بيت / Romansa / Menjemput Senja di Langit Palu / 04 - FRIENDS WITH BENEFITS

مشاركة

04 - FRIENDS WITH BENEFITS

مؤلف: Celine Alo08
last update تاريخ النشر: 2026-07-09 08:41:15

Aku membawa tas ransel keluar dari kamar nomor 12, lalu menuruni tangga menuju lantai bawah.

Seorang pria sudah duduk di atas motor Satria merah berstrip hitam. Mesin motornya menyala pelan.

“Ruben di mana? Bukannya itu motornya?”

“Iya, ini motor Ruben. Dia menghampiriku di kos, lalu memintaku mengantarnya ke rumah sakit tiga puluh menit lebih awal. Dia masih menyiapkan printout desain.”

“Okay.”

Aku langsung naik ke jok belakang. Beberapa detik kemudian, motor melaju meninggalkan halaman penginapan.

Pukul 08.30, koridor rumah sakit sudah dipenuhi lalu lalang pengunjung dan tenaga medis.

Aku mempercepat langkah mengikuti pria berjaket kulit hitam yang berjalan dua langkah di depanku.

Aroma obat-obatan langsung menyergap begitu kami memasuki gedung.

Tak lama kemudian, kami tiba di ruang rapat.

“Good morning.”

Aku dan pria berjaket kulit itu serempak menoleh.

Di depan laptop, Ruben sedang memiringkan proyektor, lalu memutar kenop fokus hingga tampilan presentasi memenuhi layar.

Aku menghampirinya.

“Good morning, Ruben. Aman?”

Ia mengacungkan jempol.

“Aman, Bu Konsultan.”

Aku mengeluarkan setumpuk dokumen dari dalam tas, menarik kursi di samping operator, lalu mulai membuka berkas presentasi.

Satu per satu peserta rapat memasuki ruangan.

Direktur rumah sakit duduk di kursi paling depan, disusul beberapa staf yang segera membuka map masing-masing.

Slide demi slide berganti.

Sesekali direktur mengangguk, mencatat sesuatu, lalu mengajukan beberapa pertanyaan mengenai material dan tata letak ruangan.

Menjelang akhir presentasi, aku membuka slide terakhir.

“Kalau anggaran memungkinkan,” kataku sambil menunjuk visual fasad di layar, “material hollow pada bagian sun shading dapat diganti dengan cutting ACP bermotif Batik Bomba. Dengan begitu, bangunan ini tetap memiliki identitas lokal.”

Direktur kembali mengangguk.

Beberapa staf saling bertukar pandang sebelum ikut menganggukkan kepala.

Setelah berpamitan dengan kedua teman satu timku, aku bergegas masuk ke mobil travel.

Tubuhku langsung bersandar di kursi baris kedua.

Napas panjang lolos begitu saja.

Sudut bibirku terangkat tipis.

Aku mengeluarkan ponsel dari dalam tas.

Sebuah notifikasi masih bertahan di layar sejak Kamis.

Aku belum pernah membukanya.

How was your day?

***

Friends with benefits.

Tiga kata itu terus berputar di kepalaku.

Saat menyikat gigi. Saat menyeduh kopi. Bahkan ketika lampu kamar sudah padam dan aku memejamkan mata, tiga kata itu tetap saja muncul.

Dia memiliki seseorang.

Dan aku baru mengetahuinya setelah tiga bulan kami saling mengenal.

Aku memeluk bantal lebih erat.

Dia tidak sepenuhnya salah.

Aku memang tidak pernah menanyakan hal itu.

Yang kuingat, dia hanya pernah mengatakan bahwa dirinya belum menikah dan tidak memiliki anak.

Itu tidak berarti dia benar-benar sendiri.

Lagipula, dia sudah lama tinggal di Sydney.

Friends with benefits bukan sesuatu yang asing di sana, bukan?

Aku mengembuskan napas panjang.

“Oke, Naomi.”

Aku menggeleng pelan.

“Berhenti membuat kesimpulan sendiri.”

Sudut bibirku terangkat tipis.

Psikolog pernah mengatakan bahwa ketika aku merasa cemas dan mampu mengenali kapan harus mencari bantuan untuk mengatasi sumber kecemasan itu, sesungguhnya aku sedang mempraktikkan kesadaran diri yang kuat, salah satu bentuk self-love.

“Baiklah.”

Aku meraih ponsel di atas nakas.

“Kalau begitu, demi self-love, balas saja pesannya.”

Kubuka ruang obrolan kami.

How was your day?

Jemariku mulai bergerak.

I was busy the last few days, but I'm free now.

Belum sampai sedetik setelah pesan itu terkirim, layar ponselku langsung bergetar.

Nama Attila muncul.

Aku segera mengangkat panggilannya.

“Bagaimana rapatnya? Apakah kau sudah di rumah?”

“Semuanya berjalan lancar. Iya, aku tiba semalam pukul 19.00 WITA.” Aku menyandarkan punggung ke kepala ranjang. “Apa rencanamu hari ini? Mengapa tidak hang out dengan teman-temanmu? Atau mungkin pergi menonton dengan pacar...”

“Aku tidak punya banyak teman. Teman-teman Turkiku biasanya sudah punya agenda sendiri pada hari Minggu karena mereka sudah berkeluarga. Aku pernah menonton di bioskop, itu pun ramai-ramai bersama teman-teman kantor. Mungkin satu atau dua kali.” Ia berhenti sejenak. “Dan aku tidak punya pacar.”

Aku menggigit pelan bibir bawahku.

Tanpa sadar, sudut bibirku terangkat.

“Lalu, mengapa hubungan itu berakhir?” tanyaku. “Maksudku, seseorang yang pernah menjalani hubungan friends with benefits denganmu. Mengapa kalian tidak menikah?”

“Dia perempuan yang baik dan lembut. Seorang ibu tunggal berkewarganegaraan Tiongkok. Kami bekerja di divisi yang berbeda. Dia di bagian keuangan. Aku sering melakukan perjalanan dinas, jadi kami jarang bertemu. Aku pikir, menikah dengan seseorang yang berbeda agama tidak semudah kelihatannya. Aku juga memikirkan pandangan orang tuaku.”

“Mengapa dia tidak mengikutimu jika dia benar-benar mencintaimu? Atau sebaliknya?”

“Aku tidak berpikir itu cinta.” Suara Attila terdengar tenang. “Rasanya seperti bertemu pada momen yang tepat. Aku seorang laki-laki, dan dia seorang perempuan yang sudah lama sendiri. Dia pernah berkata menyukaiku, tetapi aku tidak melihat tanda-tanda bahwa dia akan memeluk Islam.”

Ia terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan.

“Aku memang hanya beribadah sesekali. Pernah tidur dengannya empat atau lima kali, tetapi tetap saja aku tidak pernah berencana pindah agama.”

Aku terdiam.

Attila menarik napas pelan.

“Itu sudah lama sekali. Terakhir kali, dia bilang pergi ke gereja bersama seseorang. Sepertinya dia sudah punya pilihan lain.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Lalu apa satu hal yang ingin kau tanyakan padaku?”

Attila terdiam sejenak.

“Mengapa kau masih sendiri selama ini?”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (6)
goodnovel comment avatar
Nabila Ara
Hai Attila, kamu itu siapa sebenarnya?? Lanjut Thor
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
Jadiiii, kamu siapa sebenarnya, Attila?
goodnovel comment avatar
Celine Alo08
Kadang Naomi memikirkan soal itu, apakah waktu yang tepat akan datang
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Menjemput Senja di Langit Palu   151 - THE END

    Sebulan setelah pernikahanku,Aroma karbol yang menyengat bercampur dengan udara dingin yang pengap menyambutku begitu melangkah masuk ke ruang kunjungan lapas. Dinding beton berwarna abu-abu tampak mengelupas di beberapa bagian. Dari kejauhan, sesekali terdengar gemerincing rantai besi, disusul derap langkah yang menggema di lorong.Aku datang untuk menemui Guntur.Ia duduk di kursi besi yang tertanam di lantai. Sebuah kaca transparan memisahkan kami, dengan lubang-lubang kecil. Aku menarik kursi di seberangnya, lalu meletakkan kedua tangan di atas meja. Jemariku saling mencengkeram hingga buku-bukunya memutih.Guntur duduk bersandar dengan wajah tenang. Tak ada kerutan penyesalan di dahinya, tak ada kegelisahan dalam gerak-geriknya. Bahkan, ketika pandangan kami bertemu, ia justru menyunggingkan senyum tipis, seolah kami sedang duduk berhadapan di sebuah kafe, bukan di ruang kunjungan penjara.“Aku sudah bilang, Sayang. Setelah kontrakmu berakhir, seharusnya kau ikut denganku ke Palu

  • Menjemput Senja di Langit Palu   150 - JEMBATAN KUNING

    “Naomi, ikutlah. Ada tempat yang ingin kutunjukkan.”Aku tak menjawab. Langkahku mengikuti Attila menaiki belasan anak tangga yang melingkar di dalam mercusuar. Napasku sedikit memburu ketika akhirnya kami tiba di puncak menara putih itu.Angin Samudra Hindia langsung menerpa wajahku begitu kami melangkah ke balkon luar Mercusuar Cape Naturaliste. Ujung hijabku berkibar, sementara rambut Attila berantakan diterpa embusan angin. Di hadapan kami, langit sore pesisir barat daya Australia terbentang cerah. Matahari bergerak turun menuju cakrawala, menumpahkan cahaya keemasan di atas hamparan laut.Dari ketinggian, Geographe Bay tampak tenang dengan perairan birunya yang membentang luas. Berbeda dengan itu, ombak Samudra Hindia bergulung menuju pantai sebelum pecah menghantam tebing-tebing granit di bawah mercusuar. Aku teringat, dulu aku pernah bertanya kepadamu, Naomi, “Maukah kau pergi bersamaku ke Cape Naturaliste?” Aku tidak menyangka kita akhirnya akan bertemu di sini.“Aku kira kau

  • Menjemput Senja di Langit Palu   148 - PENDONOR

    Tiga hari setelah melamar Naomi, kami memutuskan untuk menikah. Namun, kabar bahwa Guntur masih buron terus membayangi pikiranku. Ada kecemasan yang tak bisa kuabaikan, meski aku berusaha menikmati hari bahagia ini.Aku berdiri di depan altar kayu sederhana yang dihiasi rangkaian bunga pastel. Setelan jas berwarna soft ice green yang kukenakan serasi dengan kemeja putih di baliknya. Sesekali, aku merapikan ujung lengan jas, berusaha menyembunyikan kegugupan yang terus mengusik.Ketika pintu ruang rias pondok kayu terbuka, aku langsung menoleh.Naomi muncul dalam balutan gaun pengantin ice green berbahan organza yang menjuntai anggun hingga menyapu rumput. Sulaman perak, payet, kristal, dan mutiara kecil menghiasi kainnya, berkilauan lembut setiap kali ia melangkah. Potongan sheer mesh transparan di bagian punggungnya menampilkan detail manik-manik yang mempercantik gaun itu. Namun, di antara semua keindahan tersebut, senyumnya tetap menjadi hal yang paling sulit kuabaikan.Aku terpaku.

  • Menjemput Senja di Langit Palu   149 - KAKAK PEREMPUAN

    Filix jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Naomi Saraswati.Aku menyesal telah mengikuti saran temanku untuk membiarkan Filix mengikuti kencan buta. Filix bukan tipe laki-laki yang mudah menaruh hati kepada seseorang. Ketika ia akhirnya mencintai seorang perempuan, aku tahu perasaan itu bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.Karena itu, aku mulai menyelidiki latar belakang perempuan itu. Aku mengetahui bahwa ia adalah seorang Principal Architect yang bekerja di sebuah firma arsitektur. Ia juga telah bercerai dan pernah mengalami keguguran.Semakin banyak informasi yang kukumpulkan, semakin besar kegelisahan yang kurasakan. Hingga akhirnya, aku menemukan fakta yang membuat seluruh tubuhku seolah kehilangan tenaga.Naomi Saraswati adalah putri kandung dari Papa Filix Baskara.Perempuan yang dicintai Filix itu ternyata adalah kakak perempuan yang selama ini ia cari.Aku terdiam lama setelah mengetahui kenyataan tersebut. Selama bertahun-tahun, aku berusaha melindungi Filix dari

  • Menjemput Senja di Langit Palu   147 - SAKSI MATA

    Pertemuanku dengan Filix terjadi di tengah puing-puing bencana yang masih menyisakan bau tanah basah dan duka mendalam. Saat itu, aku telah berpisah dari suamiku, seorang pelaksana teknis yang bekerja di Balai. Aku mengabdikan diri sebagai relawan dalam kegiatan penyaluran bantuan bagi anak-anak korban bencana. Ketika menyusuri kawasan terdampak, pandanganku tertuju pada pemandangan yang membuat langkahku terhenti.Tim evakuasi menemukan seorang anak laki-laki tersangkut di sebuah pohon. Tubuh kecilnya tampak ringkih, bersimbah darah, dan nyaris tak berdaya. Kedua matanya mengalami kerusakan parah akibat serpihan tajam yang melukainya. Ia membutuhkan operasi besar sesegera mungkin untuk menyelamatkan sisa penglihatannya.Namun, luka pada matanya bukan satu-satunya penderitaan yang harus ditanggung bocah itu. Menurut keterangan dokter, kepalanya terbentur keras oleh material yang menghantamnya saat bencana terjadi. Benturan tersebut menyebabkan kehilangan ingatan. Masa lalunya seolah te

  • Menjemput Senja di Langit Palu   146 - PUDING COKELAT

    Angin sore menyapu Pantai Bondi, membawa aroma garam laut dan udara dingin yang membuatku merapatkan jaket. Setelah memarkir Ford Ranger putih di area parkir dekat pantai, aku turun mengikuti Filix. Kami menyusuri hamparan pasir, sementara ombak bergulung menuju bibir pantai dan pecah di dekat kaki kami.Sejak tadi aku lebih banyak diam. Sesekali pandanganku tertuju pada laut, membiarkan suara ombak mengisi jeda di antara kami.Filix melirikku. “Apakah kau suka pantainya?”“Aku selalu suka pantai.”“Namun, pantai di sini mungkin tidak seindah pantai di Indonesia. Menurutku, Seminyak di Bali jauh lebih indah.”Langkahku melambat. Filix ikut berhenti, lalu mengangkat tangan ke dagu seolah sedang mengingat sesuatu.“Jadi, kau pernah ke Bali?” tanyaku.“Pernah, sudah lama sekali. Aku pergi bersama seorang teman. Dia bekerja di perusahaan Epson, tidak jauh dari kantormu. Dia pria Turki.”Aku menoleh cepat. Jantungku berdegup lebih kencang. Perkataan Filix barusan membangkitkan rasa ingin ta

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status