LOGINSinar matahari menembus tirai putih tipis, membangunkan Cleona dari tidurnya. Ia membuka mata dengan susah payah; seluruh tubuhnya terasa pegal, kaku, dan bagian bawahnya perih saat mencoba bergerak.
“Awwsshh…” Cleona meringis, menahan perih yang menjalar di tubuhnya. Dengan susah payah ia menyandarkan diri di ranjang, napasnya berat. Kosong. Tak ada jejak pria yang menidurinya semalam. “Dia… sudah pergi?” bisiknya lirih. Pandangannya menyapu seisi kamar, dan seketika bayangan semalam berkelebat—sentuhan, desah, jejak di setiap sudut yang mereka jamah. Pipinya mendadak panas, jantungnya berdegup tak karuan. Tanpa sengaja, matanya tertuju pada noda darah yang masih membekas di sprei. Seketika sorot matanya meredup—antara marah, sedih, dan rasa bersalah yang menyesakkan. Ia menunduk, tangannya refleks menempel di perut. Satu bulir air mata jatuh, pecah bersama luka yang tak terucap. “Kalau sampai gue hamil… gimana?” gumamnya lirih. “Gue cari dia kemana?” “Aaarrrgghh” Cleona mengacak rambutnya dengan kasar, frustasi. Rasa sakit di tubuhnya tak sebanding dengan kekalutan yang menghantam kepalanya. Seharusnya, semalam ia hanya perlu berpura-pura tidur dengan seorang publik figur, berfoto seperlunya, mengirimkan bukti, lalu menerima bayaran. Harusnya… Tapi takdir berkata lain, ia justru terjebak dalam situasi konyol—terlilit seprai hotel dengan pria asing yang bahkan tak ia tahu namanya. Sesaat Cleona hanya terduduk, menatap sprei kusut tanpa benar-benar fokus. Napasnya masih tidak teratur, kepalanya berputar mencoba mengingat jelas apa yang terjadi semalam. Perlahan, rasa bersalah itu merambat ke arah lain—mengingat siapa yang ditinggalkannya begitu saja di lobi hotel. Silvia. Mata Cleona langsung membelalak, tubuhnya menegang. “Astaga… Silvia!” Cleona bangkit segera, meski tubuhnya masih pegal. Ia mengobrak-abrik kamar mencari ponselnya, jantung berdegup cepat. Hingga akhirnya ia menemukannya di bawah kursi—baterainya hampir habis. Begitu layar menyala, pupil matanya membesar. 78 panggilan tak terjawab. Nama-nama itu berderet: Silvia, Cia, bahkan ibunya. Tangannya bergetar saat membuka pesan terakhir dari Silvia: “Lo di mana, Ona? Gara-gara lo kita kena denda tiga kali lipat dari bayaran lo. Gila.” Cleona tertegun… Ia langsung melesat menuju kamar mandi. Membasuh wajah seadanya, menatap bayangan dirinya di cermin yang tampak kacau. Tanpa banyak pikir, ia meraih barang-barangnya lalu bergegas keluar kamar. “Sial!! Bukannya untung, malah buntung…” umpatnya dalam hati. . **** . Di tempat lain, Silvia terengah-engah saat tiba di parkiran kafe—ia sudah terlambat. Pandangannya langsung jatuh pada motor Cleona yang masih terparkir di sudut. “Berarti… dia belum pulang? Kemana sih dia?” gumamnya, lalu cepat-cepat melangkah masuk. Suasana dalam kafe sudah mulai ramai. Aroma kopi bercampur roti panggang memenuhi ruangan. Suara dentingan sendok dan obrolan pelanggan berbaur jadi satu, sementara musik pelan mengalun dari speaker. Silvia melangkah cepat ke arah bar, tempat Doddy sibuk mengelap gelas. “Dod, Ona udah dateng belum?” tanyanya setengah berbisik. Doddy mendongak, lalu menggeleng. “Belum. Padahal jam segini biasanya dia udah nongol.” Ia sempat melirik jam dinding, kemudian matanya menyipit curiga. “Bukannya semalem dia pergi sama lo?” Gelas di tangannya sudah diletakkan. Kini kedua lengannya bertumpu di meja, menatap Silvia tajam. Silvia sontak menghindari tatapannya. Tangannya sibuk merapikan rambut yang sebenarnya tidak berantakan, lalu berpura-pura memeriksa ponselnya. “I-iya… tapi dia bilang pulang dulu. Mungkin… ada urusan lain.” Nada suaranya terdengar datar, jelas-jelas enggan menjawab lebih jauh. Doddy terdiam, hanya menyandarkan tubuh sambil menatap Silvia lekat. Suasana kafe yang riuh kontras dengan hening di antara mereka. Silvia gelisah, pura-pura sibuk menatap ponsel. “Aku… coba hubungin dia lagi,” ucapnya cepat. Doddy tidak menjawab, hanya mengangguk tapi tatapannya jelas menyimpan curiga. . . Sementara itu, di sebuah gedung tinggi berlogo Grahapharm—perusahaan farmasi terbesar di negeri ini. Namanya dikenal luas, bukan hanya karena jaringan distribusi obat yang menguasai pasar, tetapi juga karena inovasi riset yang selalu menjadi acuan. Gedung itu menjulang megah di pusat kota, simbol kekuasaan dan kejayaan bisnis modern. Di balik kursi eksekutif yang besar, Batara Jarvis Kaleef duduk dengan kacamata bertengger di wajah. Rahangnya tegas, kulit sawo matang dengan sedikit bayangan kantung mata—bekas lembur yang tak pernah benar-benar terbayar. Alisnya tebal, tatapannya tajam, namun kini tampak sayu di balik lensa. Tangannya sibuk membolak-balikkan dokumen di meja. Sesekali ia menandatangani berkas, sesekali menghela napas panjang. “Huh…” helaan berat lolos dari bibirnya ketika ia menyandarkan tubuh ke kursi kulit hitam yang lebar. Satu tangan melepas kacamata, tangan lainnya melonggarkan dasi yang sejak pagi terasa mencekik. Ruangan itu luas dan modern; dinding kaca memperlihatkan panorama kota, sementara rak buku dan lemari arsip berjajar rapi di sisi kanan. Aroma kopi yang mulai dingin tercium samar dari cangkir di meja. Namun, semua kenyamanan itu tak mampu menenangkan pikirannya. Batara mendongak, mata terpejam sejenak, mencoba meredakan penat. Tapi bayangan gadis yang ia tiduri semalam justru melintas begitu jelas, membuatnya terperanjat hingga matanya kembali terbuka. Ia menekan satu tombol di telepon di sudut meja. Suaranya dalam dan tegas. “Nik, ke ruangan saya sekarang.” Tak lama kemudian, langkah kaki berat terdengar di luar, diiringi ketukan singkat pada pintu kayu berlapis kaca buram. “Masuk,” ucap Batara. Creeaatt! Pintu berderit terbuka. Sosok lelaki paruh baya dengan setelan rapi muncul, berdiri setengah membungkuk penuh hormat. Dialah Niko, asisten pribadi ayah Batara dulu—dan kini menjadi tangan kanan Batara sendiri. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanyanya tenang. Batara meraih kembali kacamata di meja, mengenakannya dengan gerakan mantap. “Carikan informasi siapa yang menjebakku di meeting global semalam.” “Dan… cari tahu siapa gadis itu.” Lanjutnya. suasana hening sesaat.. “Baik, Tuan.” Niko menunduk dalam, lalu berbalik cepat. Suara langkahnya kembali menggema hingga pintu menutup rapat. Batara menyandarkan tubuhnya di kursi. Ada rasa lelah yang tertahan, bukan hanya karena tumpukan dokumen, tapi juga beban yang melekat di pundaknya. Batara Jarvis Kaleef—nama yang kini terukir di papan utama Grahapharm sebagai CEO sekaligus pemilik perusahaan farmasi terbesar di negeri ini. Pewaris tunggal keluarga Kaleef, setelah ayahnya, Zidan Kaleef, dan ibunya, Almira Pramodya, meninggal dalam kecelakaan pesawat misterius. Tragedi itu hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar. Menurut kabar yang beredar, kecelakaan tersebut bukanlah musibah biasa—ada dugaan bahwa pesawat sengaja dijatuhkan demi menghancurkan dominasi keluarga Kaleef di dunia farmasi. Namun sampai detik ini, kebenarannya tidak pernah terungkap. Jika memang benar ada kesengajaan… siapa dalang di baliknya? Di usianya yang masih muda, Batara memanggul tanggung jawab besar yang seharusnya belum menjadi miliknya. Untung saja, ia masih memiliki seorang penopang—Zachary Kaleef, kakeknya, pendiri Grahapharm sekaligus mantan penguasa besar industri farmasi. Ia masih ingat jelas malam ketika Zachary memintanya menggantikan ayahnya. Suara tua itu masih menggema di kepalanya. “Mulai sekarang, kau yang duduk di kursi itu, Bat.” Batara kala itu menunduk, berbisik lirih, “Aku belum siap, Kek. Itu kursi Ayah…” Zachary hanya menatapnya tajam dari balik keriput, sebelum menjawab tegas, “Tidak seorang pun pernah siap. Tapi Grahapharm tidak bisa menunggu. Ingatlah, nama keluarga ini ada di pundakmu.” Kini Zachary sudah pensiun, usia dan kesehatan membuatnya jarang muncul di depan publik. Namun, namanya tetap disegani. Meski lebih banyak menghabiskan waktu di rumah keluarga besar Kaleef, suaranya masih berarti bagi Batara. Di balik keriput wajah dan tubuh yang renta, Zachary menyimpan pengalaman panjang… sekaligus rahasia masa lalu yang belum pernah ia bagi pada siapa pun. Rahasia yang, cepat atau lambat, akan menyeret Batara pada pusaran konflik yang lebih besar dari sekadar bisnis.“Ona … kalau pulang, Ibu nitip roti tawar, ya.”Itu kalimat terakhir Danila saat Cleona berpamitan untuk menemui Cia. Hari itu, mereka berencana bersama-sama mendatangi kantor polisi sebagai saksi atas penemuan mayat kemarin.Seandainya Cleona tahu itu akan menjadi hari terakhirnya bersama sang ibu, ia akan menukar apa pun agar bisa tetap tinggal di rumah.Kini, di hadapannya, di atas ranjang pasien, tubuh Danila terbujur kaku. Wajahnya pucat dan dingin. Beberapa kabel yang masih menancap di tubuh itu perlahan dilepas, satu per satu.“Ibu…” Tangannya gemetar saat menyentuh kulit yang tak lagi hangat.“Tolong jangan tinggalkan Ona.” Air mata Cleona jatuh, membasahi wajah sang ibu.Cia mendekat dan mengusap lembut bahu Cleona. Tak ada kata. Hanya sentuhan pelan, seolah berharap itu cukup untuk menguatkan sahabatnya yang tenggelam dalam duka.Suara tangis Cleona menjadi satu-satunya bunyi di ruang ICU itu. Hawa dingin terasa semakin menusuk.Sementara itu, Batara menunggu di luar, berdir
Siang itu, di depan ruang IGD, dua wanita bersahabat duduk berdampingan. Aroma antiseptik dan suara langkah kaki yang lalu-lalang menjadi latar di tengah keheningan.“Bener,” ulang Cia pelan, menatap Cleona lekat. “Lo nggak ada hubungan apa-apa sama Pak Batara?”Cleona terpaksa menceritakan bagaimana ia bisa berakhir datang bersama Batara. Ia menyusun cerita yang aman—cukup masuk akal untuk dipercaya, tapi tidak sepenuhnya jujur. Ada bagian yang sengaja ia sisakan, terutama soal perjanjian antara dirinya dan atasannya itu.Ia mengangguk kecil. “Bener. Gue nggak sengaja pingsan di jalan. Dan… Pak Batara yang nemuin.”Cia mengangkat alis. “Terus?”“Nggak ada apa-apa lagi,” jawab Cleona cepat, nyaris terlalu cepat. “Cuma itu.”Ada jeda. Cia menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah mencari celah di wajah Cleona. Namun yang ia temukan hanya kelelahan—mata sembap, tangan gemetar dan napas yang terdengar berat.“Oke deh…” Cia akhirnya menghela napas. “Gue percaya.”Cleona tersenyum tipis
Pagi itu seharusnya tenang. Cahaya mentari menembus jendela besar, menyinari meja yang masih tersisa aroma spaghetti dan jus strawberry. Tapi bagi Cleona, semua terasa hampa. Dadanya sesak, jantungnya berdegup cepat, seolah batu besar menimpa tubuhnya.“Maaf, Pak… saya harus ke rumah sakit sekarang,” ucapnya gemetar, kepala menunduk. Air matanya menetes tanpa ia sadari.Batara mengerutkan alis. Kursi di belakangnya bergeser saat ia bangkit, menatap Cleona yang hampir menyentuh knop pintu. Dengan gerakan mantap, tangannya meraih lengan wanita itu, menahan sejenak. Tatapan mereka bertemu—ada campuran khawatir dan… sesuatu yang lain, sulit dijelaskan.“Biar saya antar,” ucapnya tegas. “Tunggu di sini, jangan kemana-mana.”Cleona menelan ludah, pikirannya kacau. Ia ingin menolak, tapi panik untuk ibunya jauh lebih besar. Perlahan ia mengangguk, pasrah, membiarkan Batara sekali lagi mengambil alih kendali hidupnya.Tak lama, Batara muncul dari tangga, mengenakan sweter abu-abu yang sederha
Gudang tua itu pengap. Bau karat dan debu menempel di udara. Beberapa papan kayu di dinding sudah lapuk. Cahaya matahari masuk dari celah-celah kecil, menjadi satu-satunya penerangan diruang itu. Dimas Saputra duduk di lantai, punggungnya menempel ke dinding. Tangannya memeluk erat sebuah ransel lusuh yang berisi beberapa pakaian dan makanan seadanya. Wajahnya tirus, matanya cekung, napasnya berat. Ketua penelitian laboratorium itu kini tak lebih dari buronan yang bersembunyi seperti tikus. “Brengsek… gue jadi sengsara begini,” gumamnya frustrasi. Matanya menatap kosong ke depan. Ingatannya perlahan di tarik ke beberapa hari lalu, saat ia melapor—mengatakan bahwa seluruh riset kini diawasi langsung oleh Batara. Ia ingat jelas sambungan telepon itu belum benar-benar terputus. “Bunuh dia. Kita sudah tidak membutuhkannya.” Suara Dimitri. Darah Dimas langsung naik. Tubuhnya gemetar, jantungnya berpacu cepat menghantam dada. Kursi di depannya ditendang keras sampai terjungkal.
“Berani kamu mengabaikan pesan saya?” Kalimat itu membuat Cleona tersentak. Ia yang tengah berdiri di teras rumah langsung mendongak. Matanya membelalak begitu mendapati Batara bersandar santai di pintu mobil hitamnya, terparkir tepat di depan pagar. Matahari siang yang mulai condong ke barat memantulkan cahaya ke kaca mobil, membuat suasana terasa hangat sekaligus menekan. “Untuk apa Bapak di sini?” tanya Cleona, suaranya tertahan. Tangannya refleks mencengkeram ujung tas selempangnya. Batara tak menjawab. Ia meluruskan tubuh, melangkah mendekat dengan langkah panjang. Tangannya menangkap pergelangan tangan Cleona, lalu menariknya ke arah pintu mobil. “Pak—” tubuh Cleona ikut terseret. Ia nyaris kehilangan keseimbangan sebelum menghentakkan kaki, menahan diri tepat di ambang pintu yang sudah terbuka. “Ibu saya butuh saya hari ini,” ucapnya cepat, napasnya sedikit terengah. Batara menatapnya singkat, rahangnya mengeras. Tangannya di punggung Cleona menekan pelan namun memaksa
“Astaga… lihat itu…!” Teriak seorang karyawan membuat semua kepala menengadah ke arah dinding kaca. Dalam hitungan detik, lorong GrahaPharm yang biasanya tenang berubah menjadi hiruk-pikuk penuh bisik dan langkah panik. Tubuh seorang manusia tergantung di rooftop. Diam. Tak bergerak. Bayangannya jatuh panjang di kaca, membuat siapa pun yang melihatnya merinding. Di tengah hiruk-pikuk itu, Batara muncul. Tatapannya seperti pisau yang membelah kekacauan. Tenang. Tapi berbahaya. “Hubungi polisi,” perintahnya pada Niko, suaranya rendah namun mengintimidasi. Ia lalu menatap karyawan yang masih terpaku di tempat. “Kalian segera berkemas. Kantor harus steril.” Telunjuknya kemudian mengarah ke Cleona. “Kecuali kamu—dan seluruh petugas lab. Tetap di sini sampai polisi datang.” Sebelum ia kembali ke ruangannya, pandangannya sempat bertemu dengan Cleona yang tampak ketakutan. Ekspresi itu cukup membuat rahangnya mengeras. Tak lama kemudian, suara sirene mendekat. Polisi memasu







