Mag-log in"Kau tahu? Beberapa hari terakhir, aku berpikir keras mencari hadiah apa yang cocok untuk kalian. Tapi kemudian, aku sadar kalau barang dari mantan tidak bagus untuk memulai lembaran baru. Karena itu, aku memutuskan untuk tidak membeli apa-apa. Yang bisa kuberikan cuma doa semoga kalian hidup harmonis dan bahagia selamanya."Briony kembali mengangguk. Senyumnya tampak rapuh. "Terima kasih.""Selain itu, aku juga ingin meminta maaf. Aku sudah merebut nama anak yang kau buat dulu," Alex menunjuk Andrew. Ia perlu jeda sejenak agar matanya tidak semakin basah dan merah. Suaranya juga tidak boleh goyah."Itu bukan masalah, Alex. Aku membuatnya memang untukmu. Nama Andrew mengikuti inisialmu. Sekarang, karena aku bersama Brandon, aku membutuhkan nama baru yang berinisial B. Kami akan menjadi keluarga B," Briony melirik Brandon dan tersenyum.Alex mengangguk-angguk. Ia merasa kerongkongann
Andrew tertawa kecil mendengarnya. "Tidak apa-apa, Briony. Aku mengerti. Kalian berdua adalah pangeran dan tuan putri hari ini. Untuk itu, selamat atas pernikahan kalian!" Ia memeluk Briony lagi.Briony menepuk-nepuk punggungnya dan mengangguk. "Terima kasih, Andrew. Aku senang kau hadir di acara penting kami.""Omong-omong, kau sudah dua kali memeluk Briony, tapi aku di sini tidak tersentuh. Kapan kau mau memelukku?" ujar Brandon seolah-olah mengambek.Andrew tersenyum simpul. Lirikan matanya menyimpan sesuatu. "Memangnya kau butuh pelukan dariku? Kau sudah mendapatkan pelukan terbaik tadi. Dari Briony!""Tapi aku juga butuh pelukan darimu. Kau adalah sahabat spesialku," Brandon merentangkan tangan.Meski wajahnya terlihat enggan, Andrew tetap mendekat dan memeluk sang mempelai pria. "Baiklah, karena kau memaksa. Selamat atas pernikahanmu, Brandon. Jagala
Detik itu pula, jarum jam seakan tertahan. Waktu yang pernah mereka lewati bersama terputar cepat dengan sendirinya. Kenangan manis dan pahit melebur mengaburkan rasa.Briony masih ingat betapa ia mencintai laki-laki itu dulu. Ia bahkan pernah bermimpi untuk menikah dengannya, mengenakan gaun tercantik dan berjalan ke arahnya yang menunggu di altar. Mereka akan mengucap janji setia dan menjadi pasangan yang sah, punya anak yang lucu-lucu, hidup bahagia, dan menua bersama.Sekarang, di hari pernikahannya, ia memang mengenakan gaun putih yang sangat indah dan berjalan dengan anggun menuju altar. Namun, bukan Alex yang berdiri di ujung sana. Pria itu justru duduk di kursi tamu, sedangkan ia berjalan melewatinya. Seketika, Briony sadar. Keadaan sudah jauh berbeda.'Aku memang pernah mencintaimu dengan segenap hatiku, Alex. Aku juga pernah membencimu dengan segenap jiwaku. Tapi sekarang, aku tidak merasakan kedua
Andrew kembali menatap Summer dengan mata berkaca-kaca. Selang perenungan singkat, ia memutuskan, "Baiklah. Aku tidak akan memikirkannya sekarang. Tapi, River, bisakah kau menungguku? Kau lebih tua dariku. Kau akan menjadi dewasa lebih dulu. Tidak adil kalau kau menjadikan Summer pacarmu sebelum aku dewasa."Alex tercengang. Ia langsung melirik River, penasaran dengan responsnya. Tanpa terduga, bocah itu mengangguk ringan. "Ayo kita bahas lagi kalau umurmu sudah 18 tahun. Itu pun kalau kau masih menyukai Summer. Perasaanmu mungkin saja berubah.""Kurasa tidak. Aku sangat-sangat menyukainya. Sampai kapan pun, aku akan tetap menyukainya.""Bicara memang mudah. Tapi kenyataannya, ayo kita lihat nanti.""Oke."Kedua bocah itu bersalaman, lalu kembali mengamati Summer. Alex terheran-heran melihat mereka. Tidak ada aroma persaingan yang menguar. Mereka justru terlihat
"Ternyata itu alasan kenapa dia agak lama. Dia ganti baju dulu. Tadi dia menggunakan gaun yang berbeda. Yang satu ini jauh lebih berkilau," gumam River, menyampaikan analisisnya.Sementara itu, Andrew masih terpana. Ia perhatikan dengan saksama bagaimana Summer melangkah. Setiap kali gadis manis itu menebarkan kelopak bunga, senyumnya bertambah lebar."Bukankah Summer sangat cantik? Kurasa dia anak perempuan paling cantik yang pernah kulihat," desah Andrew, takjub. Bola matanya masih melekat pada sang gadis.Di sampingnya, River mengangguk. "Ya, dia memang cantik. Karena itu, banyak anak laki-laki yang suka padanya. Apalagi, dia pintar dan asyik. Dia suka bereksperimen dan bertualang. Dia juga kuat dan hebat.""Kurasa aku juga suka padanya," aku Andrew, membuat Alex dan River mengerjap."Apa kau bilang?" tanya mereka bersamaan."
Andrew semakin panik. "Lima menit lagi? Bukankah itu cuma sebentar. Ini benar-benar gawat. Kita terlambat!""Tenanglah, Jagoan. Kita sudah berada di gedung yang sama dengan mereka. Kita cuma perlu turun beberapa lantai, lalu kita sampai di ballroom," Alex menyemprot parfum dengan santai, tidak peduli jika sang putra sudah kebakaran jenggot."Bagaimana kalau perjalanan kita macet?""Kita bukan naik mobil, jadi tidak mungkin macet.""Bisa saja ada banyak orang yang mau naik lift, jadi kita harus mengantre."Alex berbalik dan menatap sang bocah lekat-lekat. "Semuanya sudah Papa perhitungkan, Jagoan. Jadi jangan khawatir. Sekarang, kemarilah!"Andrew melangkah maju dengan wajah cemberut. "Papa mau apa?"Alex langsung membungkuk dan menata rambutnya. "Karena kau anak Papa, kau juga akan menjadi sorotan nanti. Kau harus terlih







