เข้าสู่ระบบDengan paksa Kayla dibawa oleh kedua pengawal Tamara meninggalkan hotel. Kayla beberapa kali sempat memberontak dan memohon supaya dilepaskan, akan tetapi permintaannya itu tidak didengarkan dan Kayla tetap dibawa menggunakan mobil meninggalkan hotel.
Tidak berselang lama mobil yang membawa Kayla berhenti di depan sebuah rumah mewah. Salah satu pengawal langsung menarik tubuh Kayla keluar secara kasar hingga membuat tubuh gadis malang itu langsung tersungkur ke tanah.
Tamara tersenyum sinis, “Bangun!” bentak Tamara dengan kedua mata menatap nyalang.
Sambil meringis menahan rasa sakit pada kedua lututnya yang lecet Kayla mencoba untuk berdiri lalu menatap Tamara dengan tatapan kesal.
Plak!
Tamara yang merasa kesal ditatap seperti itu langsung melayangkan sebuah tamparan, “Jaga pandanganmu…!” serka Tamara, “Kurang ajar, berani sekali kamu menatap saya seperti itu, hah! Bawa dia masuk.” Lanjut Tamara sebelum kemudian tubuhnya berjalan lebih dulu.
Di belakang Kayla diseret oleh pengawal Tamara masuk ke dalam rumah dan kemudian tubuhnya kembali di dorong hingga membentur sofa. Kayla hanya bisa menangis dengan perlakuan mereka terhadapnya.
“Mulai sekarang kamu akan tinggal di rumah ini, dan setiap hari kamu harus membantu bi Inah memasak dan mengurus rumah. Jangan coba-coba untuk kabur dari sini karena apabila itu terjadi maka siap-siap saja ibumu akan menanggung akibatnya.” Ancam Tamara.
Tidak berselang lama terdengar suara langkah kaki mendekat, Tamara menoleh dan tersenyum setelah melihat jika yang datang adalah putranya.
“Alex…”
Mendengar nama yang tidak asing itu disebut Kayla secara spontan langsung mendongak. Kedua matanya menangkap sesosok lelaki tampan bertubuh tegap kini sedang melangkah mendekat.
“Jadi ini lelaki yang menjadi suami aku.” Batin Kayla. Walau dirinya mengakui akan ketampanan lelaki itu, namun Kayla tidak merasa senang jika suaminya bukan lelaki tua.
“Siapa dia mam?” tanya Alex.
“Ini adalah Kayla, istri kamu.” Jawab Tamara.
Alex memperhatikan Kayla dari atas sampai bawah, dan hal itu membuat Kayla sedikit tidak nyaman hingga dirinya kembali menunduk, menatap pada kedua kakinya yang dibaluti oleh sandal jepit.
“Jadi dia wanita yang akan menjadi istriku. Gak ada menariknya.” Batin Alex sebelum kemudian melangkah pergi begitu saja.
“Jangan berharap kamu bisa diakui oleh Alex sebagai istrinya, bahkan saya sendiri tidak akan pernah mengakui kamu sebagai menantu. Ingat pernikahan kalian itu dilakukan secara terpaksa, jadi kamu jangan mentang-mentang istrinya Alex bisa memperlakukan dia sebagai suamimu.”
“Jika aku tidak boleh bersikap sebagai istri, lalu apa gunanya aku disini dan apa untungnya anda menikahkan putra anda itu bersamaku?” tanya Kayla.
Tamara tersenyum mendengar pertanyaan Kayla. Jelas saja dia tidak akan memberitahunya jika tujuan Alex dinikahkan adalah hanya untuk mengejar warisan perusahaan. Tamara takut jika rencananya bocor apabila Kayla sampai tahu tujuan yang sebenarnya.
“Inah!” teriak Tamara.
Dari arah dapur wanita 50 tahunan berlari tergesa-gesa, “Iya nyonya,” sahut bi Inah setelah tiba disana.
“Antarkan dia ke kamarnya.” Titah Tamara seraya menatap Kayla dengan malas.
“Baik nyonya. Ayo non!” ajak bi Inah dengan lembut pada Kayla.
Kamar Kayla berada di lantai atas paling pojok. Ternyata Kayla tidak sekamar dengan Alex dan hal itu memang sudah Kayla tebak sejak awal hingga kini dirinya tidak merasa kaget.
“Non, ini kamarnya,” ucap bi Inah sesaat setelah dirinya membuka pintu kamar itu, “Oh iya kita belum kenalan. Perkenalkan nama saya Inah, non bisa memanggil saya Inah atau bi Inah.”
“Kayla, bi.” Jawabnya.
Bi Inah tersenyum, “Mari non biar saya tunjukan pakaian milik non.” Bi Inah kemudian membuka lemari yang sudah dipenuhi oleh pakaian.
Kayla merasa heran kenapa pakaian-pakaian miliknya itu sudah ada di lemari ini, padahal tadi pagi saat dirinya diajak pergi ia tidak membawa satupun pakaian.
“Saat non belum tiba disini, tadi ada ibu non Kayla datang dan menyerahkan semua pakaian ini.” Ujar bi Inah yang seolah bisa membaca kebingungan Kayla.
“Bi, jangan panggil aku non dong panggil saja Kayla.” Pinta Kayla yang merasa jika panggilan itu tidak pantas disematkan kepada dirinya.
“Tidak non, bagaimanapun juga non itu adalah istri tuan Alex, yang berarti majikan saya. Biarkan saya tetap memanggil non seperti ini.”
Kayla menghela nafasnya, “Bi, walau aku istri pak Alex tapi itu hanya status saja karena kenyataannya aku ini bukan siapa-siapa di rumah ini. Gak pantes rasanya bibi memanggil aku seperti itu karena seolah aku benar-benar majikan bibi.”
“Di mata bibi kamu itu tetap suami pak Alex.”
“Terserah bibi aja deh. Oh iya, sudah lama bibi kerja disini?”
Bi Inah berpikir sejenak, “Lumayan, mungkin sudah 10 tahunan.”
Kedua mata Kayla membulat sempurna, sedikit terkejut mendengar jawaban dari bi Inah, “Wah, lama juga ternyata ya.”
“Iya, non! Ya sudah kalau begitu bibi tinggal dulu ya, non Kayla istirahat dulu aja dan nanti kalau ada apa-apa bisa panggil bibi.”
“Iya bi terima kasih.” Sambil tersenyum Kayla menatap kepergian bi Inah. Dirinya merasa bersyukur karena masih ada orang yang baik kepadanya.
Kayla kemudian merebahkan tubuhnya diatas kasur untuk menghilangkan rasa lelahnya. Sambil menatap langit-langit kamar pikirannya kembali mengingat mengenai nasib hidupnya yang ia alami. Hal itu membuat hatinya kembali bersedih hingga air matanya dengan perlahan keluar melalui sudut matanya dan jatuh di atas bantal.
“Ayah, kenapa ibu bisa sejahat itu sama Kayla? Apa salah Kayla hingga ibu bisa dengan tega menikahkan Kayla hanya untuk membayar hutang-hutangnya? Ayah Kayla tidak mau seperti ini, Kayla ingin menyusul ayah saja.”
Akibat seharian terus-terusan menangis membuat Kayla merasa sangat lelah dan dalam sekejap kesadarannya itu sudah berpindah ke alam mimpi.
Dalam mimpinya itu Kayla bertemu dengan alm ayahnya di sebuah taman, dan ayahnya itu memberikan sepucuk bunga indah yang diselipkan di daun telinga Kayla.
“Anak ayah cantik sekali. Ayah yakin kamu akan bisa melewati cobaan hidup karena kamu juga adalah anak yang kuat. Jangan bersedih lagi Kayla karena ayah sayang sama kamu.”
Setelah mengucapkan itu terlihat jika ayahnya berjalan menjauh, Kayla yang merasa panik sambil menangis ia berusaha berlari untuk mengejar ayahnya, namun semakin dikejar ayahnya terlihat semakin menjauh.
“Ayah…!” teriak Kayla sambil terbangun dari tidurnya. Nafasnya memburu dengan keringat dingin keluar dari sela-sela rambutnya. Sadar jika barusan adalah mimpi Kayla pun langsung menangis sambil memeluk bantal, mengenang masa-masa kebersamaan dirinya bersama sang ayah semasa masih hidup.
Rasanya baru saja dirinya terlelap tapi kini Kayla sudah harus bangun lagi setelah mendengar suara tarhim dari salah satu masjid melalui pengeras suara. Walau masih merasa ngantuk Kayla memaksakan diri untuk bangun karena sebagai seorang muslim ia harus melaksanakan sembahyang sebagai kewajibannya.
“Lain kali saja ya, tan, soalnya aku lagi buru-buru sekali. Aku janji pasti akan mampir ke rumah tante kok!” tolak Olivia secara halus.“Yeah, jadi kamu gak bisa mampir ke rumah? sayang sekali… Tapi gak papa deh, asalkan kamu janji akan main ke rumah, akan tante tunggu loh. Soalnya banyak hal yang ingin tante tanyakan sama kamu,” Tamara tampak kecewa dengan penolakan itu namun dia masih tetap tersenyum.“Iya, tan, aku pasti akan mampir kok soalnya aku juga ingin bertemu dengan Alex!” jawab Olivia sambil terkekeh kecil, “Ya sudah kalau gitu aku pergi dulu ya tan,”Setelah itu Olivia melangkah pergi meninggalkan toko itu. Kayla yang dari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua, sedikit merasa iri dengan sikap ibu mertuanya yang sangat berbeda jauh. Jika kepadanya mertuanya ini pasti akan bersikap kasar dan seolah tidak punya belas kasih, tapi berbeda pada wanita tadi yang sikapnya terlihat lemah lembut.Hal itu terbukti saat raut wajahnya kini langsung berubah masam setelah melihat k
“Kayla, nanti setelah ini kamu ikut saya!” ujar Tamara saat Kayla sedang menyiapkan sarapan untuk mereka semua.“Iya mam.” Jawab Kayla tanpa berani bertanya lagi karena takut jika nanti dirinya malah akan dimarahi.Setelah suami dan mertuanya laki-lakinya berangkat ke kantor, mami Tamara segera menyuruh dirinya untuk bersiap-siap. Kayla segera menuruti keinginan mertuanya itu, sambil mengganti pakaian di dalam benaknya ia bertanya-tanya kemana mami nya itu akan mengajaknya pergi.Kayla yang memang tidak terbiasa berdandan berlebih, ia hanya memakai make up seadanya seperti bedak dan lipstik saja. Namun walau begitu Kayla tampak terlihat cantik dan itu dipuji oleh bi Inah yang kebetulan berpapasan di anak tangga.“Ah bibi terlalu berlebihan, aku gak cantik kok.” Balas Kayla yang sebenarnya ia merasa senang dengan pujian itu.“Bibi heran sama tuan Alex kok dia gak melihat kamu ya, padahal kamu itu cantik loh. Tapi bibi yakin lama kelamaan juga pasti tuan Alex akan terbuka juga matanya d
“Bagus! Darimana saja kamu keluyuran sampai lupa pulang, sudah berasa jadi nyonya sekarang?”Baru juga Kayla tiba di rumah ia langsung disambut omelan dari mami mertuanya.“Aku tidak berasa jadi nyonya mam, aku juga keluar hanya sebentar ketemu temanku aja kok.” Jawab Kayla, mencoba menjelaskan.Tamara memutar matanya dengan malas, “Alasan, bilang aja kamu itu ingin jalan-jalan sambil memamerkan jika kamu adalah menantu saya pada semua orang diluar sana biar mereka pada tahu dan menganggap jika kamu itu orang hebat, iya kan?”“Aku tidak begitu mam. Jangankan memamerkan pada semua orang, temanku sendiri saja tidak aku beritahu.”“Baguslah, memang kamu itu tidak cocok menjadi menantu saya. Kamu hanya beruntung saja karena ibumu memiliki hutang hingga kamu bisa menikah dan tinggal di rumah saya ini. Orang miskin sepertimu itu tidak akan pernah bisa menjadi menantu saya untuk selamanya, ingat itu.”Kayla hanya menanggapinya dengan tersenyum. Sambil melangkah pergi menuju kamarnya Kayla me
“Kayla bagaimana kabar kamu? Sudah lama sekali kita gak pernah ketemu,” tanya wanita bernama Serlin sambil memeluk Kayla dengan begitu erat.“Kabar aku baik, kabar kamu sendiri gimana? Iya yah, terakhir kita ketemu itu saat lulus sekolah aja.” Balas Kayla.Wanita bernama Serlin itu tersenyum dan langsung mengajak Kayla untuk duduk. Kini mereka berdua sedang berada di sebuah taman, duduk di kursi besi yang ukurannya pas saja untuk mereka berdua tempati.“Kayla, aku kangen banget tau selama ini sama kamu. Di seberang aku selalu mencoba mencari cara untuk mendapatkan nomor kamu tapi susah karena semua teman-teman sekolah kita katanya gak ada satupun yang mempunyai nomor kamu.”Kayla terkekeh mendengar pengakuan Serlin. Memang sudah setahun ke belakang dirinya mengganti ponsel beserta nomornya sehingga wajar saja teman-teman sekolahnya tidak ada satupun yang memiliki nomornya.“Tapi kemarin kamu bisa menghubungiku itu dapat nomornya dari mana?” tanya Kayla yang teringat jika kemarin ada n
Pagi ini Kayla seperti biasa membantu bi Inah menyiapkan sarapan, dan setelah itu dirinya pergi menuju kamar Alex untuk membangunkannya.Tok! Tok! Tok!Beberapa kali Kayla mengetuk pintu kamar itu, “Mas, bangun. Sarapan dulu.”Tidak berselang lama pintu kamar pun terbuka. Alex menatap Kayla tajam lantaran merasa kesal tidurnya harus terganggu. Sedangkan Kayla yang ditatap seperti itu langsung menundukan kepala.“Mas, sarapan dulu. Mami dan ayah juga sudah menunggu di meja makan!”Tanpa mengucapkan sepatah katapun Alex langsung menutup pintu kamarnya dengan lumayan kencang.Brak!Kayla sampai dibuat tercekat dan langsung mengelus-elus dadanya yang kini sudah berdebar beberapa kali lipat, “Apa aku salah?” ucapnya pada dirinya sendiri.Baru saja berbalik badan untuk melangkah pergi, kedua telinganya samar-samar Kayla mendengar suara rincik air. Kayla langsung menebak jika suaminya pasti kini sedang mandi.“Seharusnya sebagai istri aku harus menyiapkan semua keperluan suamiku. Apa sekaran
Astri yang sedang duduk santai sambil menikmati mie instan di ruang tengah rumah sederhana peninggalan alm suaminya, dikejutkan dengan kedatangan Kayla kesana.Kedua mata Astri seketika melotot hingga mie yang sedang dikunyah di dalam mulutnya itu kembali ia muntahkan, “Kayla, apa-apaan kamu. Kenapa kamu datang kesini?” Astri langsung berdiri dari duduknya.Sambil menahan tangisnya Kayla berjalan mendekat dan bersimpuh di hadapan ibunya, “Bu, aku gak mau menikah dengan keluarga itu, mereka itu pada jahat bu, mereka selalu menghina dan merendahkan aku!” kata Kayla dengan suara lirih penuh permohonan.Mendengar itu Astri bukannya merasa iba dia malah menjambak rambut Kayla dengan kuat, hingga membuat si empunya langsung mengerang kesakitan.“Bangun.” Bentak Astri, seraya menarik rambut Kayla agar mau berdiri.“Bu, sakit bu…” air mata yang sedari tadi ia tahan kini tumpah juga. Niat hati pulang ke rumah agar bisa mendapatkan tempat aman, tapi nyatanya malah sama saja.“Kurang ajar. Kamu







