ログイン“Count Bristow,” gumamnya akhirnya, suaranya rendah, nyaris tak terdengar.Nama itu jatuh begitu saja di udara dingin.Dan membawa beban yang tidak ringan.Duke Fenrath tidak langsung bicara. Matanya menyipit, meneliti wajah di hadapannya dengan seksama, seolah masih mencari kemungkinan bahwa ini hanyalah kesalahan.Namun tidak.Itu benar dia.Dan justru itulah masalahnya, semua ini tanpa peringatan—Duk!Tinju Fenrath melesat cepat, menghantam wajah Count Bristow dengan keras. Tubuh lelaki itu terhuyung seketika, sebelum akhirnya jatuh tak berdaya ke tanah, kesadarannya lenyap dalam satu pukulan.Semuanya terjadi begitu cepat. Prajurit di sekitar bahkan tidak sempat bereaksi.Kurtcher menoleh tajam. “Mengapa kau lakukan itu?”Nada suaranya tidak meninggi, namun jelas berisi ketidaksetujuan.Fenrath mengibaskan tangannya pelan, seolah baru saja mengusir sesuatu yang mengganggu. Wajahnya kembali tenang, meski ada sisa emosi yang belum sepenuhnya hilang.“Aku kesal,” jawabnya singkat.T
Fajar di utara tidak pernah benar-benar membawa kehangatan.Cahaya matahari muncul pucat di balik lapisan awan tipis, menembus kabut yang menggantung rendah di antara pepohonan tinggi. Udara terasa dingin dan lembap, menempel di kulit seperti sesuatu yang tidak diinginkan. Hutan itu sunyi, terlalu sunyi seolah seluruh kehidupan di dalamnya memilih untuk diam, menunggu sesuatu yang akan terjadi.Di tengah hamparan pepohonan itu, sebuah tempat terbuka terbentang.Tidak luas, namun cukup untuk menjadi pusat perhatian.Dan di sanalah, permainan dimulai.Duke Kurtcher sudah berada di posisinya.Ia berdiri di balik batang pohon besar, tubuhnya hampir sepenuhnya tersembunyi oleh bayangan. Mantelnya yang gelap bergerak pelan diterpa angin, namun tidak ada gerakan lain dari dirinya. Tatapannya lurus ke depan, tajam, menembus kabut yang sesekali bergeser, seolah ia mencoba melihat sesuatu yang belum muncul.Tidak ada kegelisahan di wajahnya.Hanya ketegangan yang terkontrol.Dan kesiapan untuk
“Ibu Suri bukan ancaman terbesar,” ucap Calix lagi, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.Tatapannya menyipit sedikit.“Orang yang tidak tahu apa yang mereka lakukan… hanya akan menghancurkan diri mereka sendiri.”Ia berhenti sejenak.“Yang berbahaya… adalah mereka yang tahu… dan memilih untuk diam.”Essel menahan napas sesaat. Ia tidak perlu bertanya siapa yang dimaksud.Nama itu sudah jelas.Roseane.Calix menarik tirai kembali, menutup jendela sebagian. Cahaya bulan yang tadi masuk kini terhalang, menyisakan hanya cahaya lilin yang redup.“Awasi semuanya,” katanya singkat.Calix melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Pintu ruangan itu menutup perlahan di belakangnya, menyisakan gema yang singkat namun terasa panjang.Langkahnya tetap tenang, seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang mampu mengganggu ritmenya. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bergerak jauh lebih cepat menyusun, menilai, dan menunggu.Lorong kastil yang panjang terbentang di hadapannya, diterang
Dari balik jendela tinggi yang terbuka sedikit, Calix berdiri tanpa bergerak. Angin malam menyusup masuk, menggoyangkan tirai tipis dan membawa udara dingin yang menyentuh wajahnya, namun ia sama sekali tidak terganggu.Tatapannya terarah lurus ke halaman depan kastil.Kereta itu masih terlihat.Roda-rodanya berderak pelan di atas batu, kuda-kuda hitam menariknya menjauh dengan ritme yang stabil. Sosok Count Valgeard sudah tidak lagi jelas, hanya bayangan samar yang perlahan ditelan gelapnya malam.Calix tetap memperhatikan.Seolah ia tidak hanya melihat seseorang yang pergi melainkan sesuatu yang sedang bergerak keluar dari kendalinya.Di belakangnya, Essel berdiri dengan sikap tegap, kedua tangannya terlipat di depan, menunggu. Ia tidak berani mengganggu keheningan itu, karena ia tahu, dalam diam seperti inilah Calix biasanya memutuskan sesuatu yang besar.Beberapa saat berlalu.Hanya suara angin dan gemerisik tirai yang terdengar. Lalu,“Tugaskan orang,” ucap Calix akhirnya, suaran
Pintu ruangan itu menutup perlahan di belakang Calix, meninggalkan suara samar yang terasa menggema lebih lama dari seharusnya. Setelah itu, tidak ada apa-apa lagi hanya keheningan yang menyesakkan.Count Valgeard tetap berdiri di tempatnya.Tubuhnya tegak, namun pikirannya terasa kosong. Untuk sesaat, ia bahkan tidak tahu harus berkata apa bukan kepada orang lain, melainkan kepada dirinya sendiri.Perlahan, lututnya melemah.Ia terduduk di kursi terdekat, tangannya terangkat menekan pelipis, napasnya terlepas berat. Udara di ruangan itu terasa dingin, namun tidak cukup untuk meredakan panas yang berputar di dalam kepalanya.Ucapan Calix kembali terngiang, berulang-ulang, seperti luka yang sengaja dibuka kembali.Tentang posisinya, tentang bagaimana ia mendapatkannya dan tentang sesuatu yang selama ini ia kubur dalam-dalam, seolah dengan mengabaikannya, kebenaran itu akan ikut menghilang.Namun tidak karena kebenaran tidak pernah benar-benar pergi.Bibir Count Valgard menegang.Ia tah
Roseane menatap pelayannya lebih lama dari sebelumnya. Kali ini tidak ada ketegasan tajam seperti tadi, melainkan sesuatu yang lebih dalam sebuah kesadaran yang perlahan mengendap.Apa yang dikatakan pelayan itu… benar.Ia tidak perlu menyangkalnya.Calix bukan seseorang yang bisa diabaikan begitu saja. Lelaki itu tidak hanya memiliki kekuasaan, tetapi juga cara berpikir yang sulit ditebak. Dan yang lebih mengganggu ia tidak pernah benar-benar tahu sejauh mana Calix bersedia melangkah untuk mencapai tujuannya.Bahkan ayahnya sendiri.Roseane mengatupkan bibirnya pelan.Nama itu tidak perlu disebutkan untuk membuat pikirannya terasa semakin berat. Fakta bahwa ayahnya tampak lebih condong pada Calix daripada dirinya sendiri bukan hanya menyakitkan tetapi juga berbahaya. Itu berarti, dalam permainan ini, ia mungkin benar-benar sendirian.Tidak ada tempat yang bisa ia anggap aman sepenuhnya. Tidak ada pihak yang bisa ia percaya tanpa menyisakan keraguan.Ia mengalihkan pandangannya ke ara
Gwen menunduk dalam. “Dan hidup saya kini milik Anda, Yang Mulia.”Terakhir, Lorrene menatap wanita keempat yang berdiri sedikit terpisah.“Belona Jarvad.”Putri kepala pengawal istana. Tubuhnya tegap, sikapnya lebih mirip prajurit daripada wanita istana. Mata Belona jernih, lurus, tanpa permainan
Lorrene meneguk ludah sebelum akhirnya menerima gelas anggur itu. Cairan merah di dalamnya bergetar pelan saat jemarinya menyentuh kristal dingin, seolah ikut merasakan kegugupan yang berusaha ia sembunyikan. Ia tidak langsung meminumnya. Hanya memegangnya, membiarkan aroma anggur bercampur dengan
Kata-kata itu bergema di benaknya, membawa atmosfer kamar menjadi semakin tebal dengan nuansa kepemilikan dan penyerahan total. Lorrene hanya bisa terdiam, tubuhnya masih bergetar dalam pelukan sang kaisar, hatinya berdebar dengan perasaan baru yang sulit ia tolak.Lahirkan anak untukku.Kalimat it
Lorrene menatapnya lurus. Tidak menunduk. Tidak gentar.“Apakah Yang Mulia Kaisar terbiasa menepati kontrak?” balasnya.Reis tersenyum kecil. “Aku terbiasa menghancurkan mereka.”Lorrene membalas dengan nada setenang mungkin, meski dadanya berdebar. “Maka saya harus memastikan kontrak itu membuat A







