Share

Bab 835

Penulis: Camelia
Jose memandangi wajah Aura yang tampak lembut dan sedikit gelisah. Sorot matanya penuh dengan rasa iba. Alih-alih merasa kasihan, justru ada sedikit rasa tertarik yang tumbuh di matanya.

Wanita dengan wajah seperti itu selalu terlihat mudah ditindas.

Sudut bibir Jose terangkat pelan. Lalu tanpa peringatan, dia meraih pergelangan tangan Aura dan menariknya ke dalam pelukannya. Kepalanya sedikit menunduk, bibirnya menyentuh lembut cuping telinga Aura, suaranya rendah dan menggoda.

"Kamu pasti tahu apa yang aku mau." Maknanya jelas. Dan Aura tahu persis apa maksud Jose.

Selama bersama Jose, hal semacam itu sudah terjadi berkali-kali. Namun, jarang sekali dirinya yang memulai. Hampir selalu Jose yang mengendalikan segalanya.

Malam ini pun tampak jelas, Jose sedang dalam suasana hati untuk "menggoda dan menaklukkan".

Aura menggigit bibirnya pelan. "Nanti kamu benar-benar akan bantu Roy?" Dia mendongak, menatap Jose dengan mata bening yang penuh harap. Meski tak suka, dia sudah telanjur berj
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1087

    Aura merasa tidak nyaman, jadi menggeser tubuhnya sedikit ke samping."Giliranmu." Parviz terkekeh-kekeh sambil mengingatkan Jose, "Kamu harus hati-hati. Kalau salah melangkahkan satu bidak lagi, situasinya nggak akan bisa diselamatkan."Ucapan itu terdengar seolah-olah mengandung makna ganda.Jose mengangkat sudut bibirnya, tersenyum tipis, lalu meletakkan bidak di papan catur.Parviz menatapnya dengan saksama, lalu tertawa terbahak-bahak. "Kamu ini memang sengaja menyembunyikan kemampuan. Satu langkah ini langsung menghidupkan seluruh papan. Bagus, bagus.""Terima kasih atas pujian Kakek. Semua berkat ajaran Kakek," jawab Jose, menunduk sambil tersenyum ringan. Di hadapan Parviz, dia tampak patuh seperti murid SD, sama sekali tidak menunjukkan sisi brutal dan menakutkan seperti semalam.Aura duduk di samping, sesekali mengerutkan kening melirik Jose. Melihat sikap Parviz, sepertinya Jose memang tidak mengatakan apa pun di hadapannya."Tuan, makanan sudah siap."Permainan catur belum

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1086

    "Kalau di saat genting seperti ini kamu cerai dengan Jose, lalu Kakek sampai tahu ...." Roy menatapnya dengan sorot mata serius. "Kamu tahu konsekuensinya."Jari Aura yang sempat mengendur kembali mengerat. Di dalam hatinya, tiba-tiba muncul rasa tidak berdaya."Dulu Ibu memang nggak seharusnya sampai memutus hubungan dengan Keluarga Kusuma demi Anrez," gumam Aura.Roy menoleh menatapnya. "Anrez? Kamu pikir dulu Bibi memutus hubungan dengan Keluarga Kusuma demi Anrez?"Aura tertegun. "Bukankah memang begitu?"Roy menatap Aura dalam diam beberapa saat, lalu mengangkat tangan dan mengusap ujung hidungnya. "Sudahlah, urusan orang tua nggak usah dibahas. Aku harap kamu pikirkan baik-baik yang kukatakan."Aura dengan tajam menangkap beberapa makna tersembunyi dalam ucapan Roy. Jadi, dulu ibunya bukan pergi dari rumah karena Anrez? Berarti Anrez juga bukan cinta sejati Ibu yang disebut-sebut tak tergantikan itu?Hal-hal ini tidak pernah diceritakan padanya sebelumnya. Lalu sebenarnya, dulu i

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1085

    Jose menggertakkan giginya menatap Roy.Melihat sorot matanya semakin kelam, Aura mengangkat tangan dan menarik lengan baju Roy pelan. "Aku nggak apa-apa. Ayo, kita pergi dulu."Melihat kondisi Jose yang sudah berada di ambang amarah, Aura sendiri tidak masalah, tetapi dia tidak ingin menyeret Roy ke dalam urusannya.Terlebih lagi, di belakang Roy ada Keluarga Kusuma. Aura tidak ingin masalah pribadinya menyeret Keluarga Kusuma.Roy mengerutkan kening, menoleh melirik Jose. Sorot matanya penuh kewaspadaan.Aura menggigit bibirnya. Saat melangkah pergi, dia tidak menoleh lagi ke arah Jose.Di dalam mobil, Roy mengerutkan kening dan menatap ke Aura. "Kenapa nggak bawa lebih banyak orang waktu keluar?"Aura menunduk seperti orang yang merasa bersalah. "Aku ...."Roy menyalakan mobil dan berkemudi. Matanya menatap lurus ke depan. Dia berulang kali berpesan, "Untuk sementara waktu, tinggal baik-baik di rumah Keluarga Kusuma. Jangan pergi ke mana-mana.""Sekuat apa pun Jose, selama di Kota M

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1084

    "Katakan sekali lagi!"Jose menggertakkan giginya. Bahkan sepasang mata yang biasanya selalu dingin itu kini samar-samar memerah. Itu adalah tanda sebelum dia benar-benar marah.Aura merasa sedikit gentar. Bagaimanapun juga, dia pernah menyaksikan betapa kejamnya metode Jose dengan mata kepala sendiri.Aura menggigit bibirnya ringan, menatap Jose sambil berucap, "Aku hanya merasa, nggak ada artinya kalau kita terus seperti ini.""Jose, kamu mengerti maksudku, 'kan?" Suara Aura sedikit melunak. Namun, makna di balik ucapannya sama sekali tidak melunak. "Cukup sampai di sini saja. Kalau bertemu lagi nanti, kita masih bisa berteman."Begitu mendengarnya, Jose meledak marah. Dia melepaskan Aura, berbalik, dan menendang meja kopi dengan keras. Meja kopi yang berat itu terlempar jauh oleh satu tendangannya."Teman? Siapa yang mau jadi temanmu?" Jose menggertakkan giginya saat mengucapkan kalimat itu. Suaranya yang penuh amarah terdengar menakutkan di ruang yang luas itu.Sebagai orang yang d

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1083

    "Barusan kamu panggil aku apa?" Jose mengucapkannya kata demi kata sambil menggertakkan gigi dengan geram.Dengan ekspresi dingin, Aura mengulanginya, "Pak Jose, silakan lihat perjanjian ini. Kalau nggak ada masalah, tolong ditandatangani."Dia mengulanginya tanpa lelah, tetapi semakin Jose mendengarnya, sorot matanya justru semakin kelam.Jose mengangkat pandangan menatapnya. Beberapa hari tidak bertemu, Aura terlihat sama sekali tidak berubah. Seolah-olah keputusan untuk bercerai baginya hanyalah keputusan yang sepele.Jari Jose perlahan mengepal. Dengan tatapan yang dalam dan berat, dia menatap Aura. "Kamu benar-benar sudah memikirkannya matang-matang?"Hati Aura terasa pahit. Entah sudah dipikirkan secara matang atau belum, semuanya sudah sampai titik ini. Apa pun yang dikatakan sudah tidak berarti lagi.Bahkan sebelum meninggal, Sherly masih meninggalkan duri di antara dirinya dan Jose. Aura tidak bisa membela diri lagi.Entah siapa yang pernah mengatakan sebuah kalimat, orang hid

  • Menjadi Tawanan CEO Dingin   Bab 1082

    Ekspresi Marsel membeku sejenak. Dengan agak canggung, dia menggaruk kepalanya. "Ayo, aku antar."Menghadapi sikap Aura yang dingin, Marsel hanya bisa menutup mulutnya dengan canggung dan menuntun di depan.Tempat ini adalah sebuah klub yang dibeli Jose di Kota Morimas. Aura pernah datang ke sini sebelumnya.Saat Marsel membawa Aura ke depan sebuah ruang privat, Aura langsung melihat pengacaranya berdiri di depan pintu menunggunya.Begitu melihat Aura, pengacara itu mengangkat tangan untuk menyeka keringat di dahinya. "Bu Aura.""Kenapa nggak masuk?" tanya Aura.Pengacara itu menarik sudut bibirnya dan tersenyum canggung. "Menunggumu."Sebenarnya, dia tidak berani masuk. Tadi begitu tiba, dia langsung masuk ke ruang privat. Namun, baru saja masuk, dia melihat Jose duduk di sofa dengan wajah dingin. Ekspresinya benar-benar mengerikan.Dia memang tidak terlalu akrab dengan Jose, tetapi di kalangan pengacara, cukup banyak cerita tentang Jose. Konon katanya, dia kejam dan tidak segan memak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status