Ini kamarmu." Matilda membuka sebuah kamar yang tidak begitu luas dengan single bad dan meja kayu berlapis cat dan pritur di sisi ranjang.

Amelie mengengguk. Kamar itu tidak jauh berbeda dengan kamar yang dia tempati sewaktu bekerja di rumah keluarga Hayes.

"Beristirahatlah, Amelie. Kau pasti lelah. Biar aku siapkan makan malam." Kata Matilda sebelum akhirnya meninggalkan kamar Amelie.

***

Prang!

Suara kaca beradu dengan lantai terdengar lantang di dapur kediaman keluarga Hayes. Semua pekerja menoleh ke arah sumber suara. Namun tidak satu orang pun yang berani mendekat, selain Katie dan Irene yang memang bertugas membersihkan bagian dalam rumah.

"Katie, ini saatnya," bisik Irene sembari mengambil peralatan kebersihan yang biasa dia pakai.

"Tunggu! Biar aku yang melakukannya, Bibi," cegah Katie yang sudah bersiap memasang telinganya untuk menyimak percakapan Jonathan dan Theresia.

Para pekerja begitu yakin jika di dalam sedang terjadi perdebatan antara tuan muda dan nyonya besar. Karena hanya dua orang tersebut yang ada di sana.

Kathie menganggukan kepala sebagai ganti ucapan permisi. Permisi untuk membersihkan serpihan gelas di lantai itu. Bukan, lebih tepatnya permisi untuk menyimak perdebatan antara ibu dan anak.

Katie memunguti serpihan kaca itu dengan pelan untuk mengulur waktu.

"Bisakah kau berhenti memasang wajah sedih dan terus memintaku untuk merestui hubunganmu dengan gadis jalang itu, Jonathan?!" Jerit Theresia dengan berkacak pinggang. "Aku sudah sangat muak mendengarnya." tambah Theresia sebelum akhirnya mebanting vas kaca yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Atmosfer ketegangan begitu ketara. Seketika nyali Katie menciut melihat Theresia yang berapi-api.

"Ibu, aku tidak bisa kah Ibu menyebut nama Amelie dengan baik? Dia bukan wanita jalang, Ibu!" jawab Jonathan dengan suara bergetar.

"Mulai berani kau pada Ibu!" Theresia mendaratkan sebuah tamparan ada pipi Jonathan sebelum akhirnya kembali melempar peralatan kaca yang terjangkau olehnya. Terdengar kembali suara kaca yang beradu dengan lantai.

Jika tadi Katie langsung berlari begitu terdengar suara gelas pecah, tapi tidak untuk kali ini. Nyali Katie menciut. Dia memilih untuk tetap berada di tempat dan membersihkan serpihan kaca itu saat perang dingin antara Theresia dan Jonatan selesai.

"Apa kata orang-orang saat mengetahui putra semata wayangku menghamili anak pembantu, bahkan berniat untuk menikahinya? Jangan naif, Jonathan! Itu sangat memalukan! Suruh gadis itu untuk segera menggugurkan kandunganya!" sarkas Theresia sembari melempar tatapan membunuh kepada putranya.

"Tidak akan, Bu!" pekik Jonathan dengan kedua mata terbuka lebar, sebelum akhirnya dia menambahkan;"Sudah matikah hati nuranimu, sehingga Ibu ingin aku dan Amelie membunuh bayi yang tidak berdosa?!"

"Berani kau menentang Ibu?!" pekik Theresia sembari mendaratkan sebuah tamparan di pipi Jonathan untuk kesekian kali.

Tamparan Theresia begitu keras, menyisahkan rona merah dipipi Jonathan. Pria itu hanya memegangi pipinya tanpa merintih kesakitan.

"Jika kau tidak bisa melakukannya, biar Ibu yang bicara adanya. Katie!"seru Theresia dengan lantang yang berhasil membuat Katie terperanjat, nyaris melompat.

Jonathan hanya mendengus sembari melipat kedua tangan di depan dada. Pria itu merutukki dirinya yang berulang kali berujar kepada Amelie bahwa semua akan baik-baik saja.

'Maafkan kan aku, Amelie.' rintih Jonathan dalam hati.

Gadis berpakaian pelayan itu menarik nafas panjang untuk menghalau rasa takut yang menerjang, dan segera berlari memenuhi seruan nyonya besar.

"Iya, Nyonya," gadis itu menganggukkan kepala memberi hormat kepada wanita angkuh yang berjalan hilir-mudik dengan berkacak pinggang.

"Panggilkan Amelie sekarang juga,"

"Baik, Nyonya," jawab gadis itu kemudian berlalu.

Katie yang sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi berpura-pura seolah-olah dia benar-benar tidak mengerti apapun.

Katie berjalan menuju kamar Amelie agar Theresia tidak mencurigainya. Kemampuan beraktingnya sangat dibutuhkan saat ini.

Saat gadis itu berjalan ke kamar Amelie, Robert, Irene segera berhambur ke arah Katie. Raut kecemasan tergambar jelas pada wajah keduanya.

"Bagaimana? Apakah kemarahan Nyonya Theresia ada kaitanya dengan Amelie?" tanya Irene dengan berbisik. Wanita itu menoleh ke segala arah, memastikan jika Theresia tidak sedang mengawasi pergerakan mereka.

"Benar, Bibi Irene. Kemungkinan buruk itu benar-benar terjadi." raut kesedihan turut menghiasi wajah Katie. Meski sebelumnya dia sudah yakin kemarahan Theresia akan membara begitu mengetahui Amelie mengandung anak Jonathan.

"Katie!" kembali Theresia menyeru namanya.

"Paman, Bibi, aku harus segera menemui Nyonya Theresia. Aku akan mengabarkan kepada kalian jika ada informasi yang penting untuk kalian ketahui," kata Katie yang setelahnya berlari memenuhi panggilan sang majikan.

Robert mengusap wajahnya dengan kasar. Sementara sang istri memilin jemarinya untuk meluapkan kegelisahan hatinya.

"Amelie tidak ada di kamarnya, Nyonya. Saya sudah mencari di taman, tapi tidak ketemu." ucap Katie berusaha terdengar tenang, walau sebenarnya hatinya tengah digelayuti perasaan takut.

"Benarkah? Kau sudah mencarinya dengan benar? Bagaimana jika dia berada di kandang kuda?" desak Theresia.

Katie berusaha untuk tidak memutar bola mata. Dia yang sudah menyarankan gadis itu pergi, sudah pasti Katie tau kalau Amelie tidak berada di kandang kuda.

"Saya juga sudah mencari di sana, Nyonya, tapi saya tidak menjumpai Amelie."

"Panggil kedua orang tuanya kemari." pinta Theresia sembari membuang wajah ke segala arah.

Katie mengangguk sebelum pergi memanggil Robert dan Irene.

"Bagaimana kelanjutanya?" tanya Robert dan Irene secara bersamaan, begitu mendapati gadis itu datang.

"Theresia memanggil Paman dan Bibi."

Robert mendesah sembari mendaratkan satu pukulan ke tembok. Membuat Katie dan Irene meringis, membayangkan bagaimana sakitanya jemari Robert.

"Paman jangan khawatir. Bersikaplah tenang dan berpura-pura seolah tidak tau kemana Amelie pergi." ucap Katie berusaha meyakinkan Irene dan Robert, sebelum akhirnya ia menambahi; "Aku percaya, Paman dan Bibi bisa melakukannya. Cepat kita pergi sekarang, sebelum Nyonya Theresia mengamuk,"

Ketiganya bergegas datang menemui Theresia. Sesampainya disana, mereka di suguhkan dengan tatapan tajam Theresia. Sementara Jonathan sudah tidak terlihat lagi di ruangan itu.

"Kau sudah tau, Robert, bahwa anak gadismu sudah menggoda anakku. Dan kini dia mengaku hamil dengan anakku. Rasanya, sulit dipercaya jika Jonathan anakku yang tampan rupawan dan keturunan keluarga kaya raya jatuh cinta dengan putrimu. Yang tidak lebih hanyalah pembantu di rumahnya sendiri." Theresia mengibas-ngibaskan tangannya dengan angkuh.

Kedua tangan Robert mengepal. Ingin sekali Robert memukul mulut wanita itu hingga semua giginya runtuh. Tapi apa daya? Tapi jika memang dia melakukannya, sudah pasti Theresia tidak segan-segan untuk memecat Robert saat itu juga. Robert sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk membiyayai kebutuhan hidup kedua orang tuanya.

Robert menarik nafas panjang untuk meredam kekesalannya.

"Katakan pada putrimu yang kotor itu untuk segera menggugurkan kandunganya. Kehamilanya hanya menambah beban dan mencoreng citra baik keluargaku." ucap Theresia dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Kenapa diam? Kau tidak tuli, kan, Robert Anderson?" ucapan menyayat kembali lolos dari mulut Theresia.

"Saya pikir, Anda terlalu berlebihan jika mengatakan Amelie sudah menggoda putra Anda, Nyonya." jawab Robert sembari berusaha tetap tenang.

"Jadi? Kau menuduh anakku liar sampai akhirnya dia menghamili anakmu? Jangan gila Robert!" pekik Theresia sembari mendaratkan telunjuk pada kening pria tua itu.

Robert hanya tertunduk pasrah menerima perlakuan Theresia. Sementara Irene dan Katie terus-terusan mengumpat dalam hati melihat Theresia yang berucap dan bertingkah semena-mena.

"Apapun yang terjadi, Amelie harus menggugurkan kandungannya sekarang juga. Aku tidak ingin dia berkeliaran dan mengatakan kepada orang-orang bahwa Jonathan sudah menghamilinya. Katie, berikan ponselmu," Theresia mengadahkan salah satu tangannya.

Katie tidak dapat menolak. Dalam kepasrahan, gadis itu merogoh saku apronnya untuk mengambil hand phone miliknya.

Degup jantung Katie memburu, membuatnya kesulitan menelan liur.

'Semoga Amelie tidak lupa mengganti nomor teleponnya. Oh tuhan, ingin rasanya aku pergi dari sini.' Katie berdoa dalam hati.

Berulang kali Theresia melakukan panggilan telepon kepada Amelie, tapi tidak sekalipun terdengar nada terhubung.

"Sial! Ambil benda ini, aku tidak butuh!" Theresia mengembalikan hand phone Katie dan pergi tanpa permisi.

Ketiganya menghembuskan nafas lega saat wanita itu menghilang dari pandangan.

"Hampir saja jantungku meloncat keluar." gumam Katie sembari memanyunkan bibir.

Ketiganya kembali ke kamar pembantu untuk berdiskusi apa yang sebaiknya Amelie lakukan berikutnya.

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status