로그인“Kamu mau yang mana, Rose?” tanya Leon, berbisik di telinga Rose agar si penjual tidak mendengar namanya.“Uhhh ... aku bingung.” Bola mata Rose terus bergerak, menyusuri satu per satu pakaian yang menggantung.Model pakaian di sini semuanya model pria, sehingga Rose sulit menentukan yang cocok untuknya. Dia kemudian berbalik, diam-diam membuka kain jubahnya untuk mengintip model baju yang sedang dikenakannya. “Kaos dan jaket ... juga celana slim,” ucap Rose lirih, “tapi mana yang harus kubeli?”Leon menengok pada Rose, berbisik lagi, “Apa kamu butuh bantuan? Aku bisa mencarikannya untukmu.”“Eh? Benarkah? Kalau begitu, bisa kamu bantu cari kaos, jaket, dan celana slim?” Rose mendongak, membalas dengan suara yang lirih pula.“Tentu,” jawab Leon, senyumnya tersungging manis.Dia beralih pada pemilik toko yang masih menanti “Pak, di mana aku bisa mencari pakaian dengan ukuran yang paling kecil?”Pemilik toko mengerutkan dahi, matanya tampak memindai tubuh Leon. “Tapi kamu tingg
“Leon? Kenapa kamu ada di sini?” tanya Rose, tak berkedip melihat Leon yang mendekatinya.“Seharusnya aku yang berkata seperti itu! Kamu seharusnya bersama Shin, kan? Di mana dia?” Leon balik bertanya. “Kamu sudah berada jauh dari kios bahan bakar.”“Eh? Bagaimana kamu tahu? Sungguh, aku bingung di mana lokasiku sekarang,” keluh Rose.Leon mengangkat dagu, menampakkan kebanggaan pada dirinya sendiri. “Yah, aku kan, cepat hafal suatu tempat. Cukup dengan memutari pasar ini sekali, aku sudah hafal letak kios-kiosnya. Belum lama aku melewati toko bahan bakar. Kalau kamu sedang kembali ke jalur keluar, seharusnya tidak berada di sini.”“Begitulah, aku tersesat. Shin terpisah denganku, terakhir kali dia berada di kios senjata sebelah toko bahan bakar. Dia melihat-lihat terlalu lama, jadi aku tarik dia untuk pergi. Tapi ternyata ... aku salah menarik orang.” Rose bercerita dengan wajah memerah kepalang malu, kepalanya menunduk dalam-dalam.“Maksudmu kios yang khusus menjual senapan?” D
“Sial, aku tersesat ....” Bahu Rose merosot begitu menyadari Shin telah terpisah dengannya.Beberapa waktu yang lalu, setelah Cade menyuruh Shin untuk menemani Rose, keduanya pergi ke pasar bagian utara yang merupakan jalur pedagang bahan bakar dan pakaian. Sementara Cade dan lainnya pergi ke pasar bagian barat. Kedua pasar itu masih bergabung menjadi satu, hanya jalur masuknya yang dibedakan. Brookslein membagi pasarnya menjadi beberapa bagian agar kerumunan tidak terkumpul menjadi satu. Juga agar mobilitas di pasar bisa berjalan lancar meskipun ramai.“Wah, pasarnya luas.” Rose terpana begitu memasuki pintu masuk pasar yang ditandai dengan dua pilar tinggi dengan obor menyala di atasnya.Shin menyentuh kepala Rose yang mendongak terlalu tinggi, mendorongnya pelan untuk menunduk. “Jangan mengangkat kepala tinggi-tinggi. Identitasmu bisa ketahuan nanti.”“Iya, iya,” gerutu Rose.“Juga jangan banyak bicara,” tambah Shin.Rose mendesis, mulai kesal. “Aku tahu, Bodoh.”Tangan Sh
“P-pakaian?” Rose terpana, mulutnya sampai terbuka lama. Dia menatap uang kertas di tangan Cade, menghitung jumlahnya, lalu balas berbisik, “Kamu memberiku ini semua? Terlalu banyak, Cade.”“Justru itu. Ambillah, cepat.” Cade menarik tangan Rose, menjejalkan lipatan Goldyn itu ke dalam genggamannya. “Kamu belum punya baju baru sejak awal kuberikan, kan?”“Aku tak masalah dengan apa yang kumiliki sekarang. Kenapa tiba-tiba kamu menyuruhku beli baju baru?” tanya Rose lagi, tak mengerti kenapa Cade tiba-tiba saja menyuruhnya membeli pakaian.Pakaian yang Rose pakai selama perjalanan ini memang pemberian Cade saat singgah di Haven. Rose belum pernah memberi yang baru karena tak punya uang. Tak punya barang yang bisa ditukar juga. Dalam perjalanan, dia tak pernah memikirkan pakaian baru. Kebutuhan logistik kelompoknya lebih penting untuk dipenuhi terlebih dahulu. Namun, dia tak pernah mempermasalahkannya. Setidaknya, dia memiliki pakaian lebih dari satu untuk dipakai bergantian. Ro
Bunyi ledakan yang mengejutkan itu menghentikan aktivitas penduduk dalam sekejap. Termasuk Rose yang baru saja akan menyantap sup dagingnya. Tangannya yang sudah menyendok kini dia turunkan kembali, selagi pandangannya tertuju pada penduduk Brookslein yang kembali beraktivitas.Ini mengherankan. Mereka hanya terkejut sejenak, melihat ke udara, lalu melanjutkan kegiatan mereka. Seolah-olah suara ledakan itu adalah hal yang sudah biasa terjadi.Sementara Rose dan teman-temannya masih membeku di tempat, saling pandang satu sama lain. Mereka sudah berpikir macam-macam soal ledakan yang terdengar cukup dekat.Rose yang merasa janggal pun bertanya pada penduduk Brookslein yang datang membawakan air minum. “Maaf, barusan tadi suara apa? Sepertinya itu ledakan yang besar.”“Oh, yang tadi? Itu bukan masalah besar. Sudah sering kami mendengarnya, karena tak jauh dari ini, para Hunters dan Riders sedang berkonflik. Yah, sudah lama terjadi, tapi mereka belum berhenti juga,” jelas si penduduk
Foschter, Mandeville, Canyster ... lalu selanjutnya Brookslein. Rose sudah melewati empat wilayah dalam waktu empat hari, menyisakan seperempat jalan menuju Sanctuary Dome. Dia dan teman-temannya sengaja singgah di satu wilayah tiap satu hari. Selain ingin menikmati perjalanan dengan tidak terburu-buru, mereka juga menyisihkan waktu untuk Rose berlatih.Latihan menembak bersama Shin cukup lancar. Rose sudah bisa mengenai target walau masih sedikit meleset. Shin tak lagi sering memarahinya, tapi justru karena itu, Rose jadi merasa aneh. Dia tak biasa melihat Shin yang lembut dan berbicara dengan nada rendah. Terlebih pada waktu-waktu di mana Shin berada di belakang Rose persis untuk memastikan bidikannya benar. Wajahnya benar-benar berada di samping wajah Rose, membuat pipi Rose terkadang bersemu merah.Bukan hanya Shin saja yang memperlakukannya seperti murid kesayangan. Leon pun mengajarinya cara bertarung memakai belati layaknya guru profesional. Guru pribadi, lebih tepatnya.
Cade terbahak mendengar Rose mengatakan seluruh kalimat tadi dengan penuh tekad. Gelak tawanya menggelegar di ruang bawah reruntuhan yang cukup sempit itu. Dia tertawa seperti sedang melihat lelucon di televisi, jelas sedang mengejek Rose.Cade berkata, “Apa kamu bilang? Mau membawanya kabur? Kamu
Beberapa waktu kemudian, mata Rose mulai terbuka perlahan. Tak tahu sudah berapa lama dia kehilangan kesadaran. Dia mengira akan disambut oleh cahaya menyilaukan, tapi ternyata tidak. Ketika matanya sepenuhnya terbuka, yang ditatapnya justru langit-langit reruntuhan bangunan.Sekitarnya gelap, tapi
“Oh, aku hampir lupa,” gumam Cade.Baru beberapa meter dari tempat tinggal Rose, Cade berhenti melangkah. Dia berbalik menghadap Rose sembari merogoh isi ransel besarnya. Tangannya menarik keluar sebuah jubah hitam besar bertudung dari ransel tersebut.Cade melemparkan jubah itu pada Rose yang bera
Rose tak lagi mendengar langkah kaki pria itu. Tangannya mulai membuka pintu lemari, tapi hatinya masih bimbang. Apakah pria itu sudah sungguhan pergi?Udara pengap di dalam lemari membuat Rose tak bisa bersembunyi lama. Dia pun keluar dari lemari, berjalan memeriksa keadaan dengan pelan. Hingga ka







