로그인“Balik arah, Leon! Cade dalam bahaya!” teriak Rose, meronta minta dilepaskan.Cade bisa mati jika dibiarkan melawan semua Riders sendirian. Dan Rose jelas tak mau itu terjadi.Leon mendengus kesal, “Hei, aku sudah bilang Cade bisa menanganinya, kan?!”“Dia memang Riders, tapi dia sendirian! Lawannya ada banyak! Dan kamu pasti tahu, kalau mereka tidak akan mengampuni anggota yang memisahkan diri. Mereka akan memenggal Cade!” tukas Rose.“Lalu apa gunanya aku membawamu sejauh ini kalau kembali lagi? Cade akan memarahiku, tahu!” balas Leon tak mau kalah.“Jangan pedulikan ucapan Ca ....”Suara Rose mengecil begitu deru motor melahap seluruh keberaniannya. Sekujur tubuhnya kembali dingin. Matanya melihat beberapa titik cahaya yang mendekat dengan cepat. Belum sempat Rose terkejut, cahaya yang berasal dari lampu motor itu sudah berada di sekelilingnya.Langkah Leon terhenti. Rose bisa merasakan cengkeraman tangan Leon pada pinggangnya mengencang. Mereka dihadang. Belasan motor dat
Suara Leon yang merintih pelan membuat hati Rose langsung merasa lega. Dia mengusap air matanya, ujung bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. Leon yang telentang mulai beranjak bangun sambil merintih kesakitan. Bibirnya sobek, mengeluarkan darah hingga ke dagu. Rambut pirangnya berantakan, kuncirannya nyaris terlepas. Jubah juga sobek di sana-sini, tapi berkat itu, tubuhnya tidak terluka terlalu banyak.Yang paling parah sepertinya adalah Cade. Tak lama setelah Leon bangun, Cade yang jatuh tertelungkup pun mengangkat kepalanya. Dan Rose melihat darah mengalir dari dahinya, menetes di ujung dagu. Jaketnya pun sobek di bagian lengan dan punggung, menampakkan kulit yang tergores dalam.“Cade, kepalamu ....” Rose hendak menghampiri Cade untuk memeriksa kepalanya, tapi Cade lebih dulu mendekat padanya dengan wajah panik.Mata membelalak. Urat muka tegang. Mimiknya saat berlari ke arah Rose seakan sedang melihat sesuatu yang sangat menyeramkan.Rose awalnya bingung. Namun, begitu
Setelah Cade memberikan instruksi, dia dan Leon menaiki motor masing-masing, bersama-sama menghitung mundur untuk menyalakan mesinnya.BRUMMM!“Sial, kencang sekali suaranya,” desis Leon begitu deru motor melengking tinggi.“Sudah, ayo cepat pergi! Pegangan, Rose!” tukas Cade yang langsung menarik gas, membuat motor melaju dalam kecepatan penuh.Rose hampir saja terjungkal ke belakang kalau tidak berpegangan pada Cade. Dia kira kecepatannya tidak akan sekencang itu. Angin malam yang menerpanya mengempas tudungnya ke belakang, menampakkan rambut panjang yang helainya beterbangan.Buru-buru Rose menariknya kembali, memegangi kerah jaketnya agar tudungnya tidak lepas lagi. Satu tangan memegang tudung, satu lagi melingkar di badan Cade.“Dekatkan tubuhmu, Rose! Kita melaju dengan cepat, jangan sampai kamu terlepas,” tukas Cade.“Ba-baik!” jawab Rose.Dengan gugup, Rose memajukan tubuhnya hingga menempel dengan punggung Cade. Canggung sekali rasanya. Namun, dia jadi bisa mendekap
“Perhatian, penduduk Moores seluruhnya! Wilayah ini telah kami tentukan sebagai salah satu wilayah kekuasaan Riders! Silakan berikan upeti berupa seratus ribu Goldyn per orang. Kalau tidak punya, berikan barang paling berharga kalian. Kalau masih tidak punya apa pun untuk upeti ... maka kami akan jadikan kalian abdi kami.” Suara berat penuh tekanan yang menghantui malam para penduduk Moores menggema di seluruh gang dan jalanan. Orang-orang sontak terbangun, tertatih-tatih melihat siapa yang mengacaukan tidur mereka. Dan saat mereka tahu siapa yang telah datang ke rumah mereka, semua langsung berteriak panik. Jeritan para warga membuat Tommy, Riders yang bertugas memberi pengumuman itu berseru. “BERISIK! Daripada berteriak seperti orang gila, lebih baik kalian segera menyiapkan upetinya! Kami akan segera mendatangi kalian satu per satu, dasar manusia rendahan!” Dari reruntuhan tempatnya singgah, Rose bisa melihat seberapa banyak yang datang dari lantai tiga. Dia mengikuti Cade dan
Cade menelan ludah. Mimik Rose kelihatan sangat marah. Dahinya berkerut, kedua alisnya nyaris terpaut, dan matanya membara layaknya bola api. Rose benar-benar murka, bukan hanya sekadar kesal atau benci. Mata Cade bergerak menghindari tatapan Rose. “Sudah kubilang, kalau aku ikut bersamamu, kamu dalam bahaya. Kamu akan ikut diincar Riders. Sudah lihat tadi betapa mengerikannya mereka, kan? Jika bertemu Riders sekali lagi, kamu akan mati sebelum bertemu ibumu.” Ingatkan Rose kembali akan tujuannya. Dia hanya ingin bertemu ibunya. Itu pasti lebih penting dan berharga bagi Rose, mustahil dia melepaskannya. Itulah yang ada di pikiran Cade. Namun rupanya, isi kepala Rose tidak lagi sesederhana itu. “Persetan dengan itu! Mau aku mati, membusuk di jalanan, atau apa pun itu ... aku tak akan mencapai Sanctuary Dome tanpamu!” Rose berseru, jari-jarinya menggenggam jaket Cade lebih kencang. “Kamu yang sudah membawaku keluar dari rumahku, jadi ini semua tanggung jawabmu. Jangan berani-ber
Cade menelan ludah. Mimik Rose kelihatan sangat marah. Dahinya berkerut, kedua alisnya nyaris terpaut, dan matanya membara layaknya bola api. Rose benar-benar murka, bukan hanya sekadar kesal atau benci. Mata Cade bergerak menghindari tatapan Rose. “Sudah kubilang, kalau aku ikut bersamamu, kamu dalam bahaya. Kamu akan ikut diincar Riders. Sudah lihat tadi betapa mengerikannya mereka, kan? Jika bertemu Riders sekali lagi, kamu akan mati sebelum bertemu ibumu.” Ingatkan Rose kembali akan tujuannya. Dia hanya ingin bertemu ibunya. Itu pasti lebih penting dan berharga bagi Rose, mustahil dia melepaskannya. Itulah yang ada di pikiran Cade. Namun rupanya, isi kepala Rose tidak lagi sesederhana itu. “Persetan dengan itu! Mau aku mati, membusuk di jalanan, atau apa pun itu ... aku tak akan mencapai Sanctuary Dome tanpamu!” Rose berseru, jari-jarinya menggenggam jaket Cade lebih kencang. “Kamu yang sudah membawaku keluar dari rumahku, jadi ini semua tanggung jawabmu. Jangan berani-bera
Mata Rose melebar mendengar permintaan maaf yang Leon ucapkan. Dengan bibir yang bergetar saking terkejutnya, dia bertanya untuk memastikan, “Apa kamu bilang barusan?” Leon menunduk makin dalam, mengulangi perkataannya, “Aku minta maaf. Maafkan aku karena telah menyerahkanmu pada para perampok wa
Bulu kuduk Rose meremang seketika, merasakan kengerian luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia meronta tanpa merintih, berusaha tidak mengeluarkan suara layaknya wanita. Dia ingin menggertak pria itu, tapi dia tidak bisa menyamarkan suaranya kecuali saat berkata lirih.Semakin Rose meronta, s
“Sudah pernah kubilang kalau hal ini wajar, kan?” Cade mengernyit mendapati raut Rose yang pucat, seperti baru pertama kali melihat dia membunuh seseorang. “Yah, kamu sepertinya hanya belum terbiasa. Kita akan mengalami hal seperti ini lagi dalam perjalanan kita ke depannya.” Rupanya, Rose masih
Leon terlihat sumringah saat mendengar informasi dari Arai kalau tidak ada lagi wanita di Wilayah Luar. “Oh, baguslah! Kalau begitu, artinya sayembara jutaan Goldyn itu akan dicabut, kan? Dan pembangunan ulang akan dilakukan ke seluruh wilayah?” Arai tertawa makin keras begitu Leon melempar perta







