Share

6. Pergi ke Waikato

Siang itu sangat cerah. Warna biru menghiasi langit di kota terbesar nomor satu di negara New Zeland itu.

Di sebuah mobil sedan mewah berwarna merah ferarri yang membelah jalan raya, seorang wanita duduk di jok belakang. Dia tampak begitu modis dengan gaun hitam dan tas tangan kulit berwarna merah marun. Jam tangan mahal turut menunjang penampilannya yang mentereng.

"Kita menuju Le French Eatry." titah Theresia kepada sopir pribadinya yang menatap majikannya dari kaca sepion tengah dan menganggukkan kepala setelahnya.

Wanita itu menulis pesan singkat yang berbunyi; "Aku dalam perjalanan menuju Le French Eatry. Tunggulah sebentar."

Theresia kembali menyibukkan kedua tangannya dengan cermin dan lipstik. Disapukannya lipstik merah tua itu di bibirnya yang berbentuk hati, yang berhasil menambah kesan betapa elegan penampilan wanita itu.

Sembari tersenyum antusias, Elena melambaikan tangan begitu mendapati entitas wanita yang sudah dia tunggu kehadirannya sejak 15 menit yang lalu.

Theresia yang menyadari lambaian tangan gadis tersebut tersenyum dan mempercepat langkah kakinya menuju meja tempat gadis itu berada.

"Apakah kau terlalu lama menunggu?" tanya Theresia sembari menyapu kursi yang hendak wanita itu duduki dengan tisu sebelum akhirnya mendaratkan pantat di kursi tersebut.

"Oh, sebentar. Hanya seperempat jam." jawab Elena.

Pandangan Theresia tertuju pada hidangan penutup yang terlihat masih utuh di meja tempatnya saat ini duduk. Wanita itu yakin, makanan itu memang sama sekali belum tersentuh.

"Ini, untukku?" tanya Theresia sembari menunjuk mocha pots de creme dengan jari telunjuk.

Elena mengangguk sembari mengulum senyum, lalu berkata; "Benar, saya memesannya untuk Bibi. Bibi seorang pecinta kopi, bukan?"

"Kau bahkan bisa tau aku sangat menyukai rasa kopi. Kau benar-benar calon menantu idamanku, Elena." ucap Theresia sembari tersenyum bangga kepada Elena.

"Terima kasih." jawab Elena yang kini tersenyum penuh bangga. Satu langkah mencuri hati calon mertuanya sukses dia lakukan.

"Bagaimana perjumpaan pertamamu dengan Jonathan putraku?" Theresia memulai percakapan setelah menyuapkan sesendok dessert ke dalam mulutnya.

Elena tersenyum mendengar pertanyaan Theresia. Tepat seperti apa yang dia mau, tujuannya mengajak Theresia untuk bertemu siang itu memang untuk membicarakan Jonathan yang sama sekali tidak tertarik padanya.

"Dia pemuda yang sangat tampan, Bibi Theresia." jawab Elena yang seketika membuat Theresia tersenyum bangga, namun dengan cepat senyumnya sirna dan berubah dengan alis yang bertaut saat Elena mengucap kata;"Tapi ..."

"Tapi apa?"

"Sepertinya, Jonathan sama sekali tidak tertarik padaku." gadis itu memasang wajah sedih untuk memancing rasa iba dari lawan bicaranya.

"Apa yang membuatmu yakin bahwa putraku tidak tertarik padamu, Elena?"

"Saat dia membawaku di taman malam itu, dia sama sekali tidak menatapku, Bibi. Bibirnya tidak mengucapkan satu kalimat pun, kecuali menyelipkan nama seorang gadis bernama Amelie setiap aku mengajaknya berbicara. Siapa gadis bernama Amelie itu?" tanya Elena dengan salah satu alis terangkat.

Theresia tidak menyangka jika perasaan Jonathan terhadap Amelie tidak berubah sedikitpun, meski dia sudah menghadirkan seorang gadis cantik dari keturunan keluarga kaya yang menurutnya sepadan dengan keluarga mereka.

"Amelie? Dia hanya gadis biasa. Kau tidak perlu risau tentang itu." ucap Theresia sembari mengibaskan salah satu tangan di udara. "Dia bahkan tidak akan bisa mengunggulimu dari segi apa pun, Elena."

Berat bagi Theresia untuk mengakui, bahwa gadis yang bernama Amelie tersebut adalah pembantu dirumahnya sendiri.

"Apakah, Bibi yakin?" tanya Elena dengan keraguan yang masih tersisa.

"Ya. Aku begitu yakin. Kau hanya perlu terus berusaha untuk mengambil hati Jonathan. Cinta bisa tumbuh jika kalian terbiasa bersama."

"Tapi, bagaimana agar aku bisa terus bersama Jonathan?"

"Menikah. Kau harus menikah dengan Jonathan, Elena." pinta Theresia sebelum akhirnya kembali menyuapkan dessert ke dalam mulut.

Elena juga melakukan hal yang sama. Menyendok creme brule miliknya yang sedari tadi tak tersentuh.

Dalam hati Elena tertawa bahagia. Usahanya untuk mendekati pria yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama mendapat dukungan dari Theresia. Ibu yang melahirkan Jonathan.

***

Sore itu, Amelie berada di stasiun kreta Britomart bersama Matilda dan Harry yang mengantarnya. Keheningan meruang diantara mereka bertiga. Masing-masing dari mereka merasa enggan untuk berpisah dengan Amelie, pun sebaliknya.

Kebersamaan dalam satu minggu yang mereka lalui membuat ketiganya hanyut dalam suasana kekeluargaan yang hangat. Berat rasanya jika salah satu dari keluarga harus tinggal terpisah.

"Paman, Bibi, aku pamit. Terima kasih untuk 7 hari kebersamaan kita." ucap Amelie sembari menyeka air mata dengan punggung tangan.

Kereta akan berangkat dalam waktu 10 menit mendatang. Masih ada waktu untuk mereka mengucap kata-kata perpisahan. Dan semoga, ini bukan perjumpaan yang terakhir.

Pemandangan yang berhasil mengundang embun di pelupuk mata Harry dan Matilda.

"Amelie Sayang, jangan berterima kasih untuk itu. Justru kami yang berterima kasih atas kehadiranmu di rumah kami." Matilda merengkuh gadis berwajah sendu itu ke dalam pelukannya.

"Jangan lupa untuk selalu memberi kabar kepada kami, Amelie. Kami sudah menganggapmu seperti anak kami." ucap Harry sembari menepuk pelan bahu Amelie yang masih menangis. Matilda mengangguk setuju dengan apa yang suaminya katakan.

Rasa pedih semakin menggerus hati Amelie. Bagaimana tidak? Setelah dia menjumpai orang lain yang berhati tulus kepadanya, disaat itu juga dia harus meninggalkan mereka. Sesingkat itu waktu yang ia miliki untuk merasakan kehangatan kasih sayang Matilda dan Harry.

"Aku berharap, kita masih bisa bertemu di lain waktu." ucap Amelie saat kreta yang dia tunggu tiba.

"Kami akan meluangkan waktu untuk mengunjungimu, Amelie. Jaga cucuku baik-baik bersamamu." pinta Matilda sembari memegang kedua pundak Amelie.

Gadis itu mengangguk. Senyumnya seketika mengembang saat Matilda mengklaim bahwa bayi di kandungan Amelie adalah cucunya. Tangan Amelie mengelus perut sembari berbisik di dalam hati;'Kau dengar, Sayang? Ini kesekian kali Ibu mendengar orang mengklaim kalau kau itu cucu mereka. Jangan berkecil hati, Anakku. Akan selalu ada cinta untukmu dari manusia berhati tulus.'

"Beri tau kami begitu kau tiba di rumah nenekmu." Harry menimpali.

"Pasti, Paman." Amelie mengangguk yakin dengan senyum terpahat di wajahnya. Dia tidak ingin meninggalkan potret wajah sedih di hati sepasang suami istri tersebut, sebelum akhirnya dia benar-benar pergi dari kota itu.

Pandangan Amelie menatap ke arah luar jendela saat kereta mulai melaju. Tampak dari luar Harry dan Matilda terus melambaikan tangan padanya. Amelie pun membalas lambaian mereka sembari terus tersenyum.

Perlahan dua sosok tersebut terlihat semakin mengecil dan hilang. Menyisahkan Amelie yang menyandarkan punggung pada kursi kereta dengan hembusan nafas sedih.

Dari balik jendela, kedua mata gadis itu menatap menerawang pada langit yang berhiaskan warna orange. Sekelibat demi sekelibat peristiwa yang pernah terjadi melintas dalam benaknya. Kota itu menorehkan banyak warna dalam hidup Amelie. Tentang cinta pertamanya, persahabatan, kehangatan keluarga, dan juga perihnya goresan luka yang menyayat hati.

Tidak ada hal yang lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan dua hal: ucapan Theresia yang memintanya menggugurkan buah cintanya dengan Jonathan, dan mendengar kabar tentang perjodohan Jonathan dengan perempuan lain. Yang sudah bisa ditebak oleh Amelie bahwa perempuan yang dijodohkan dengan Jonathan adalah gadis yang berasal dari keluarga kaya raya.

Kepedihan tak terperi yang ia rasakan mengundang air mata berjatuhan di kedua pipinya. Wanita mana yang bisa merelakan kekasihnya bersanding dengan wanita lain? Membayangkannya saja Amelie tak sanggup.

Amelie memejamkan mata dan berharap luka hatinya akan segera tenggelam dan sirna, bersamaan dengan senja yang telah berganti dengan pekatnya malam.

'Akankah suatu hari aku kembali ke kota ini? Akankah suatu hari aku dan Jonathan bisa kembali bersatu? Aku menyerahkan sepenuhnya takdir hidupku juga anak dalam kandunganku ini kepadamu, Tuhan.' Amelie terus bertanya dalam hati.

Air mata kembali membanjiri kedua pipi Amelie. Mengundang perhatian pria yang duduk bersebelahan dengannya, hendak menawarkan tissu.

"Sebelumnya, maaf, jika aku lancang. Dari tadi aku melihatmu menangis. Apa kau sedang dalam masalah?" ucap pria asing itu sembari menyodorkan beberapa lembar tissu kepada Amelie.

"Oh. Maaf jika Anda berpikir seperti itu. Tapi saya dalam keadaan baik-baik saja saat ini. Terimakasih atas perhatiannya." jawab Amelie sembari mengusap bulir air mata dengan tissu yang pria asing itu berikan.

Dari balik mata Amelie, kesedihan terlihat begitu jelas, meskipun ia berusaha tersenyum lebar.

Pria itu hanya bisa berdecak kagum dalam hati. Bagaimana bisa gadis itu tetap tersenyum, sementara dari kedua mata jernihnya menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam. Yang entah apa penyebap dari kesedihan itu.

'Dia begitu indah, seperti malaikat.' batin pria asing sembari menatap Amelie yang terus berusaha tersenyum.

***

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status