Share

Grahaparm

Author: Choco_muffin
last update Last Updated: 2025-12-10 19:42:35

“Tap! Tap! Tap!”

Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar jelas memasuki kafe. Seketika semua pengunjung membeku, menoleh bersamaan ke arah pintu.

Di sana, Cleona muncul—dengan rambut sedikit berantakan dengan napas terengah—berdiri kaku, matanya ikut menyapu pelanggan yang melihat kearah nya dengan pandangan aneh.

Sejenak suasana berubah hening. hingga tiba-tiba suara berat terdengar.

“Ona, lo dari mana aja?”

Doddy yang berdiri tak jauh darinya melangkah mendekat, lalu sempat mundur selangkah sambil meneliti Cleona dari atas sampai bawah. Sorot matanya ragu.

“Lo… nggak papa?” tanyanya pelan.

Cleona menarik napas pendek, berusaha menegakkan bahunya.

“Aman… gue—aman,” katanya, meski suaranya terdengar goyah.

Doddy hanya mengangguk, mencoba percaya. Lantas ia menambahkan,

“Tadi Pak Bobby pesan, kalau lo dateng lo—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Cleona menepuk bahunya pelan.

“Oke, thanks, Dod,” ucapnya singkat sambil melenggang naik ke tangga kayu yang berderit di setiap injakan.

Mendengar nama Bobby saja, Cleona sudah paham maksudnya. Itu sebabnya ia tak ingin membuang waktu.

Bobby—manager Kafe Rvang. Selama sebulan terakhir, ini sudah ketiga kalinya ia dipanggil. Dan tentu saja, Cleona sudah bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.

Sampai di depan pintu kayu cokelat tua, Cleona berhenti sejenak. Dadanya naik turun, berusaha mengatur napas yang terasa berat.

Tangannya terulur, bergetar saat akhirnya mengetuk.

Tok… tok… tok…

“Masuk,” terdengar suara dari dalam, datar dan berwibawa.

Cleona menelan ludah, jari-jarinya mengepal di sisi tubuh.

“Kalau emang harus dipecat sekarang… ya sudah. Siapa aja deh,” gumamnya pasrah, mencoba meneguhkan diri sebelum memutar gagang pintu dan melangkah masuk.

Begitu pintu terbuka, aroma kopi bercampur asap rokok basi menyambut Cleona. Ruangan itu temaram, hanya diterangi lampu meja yang sinarnya jatuh tepat di atas tumpukan berkas.

“Selamat siang, Pak…” suara Cleona terdengar kecil, nyaris tenggelam.

Bobby duduk di kursi putarnya—kursi hitam yang jadi kebanggaan sekaligus singgasana di ruang sempit itu. Tangannya berhenti mengetik, lalu dengan tenang ia menutup layar laptop.

Kini tatapan Bobby tertuju penuh pada Cleona. Tajam, menusuk, membuat udara di antara mereka semakin berat.

“Kamu tahu jam berapa sekarang?” tanyanya, suara berat dan rendah, tapi cukup memberi tekanan.

Cleona melirik jam dinding dengan terbata.

“S-setengah dua, Pak…”

“Itu artinya kamu terlambat. Tanpa izin, tanpa konfirmasi.” Sela Bobby.

Brak!

Bobby menggebrak meja, membuat berkas-berkas di atasnya bergetar. Suaranya menggelegar, memantul di dinding kantor yang sempit.

“Nggak cuma sekali, Na. Berapa kali saya sudah peringatkan kamu?!”

Tatapannya tajam, menusuk, membuat Cleona tak berani mengangkat kepala.

Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Jari-jarinya saling meremas di belakang tubuhnya, berusaha menahan gemetar yang makin parah. Ia tahu, kali ini mungkin tak ada lagi kesempatan kedua.

“M-maaf, Pak… saya tahu saya salah,” ucapnya terbata.

Bobby menarik napas berat. Selama berbulan-bulan, Cleona sering terlambat, bahkan beberapa kali absen tanpa izin. SP2 sudah ia kantongi, dan hari ini jelas akhir dari segalanya.

Dengan gerakan kasar, Bobby membuka laci. Bunyi besi beradu terdengar keras di ruang sunyi itu. Ia meletakkan sebuah amplop di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Cleona.

“Ini pesangon kamu,” katanya datar, dingin, tak memberi ruang untuk dibantah.

Cleona menelan ludah. Tangannya gemetar saat meraih amplop itu. Rasanya berat—seakan kertas tipis itu berubah menjadi batu yang menghantam dadanya.

.

.

***

Helaan napas berat terdengar begitu Cleona menutup pintu kafe di belakangnya. Udara siang yang tadi panas kini berubah lembap—awan kelabu menggantung rendah, seolah ikut merasakan getir yang membuat dadanya sesak.

Ia menengadah, memejamkan mata sejenak. “Hidup macam apa ini, Tuhan?” bisiknya lirih.

Namun sebelum sempat menarik napas lagi—

Sreettt!

“Eh—!” tubuhnya oleng saat seseorang menarik lengannya kasar dari belakang.

Silvia.

Tanpa banyak bicara, perempuan itu menyeret Cleona ke gang sempit di sisi kafe—tempat pembuangan sampah yang sepi, hanya terdengar bunyi tetesan air dan dengung lalat di sekitar tumpukan kardus basah.

Begitu sampai, Silvia mendorong Cleona hingga hampir terjatuh. Wajahnya merah karena marah, napasnya tersengal.

“Semalem ke mana aja lo?! Gue nunggu sampe jam dua, anjing!” bentaknya tajam. “Gara-gara lo, kita kena denda! BEGO!”

Cleona menunduk, tangan gemetar, jemarinya meremas ujung jaket lusuhnya. Ia tahu—kali ini dia salah.

Silvia melangkah maju, menuding wajah Cleona. “Uang dari mana kita, hah? Dari MANA?”

Cleona menelan ludah, matanya berkaca, tapi suaranya nyaris tak keluar.

“S—sori, Sil… gue cuma—”

Namun kalimatnya terputus ketika Silvia mencengkeram kerah bajunya lagi, menatapnya dengan amarah yang ia tahan sejak semalam.

“Gue nggak mau tau,” desisnya tajam menusuk. “Lo yang bikin masalah, lo yang tanggung. Bayar sendiri lima belas juta itu.”

Cleona terperanjat, wajahnya memucat. “Li—lima belas juta?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar.

Silvia mendorongnya lagi hingga punggung Cleona membentur dinding lembap di belakangnya.

“Gue kasih waktu satu minggu! Kalau lewat, lo tau sendiri akibatnya.”

Udara di antara mereka terasa berat. Cleona menunduk, bibirnya gemetar, sementara hujan mulai turun pelan—menyatu dengan air mata yang ia tahan mati-matian.

Begitu langkah kaki Silvia menjauh, tubuh Cleona perlahan merosot ke tanah. Dingin lantai semen tempat pembuangan itu menembus tipis bajunya yang kini kusut dan kotor.

Dipecat dan harus mengganti rugi lima belas juta? Ia nyaris tak bisa berpikir jernih.

Apa ini balasan karena ia berbohong pada ibunya?

“Ibu… maafkan aku…” bisiknya parau.

Tatapannya jatuh pada amplop cokelat di tangannya — pesangon terakhir dari tempat kerja yang kini tak lagi menerimanya.

Jemarinya bergetar membuka amplop itu, menatap selembar uang yang bahkan tak cukup untuk membayar utang, apalagi biaya cuci darah ibunya.

Hujan yang semula gerimis kini turun deras, membasahi rambut dan wajahnya, seolah langit pun ikut menangisi nasib Cleona.

.

.

Langit mulai gelap ketika Cleona akhirnya melangkah keluar dari gang sempit itu. Langkahnya berat, tapi ia memaksa kakinya terus berjalan menembus sisa genangan air di jalanan.

Beberapa kali ia menarik napas panjang, berusaha menahan perasaan yang menyesak di dada. Ia tidak boleh terlihat lemah. Tidak di depan ibunya.

Saat sampai di rumah kontrakan sederhana itu, lampu teras sudah menyala redup. Sosok ibunya tampak duduk di kursi rotan, menunggu di depan pintu dengan selendang di bahu.

“Ona, dari mana aja, Nak? Ibu khawatir…” suara itu lembut tapi membuat dada Cleona semakin sesak.

Ia tersenyum kecil, memaksa wajahnya tampak tenang.

“Maaf, Bu… habis lembur sedikit,” katanya pelan, berusaha menyembunyikan gemetar di suaranya.

Namun tatapan ibunya yang penuh kasih justru membuat matanya panas. Cepat-cepat ia mengubah topik pembicaraan.

“Ibu, sudah makan?” tanya Cleona, suaranya lirih.

“Sudah… ibu tadi masak telur balado. Kamu mau?” jawab Danila lembut sambil tersenyum kecil.

“Mau, Bu… aku kangen masakan Ibu,”

Mereka akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah mungil itu. Aroma sederhana dari masakan rumahan menyambut, membuat suasana terasa hangat.

Cleona duduk di meja makan, memandangi ibunya yang sibuk mengambilkan nasi, dan dalam hati ia berjanji untuk tetap kuat—apa pun caranya.

.

.

Keesokan harinya, Cleona duduk di sebuah warung bakso pinggir jalan bersama sahabatnya, Cia. Angin sore mengibaskan rambut mereka, sementara asap dari mangkuk bakso mengepul pelan di antara obrolan serius itu.

“Hah? Lo dipecat, Na?” Cia menatapnya tak percaya.

Cleona hanya menunduk, mengaduk baksonya tanpa niat makan.

“Ya, salah gue juga sih… kebanyakan izin,” ucapnya lirih.

“Tapi kan lo izin buat nganterin Ibu lo ke rumah sakit!” sergah Cia, tak terima.

Cleona menghela napas panjang.

“Yang penting sekarang… gue butuh kerjaan.”

Tentu saja, ia akan simpan rapat soal hutang itu, apalagi tentang pria asing yang kemarin berakhir dengan nya di kamar hotel.

Cia menatapnya lama, lalu tiba-tiba berkata dengan nada bercanda, “Gimana kalau lo jual diri aja sekarang?”

Seketika satu kotak tisu di meja langsung melayang ke arah Cia.

“Mulut lo ya!” tegur Cleona tajam.

Beberapa orang di warung menoleh karena suara mereka yang cukup keras. Cia malah tertawa ngakak, tak merasa bersalah sedikit pun.

“Yaudah, yaudah! Bercanda, sumpah!” katanya masih tertawa. “Kalau gitu, kerja part time aja di tempat gue!”

Cleona menoleh, masih mengunyah bakso.

“Di tempat lo? Jadi office girl?” tanyanya sambil memiringkan kepala.

Cia mengangguk mantap.

“Iya. Di Grahapharm.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjebak Cucu Presdir   Surat Perjanjian

    Suara klakson bersahutan dari bawah sana, samar, nyaris tenggelam oleh jarak. Dari atas gedung, jalanan terlihat padat dan kecil—ramai, tapi terasa jauh, seolah berada di dunia lain.Batara berdiri di depan jendela. Satu tangan memegang cangkir teh yang sudah lama dingin, sementara tangan lainnya terselip di saku celana. Pandangannya kosong menembus langit yang mulai gelap, ditambah pikirannya yang berantakan.“Huh…”Helaan napas pelan lolos begitu saja dari bibirnya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara lirih dari belakang—membuatnya refleks menoleh.“Euuggh…”Cleona menggeliat pelan. Tubuhnya terasa kaku, pegal dari pinggang ke bawah. Ia mengerjap beberapa kali, matanya menyipit, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan.Perlahan kesadarannya kembali. Pandangannya berkeliling—menyapu langit-langit, tirai, lalu berhenti pada sosok Batara yang berdiri di depan jendela.Refleks, ia menarik selimut menutupi tubuhnya. “J-jam berapa sekarang?” suaranya serak, gugup. Begitu melihat

  • Menjebak Cucu Presdir   Rekaman CCTV

    Cahaya senja menyusup lewat celah jendela, mewarnai ruangan dengan semburat jingga ketika Batara keluar dari kamar mandi sambil menggendong tubuh Cleona yang terkulai lemah. Sejak siang hingga menjelang senja, pria itu tak hanya sekali menyentuhnya—berkali-kali, hingga tenaga gadis itu benar-benar habis.Dengan hati-hati, Batara menurunkan Cleona ke atas kasur. Tubuhnya tampak lemas, nyaris tanpa daya. Ia menarik selimut hingga menutupi dada gadis itu.“Istirahatlah…” gumamnya lirih.Tentu saja, kata itu hanya menggantung di udara, karena Cleona sudah lebih dulu tidur—bahkan sejak Batara menggendongnya keluar dari kamar mandi.Batara berdiri di sisi tempat tidur, memperhatikan setiap garis wajah itu—alisnya yang tegas, bulu mata yang lentik, hingga bibir yang sedikit bengkak akibat ulahnya sendiri. Senyum tipis terbit di sudut bibir pria itu.“Cantik…” bisiknya pelan.Udara sore terasa hangat, menyelinap lembut lewat jendela yang tirainya setengah terbuka. Cahaya oranye memantul di ku

  • Menjebak Cucu Presdir   Permainan Batara

    Tok! Tok! Tok!Ketukan itu kembali terdengar, lebih keras.Sungguh, Batara ingin menghajar siapa pun yang berani mengganggunya di saat seperti ini. Ia menarik napas panjang, menegakkan tubuh, lalu merapikan kemeja yang sedikit berantakan.Sekilas, pandangan Batara tertuju pada Cleona yang kini terbaring lemas, tubuhnya tanpa sehelai kain pun. Hawa dingin menembus kulitnya, membuat tubuhnya meremang. Kedua tangannya terikat ke atas kepala.Perlahan ia bergerak mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.“Jangan berteriak. Diam di sini kalau kau ingin selamat,” katanya sembari menepuk pelan pipi Cleona.Gadis itu hanya mengangguk pasrah, tubuhnya masih diliputi ketakutan dan kebingungan. Matanya tertutup rapat, membuatnya tak bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi di sekelilingnya.Batara menarik napas panjang, lalu berbalik menuju pintu. Ketukan itu terdengar lagi — kali ini lebih berat dan mendesakTok! Tok! Tok!Ceklek.Pintu terbuka perlahan. Matanya membulat saat mel

  • Menjebak Cucu Presdir   Sisi Lain Batara

    Cleona menelan ludah, tubuhnya seketika kaku. Jantungnya berdetak kencang, napasnya tercekat. Mata Batara menatapnya tanpa berkedip, tajam, penuh pertanyaan—dan amarah yang sulit disembunyikan.Bagaimana bisa… batin Cleona.Batara berdiri perlahan, langkahnya mantap mendekat. Cleona reflek mundur, detak jantungnya semakin cepat. Ia berbalik bergerak ke arah gagang pintu, berencana melarikan diri, tapi sebelum tangannya menyentuhnya—Sreetttt!Genggaman Batara lebih cepat. Tangannya menahan pergelangan Cleona, menariknya mendekat hingga tubuh mereka berdempetan.Seketika, aroma vanila yang lembut dari tubuh Cleona menguar, menusuk indera Batara. Membuat ingatan tentang malam itu di hotel—kembali muncul, dan membangunkan hasrat yang mati-matian ia pendam selama ini.“T-tolong lepaskan saya, Tuan!” suara Cleona bergetar, napasnya tersengal di antara rasa takut dan bingung. Namun genggaman Batara tetap kuat, tegas, tak memberinya ruang untuk lari.“Jadi sekarang, kau ingin memata-matai pe

  • Menjebak Cucu Presdir   Bertemu Kembali

    Jam menunjukkan pukul enam pagi ketika ia melangkah masuk ke gedung Grahapharm. Hari ini, suasananya terasa berbeda—mood-nya sedang bagus. Mungkin karena ini hari pertamanya bekerja.“Selamat pagi, Pak,” sapa Cleona sopan pada petugas keamanan yang berdiri di depan pintu lobi, sambil sedikit menunduk dan tersenyum ramah.Satpam itu membalas dengan anggukan kecil. “Pagi juga, Mbak. Hari pertama, ya?”Cleona terkekeh singkat, mengangguk. “Iya, Pak. Hari pertama banget.”“Semangat, ya. Kerja di sini seru kok, asal tahan sama SOP-nya,” ujarnya bersahabat.“Siap, Pak. Terima kasih.”Cleona lalu melangkah masuk, menatap sekeliling lobi yang masih sepi. Aroma kopi pagi samar tercium dari pantry di ujung ruangan, sementara cahaya matahari menembus kaca besar di sisi kiri, memberi kesan hangat pada awal harinya.Ia menelusuri lorong sesuai arahan Cia—paling ujung sebelah kanan. Langkahnya terpantul lembut di lantai keramik yang masih mengilap. Tak lama, ia tiba di ruang karyawan.Ruangan itu t

  • Menjebak Cucu Presdir   Ketakutan Zachary

    Sesuai ide Cia semalam, Cleona kini berdiri di depan gedung yang menjulang tinggi dengan tulisan besar “Grahapharm.” Di tangannya, ia menggenggam amplop cokelat berisi surat lamaran kerja dan data diri.“Huh…” ia menghela napas berat, lalu mengepalkan tangan kanannya.“Semangat!” bisiknya pada diri sendiri.Begitu sampai di meja security, ia menyapa sopan.“Permisi, Pak. Mau interview dengan Ibu Sofie.”Sofie adalah supervisor office boy/girl di perusahaan itu.“Oh, kalau gitu ikut saya, Mbak,” jawab security ramah.Cleona mengangguk cepat. Ia pun mengikuti langkah petugas melewati lorong demi lorong. Setiap sudut terasa asing, membuatnya semakin gugup. Kedua tangannya meremas map cokelat di dada, seolah menjadi pegangan terakhir.Hingga akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah pintu dengan papan nama bertuliskan“General Affairs Office”Cleona menahan napas ketika, Security mengetuk sebentar, lalu membuka pintu.Ruangan itu sederhana—ada meja besar dengan tumpukan map, papan jadwal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status