Share

Ketakutan Zachary

Penulis: Choco_muffin
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-06 15:55:46

Sesuai ide Cia semalam, Cleona kini berdiri di depan gedung yang menjulang tinggi dengan tulisan besar “Grahapharm.” Di tangannya, ia menggenggam amplop cokelat berisi surat lamaran kerja dan data diri.

“Huh…” ia menghela napas berat, lalu mengepalkan tangan kanannya.

“Semangat!” bisiknya pada diri sendiri.

Begitu sampai di meja security, ia menyapa sopan.

“Permisi, Pak. Mau interview dengan Ibu Sofie.”

Sofie adalah supervisor office boy/girl di perusahaan itu.

“Oh, kalau gitu ikut saya, Mbak,” jawab security ramah.

Cleona mengangguk cepat. Ia pun mengikuti langkah petugas melewati lorong demi lorong. Setiap sudut terasa asing, membuatnya semakin gugup. Kedua tangannya meremas map cokelat di dada, seolah menjadi pegangan terakhir.

Hingga akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah pintu dengan papan nama bertuliskan

“General Affairs Office”

Cleona menahan napas ketika, Security mengetuk sebentar, lalu membuka pintu.

Ruangan itu sederhana—ada meja besar dengan tumpukan map, papan jadwal piket OB/OG di dinding, dan aroma kopi yang masih hangat.

Di balik meja, seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tegas tapi tidak dingin. Dialah Sofie, supervisor office girl Grahapharm.

“Bu Sofie, ini ada pelamar,” ucap security singkat.

Sofie yang tengah memeriksa berkas mendongak, lalu tersenyum ramah.

“Terima kasih, Pak.”

Security itu mengangguk sopan sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Sofie menoleh pada Cleona, suaranya tenang.

“Silakan duduk.”

Cleona menarik kursi perlahan, mencoba menyembunyikan kegugupan yang sejak tadi menempel di wajahnya. Ia menyerahkan berkas CV ke meja. Sofie menerimanya dengan sopan, membuka lembaran itu, lalu menatap Cleona sambil tersenyum tipis.

“Baik, coba perkenalkan diri kamu,” ucap Sofie.

Cleona menegakkan tubuh, menarik napas pelan berusaha tenang. Ia mulai dengan menyebutkan nama, latar belakang pendidikan, hingga pengalaman kerjanya yang terakhir.

Ia juga menjelaskan alasan mengapa ia berhenti dari pekerjaan sebelumnya—semua sudah ia latih sebelumnya agar terdengar meyakinkan.

Sofie mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk sambil menandai beberapa hal di berkas. Sesekali ia melempar pertanyaan singkat, dan Cleona berusaha menjawab sebaik mungkin, meski tangannya dingin di atas pangkuan.

“Kebetulan ada karyawan kami yang sedang cuti melahirkan,” jelas Sofie dengan nada datar tapi ramah. “Jadi untuk sementara, kami butuh orang part-time. Utamanya pas pagi hari sama jam pulang kantor, karena biasanya lumayan sibuk.”

Ia berhenti sejenak, menatap Cleona. “Gimana, kamu bersedia?”

Cleona mengedipkan mata berulang kali, pikirannya sibuk menimbang. Sesaat kemudian ia menarik napas panjang dan mengangguk pelan.

“Iya, Bu… saya bersedia.”

Sofie menutup map di tangannya sambil tersenyum tipis.

“Baik, kamu bisa mulai besok pagi. Usahakan datang pukul enam, ya. Karena setengah jam sebelum kantor aktif, ruangan sudah harus dalam keadaan bersih.”

“Baik, Bu,” Cleona mengangguk sopan.

Ia segera berdiri, merapikan tas kecil di bahu. Langkahnya keluar dari ruangan terasa ringan.

Gedung itu begitu luas, membuat Cleona sempat bingung harus melewati lorong yang mana. Dengan langkah ragu ia menyusuri koridor, sesekali menoleh ke kanan dan kiri.

“Duh, Ona… bisa-bisanya lupa jalan,” gumamnya sambil mengetuk pelan kepalanya sendiri.

Saat matanya menerawang mencari arah, di sisi lain gedung, Batara melangkah masuk ke lift dengan tergesa. Ponsel menempel di telinganya, mulutnya sibuk bergumam menanggapi lawan bicara.

Dengan tidak sabar jarinya berulang kali menekan tombol pintu agar segera tertutup.

Namun tepat sebelum pintu benar-benar menutup rapat, pandangannya terhenti. Wajah Cleona terlihat jelas di luar sana.

Tatapan mereka bertemu—terkunci sejenak, membungkam semua suara.

Dan pintu lift pun menutup.

Batara berdiri membeku. Suara di seberang telepon berkali-kali memanggil namanya, tapi ia tak bergeming.

“Bukankah wanita itu… yang menjebakku?” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

“Untuk apa dia di sini? Apa sekarang dia sedang memata-matai perusahaanku?” Dahinya mengernyit tajam. Ia mengepalkan tangan. Rahang kirinya tampak menegang, urat di lehernya menonjol.

Sialan

Tatapannya tajam, menusuk pintu lift yang sudah tertutup. ‘Siapa yang ada dibalik semua ini?’

“Hallo... Pak Batara?”

Suara di seberang telepon membuyarkan lamunannya. Ia mengerjap pelan, ia baru sadar masih berada dalam panggilan. cepat-cepat ia menegakkan badan, merapikan nada suaranya.

“Baik,” suaranya kembali datar, dingin. “Hubungi saya lagi kalau sudah ada keputusan yang deal.”

Tut.

Tanpa menunggu balasan, ia menurunkan ponselnya dan menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan logam.

Udara di sekitar terasa menekan. Bau parfum wanita tadi masih samar-samar tercium, membuat pikirannya makin kusut. Membawanya kembali mengingat adegan panas malam itu.

Baru membayangkan saja membuat bagian bawahnya berdiri mengeras sial.

Batara mengembuskan napas panjang, mengusap wajahnya cepat, lalu—

Ting!

Suara pintu lift terbuka, bersamaan dengan helaan napas beratnya—seolah ia mencoba menyingkirkan bayangan masa lalu yang tiba-tiba muncul begitu nyata di depan matanya.

Ia melangkah keluar dengan langkah mantap, menyelipkan satu tangan ke saku celana. Wajahnya tegak, rahang mengeras, sorot matanya tajam—memancarkan wibawa yang cukup membuat siapa pun menunduk saat berpapasan dengannya.

Klik.

Begitu pintu ruangannya terbuka, langkahnya terhenti. Seseorang sudah duduk di sofa kulit hitam di dalam sana—seorang pria paruh baya dengan tongkat di tangan, wajahnya tenang tapi tajam.

Zachary Kaleef.

“Kakek…” suara Batara sedikit merendah, “kenapa kakek di sini?”

Pria itu menegakkan punggungnya, menatap Batara dari balik kacamata berbingkai perak. “Ini perusahaanku,” ucapnya pelan tapi tegas. “Meskipun sudah kuserahkan padamu, aku masih punya hak di sini, anak muda.”

Batara mendengus kecil, sudut bibirnya terangkat sinis. Ia tahu betul, kakeknya tak akan datang ke kantor hanya untuk basa-basi.

“Apa yang mau kakek bicarakan?” tanyanya langsung.

Zachary tersenyum samar, pria tua itu selalu memisahkan urusan kerja dari kehidupan pribadi—baginya, rumah adalah tempat istirahat, bukan medan perang. Karena itulah, setiap kali ada hal penting menyangkut bisnis, ia lebih memilih membahasnya langsung di kantor.

Tawa ringan keluar dari bibir Zachary sebelum akhirnya ia menarik napas panjang. Lalu wajahnya berubah serius.

“Aku dengar… ada yang menjebakmu lagi?”

Batara spontan menoleh, wajahnya menegang. Hening sejenak, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.

Zachary menyandarkan tubuhnya ke sofa, matanya menerawang ke luar jendela, menembus deretan gedung tinggi yang berkilau di bawah cahaya matahari.

“Sudah tahu siapa yang melakukannya?” tanyanya datar, tanpa mengalihkan pandangan. Jemarinya mencengkeram tongkat di sampingnya dengan kuat.

Batara menghela napas, suaranya rendah. “Belum. Aku sudah meminta Niko mencari tahu.”

“Apa kali ini umpannya menarik?” tanya kakeknya lagi.

Batara terkesiap. Wajahnya langsung memerah, suaranya terdengar terbata, “A-aku tidak termakan umpannya. Tentu saja aku tidak sebodoh itu, Kek,” kilahnya cepat.

Namun alih-alih percaya, Zachary justru menatapnya lebih dalam. Tatapannya menyipit, tubuhnya condong ke samping, mendekat ke arah Batara.

“Apa kau yakin?” suaranya kini lebih rendah, nyaris seperti bisikan yang menekan. “Lalu bagaimana kau bisa lolos dari obat perangsang itu?”

Deg!

Darah Batara seolah berhenti mengalir sesaat. Ia tak menyangka kakeknya tahu sampai sedetail itu.

Ia berdeham, mencoba menutupi gugupnya. “Tentu saja… aku…” ia menelan ludah, matanya mengalihkan pandang. “Aku bermain sendiri.”

Sejenak, suasana hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar di antara mereka. Zachary bersandar pelan, menatap cucunya dengan sorot mata yang sulit terbaca.

“Baiklah, kakek percaya padamu…” ucapnya akhirnya, suaranya berat tapi tenang. “Tapi kau harus lebih berhati-hati. Cepat atau lambat… mereka akan tahu di mana letak kelemahanmu.”

Batara mengerutkan dahi, mencoba membaca maksud di balik kata-kata itu. Namun sebelum ia sempat bertanya, Zachary menunduk. Ujung jarinya mengusap sudut matanya yang mulai basah.

“Karena kalau itu terjadi lagi…” suaranya bergetar tipis, “…aku tidak sanggup kehilangan untuk ketiga kalinya.”

Batara menatap kakeknya, keningnya berkerut.

Kehilangan ketiga kalinya?

Selain orang tuanya yang meninggal karena dibunuh, siapa lagi yang dimaksud?

Apa… neneknya?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjebak Cucu Presdir   Kotak Misterius

    “Ona … kalau pulang, Ibu nitip roti tawar, ya.”Itu kalimat terakhir Danila saat Cleona berpamitan untuk menemui Cia. Hari itu, mereka berencana bersama-sama mendatangi kantor polisi sebagai saksi atas penemuan mayat kemarin.Seandainya Cleona tahu itu akan menjadi hari terakhirnya bersama sang ibu, ia akan menukar apa pun agar bisa tetap tinggal di rumah.Kini, di hadapannya, di atas ranjang pasien, tubuh Danila terbujur kaku. Wajahnya pucat dan dingin. Beberapa kabel yang masih menancap di tubuh itu perlahan dilepas, satu per satu.“Ibu…” Tangannya gemetar saat menyentuh kulit yang tak lagi hangat.“Tolong jangan tinggalkan Ona.” Air mata Cleona jatuh, membasahi wajah sang ibu.Cia mendekat dan mengusap lembut bahu Cleona. Tak ada kata. Hanya sentuhan pelan, seolah berharap itu cukup untuk menguatkan sahabatnya yang tenggelam dalam duka.Suara tangis Cleona menjadi satu-satunya bunyi di ruang ICU itu. Hawa dingin terasa semakin menusuk.Sementara itu, Batara menunggu di luar, berdir

  • Menjebak Cucu Presdir   Kehilangan

    Siang itu, di depan ruang IGD, dua wanita bersahabat duduk berdampingan. Aroma antiseptik dan suara langkah kaki yang lalu-lalang menjadi latar di tengah keheningan.“Bener,” ulang Cia pelan, menatap Cleona lekat. “Lo nggak ada hubungan apa-apa sama Pak Batara?”Cleona terpaksa menceritakan bagaimana ia bisa berakhir datang bersama Batara. Ia menyusun cerita yang aman—cukup masuk akal untuk dipercaya, tapi tidak sepenuhnya jujur. Ada bagian yang sengaja ia sisakan, terutama soal perjanjian antara dirinya dan atasannya itu.Ia mengangguk kecil. “Bener. Gue nggak sengaja pingsan di jalan. Dan… Pak Batara yang nemuin.”Cia mengangkat alis. “Terus?”“Nggak ada apa-apa lagi,” jawab Cleona cepat, nyaris terlalu cepat. “Cuma itu.”Ada jeda. Cia menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah mencari celah di wajah Cleona. Namun yang ia temukan hanya kelelahan—mata sembap, tangan gemetar dan napas yang terdengar berat.“Oke deh…” Cia akhirnya menghela napas. “Gue percaya.”Cleona tersenyum tipis

  • Menjebak Cucu Presdir   Rencana Tersembunyi

    Pagi itu seharusnya tenang. Cahaya mentari menembus jendela besar, menyinari meja yang masih tersisa aroma spaghetti dan jus strawberry. Tapi bagi Cleona, semua terasa hampa. Dadanya sesak, jantungnya berdegup cepat, seolah batu besar menimpa tubuhnya.“Maaf, Pak… saya harus ke rumah sakit sekarang,” ucapnya gemetar, kepala menunduk. Air matanya menetes tanpa ia sadari.Batara mengerutkan alis. Kursi di belakangnya bergeser saat ia bangkit, menatap Cleona yang hampir menyentuh knop pintu. Dengan gerakan mantap, tangannya meraih lengan wanita itu, menahan sejenak. Tatapan mereka bertemu—ada campuran khawatir dan… sesuatu yang lain, sulit dijelaskan.“Biar saya antar,” ucapnya tegas. “Tunggu di sini, jangan kemana-mana.”Cleona menelan ludah, pikirannya kacau. Ia ingin menolak, tapi panik untuk ibunya jauh lebih besar. Perlahan ia mengangguk, pasrah, membiarkan Batara sekali lagi mengambil alih kendali hidupnya.Tak lama, Batara muncul dari tangga, mengenakan sweter abu-abu yang sederha

  • Menjebak Cucu Presdir   Perburuan Di mulai

    Gudang tua itu pengap. Bau karat dan debu menempel di udara. Beberapa papan kayu di dinding sudah lapuk. Cahaya matahari masuk dari celah-celah kecil, menjadi satu-satunya penerangan diruang itu. Dimas Saputra duduk di lantai, punggungnya menempel ke dinding. Tangannya memeluk erat sebuah ransel lusuh yang berisi beberapa pakaian dan makanan seadanya. Wajahnya tirus, matanya cekung, napasnya berat. Ketua penelitian laboratorium itu kini tak lebih dari buronan yang bersembunyi seperti tikus. “Brengsek… gue jadi sengsara begini,” gumamnya frustrasi. Matanya menatap kosong ke depan. Ingatannya perlahan di tarik ke beberapa hari lalu, saat ia melapor—mengatakan bahwa seluruh riset kini diawasi langsung oleh Batara. Ia ingat jelas sambungan telepon itu belum benar-benar terputus. “Bunuh dia. Kita sudah tidak membutuhkannya.” Suara Dimitri. Darah Dimas langsung naik. Tubuhnya gemetar, jantungnya berpacu cepat menghantam dada. Kursi di depannya ditendang keras sampai terjungkal.

  • Menjebak Cucu Presdir   Redroom

    “Berani kamu mengabaikan pesan saya?” Kalimat itu membuat Cleona tersentak. Ia yang tengah berdiri di teras rumah langsung mendongak. Matanya membelalak begitu mendapati Batara bersandar santai di pintu mobil hitamnya, terparkir tepat di depan pagar. Matahari siang yang mulai condong ke barat memantulkan cahaya ke kaca mobil, membuat suasana terasa hangat sekaligus menekan. “Untuk apa Bapak di sini?” tanya Cleona, suaranya tertahan. Tangannya refleks mencengkeram ujung tas selempangnya. Batara tak menjawab. Ia meluruskan tubuh, melangkah mendekat dengan langkah panjang. Tangannya menangkap pergelangan tangan Cleona, lalu menariknya ke arah pintu mobil. “Pak—” tubuh Cleona ikut terseret. Ia nyaris kehilangan keseimbangan sebelum menghentakkan kaki, menahan diri tepat di ambang pintu yang sudah terbuka. “Ibu saya butuh saya hari ini,” ucapnya cepat, napasnya sedikit terengah. Batara menatapnya singkat, rahangnya mengeras. Tangannya di punggung Cleona menekan pelan namun memaksa

  • Menjebak Cucu Presdir   Investigasi

    “Astaga… lihat itu…!” Teriak seorang karyawan membuat semua kepala menengadah ke arah dinding kaca. Dalam hitungan detik, lorong GrahaPharm yang biasanya tenang berubah menjadi hiruk-pikuk penuh bisik dan langkah panik. Tubuh seorang manusia tergantung di rooftop. Diam. Tak bergerak. Bayangannya jatuh panjang di kaca, membuat siapa pun yang melihatnya merinding. Di tengah hiruk-pikuk itu, Batara muncul. Tatapannya seperti pisau yang membelah kekacauan. Tenang. Tapi berbahaya. “Hubungi polisi,” perintahnya pada Niko, suaranya rendah namun mengintimidasi. Ia lalu menatap karyawan yang masih terpaku di tempat. “Kalian segera berkemas. Kantor harus steril.” Telunjuknya kemudian mengarah ke Cleona. “Kecuali kamu—dan seluruh petugas lab. Tetap di sini sampai polisi datang.” Sebelum ia kembali ke ruangannya, pandangannya sempat bertemu dengan Cleona yang tampak ketakutan. Ekspresi itu cukup membuat rahangnya mengeras. Tak lama kemudian, suara sirene mendekat. Polisi memasu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status