LOGINSetelah turun, Suryani menceritakan kepada Mery apa yang baru saja dia katakan kepada Jose.Begitu mendengarnya, Mery mengangkat tangan dan menepuk bahu Suryani. "Memang anak perempuanku pintar. Bangun dulu perasaan dengannya. Meskipun dia mendapatkan kembali ingatannya, dia tetap hanya bisa bersamamu."Suryani mengerutkan kening sedikit. Dia tahu betul seberapa tidak bisa diandalkannya ibunya sendiri. Di matanya, hanya ada uang.Dia terdiam sejenak, lalu berkata, "Kalau begitu, Ibu harus bilang ke Ayah supaya jangan sampai keceplosan."Mery menepuk dadanya sambil berjanji, "Tenang saja, pasti."Baru saja dia selesai berbicara, pandangannya jatuh ke belakang Suryani. Suryani tertegun. Dia refleks menoleh, lalu melihat Bagas berdiri tepat di belakangnya."Kakek ...." Di rumah ini, orang yang paling ditakuti Suryani adalah Bagas."Kakek, aku cuma punya satu keinginan ini. Tolong bantu aku ...." Suryani menggigit bibirnya, wajahnya tampak seperti hendak menangis.Bagas menatapnya dan bert
Sebagai tabib ahli pengobatan tradisional yang sudah berpraktik seumur hidupnya, Bagas sudah menangani banyak penyakit. Namun, bagaimanapun juga, ada beberapa penyakit yang memang bukan bidang keahliannya. Dia hanya bisa mencoba mengobatinya.Setelah Bagas pergi, Suryani juga turun ke lantai bawah setelah menenangkan Jose."Kakek," panggil Suryani dengan hati-hati sambil mengikuti Bagas masuk ke ruang periksa.Bagas menoleh dan menatap Suryani, lalu menghela napas. "Aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Penyakitnya ini bisa saja sembuh, tapi bisa juga nggak."Mendengar itu, Suryani mengalihkan pandangannya dengan pelan. Setelah itu, dia menundukkan kepala dan bertanya dengan suara kecil, "Kalau begitu, apa Kakek punya obat yang bisa membuatnya nggak akan mengingat masa lalunya lagi?"Suryani tahu perkataannya itu sangat kejam, tetapi sering kali situasinya memang begitu. Jika tidak menangkap kesempatan ini, dia hanya akan terkurung di desa miskin terpencil ini seumur hidupnya.Bagas me
Suryani awalnya hanya ingin mencoba peruntungan, tak disangka dia benar-benar berhasil menemukan Jose. Saat baru mengetahui identitas Jose, kepalanya terasa langsung meledak.Setelah berpikir sejenak, Mery kembali melirik ke dalam kamar. "Jangan-jangan orang ini nggak akan bangun lagi ya? Kalau dia nggak bangun-bangun, bukankah kita sia-sia menyelamatkannya?"Suryani menggelengkan kepalanya. "Nggak akan. Kakek bilang dia pasti bisa sadar."Mendengar itu, Mery menganggukkan kepala. "Baiklah, kita tunggu seminggu lagi. Kalau dia masih belum bangun juga, kamu buang saja orang ini keluar."Suryani menganggukkan kepala. "Nanti aku minta Kakek meresepkan obat untuknya lagi."Mery mengiakan, lalu memutar tubuhnya yang gemuk dan pergi.Suryani kembali ke kamar dan duduk di tepi ranjang, lalu menatap pria dengan wajah tampan yang terbaring di sana. Detak jantungnya pun langsung bertambah cepat. Meskipun sudah memungut Jose hampir setengah bulan, hatinya tetap saja tergelitik setiap kali melihat
Thea berkata, "Usulannya adalah kita sebaiknya menunggu di sini saja. Lagi pula, jalan pegunungan ini sulit untuk dilalui saat malam hari ...."Mendengar itu, tatapan Aura bergetar sebentar. Setelah itu, dia mengangkat kepala dan menatap ke langit.Saat ini, langit sudah mulai gelap dan terlihat samar-samar titik-titik bintang.Melihat itu, Aura teringat saat pertama kali dia datang ke tempat ini dan melihat hujan meteor. Jika bisa, dia berharap sekarang ada sebuah bintang jatuh yang melintas di langit juga dan mengabulkan keinginannya untuk menemukan Jose."Bu Aura?" panggil Thea lagi karena melihat Aura tidak bersuara.Aura yang tersadar kembali pun mengangkat kepala dan berkata pada Thea, "Ayo pergi. Kita juga ikut."Dia berpikir Jose menghilang karena dia. Jika dia hanya duduk menunggu di sini, dia merasa dia akan tersiksa oleh penantian yang panjang sampai sulit bernapas. Lebih baik dia pergi ikut mencari bersama semua orang.Thea melirik kaki Aura. "Tapi, dokter bilang kakimu mas
Melihat situasi itu, Parviz mendekat dan berkata pada Roy, "Kamu keluar dulu, aku mau bicara dengan Aura."Roy terdiam sejenak, lalu tetap keluar sesuai perintah Parviz dan meninggalkan ruangan hanya untuk Aura dan Parviz.Parviz berkata, "Rara ....""Kakek!"Aura yang tidak bisa menahannya lagi pun matanya memerah dan air mata nyaris mengalir.Namun, Parviz malah menyipitkan matanya dan berkata dengan nada dingin, "Diam! Simpan juga air matamu yang nggak berharga itu."Aura terkejut dengan sikap Parviz yang tiba-tiba menjadi serius, hanya bisa terpaku dan menatap Parviz. Kali ini, lukanya juga sangat serius, banyak bagian tubuhnya yang masih diperban.Melihat itu, hati Parviz langsung melunak. "Sekarang kamu menangis pun nggak ada gunanya. Nak, ingat baik-baik, air mata adalah hal yang paling nggak berharga. Kamu sudah memikirkan nggak, kamu harus bagaimana menghadapi amarah Keluarga Alatas kalau Jose benar-benar nggak ditemukan?"Aura menggigit bibirnya, lalu menggelengkan kepala dan
Riana mengangkat kepala dan menatap Roy dengan tatapan dingin, lalu mendengus. "Pak Roy, aku bahkan belum menuntutmu karena buat Jose dalam masalah, kamu malah masih berani datang mencariku."Roy menggigit bibirnya. "Bu Riana terlalu gegabah, kami semua juga turut berduka atas apa yang menimpa Jose. Tapi, Aura nggak bersalah. Melampiaskan semua kemarahanmu padanya, apa itu bisa menemukan Jose?"Riana mengertakkan giginya dan menatap Roy dengan tatapan penuh amarah. "Roy, bagaimanapun juga aku ini ibu mertuanya Aura, apa salahnya aku menegur menantuku sendiri?""Anggota Keluarga Kusuma nggak perlu diajari orang lain."Saat itu, tiba-tiba terdengar suara yang sangat lantang dari arah pintu. Parviz melangkah masuk dengan punggung tegak dan ditopang oleh kepala pelayan, lalu langsung menoleh ke arah Riana dengan tatapan tajam.Parviz menyipitkan matanya dan menatap Riana. "Rara dan Jose adalah suami istri, tentu saja harus sehidup semati. Jose menghilang demi menyelamatkan Rara, apa dia te







