Share

BAB 37 - Dikejar Riders

Author: Anna Naura
last update publish date: 2026-06-14 22:54:28
Mendengar Cade menyuruhnya semudah itu, Leon membantah, “APA?! Kamu menyuruhku menembak mereka? Kenapa harus aku?”

“Lalu siapa lagi?” Cade membentak, rahangnya mengeras. “Aku menyetir! Apa kamu mau menggantikanku?”

“Tidak, terima kasih! Aku tidak mau disalahkan jika mobilnya terjerembap di pinggir jalan,” jawab Leon cepat.

Cade akhirnya menengok sempurna pada Leon, satu tangannya hendak mencengkeram lengan Leon saking kesalnya. “Kalau begitu cepat berjaga di belakang! Atau kita akan mati s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 46 - Rencana Cade

    “Balik arah, Leon! Cade dalam bahaya!” teriak Rose, meronta minta dilepaskan. Belasan motor datang mengelilingi Rose dan Leon. Mesin motor terdengar makin menderu-deru, selagi para Riders membentuk lingkaran besar yang mengepung Rose dan Leon di dalamnya. Leon menelan ludah. Rose mencengkeram bagian belakang jubah Leon. Nasib mereka kini berada di ujung tanduk. Satu per satu Riders turun dari motornya, mendekat pada Rose dan Leon. Semuanya mengangkat senapan, bersiap menembak jika salah satu atau keduanya berniat kabur. Rose pun minta diturunkan, tapi tetap mendekat pada Leon, bersembunyi di balik punggungnya. Sementara Leon mengeluarkan kedua senapannya, membidik balik para Riders. “Turunkan senjatamu,” desis seorang Riders di paling depan. Jaraknya lima meter saja dari Leon. Leon menolak, “Tidak. Kalau kalian menembak, aku juga akan menembak.” Suara lain menyela percakapan Leon dan Riders tadi, “Kalau kamu mau temanmu selamat, turunkan senjatamu.” Suaranya sangat berat

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 45 - Dikepung

    “Balik arah, Leon! Cade dalam bahaya!” teriak Rose, meronta minta dilepaskan.Cade bisa mati jika dibiarkan melawan semua Riders sendirian. Dan Rose jelas tak mau itu terjadi.Leon mendengus kesal, “Hei, aku sudah bilang Cade bisa menanganinya, kan?!”“Dia memang Riders, tapi dia sendirian! Lawannya ada banyak! Dan kamu pasti tahu, kalau mereka tidak akan mengampuni anggota yang memisahkan diri. Mereka akan memenggal Cade!” tukas Rose.“Lalu apa gunanya aku membawamu sejauh ini kalau kembali lagi? Cade akan memarahiku, tahu!” balas Leon tak mau kalah.“Jangan pedulikan ucapan Ca ....”Suara Rose mengecil begitu deru motor melahap seluruh keberaniannya. Sekujur tubuhnya kembali dingin. Matanya melihat beberapa titik cahaya yang mendekat dengan cepat. Belum sempat Rose terkejut, cahaya yang berasal dari lampu motor itu sudah berada di sekelilingnya.Langkah Leon terhenti. Rose bisa merasakan cengkeraman tangan Leon pada pinggangnya mengencang. Mereka dihadang. Belasan motor dat

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 44 - Pergi Duluan

    Suara Leon yang merintih pelan membuat hati Rose langsung merasa lega. Dia mengusap air matanya, ujung bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. Leon yang telentang mulai beranjak bangun sambil merintih kesakitan. Bibirnya sobek, mengeluarkan darah hingga ke dagu. Rambut pirangnya berantakan, kuncirannya nyaris terlepas. Jubah juga sobek di sana-sini, tapi berkat itu, tubuhnya tidak terluka terlalu banyak.Yang paling parah sepertinya adalah Cade. Tak lama setelah Leon bangun, Cade yang jatuh tertelungkup pun mengangkat kepalanya. Dan Rose melihat darah mengalir dari dahinya, menetes di ujung dagu. Jaketnya pun sobek di bagian lengan dan punggung, menampakkan kulit yang tergores dalam.“Cade, kepalamu ....” Rose hendak menghampiri Cade untuk memeriksa kepalanya, tapi Cade lebih dulu mendekat padanya dengan wajah panik.Mata membelalak. Urat muka tegang. Mimiknya saat berlari ke arah Rose seakan sedang melihat sesuatu yang sangat menyeramkan.Rose awalnya bingung. Namun, begitu

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 43 - Bazoka

    Setelah Cade memberikan instruksi, dia dan Leon menaiki motor masing-masing, bersama-sama menghitung mundur untuk menyalakan mesinnya.BRUMMM!“Sial, kencang sekali suaranya,” desis Leon begitu deru motor melengking tinggi.“Sudah, ayo cepat pergi! Pegangan, Rose!” tukas Cade yang langsung menarik gas, membuat motor melaju dalam kecepatan penuh.Rose hampir saja terjungkal ke belakang kalau tidak berpegangan pada Cade. Dia kira kecepatannya tidak akan sekencang itu. Angin malam yang menerpanya mengempas tudungnya ke belakang, menampakkan rambut panjang yang helainya beterbangan.Buru-buru Rose menariknya kembali, memegangi kerah jaketnya agar tudungnya tidak lepas lagi. Satu tangan memegang tudung, satu lagi melingkar di badan Cade.“Dekatkan tubuhmu, Rose! Kita melaju dengan cepat, jangan sampai kamu terlepas,” tukas Cade.“Ba-baik!” jawab Rose.Dengan gugup, Rose memajukan tubuhnya hingga menempel dengan punggung Cade. Canggung sekali rasanya. Namun, dia jadi bisa mendekap

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 42 - Riders di Moores

    “Perhatian, penduduk Moores seluruhnya! Wilayah ini telah kami tentukan sebagai salah satu wilayah kekuasaan Riders! Silakan berikan upeti berupa seratus ribu Goldyn per orang. Kalau tidak punya, berikan barang paling berharga kalian. Kalau masih tidak punya apa pun untuk upeti ... maka kami akan jadikan kalian abdi kami.” Suara berat penuh tekanan yang menghantui malam para penduduk Moores menggema di seluruh gang dan jalanan. Orang-orang sontak terbangun, tertatih-tatih melihat siapa yang mengacaukan tidur mereka. Dan saat mereka tahu siapa yang telah datang ke rumah mereka, semua langsung berteriak panik. Jeritan para warga membuat Tommy, Riders yang bertugas memberi pengumuman itu berseru. “BERISIK! Daripada berteriak seperti orang gila, lebih baik kalian segera menyiapkan upetinya! Kami akan segera mendatangi kalian satu per satu, dasar manusia rendahan!” Dari reruntuhan tempatnya singgah, Rose bisa melihat seberapa banyak yang datang dari lantai tiga. Dia mengikuti Cade dan

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 41 - Diincar

    Cade menelan ludah. Mimik Rose kelihatan sangat marah. Dahinya berkerut, kedua alisnya nyaris terpaut, dan matanya membara layaknya bola api. Rose benar-benar murka, bukan hanya sekadar kesal atau benci. Mata Cade bergerak menghindari tatapan Rose. “Sudah kubilang, kalau aku ikut bersamamu, kamu dalam bahaya. Kamu akan ikut diincar Riders. Sudah lihat tadi betapa mengerikannya mereka, kan? Jika bertemu Riders sekali lagi, kamu akan mati sebelum bertemu ibumu.” Ingatkan Rose kembali akan tujuannya. Dia hanya ingin bertemu ibunya. Itu pasti lebih penting dan berharga bagi Rose, mustahil dia melepaskannya. Itulah yang ada di pikiran Cade. Namun rupanya, isi kepala Rose tidak lagi sesederhana itu. “Persetan dengan itu! Mau aku mati, membusuk di jalanan, atau apa pun itu ... aku tak akan mencapai Sanctuary Dome tanpamu!” Rose berseru, jari-jarinya menggenggam jaket Cade lebih kencang. “Kamu yang sudah membawaku keluar dari rumahku, jadi ini semua tanggung jawabmu. Jangan berani-ber

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 40 - Singgah di Moores

    Cade menelan ludah. Mimik Rose kelihatan sangat marah. Dahinya berkerut, kedua alisnya nyaris terpaut, dan matanya membara layaknya bola api. Rose benar-benar murka, bukan hanya sekadar kesal atau benci. Mata Cade bergerak menghindari tatapan Rose. “Sudah kubilang, kalau aku ikut bersamamu, kamu d

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 38 - Kabur dari Kejaran Riders

    “Awas, Cade!” Jeritan Rose mengempas keterkejutan Cade, membuatnya tersadar bahwa tangannya tengah memegang pistol. Segera dia angkat pistol itu ke arah Riders yang bergelantungan di pintu mobilnya. Dua peluru yang saling berlawanan pun beradu. Rose menjerit kembali saat matanya menangkap peluru

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 36 - Mobil Pembawa Sial

    Mendengar Leon melantur seperti itu, Cade menukas, “Jangan mengada-ngada.”Pasalnya, perkataan Leon sempat membuat Cade hilang fokus sejenak. Cade melirik kanan, kiri, dan belakang melalui spion, memastikan tidak ada apa pun yang mengikuti mereka.“Hei, kamu yang bilang sendiri pada Rose tadi kal

  • Menjadi Tawanan Empat Pria Tampan   BAB 34 - Kegundahan Leon

    Setelah memasukkan semua barang belanjaan ke dalam mobil—bungkusan roti di jok depan, senjata di jok penumpang belakang, lalu persediaan makanan dan peralatan lain di bagasi—mereka siap berangkat meninggalkan Everstide.Sebelum pergi, mereka bertiga berdiskusi untuk menentukan tujuan selanjutnya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status