Compartilhar

Bab 3

Autor: Jihan Maharani
Setelah hening selama beberapa saat di ujung telepon, suara Belinda yang tegas dan lugas pun perlahan terdengar, “Untuk apa kamu menanyakan dia? Pria berengsek yang suka gonta-ganti pasangan itu sama sekali nggak pantas ada di hidupmu. Sekarang kamu ada di Kota Anala. Kalau kebetulan bertemu dengannya, hindari saja dia, mengerti?”

Singkatnya, Belinda sangat membenci Ricky dan tidak ada satu kata baik pun dalam penilaiannya terhadap Ricky.

Setelah menutup telepon, Alisha melangkah masuk ke Kediaman Alisha. Perut bagian bawahnya terasa makin sakit.

Alisha lalu mengeluarkan hasil USG dari dalam tasnya.

Di dalam perutnya ada dua kantung kehamilan.

Saat mengetahui hasil pemeriksaan itu, Alisha begitu bahagia sampai ingin menangis.

Akan tetapi, sekarang, Alisha benar-benar ingin menangis ….

Alisha meletakkan hasil pemeriksaan itu. Dia menahan rasa nyeri di perutnya, merapikan kopernya, lalu bersiap meninggalkan Kediaman Alisha.

“Alisha.”

Ricky sudah pulang?

Alisha buru-buru mengambil hasil pemeriksaan itu dan dengan panik menyelipkannya ke bawah sofa.

Ricky melangkah masuk ke kamar utama. Dia melihat Alisha berdiri di samping sofa, dengan sebuah koper di belakangnya.

Ricky pun langsung mengerutkan keningnya dalam-dalam. “Kamu mau ke mana?”

Alisha menatap Ricky lekat-lekat. Suaranya terdengar acuh tak acuh, dengan sedikit nada cemas yang dibuat-buat, “Kakakku besok datang.”

Begitu menyebut kakaknya, sedikit kilatan ekspresi yang tidak biasa melintas di mata Ricky.

Alisha berpikir, seandainya malam ini dia tidak mendengar kata-kata teman-teman Ricky, mungkin dia sama sekali tidak akan menyadari sorot mata Ricky yang terlihat tegang barusan.

Ricky melangkah maju, lalu merengkuh Alisha ke dalam pelukannya. “Aku akan suruh orang untuk membantumu berkemas. Besok, aku akan mengantarmu untuk menjemput di bandara. Malam ini jangan pergi dulu.”

Alisha mendorong Ricky agar menjauh. Tiba-tiba, rasa nyeri yang tajam dan menusuk menghantam perut bagian bawah Alisha. Alisha pun mengerutkan kening dan refleks memegangi perutnya.

Seperti biasa, Ricky begitu teliti dan peka. Suaranya terdengar penuh perhatian, “Perutmu sakit?”

“Mungkin aku mulai haid. Aku ke toilet sebentar.”

Alisha pun bergegas menuju kamar mandi.

Bola mata Ricky yang hitam itu pun sedikit memicing.

Kemudian, Ricky pergi ke dapur.

Di kamar mandi, Alisha mendapati dirinya mengalami pendarahan.

Alisha pun memejamkan mata. Ternyata, dia memang seharusnya menuruti kata dokter, tidak boleh sembarangan.

Akan tetapi, tidak apa-apa. Meski anaknya kembar, Alisha tetap tidak akan mempertahankan mereka.

Alisha lalu mengambil celana dalam baru dari lemari di kamar mandi, memasang pembalut dan sengaja membuang celana dalam yang berlumuran darah itu ke posisi yang sangat menarik perhatian di dalam tempat sampah.

Ricky memang playboy, tetapi dia bukan anak manja yang hanya tahu berfoya-foya. Ricky memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Hanya jika melihatnya sendiri, barulah Ricky akan percaya bahwa Alisha sedang datang bulan.

Alisha tidak akan membiarkan Ricky tahu bahwa dia sedang hamil.

Begitu keluar dari kamar mandi, Ricky masuk sambil membawa sebuah nampan.

Bahkan, cara Ricky melangkah sekalipun begitu anggun dan memikat.

Dia benar-benar sosok yang dianugerahi keberuntungan oleh semesta.

Ponsel Ricky berdering. Dia meletakkan nampan itu, lalu membungkuk dan membelai rambut Alisha. “Aku angkat telepon dulu. Alisha, minumlah selagi hangat.”

Setiap kali Alisha datang bulan, Ricky selalu merebus sendiri teh jahe gula merah untuk Alisha.

Sebelumnya, hal itu membuat Alisha begitu terharu hingga terbuai dan tenggelam dalam cinta.

Sayangnya, sekarang Alisha sudah mengetahui siapa Ricky sebenarnya.

Alisha tidak akan pernah lagi merasa terharu.

Alisha menuang teh jahe di dalam gelas itu ke pot bunga di depan jendela, tanpa merasa sayang sedikit pun.

Alisha baru saja hendak mengambil hasil pemeriksaan dari bawah sofa, ketika Ricky selesai menerima telepon dan kembali masuk.

Alisha pun menggenggam gagang kopernya. “Ricky, aku pergi dulu.”

Penampilan Alisha yang tunduk patuh dan berwajah lembut itu tampak penurut seperti biasanya. Namun, suaranya terdengar sedikit dingin dan kaku, sama sekali tidak menunjukkan rasa enggan berpisah seperti saat Alisha hendak berpisah dengan Ricky sebelumnya.

Ricky terdiam sejenak, lalu bangkit berdiri. “Aku bantu bawakan kopermu.”

Ricky lalu mengambil koper dari tangan Alisha.

Alisha melirik sekilas ke arah sofa, bulu matanya bergetar pelan.

Alisha selalu melarang para pelayan ikut campur membersihkan kamar utama. Jadi, Ricky seharusnya tidak akan menemukan hasil pemeriksaan kehamilan tersebut.

Di luar vila, Alisha duduk di kursi pengemudi sebuah mobil sport atap terbuka. Ricky pun berpesan kepadanya, “Pelan-pelan saja nyetirnya.”

Alisha memundurkan mobil dengan perlahan, lalu melaju keluar dari vila.

Setelah melewati kawasan vila, Alisha menambah kecepatan dan bergegas menuju rumah sakit.

Dia mengalami pendarahan dan sudah diperiksa. Dokter mengatakan masalahnya tidak serius. Setelah disuntik penguat kandungan, Alisha boleh pulang, tetapi harus berhati-hati di rumah. Dokter juga menegur Alisha dengan keras karena sikapnya yang sembrono itu.

Alisha pun berkata dengan nada yang begitu tegas, “Aku nggak lagi menginginkan anak ini. Apa sekarang bisa dilakukan aborsi?”

“Kamu sudah gila, ya? Ini bayi kembar! Berapa banyak orang yang memohon-mohon, tapi nggak bisa mendapatkannya? Kamu malah mau menggugurkannya?”

Bagaimana mungkin Alisha tidak tahu betapa beruntungnya bisa mengandung bayi kembar?

Hanya saja, ayah mereka tidak menginginkan mereka.

Pria itu menganggap kehadiran mereka sebagai salah satu cara untuk mempermalukan Alisha dan Keluarga Avandra.

Bagaimana mungkin Alisha rela bersusah payah mengandung dan melahirkan keturunan untuk pria seperti itu?

Bujukan dokter tidak menggoyahkan tekad Alisha. Alisha tetap bersikeras ingin menggugurkan kandungannya.

Dokter itu pun menghela napas pasrah, “Kalau kamu memang bersikeras menggugurkannya, setelah operasi hari ini, kamu harus istirahat total di tempat tidur selama seminggu. Keguguran itu sama seperti masa nifas, ada banyak hal yang harus diperhatikan ….”

Dokter itu dengan sabar menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan setelah aborsi.

Besok Alisha akan bertemu kakaknya, jadi bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan aborsi malam ini.

Alisha pun terpaksa memilih untuk disuntik penguat kandungan terlebih dahulu.

Setelah kakaknya pergi, dia akan menggugurkan kandungannya.

Sesampainya di apartemen, Alisha masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower.

Malam ini, dia belum sempat membersihkan diri dan di tubuhnya masih tersisa aroma khas Ricky.

Ricky sangat memahami wanita dan tahu persis bagaimana memuaskan mereka.

Setelah mereka bersama, Alisha pernah minum pil pencegah kehamilan setelah berhubungan intim dan ketahuan oleh Ricky.

Kali kedua, ketika Alisha hendak kembali meminum pil itu, Ricky mencium Alisha sambil mengambil pil itu dari mulut Alisha. Ricky lalu berkata bahwa obat hormon merusak tubuh dan Alisha tidak perlu lagi meminumnya, karena Ricky sudah melakukan operasi vaksetomi.

Kasih sayang yang begitu melimpah, yang ditunjukkan Ricky itu membuat Alisha makin mencintai Ricky selama dua tahun ini.

Sekarang, Alisha hanya merasa mual dan ingin muntah.

Alisha membungkuk di atas kloset. Dia muntah-muntah hingga hampir hanya cairan asam saja yang keluar.

Alisha lalu mandi sampai larut malam.

Seluruh tubuh Alisha harum oleh sabun mandi. Akan tetapi, Alisha tetap merasa dirinya kotor. Sekalipun Alisha menggosok kulitnya hingga hampir lecet, dia tetap merasa tidak akan pernah bisa bersih.

Pukul dua dini hari.

Alisha menelepon Kiara Indrawan.

“Kiara, gimana caranya bikin seorang pria mencintaiku, sampai nggak bisa melepaskan diri dariku?”

“Alisha, sejak kecil sampai sekarang, sudah nggak terhitung banyaknya pria yang mencintaimu sampai nggak bisa melepaskan diri darimu. Untuk apa kamu memikirkan hal ini?”

Alisha memiliki tubuh yang proporsional dan lekuk tubuh yang indah. Kulitnya putih bercahaya, rambut lurusnya yang hitam legam menjuntai hingga pinggang dan bulu matanya yang lentik dan panjang bagaikan bunga matahari, sehingga membuat matanya yang indah itu menjadi makin memikat. Sifat Alisha yang lembut dan penurut, menjadikan Alisha sosok idaman di hati para pria.

“Dia bukan pria biasa.”

Kiara terdiam cukup lama, lalu perlahan berkata, “Maksudmu … Ricky?”

Kiara dan Alisha sudah saling kenal sejak kecil dan Alisha hanya pernah menaruh perhatian pada satu orang pria.

Yaitu Ricky.

“Hmm.”

“Bukankah kamu sudah lama nggak lagi menyukainya?”

Di masa remajanya Alisha pernah diam-diam menyukai Ricky selama beberapa waktu dan dia cukup tergila-gila pada Ricky. Begitu tahu Ricky suka balapan motor, Alisha yang biasanya penurut itu pun diam-diam belajar naik motor.

Namun, kemudian, Alisha berhenti menyukai Ricky begitu saja. Sampai sekarang, Alisha tidak pernah memberitahukan alasannya kepada Kiara.

“Aku hanya ingin dia jatuh cinta padaku, tapi aku nggak akan mencintainya.”

“Kamu nggak bakal bisa mengimbangi pria playboy seperti dia. Jangan sampai akhirnya kamu terjebak dan dimanfaatkan olehnya, itu benar-benar nggak sepadan.”

Namun, dia sudah dimanfaatkan oleh Ricky.

Adakah yang lebih buruk dari ini?

Alisha pun mengatupkan bibirnya, “Aku tahu batasnya.”

“Kalau begitu, ceritakan kepadaku apa alasannya?”

Kiara dan Alisha sudah berteman sejak kecil. Di lingkungan pergaulan mereka, keduanya sangat bertolak belakang.

Alisha adalah gadis baik-baik dari keluarga terpandang. Dia putri sosialita.

Sementara, Kiara adalah gadis pemberontak yang sulit diatur. Perilakunya bertolak belakang dengan citra sosialita yang anggun.

Meski berbeda, keduanya sangat dekat dan bisa dibilang tidak terpisahkan.

Alisha pun menahan gejolak perasaannya, “Karena dia ingin menghancurkan Keluarga Avandra.”

“Menghancurkan Keluarga Avandra? Sudahlah, dia pasti akan kalah di tangan Kak Belinda. Kak Belinda seorang diri saja sudah bisa mengalahkannya dengan mudah. Untuk apa kamu mengorbankan dirimu sendiri dengan memanfaatkan kecantikanmu untuk menjebaknya?”

“Kiara, maksudmu ….”

Kiara tiba-tiba sadar dia sudah kelepasan bicara. Kiara pun buru-buru mengalihkan topik pembicaraan. “Nggak apa-apa. Kak Belinda sangat hebat di dunia bisnis. Selama ada Kak Belinda, Ricky nggak akan bisa menghancurkan Keluarga Avandra.”

Alisha menggenggam ponselnya erat-erat. “Kamu menyembunyikan sesuatu dariku.”

Kiara pasti mengetahui suatu rahasia.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 50

    Suasana hati Alisha sedang buruk ketika ponselnya berdering. Ternyata Belinda yang menelepon.Begitu telepon tersambung, suara Belinda terdengar panik.“Alisha, Adjie terluka. Sekarang sedang dirawat di ruang unit gawat darurat Rumah Sakit Umum Kota Anala. Bibi Arini dan Paman Lutfi sedang berlibur ke luar negeri. Bibi Arini sudah meneleponku. Mereka nggak bisa pulang secepat itu. Katanya, karena kamu berada di Kota Anala, dia meminta tolong agar kamu pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Adjie terlebih dulu dan membantu merawatnya.”“Terluka karena apa? Apakah parah?”“Aku sendiri juga kurang jelas. Bibi Arini juga nggak ada di lokasi. Kamu kan lebih dekat, pergilah dulu untuk melihatnya.”“Oke.”Urusan perjodohan itu bermula karena dirinya, maka sudah seharusnya Alisha juga yang menyelesaikannya.Terlepas dari semua itu, mengingat hubungan antara kedua keluarga, karena sudah dihubungi, Alisha memang seharusnya pergi menjenguk.Alisha pun bergegas ke rumah sakit dan berlari menuj

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 49

    Ricky mendekap Alisha erat-erat. Sambil meronta, Alisha berkata, “Lepaskan aku! Pergi saja cari wanita lain, mulai sekarang jangan temui aku lagi!”“Alisha, dengarkan aku,” bujuk Ricky dengan lembut. “Aku benar-benar nggak ada apa-apa dengannya. Aku khawatir kamu salah paham, makanya aku nggak bilang kalau aku pergi menemuinya.”Alisha berbalik dan menatap mata Ricky. “Kalau begitu, katakan padaku, sebenarnya apa hubungan kalian?”“Sudah kubilang, dia istri temanku. Aku dititipi untuk membantu menjaganya.”Masih saja membohonginya!Padahal mereka sudah menikah.“Benarkah?”“Hmm. Aku sudah janji pada temanku untuk menjaganya baik-baik. Dia sedang hamil. Kalau ada urusan, dia mencariku. Jadi, aku harus datang. Alisha, jangan marah lagi, ya?”Ricky tampak penuh kasih sayang dan bersungguh-sungguh, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda sedang membohonginya.Sebenarnya, Alisha tidak peduli dengan semua itu. Dia hanya ingin segera mendapatkan videonya, sekaligus ingin menguji apakah Ricky m

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 48

    Alisha melangkah keluar dari Farley. Mobil Ricky belum pergi. Di bawah cahaya lampu jalan, masih terlihat dua orang di dalam mobil itu sedang membicarakan sesuatu.Alisha bergegas menghampiri mobil Ricky. Lalu, dengan pura-pura riang, dia mengetuk jendela mobil.Ricky menurunkan kaca jendelanya. Begitu melihat Bella duduk di kursi penumpang depan, senyum di wajah Alisha langsung membeku.Kemudian, Alisha berbalik dan berlari pergi.Ricky pun bergegas membuka pintu mobil.“Alisha!”Ricky mengejarnya, lalu meraih pinggang Alisha dan memeluknya dari belakang.Bella yang masih duduk di dalam mobil, mengepalkan tangannya erat-erat.“Lepaskan aku!”Alisha meronta."Alisha, dengarkan aku dulu!"Saat keluar tadi, Alisha masih memakai sepatu hak tinggi yang dia kenakan untuk bekerja di siang hari. Dia lalu menginjak kaki Ricky dengan sekuat tenaga.Ricky merasakan sakit di kakinya dan cengkeramannya sedikit mengendur. Alisha pun menyingkirkan lengan Ricky, lalu berlari pergi.Ricky menahan saki

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 47

    Barulah Ricky bangun dengan perasaan kesal. Dia lalu mengambil ponselnya di atas meja, di samping tempat tidur.Benar saja, setelah selesai menerima telepon, Ricky langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian, Ricky keluar dan mulai berganti pakaian.Setelah Ricky selesai berpakaian, Alisha juga sudah selesai merapikan pakaiannya yang berantakan.Ricky mendekat dan berkata dengan suara serak, “Maaf, ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan di luar. Malam ini … aku utang padamu, besok kutebus.”“Ricky, sudah selarut ini, kamu mau ke mana?” tanya Alisha dengan sengaja. “Apa kamu mau menemui wanita yang kutemui di rumah sakit waktu itu?”“Alisha, jangan berpikiran macam-macam. Aku dan dia nggak ada hubungan apa-apa. Aku ada janji, malam ini nggak pulang. Besok pagi aku jemput kamu, kita berangkat ke kantor bersama, ya?”Alisha seperti biasa, tidak bertanya lebih jauh.Begitu Ricky keluar dari kamar tidur, Alisha cepat-cepat berganti pakaian dan menyusul kelu

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 46

    Ramah dan santun, terpelajar dan berwibawa.Tutur kata Ricky juga terdengar begitu menyenangkan di telinga.Namun, justru Ricky-lah yang bersikeras ingin menghancurkan Alisha.Selesai makan, mereka pulang ke Kediaman Alisha.Begitu mobil berhenti, Ricky langsung menarik Alisha ke dalam pelukannya dan menciumnya dalam-dalam.Malam ini, restoran bergaya klasik tempat mereka makan menyajikan minuman keras dari buah.Ricky menghabiskan satu botol.Minuman ini rasanya asam manis dan enak diminum. Namun, seperti anggur merah, efeknya baru terasa belakangan.Terlihat jelas bahwa Ricky sedikit mabuk. Di sela bibir dan giginya masih tersisa aroma harum dan lembut dari minuman keras berbahan buah itu.Beberapa hari terakhir ini, bukan sekali dua kali Ricky menginginkannya.Ciuman di dalam mobil tadi sudah menjadi isyarat.Tak lama kemudian, Ricky turun dari mobil, lalu menggendong Alisha masuk ke kamar utama.Ciuman bertubi-tubi menghujani Alisha bagai badai.Alisha tahu bahwa setelah minum, has

  • Menjadi Kekasih Musuh Kakakku   Bab 45

    “Kenapa nggak memberitahuku?”“Aku takut kamu khawatir. Aku baik-baik saja, cuma kap mesin dan bumpernya yang rusak.”“Aku akan carikan sopir untukmu. Aku nggak tenang melihatmu seperti ini.”“Benar-benar nggak perlu. Aku cuma kurang hati-hati kali ini, nggak sempat menginjak rem. Aku jamin nggak akan terulang lagi.”Alisha sama sekali tidak ingin Ricky menempatkan satu orang lagi di sisinya.Ricky tidak lagi mengatakan apa-apa. Dia membukakan pintu mobil dan Alisha duduk di kursi penumpang depan. Kemudian, mobil melaju dan berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan.Alisha pun bertanya dengan bingung. “Kamu mau beli sesuatu?”“Nggak belanja bahan masakan?”Alisha tiba-tiba ingat, setiap kali Ricky pulang ke Kediaman Alisha, Alisha selalu memasak sendiri.Tentu saja, kadang-kadang Ricky juga memasak.Entah saat Alisha sedang sakit, atau saat tidak enak badan karena datang bulan.Orang biasanya menjadi rapuh secara psikologis dalam keadaan seperti itu, sehingga perhatian-perhatian Rick

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status