LOGIN“Sial! Sial! Sial! Berisik sekali!” keluh Leon yang mulai kesulitan mengendarai mobil sejak dihujani peluru dari belakang. Dia berseru, “Apa kamu bilang tadi? Hunters? Hunters menembak mobil Hunters lain yang kita tumpangi?”Shin baru saja menutup jendela kembali karena tak mau terkena peluru, sembari membalas, “Kalau tidak percaya, lihat saja di spion.”Leon melirik ke spion samping, melihat mobil yang serupa dengan yang mereka kendarai mengikuti di belakang. Alan yang juga melihatnya pun melotot, seakan-akan sedang melihat hantu.“Mustahil mobil Hunters mengejar sesama Hunters,” kata Alan, “mungkin mereka orang yang berpura-pura jadi Hunters saja.”Cade menyindir, “Seperti kita?”Rose mengusap-usap pelipisnya yang mendadak pening. Padahal perjalanan mereka tinggal sedikit lagi, tapi malah datang serangan yang tidak diduga. Mau itu Hunters atau Riders, kalau mereka dikejar seperti ini, tandanya akan ada hal buruk yang terjadi. Seperti yang telah Rose alami sebelumnya.Ketika te
Tepat satu jam setelah Shin siuman, Rose dan kawan-kawan sudah siap melanjutkan perjalanan. Selama Rose dan lainnya berganti pakaian, Cade yang sudah siap sedia lebih dulu menghampiri James untuk memberitahukan rencana mereka pergi pagi itu.Begitu kembali, Cade mematung di hadapan Rose yang baru saja hendak memakai jubahnya. Dia menahan tangan Rose, lalu memperhatikan lamat-lamat pakaian yang dikenakan Rose.Celana panjang berwarna hijau tua, kaos berwarna kuning redup, ditutup oleh jaket kulit berwarna hijau zamrud. Kombinasi warnanya sebenarnya cocok, tapi entah mengapa Cade merasa sedikit aneh dengan pakaian Rose. Rasanya seperti ada yang kurang.“Itu baju barumu?” tanya Cade, tak berkedip menatap Rose.Rose jadi ikut menatap bajunya sebentar sebelum beralih memandang Cade. “Ya, kenapa? Tidak cocok?”“Bukan.” Cade meneguk ludah. “Sangat cocok denganmu. Hanya saja ... warnanya sedikit kurang cerah. Untuk ukuran seorang wanita.”“Justru kalau aku memakai warna yang mencolok, b
“Shin! Kamu baik-baik saja?” tanya Rose, memperhatikan wajah Shin yang babak belur, “astaga, mukamu parah sekali. Alan sudah mengobatimu tadi, tapi apa masih sakit?”Setelah Cade melepaskan Shin, Rose menghampiri pria yang tiba-tiba terlihat kosong itu. Shin mungkin merasa sedikit syok saat tahu dirinya telah membeli senapan bodong yang bahkan bisa membunuh pemiliknya. Bukan hanya itu, mungkin ada juga kekecewaan yang menumpuk di hatinya.“Dia baik-baik saja, Rose. Jangan khawatir berlebihan,” dengus Cade, lanjut membereskan pasokan senjata.“Bagaimana tidak khawatir? Kamu memukulnya sebanyak ini!” Rose menukas sambil menunjuk wajah Shin yang penuh memar. “Apa tak bisa lebih lembut sedikit pada temanmu?”“Kalau tidak kubuat pingsan, dia akan mengamuk makin dahsyat. Dan kamu tahu sendiri, dia anggota Riders yang tidak akan pingsan hanya dengan satu pukulan.” Cade membela diri. “Masih beruntung aku dan Leon tidak terlambat memisahkannya dari senapannya. Telat sedetik saja, kepalanya
Melihat Shin bersuara keras seperti orang cari perhatian membuat Rose merasa tidak nyaman. Kondisi mabok rupanya bisa mengubah kepribadian orang secara drastis. Shin yang Rose tahu orangnya ketus, malas bicara, suka menyindir dan menyulut emosi. Tidak pernah sekalipun dia melihat Shin berseru dengan bangga dan percaya diri seperti ini. Jujur saja, kalau Shin yang normal melihat dirinya sendiri saat ini, Rose bisa menjamin pria itu akan meludah sebanyak-banyaknya. Karena dia tahu, Shin tak suka orang yang bersikap norak.“Apa teler bisa membuat orang menjadi norak seperti itu?” komentar Rose.Leon mendesah berat. “Jangankan norak. Orang yang pemalu saja bisa tiba-tiba banyak bicara kalau sudah mabuk.”“Sial, dia mau memakai senapannya di sini!” Cade mendadak panik begitu melihat Shin tengah memamerkan senapan di tangannya. Dia langsung menarik Leon untuk masuk ke kedai bersamanya.Alan menahan Rose agar tetap memantau dari luar pintu. Di dalam, kerumunan yang mengerubungi Shin ma
Rose dan lainnya tidak bisa mendengar percakapan Alan dan si penjual senapan karena jaraknya cukup jauh. Mereka hanya mengamati, lalu menyaksikan Alan kembali pada mereka dengan langkah tergopoh-gopoh. Wajahnya dipenuhi keringat, terlihat sangat panik.“Gawat! Ini gawat!” tukas Alan dengan nada yang kacau. Tangannya menggoyang-goyangkan lengan Leon kencang.Rose menyahut, “Apa? Ada apa?”Alan menggigit bibir. Dia mengangkat tangannya yang gemetar, menunjuk ke arah yang sesuai dengan keterangan si penjual senapan. “Shin ... katanya pergi ke sana. Entah ke mana, tapi dia sudah memborong banyak senapan. Dia beli satu set yang isinya enam buah senapan!”Cade melotot mendengarnya. “Enam? Dia beli enam senapan rakitan nan murah itu?!”Memang Shin membelinya dengan uang sendiri. Namun, sebagai orang yang pandai berhemat, Cade merasa kesal karena ada yang yang terbuang sia-sia sebab kebodohan Shin. Jumlahnya tidak sedikit pula. Senapan rakitan memang murah, tapi kalau beli enam, sama saj
“Rose.” Leon berbisik selagi menyenggol lengan Rose pelan, menyadarkannya yang sedang melamunkan soal Danshire.Rose mengerjap, menatap Leon yang mulutnya bergerak membentuk ucapan, “Uangnya!”.“Ah, maaf! Sebentar.” Dia gelagapan menghitung uang agar sesuai dengan jumlah yang disebutkan ulang oleh pemilik toko. Terpaksa dia menahan berbagai emosi yang bertumpuk dalam dadanya setelah mendengar fakta bahwa kondisi penduduk Danshire tidak diketahui oleh wilayah-wilayah lain. Dia menahan kekesalannya pada Sanctuary Dome, berusaha keras agar pemilik toko tidak curiga.Harga totalnya hanya beda sedikit dari jumlah yang yang diberikan Cade. Karena tak ada uang koin Goldyn umtuk kembalian—hanya tersisa dua puluh Goldyn—Rose mendapatkan sebuah syal sebagai bentuk barter.Syal berwarna merah marun, yang sangat cocok untuknya.“Maaf, kami tak punya syal dengan warna yang lebih gelap. Warna ini lebih mirip milik wanita,” ucap pemilik toko, mengira Rose tidak suka karena ditatapnya syal itu
Rose tak lagi mendengar langkah kaki pria itu. Tangannya mulai membuka pintu lemari, tapi hatinya masih bimbang. Apakah pria itu sudah sungguhan pergi?Udara pengap di dalam lemari membuat Rose tak bisa bersembunyi lama. Dia pun keluar dari lemari, berjalan memeriksa keadaan dengan pelan. Hingga ka
“Lepaskan! Lepaskan aku, dasar lelaki menjijikkan!”Rose meronta-ronta di balik jaring-jaring yang menutupi seluruh tubuhnya. Entah terbuat dari apa, jaring itu menempel pada kulitnya sehingga dia tidak bisa bergerak bebas. Raungan Rose terdengar makin keras, membuat seorang lelaki yang mendekatiny
“Aku menyuruhmu membuangnya, tapi kenapa kamu malah memungutnya?!” Rode berteriak marah ketika melihat Cad kembali dengan menyeret Leon dan membantunya naik ke mobil. Cade tidak menjawab, lanjut menaiki mobil dan melajukannya kembali. “Hei! Jangan abaikan aku!” bentak Rose tepat di samping tel
Sedikit miris bagi Rose mendapati dirinya justru membayangkan Cade di saat-saat seperti ini. Dia pun mengumpat dalam hati, menyalahkan perasaannya yang sejenak menjadi lembek karena dihadapkan oleh situasi yang mengerikan.‘Sialan, kenapa aku malah memikirkan dia! Dia juga sama saja mau menjualku.







