MasukDengan menaiki angkutan umum kini Astri dan Kayla telah tiba d depan sebuah hotel mewah berbintang. Sepanjang perjalanan Kayla tidak henti-hentinya menangis, hal itu membuat dirinya beberapa kali harus mendapat cubitan dan teguran dari sang ibu.
“Bu, aku gak mau menikah. Tolong kasihani aku bu!”
Astri menatap Kayla dengan kedua mata melotot, “Sudah diam saja, kamu jangan banyak membantah. Harus berapa kali ibu bilang berhenti menangis, lihat tuh malu diliatin banyak orang!” omel Astri.
Tubuh Kayla ditarik paksa memasuki hotel itu dan menaiki lift untuk menuju salah satu lantai. Setelah pintu lift terbuka, mereka disambut oleh dua orang lelaki berpakaian hitam.
“Bawa dia.” Titah Astri pada kedua lelaki itu.
“Bu, bu, tolong aku bu. Ibu!” teriak Kayla saat tubuhnya kini dibawa oleh kedua lelaki itu dan dimasukkannya ke dalam salah satu kamar.
“Jaga dia, jangan sampai kabur.” Sahut Astri pada mereka berdua yang kini berdiri di depan pintu kamar hotel. Setelah itu dirinya kembali melangkah menuju salah satu ruangan yang ada di ujung lorong.
Astri mengetuk pintu ruangan itu beberapa kali sebelum kemudian perlahan membuka pintu dan melangkah masuk. Di dalam sana terlihat ada seorang wanita yang usianya hampir sama dengan Astri, sedang berdiri menatap ke arah luar melalui jendela kaca.
“Bu Tamara!” panggil Astri dengan suara pelan.
“Bagaimana Astri apakah kamu sudah membawa anakmu itu?” tanya wanita bernama Tamara itu. Tubuhnya kemudian berbalik dan menatap Astri dengan sorot mata tajam.
“Sudah bu, aku sudah membawa Kayla kesini!” jawab Astri tanpa berani menatap wajah wanita di hadapannya ini.
“Bagus. Dia akan aku nikahkan dengan anakku sebagai pelunas hutangmu. Tapi kamu jangan berharap anakmu itu akan kuanggap sebagai menantu. Tidak sudi aku memiliki menantu dari keluarga miskin seperti kalian.” Ujar Tamara sembari melipatkan kedua tangannya di depan dada.
“Baik bu. Aku mengerti.” Balas Astri.
“Rahasiakan juga pernikahan ini jangan sampai bocor ke orang lain, jika sampai itu terjadi maka berarti kamu pelakunya. Dan siap-siap saja menerima sesuatu dariku!” ancam Tamara.
Dengan cepat Astri langsung menggelengkan kepalanya, “Gak akan bu, janji, aku gak akan membocorkan rahasia ini.” Ucap Astri cepat.
“Bagus, aku pegang janjimu. Sekarang kamu tunggu di aula, aku akan menemui anakku terlebih dahulu.”
Dengan angkuh Tamara melangkah lebih dulu dan diikuti oleh Astri dari belakang. Di luar keduanya berpisah, dimana Astri berjalan menuju aula hotel itu sedangkan Tamara menaiki lift menuju lantai lain.
“Alex, apakah kamu sudah siap sayang?” tanya Tamara saat memasuki salah satu unit kamar yang ditempati oleh putranya itu.
Lelaki tampan bertubuh tinggi yang sedang berdiri di dekat jendela itu memberbalikan badannya, menatap wanita yang sudah melahirkannya itu dengan tatapan dingin, “Aku sebenarnya sangat malas dengan pernikahan ini, tapi semua ini aku lakukan demi kalian.”
Tamara tersenyum dan menyentuh pundak anaknya, “Sayang, maafkan mami. Mami tahu kamu pasti sangat kecewa dengan permintaan mami ini, tapi mau gimana lagi karena ini syarat dari alm kakek kamu agar bisa mewarisi perusahaan kamu harus menikah terlebih dahulu, mami gak mau jika nantinya perusahaan malah akan jatuh ke tangan sepupu kamu yang lain. Lagian usia kamu itu sudah 30 tahun dan sudah seharusnya memiliki seorang istri. Salah kamu sendiri karena selama ini tidak juga mencari pasangan,”
Alex memutar kedua matanya dengan malas, “Mencari istri itu gak gampang mam, aku ingin calon istriku itu mencintai aku dengan tulus bukan karena harta.”
“Iya sayang mama ngerti. Tapi pernikahan kamu sekarang ini hanya untuk syarat agar warisan kakek jatuh ke tanganmu. Cukup pertahankan pernikahan ini selama setahun dan setelah itu kamu buang lagi Kayla.”
“Namanya Kayla? Gue jadi penasaran seperti apa wanita itu.” Batin Alex.
Pernikahan itu digelar sederhana di dalam aula hotel dan hanya dihadiri oleh segelintir orang saja. Untuk Kayla sendiri kini masih terkunci di dalam kamar tanpa mengetahui jika sekarang pernikahan dirinya sedang dilangsungkan.
Tidak berselang lama pintu kamar terbuka, Kayla langsung memalingkan muka saat melihat siapa yang masuk.
“Kayla, sekarang kamu sudah resmi menjadi suami tuan Alex, pernikahan kalian baru saja selesai dilaksanakan. Ibu hanya ingin berpesan satu hal, jangan sampai kamu membuat ibu malu oleh keluarga nyonya Tamara.” Ucap Astri sambil tersenyum tipis.
Lemas sudah tubuh Kayla mendengar perkataan dari ibunya itu, harapannya untuk hidup seolah sirna begitu saja. Kayla benar-benar tak menyangka jika ibunya telah menikahkan dirinya secara paksa.
Ingin sekali Kayla mengumpat dan memaki ibunya itu tapi dirinya tidak memiliki keberanian, alhasil amarahnya itu hanya bisa menumpuk di dalam hatinya.
Kayla tidak mengerti kenapa ibunya ini bisa begitu kejam terhadapnya sampai begitu tega menikahkan dirinya secara paksa. Terbesit dalam pikirannya apakah sebenarnya dirinya ini bukanlah anak kandungnya, karena ibunya itu seolah tidak memiliki rasa kasih sayang sedikitpun?
“Bu, kenapa ibu begitu tega berbuat seperti ini padaku?” suara Kayla terdengar lemas.
Astri tertawa, “Ibu beruntung memiliki anak seperti kamu Kayla, ternyata kamu ada manfaatnya juga. Sekarang ibu sudah tidak memiliki hutang lagi. Haha! Terima kasih Kayla, pasti alm ayahmu akan bangga karena kamu sudah berbakti pada ibumu sendiri.”
Kayla kembali menangis. Suara tangisnya begitu menyayat namun bagi Astri yang tidak memiliki kasih sayang pada Kayla, mendengar suara itu dia malah tersenyum bahagia.
“Ibu pulang dulu. Ingat pesan ibu tadi, jangan buat ibu malu.”
Setelah mengatakan itu Astri keluar dari sana. Setelah ibunya pergi Kayla langsung menjerit mengeluarkan semua rasa sakit hatinya atas nasib hidupnya saat ini. Entah pada siapa dirinya harus mengadu, tidak ada bahu yang bisa dirinya dijadikan sebagai sandaran.
Mungkin hanya kepada angan-angan dirinya bisa bercerita, mencurahkan segala kesedihan hati atas apa yang telah menimpa hidupnya.
Cekrek!
Suara pintu kamar terbuka, Kayla langsung menghapus air matanya sebelum kemudian menoleh untuk melihat siapa yang baru saja membuka pintu.
“Siapa kamu?” tanya Kayla pada wanita asing yang baru pertama kali Kayla lihat. Karena merasa takut Kayla pun langsung berdiri tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun pada wanita yang membawa tas mewah itu.
“Jadi kamu yang namanya Kayla. Hm, cantik sih tapi sayang orang miskin,” ucap wanita itu sambil memandang Kayla dengan rendah, “Saya Tamara, orang tua Alex yang akan menjadi suami kamu.”
“Tamara?” batin Kayla.
“Walau sekarang kamu sudah menjadi istri dari anakku, tapi jangan harap aku akan sudi mengakui kamu sebagai menantu! Aku tidak akan pernah sedikitpun menganggap kamu sebagai menantu sampai kapanpun. Kamu dan ibumu itu hanya orang miskin, jadi jangan berharap lebih apalagi sampai berpikir untuk menguasai harta anakku."
Kayla hanya terdiam, dan hal itu membuat Tamara sedikit jengkel hingga ia pun langsung mendekat dan kemudian menjambak rambut Kayla hingga membuat wajah gadis itu mendongak.
"Argh! Sakit..."
"Ingat, jangan coba-coba untuk menggoda Alex nantinya. Aku tahu orang miskin sepertimu mendapatkan kesempatan seperti ini pasti akan berusaha merayu suaminya untuk memeras seluruh hartanya." Setelah memberikan ancaman Tamara kemudian melepaskan cengkraman tangannya di rambut Kayla sambil sedikit memberikan dorongan, dan setelahnya dia pun bergegas pergi dari sana.
“Lain kali saja ya, tan, soalnya aku lagi buru-buru sekali. Aku janji pasti akan mampir ke rumah tante kok!” tolak Olivia secara halus.“Yeah, jadi kamu gak bisa mampir ke rumah? sayang sekali… Tapi gak papa deh, asalkan kamu janji akan main ke rumah, akan tante tunggu loh. Soalnya banyak hal yang ingin tante tanyakan sama kamu,” Tamara tampak kecewa dengan penolakan itu namun dia masih tetap tersenyum.“Iya, tan, aku pasti akan mampir kok soalnya aku juga ingin bertemu dengan Alex!” jawab Olivia sambil terkekeh kecil, “Ya sudah kalau gitu aku pergi dulu ya tan,”Setelah itu Olivia melangkah pergi meninggalkan toko itu. Kayla yang dari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua, sedikit merasa iri dengan sikap ibu mertuanya yang sangat berbeda jauh. Jika kepadanya mertuanya ini pasti akan bersikap kasar dan seolah tidak punya belas kasih, tapi berbeda pada wanita tadi yang sikapnya terlihat lemah lembut.Hal itu terbukti saat raut wajahnya kini langsung berubah masam setelah melihat k
“Kayla, nanti setelah ini kamu ikut saya!” ujar Tamara saat Kayla sedang menyiapkan sarapan untuk mereka semua.“Iya mam.” Jawab Kayla tanpa berani bertanya lagi karena takut jika nanti dirinya malah akan dimarahi.Setelah suami dan mertuanya laki-lakinya berangkat ke kantor, mami Tamara segera menyuruh dirinya untuk bersiap-siap. Kayla segera menuruti keinginan mertuanya itu, sambil mengganti pakaian di dalam benaknya ia bertanya-tanya kemana mami nya itu akan mengajaknya pergi.Kayla yang memang tidak terbiasa berdandan berlebih, ia hanya memakai make up seadanya seperti bedak dan lipstik saja. Namun walau begitu Kayla tampak terlihat cantik dan itu dipuji oleh bi Inah yang kebetulan berpapasan di anak tangga.“Ah bibi terlalu berlebihan, aku gak cantik kok.” Balas Kayla yang sebenarnya ia merasa senang dengan pujian itu.“Bibi heran sama tuan Alex kok dia gak melihat kamu ya, padahal kamu itu cantik loh. Tapi bibi yakin lama kelamaan juga pasti tuan Alex akan terbuka juga matanya d
“Bagus! Darimana saja kamu keluyuran sampai lupa pulang, sudah berasa jadi nyonya sekarang?”Baru juga Kayla tiba di rumah ia langsung disambut omelan dari mami mertuanya.“Aku tidak berasa jadi nyonya mam, aku juga keluar hanya sebentar ketemu temanku aja kok.” Jawab Kayla, mencoba menjelaskan.Tamara memutar matanya dengan malas, “Alasan, bilang aja kamu itu ingin jalan-jalan sambil memamerkan jika kamu adalah menantu saya pada semua orang diluar sana biar mereka pada tahu dan menganggap jika kamu itu orang hebat, iya kan?”“Aku tidak begitu mam. Jangankan memamerkan pada semua orang, temanku sendiri saja tidak aku beritahu.”“Baguslah, memang kamu itu tidak cocok menjadi menantu saya. Kamu hanya beruntung saja karena ibumu memiliki hutang hingga kamu bisa menikah dan tinggal di rumah saya ini. Orang miskin sepertimu itu tidak akan pernah bisa menjadi menantu saya untuk selamanya, ingat itu.”Kayla hanya menanggapinya dengan tersenyum. Sambil melangkah pergi menuju kamarnya Kayla me
“Kayla bagaimana kabar kamu? Sudah lama sekali kita gak pernah ketemu,” tanya wanita bernama Serlin sambil memeluk Kayla dengan begitu erat.“Kabar aku baik, kabar kamu sendiri gimana? Iya yah, terakhir kita ketemu itu saat lulus sekolah aja.” Balas Kayla.Wanita bernama Serlin itu tersenyum dan langsung mengajak Kayla untuk duduk. Kini mereka berdua sedang berada di sebuah taman, duduk di kursi besi yang ukurannya pas saja untuk mereka berdua tempati.“Kayla, aku kangen banget tau selama ini sama kamu. Di seberang aku selalu mencoba mencari cara untuk mendapatkan nomor kamu tapi susah karena semua teman-teman sekolah kita katanya gak ada satupun yang mempunyai nomor kamu.”Kayla terkekeh mendengar pengakuan Serlin. Memang sudah setahun ke belakang dirinya mengganti ponsel beserta nomornya sehingga wajar saja teman-teman sekolahnya tidak ada satupun yang memiliki nomornya.“Tapi kemarin kamu bisa menghubungiku itu dapat nomornya dari mana?” tanya Kayla yang teringat jika kemarin ada n
Pagi ini Kayla seperti biasa membantu bi Inah menyiapkan sarapan, dan setelah itu dirinya pergi menuju kamar Alex untuk membangunkannya.Tok! Tok! Tok!Beberapa kali Kayla mengetuk pintu kamar itu, “Mas, bangun. Sarapan dulu.”Tidak berselang lama pintu kamar pun terbuka. Alex menatap Kayla tajam lantaran merasa kesal tidurnya harus terganggu. Sedangkan Kayla yang ditatap seperti itu langsung menundukan kepala.“Mas, sarapan dulu. Mami dan ayah juga sudah menunggu di meja makan!”Tanpa mengucapkan sepatah katapun Alex langsung menutup pintu kamarnya dengan lumayan kencang.Brak!Kayla sampai dibuat tercekat dan langsung mengelus-elus dadanya yang kini sudah berdebar beberapa kali lipat, “Apa aku salah?” ucapnya pada dirinya sendiri.Baru saja berbalik badan untuk melangkah pergi, kedua telinganya samar-samar Kayla mendengar suara rincik air. Kayla langsung menebak jika suaminya pasti kini sedang mandi.“Seharusnya sebagai istri aku harus menyiapkan semua keperluan suamiku. Apa sekaran
Astri yang sedang duduk santai sambil menikmati mie instan di ruang tengah rumah sederhana peninggalan alm suaminya, dikejutkan dengan kedatangan Kayla kesana.Kedua mata Astri seketika melotot hingga mie yang sedang dikunyah di dalam mulutnya itu kembali ia muntahkan, “Kayla, apa-apaan kamu. Kenapa kamu datang kesini?” Astri langsung berdiri dari duduknya.Sambil menahan tangisnya Kayla berjalan mendekat dan bersimpuh di hadapan ibunya, “Bu, aku gak mau menikah dengan keluarga itu, mereka itu pada jahat bu, mereka selalu menghina dan merendahkan aku!” kata Kayla dengan suara lirih penuh permohonan.Mendengar itu Astri bukannya merasa iba dia malah menjambak rambut Kayla dengan kuat, hingga membuat si empunya langsung mengerang kesakitan.“Bangun.” Bentak Astri, seraya menarik rambut Kayla agar mau berdiri.“Bu, sakit bu…” air mata yang sedari tadi ia tahan kini tumpah juga. Niat hati pulang ke rumah agar bisa mendapatkan tempat aman, tapi nyatanya malah sama saja.“Kurang ajar. Kamu







