LOGINOliver bener bener dah... Absen yuk yang udah mampir di novel baru mamazan dengan tulis komentar kalian yaa Big hug and love
Bab 73Lila menjerit keras, suaranya memenuhi kamar saat gelombang kenikmatan itu datang bertubi-tubi. Tubuhnya gemetar hebat, melengkung di bawah tekanan dan dominasi Oliver yang sama sekali tidak memberinya celah untuk bernapas.Namun, Oliver belum puas. Dengan gerakan yang sangat tangkas dan bertenaga, ia memutar tubuh Lila hingga wanita itu kini memunggunginya. Oliver menarik pinggul Lila ke atas, sementara ia sendiri berlutut di belakangnya, memposisikan diri dengan presisi yang mematikan.Tanpa peringatan, Oliver kembali menghujamkan miliknya dari belakang dalam satu dorongan yang sangat dalam dan bertenaga."AKH! TUAN—!" Lila membelalakkan matanya, napasnya seolah tercekat di tenggorokan. Ia mencengkeram sprei dengan kuku-kukunya yang memutih. "Tuan... Akh... Itu... itu sangat dalam... hhh...""Sshh... Rasakan ini, Lila," geram Oliver rendah tepat di tengkuknya. Suara serak pria itu terdengar sangat maskulin dan penuh gairah.Oliver mengambil kendali penuh. Kedua tangan besarny
Bab 72Oliver semakin intens memainkan klitoris Lila hingga wanita mungil itu menjerit dalam gelombang kenikmatan. "Tu...an... Eungh!"Oliver menyeringai puas, ia berpindah posisi, dan mengarahkan miliknya ke mulut Lila, "Now... Do it Lila."Lila dengan nafas tersengal-sengal membuka mulutnya, memegang kendali dari kejantanan Oliver yang berurat itu, tangannya terasa begitu panas saat bersentuhan. "Ugh...""Damn... Lila..." Oliver menggeram kenikmatan dengan permainan mulut Lila yang memanjakan kejantanannya.Oliver memejamkan mata erat, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan kehangatan yang melingkupi miliknya. Jemari tangannya mencengkeram headboard kasur, urat-urat di lengannya menegang seiring dengan geraman rendah yang lolos dari tenggorokannya. Permainan mulut Lila yang awalnya ragu, kini mulai menemukan ritmenya, memberikan sensasi yang hampir membuat Oliver hilang akal dalam sekejap."Lila... keep going..." desis Oliver dengan suara serak yang pecah karena gairah.Lila,
Bab 71Lila terlonjak kaget, detak jantungnya seakan berhenti sesaat ketika mendengar bisikan rendah nan serak itu tepat di depan wajahnya. "Serve me," suara itu bukan sekadar perintah, melainkan mantra yang seolah memiliki daya magis untuk melumpuhkan logika Lila dalam sekejap.Pandangan mereka beradu di bawah temaram lampu kamar. Mata kelam Oliver yang biasanya sedingin es, kini berkilat penuh gairah dan dominasi yang pekat. Lila merasa pening, bukan karena kepalanya yang berat, tapi karena permainan emosi yang Oliver suguhkan begitu tiba-tiba.Ia yang tadinya berusaha keras mendorong dada bidang itu, perlahan merasa tenaganya menguap. Protes yang sudah di ujung lidah tertelan kembali, digantikan oleh napas yang memburu. Kata-kata Oliver barusan seolah menghipnotisnya, menembus lapisan pertahanan harga diri yang selama ini ia bangun kokoh.Tanpa sadar, jemari Lila yang tadi mengepal untuk memukul, kini perlahan terbuka dan berpindah. Ia justru menggenggam erat lengan kokoh Oliver yan
Bab 70"Organisasi?" tanya beberapa petinggi di ruangan itu hampir bersamaan. Mereka saling lirik, merasa asing dengan istilah yang baru saja meluncur dari mulut Jonathan. Meski Oliver membisikkannya dengan sangat pelan, keterkejutan Jonathan rupanya cukup hebat hingga ia tanpa sadar menggumamkan kata keramat tersebut.Suasana rapat yang sudah kacau itu pun semakin tidak menentu. "Pak Jonathan, sebaiknya meeting hari ini ditutup saja oleh Anda," suara salah satu direktur menyela, mencoba menormalkan situasi yang makin canggung.Jonathan tersentak, ia segera menarik napas dalam dan berusaha menormalkan ekspresinya yang sempat pias. "Ah, ya. Maafkan saya. Karena sifat Oliver yang masih kekanakan seperti itu," ucapnya sembari memaksakan sebuah senyum tipis.Jonathan pun menutup meeting yang bahkan tidak dimulai itu. Ia meminta maaf yang sangat dalam atas nama Oliver, bertingkah seolah ia adalah orang tua yang sabar menghadapi anak tiri yang kurang ajar. Namun di balik topeng itu, jantungn
Bab 69Pintu ruang rapat terbuka. Oliver melangkah masuk dengan langkah yang bergema di lantai marmer. Ia menatap sekeliling ruangan yang seharusnya menjadi hak miliknya sepenuhnya jika saja Jonathan tidak merebut kendali bertahun-tahun lalu.Jonathan mengernyitkan dahi, menatap ke arah pintu yang tertutup rapat di belakang Oliver. Ia menunggu beberapa saat, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran orang asing."Oliver?" Jonathan bersuara, nada bicaranya penuh kebingungan. "Di mana tamu yang kau katakan? Delegasi dari pasar Eropa itu... mana mereka?"Bukan hanya Jonathan, para petinggi Monfalco Corp yang duduk di sana pun tidak bisa menyembunyikan ekspresi bingung mereka. Mereka sudah bersiap menyambut investor besar, namun yang muncul hanyalah Oliver seorang diri.Oliver berjalan dengan sangat santai menuju kursi kosong di meja panjang itu. Ia duduk dengan gaya angkuh, menyandarkan punggungnya seolah dia adalah pemilik tunggal ruangan tersebut."Apa aku ada mengatakan mereka akan datang
Bab 68Lila akhirnya menyerah. Dengan langkah berat dan hati yang mendidih, ia masuk ke dalam mobil mewah itu. Sepanjang perjalanan, ia hanya menatap keluar jendela, mengabaikan kemewahan interior mobil yang biasanya akan membuat orang awam terpukau.Sopir Oliver membawanya langsung menuju apartemen pribadi sang tuan—unit penthouse yang berada di puncak gedung paling eksklusif di pusat kota. Begitu mobil berhenti dan Lila turun, ia mendongak menatap gedung tinggi itu dengan perasaan campur aduk."Tunggu, bagaimana aku bisa masuk ke dalam?" gumamnya pelan saat sudah berdiri tegak di depan pintu masuk lobi yang dijaga ketat. Ia baru sadar, ia tidak memegang kunci cadangan, kartu akses, atau apa pun milik Oliver."Apa aku batalkan saja? Mungkin ini saat yang tepat untuk kabur," pikirnya nakal.Baru saja niat untuk melarikan diri melintas di kepalanya, ponsel di genggamannya bergetar pendek. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak tersimpan, namun ia tahu siapa pemiliknya. Isinya







