Share

Bab 163

Author: Camelia
Tubuh Aura refleks menegang, lalu menoleh dan melihat wajah samping Jose yang tegas. Jose menekan bibirnya sedikit, terlihat seperti sedang dalam suasana hati buruk. Sorot matanya terpaku tajam pada Vitto.

Saat itu, seorang polisi mendekat. "Permisi, siapa yang namanya Aura?"

"Saya," jawab Aura sambil melangkah maju. "Saya Aura."

"Saya perlu mencatat keterangan Anda," ujar polisi itu dengan sopan.

Aura menoleh sekali lagi ke arah Jose. Entah kenapa, dia merasa sedikit lebih tenang. Dulu saat menghadapi hal-hal seperti ini, tidak ada satu pun orang yang mendampinginya. Sejak ibunya meninggal, Anrez pun sepenuhnya bersikap cuek terhadapnya.

Aura sudah terbiasa menghadapi semuanya sendiri. Namun kini, berdiri di samping Jose, dia tiba-tiba merasa ada yang melindunginya. Setelah memberikan keterangan dan menandatangani berita acara, mereka keluar dari kantor polisi. Langit pun sudah mulai terang.

Saat melangkah pergi, Aura sempat menoleh ke arah Vitto sekali lagi, lalu mengalihkan pandanga
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ros Dianie
Aura hrs terus terang aja , blaga begi..bilang sy sibuk, mau nengok Ghea yg keguguran. Semua harta ibuku sdh di jual sm Ayah....gt ajah.biar bibi Gwen tau. Jd ga usah basa basi lg sm mereka.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1079

    Saat Aura menerima telepon dari Renald, dia baru saja mengakhiri panggilan dengan Roy. Mengetahui Renald datang ke Kota Morimas, Aura sebenarnya tidak merasa heran.Saat dia sedang menatap ponsel sambil melamun, telepon dari Renald pun masuk. Dia tanpa sadar mengernyit, terdiam sejenak, lalu memilih menolak panggilan itu.Namun tak lama kemudian, Aura kembali menerima sebuah gambar yang dikirim Renald. Di foto itu, Renald terlihat terbaring di ranjang rumah sakit.[ Bu Aura, kalau kamu nggak mau bertanggung jawab, aku hanya bisa datang ke rumah Keluarga Kusuma dan meminta Pak Parviz yang bertanggung jawab lho. ]Melihat pesan dari Renald, Aura merasa tak berdaya. Dia hanya membalas dengan mengirimkan satu tanda tanya.Di rumah sakit, Renald melihat balasan dari Aura. Sudut bibirnya terangkat tipis.[ Karena aku ditabrak oleh Jose. Tapi aku nggak bisa menemukannya, jadi hanya bisa mencari Bu Aura. ]Aura mengernyit, merasa orang ini sepertinya memang ada masalah dengan otaknya. Dia lant

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1078

    "Maaf, Pak Jose. Mobilmu tertabrak. Nanti perusahaanku akan mengirim orang untuk menanganinya. Aku pamit dulu."Setelah berkata demikian, Renald pun bersiap pergi. Jose tidak mengatakan apa pun.Baru setelah Renald berjalan cukup jauh, Jose membuka pintu mobil dan turun. Tadi Renald menabrak bagian belakang mobil Jose, tetapi kerusakannya tidak terlalu parah. Mobilnya masih bisa dikendarai.Jose berjalan ke sisi kursi pengemudi, membuka pintu, lalu berkata kepada Marsel, "Turun."Marsel tertegun. "Tapi mobilnya ...."Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, dia sudah melihat tatapan Jose yang mendingin. Dia langsung paham, cepat-cepat melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil, menyerahkan kursi pengemudi kepada Jose.Jose naik ke mobil, menginjak pedal gas, lalu melesat pergi, mengejar ke arah Renald pergi.Renald yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu mobil, merasakan ada kendaraan mendekat dari belakang. Dia menoleh sekilas. Yang terlihat adalah Jose mengemudikan mobil tan

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1077

    Begitu Roy selesai berbicara, sekretaris pun mendorong pintu. Dengan ekspresi profesional, dia berjalan ke sisi Jose, lalu berkata, "Pak Jose, silakan."Jelas sekali, Roy memang berniat membela Aura. Jose tahu, mengatakan apa pun sekarang percuma.Dia berdiri, menatap Roy selama beberapa detik, lalu akhirnya berbalik dan pergi. Dua kali berturut-turut mendapat penolakan, wajah Jose menjadi sangat suram. Begitu duduk di dalam mobil, dia langsung menyalakan mesin pemanas.Namun, Marsel merasa suhu di dalam mobil tetap saja dingin, seolah-olah mesin pemanas tidak dinyalakan.Keduanya duduk di dalam mobil. Marsel juga tidak langsung mengemudi, karena dia sama sekali tidak tahu harus pergi ke mana.Sampai langit perlahan menggelap, barulah Marsel menoleh dan bertanya, "Tuan Jose, kita mau ke mana?"Namun, pertanyaannya tidak mendapat jawaban.Setelah lama terdiam, Jose akhirnya berkata, "Ke rumah Keluarga Kusuma.""Masih ke sana?" Marsel terkejut, lalu mendongak menatap Jose lewat kaca spio

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1076

    Namun, semua yang dilakukannya memang telah melukai Aura. Karena itu, Roy tentu saja harus membela Aura.Saat sekretaris menyampaikan maksud Roy kepada Jose, tangan Jose yang memegang cangkir kopi langsung mengencang. Urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol. Namun, ekspresinya tetap tenang dan datar. "Baik, aku akan menunggu di sini."Sekretaris mengangguk, lalu keluar. Barulah Marsel menoleh ke arah Jose. "Pak Jose, bukankah Roy ini sengaja mempersulit kita? Dia baru saja kembali, rapat apa yang harus dia hadiri?"Pandangan Jose tertuju pada cangkir kopi di tangannya. Ekspresinya masih seperti biasa. "Pergi jaga pintu."Meskipun merasa tidak adil bagi Jose, Marsel tetap patuh dan pergi berdiri di depan pintu. Menghadap ke arah kantor Roy, dia menggerutu pelan.Melihat para staf keluar masuk kantor Roy, Marsel semakin kesal. Bosnya telah bertahun-tahun menjadi pimpinan tertinggi di Alatas Heir. Ke mana pun pergi, belum pernah diabaikan seperti ini.Dua jam terasa tidak cepat, t

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1075

    "Oh?"Renald tersenyum. Jari telunjuk dan jari tengahnya yang beruas menjepit sebuah bidak catur, lalu meletakkannya di papan dengan keras sampai menimbulkan bunyi nyaring. "Bukankah permainan caturnya belum selesai? Siapa yang menang dan siapa yang kalah, siapa yang bisa memastikannya?"Saat mengatakan itu, Renald tersenyum dan nada bicaranya pun terdengar tenang.Parviz menatap Renald dan memperingatkan, "Kalau kamu berani macam-macam ....""Apa yang Pak Parviz katakan, aku hanya bercanda," kata Renald sambil tersenyum pada Parviz, memperlihatkan delapan gigi putihnya yang rapi. Senyuman cerahnya itu sangat berbeda dengan citranya sebagai presdir dingin dan kejam yang beredar di luar.Parviz mendengus. "Sebaiknya memang begitu."Dia adalah orang yang lurus dan berprinsip, paling tidak suka urusan yang berantakan dan tidak pantas seperti ini.Renald hanya tersenyum dan tidak menjawab, lalu menundukkan kepala dan menatap papan catur. Namun, saat menundukkan kepalanya, kilatan licik ter

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1074

    Marsel berdiri di tempat sambil mengangkat kepala dan menatap pesawat yang makin menjauh, rasanya ingin menangis padahal tidak ada air mata yang keluar. Tak lama kemudian, sebuah Bentley hitam berhenti tepat di depannya dengan suara rem tajam yang menusuk telinga.Begitu mobil berhenti, Jose keluar dari dalam mobil dan bertanya, "Mana Aura?"Marsel menelan ludah, lalu mengangkat tangan dan menunjuk ke arah langit. "Itu .... Pesawat Nyonya Aura baru saja lepas landas."Begitu selesai berbicara, Marsel langsung merasa suhu di sekelilingnya terasa dingin. Saat mengangkat kepala dan bertemu pandang langsung dengan mata Jose, ujung hatinya langsung bergetar. Dia sudah lama sekali tidak melihat ekspresi bosnya yang seperti ini. Terakhir kalinya dia melihat ekspresi itu adalah saat Devin bekerja sama dengan Tiano untuk menculik Nyonya Aura."Siapkan pesawat pribadi," perintah Jose dengan nada muram sambil mengertakkan giginya."Tapi ...."Sebelum Marsel sempat menyelesaikan ucapannya, lututny

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status