LOGINAku menambahkan dinding partisi dengan bukaan berbentuk lingkaran di bagian tengah, lalu meletakkan bonsai di sudut ruangan. Kursor kuhentikan sejenak. Pandanganku menyapu desain di layar.
“Lantai beralas tatami, sudah. Bantal duduk zabuton, sudah terpasang. Oh, iya... komponen orangnya yang belum ada.”
Aku membuka pustaka komponen, lalu menyeret sosok seorang perempuan ke dalam ruang minum teh bergaya Jepang itu.
Beberapa detik kuamati hasilnya.
Keningku berkerut.
“Seharusnya perempuan Jepang,” gumamku pelan.
Sosok perempuan 2D itu beberapa kali kulirik. Jemariku berhenti di atas tetikus.
Tanpa sadar, aku meraih ponsel yang tergeletak di samping laptop.
Kubuka ruang obrolanku dengan Attila, lalu menggulir percakapan kami seminggu yang lalu.
“Jadi, kau menyukai perempuan Tiongkok?”
“Perempuan Asia. Koreksinya. Tinggiku hanya 170 sentimeter, sedangkan rata-rata tinggi perempuan Asia sekitar 150 sentimeter. Menurutku, itu akan terlihat sesuai denganku.”
“Jadi, kau mengirimkan request match karena aku perempuan Asia?”
Aku membaca balasan berikutnya.
“Itu benar. Lagi pula, di profilmu tertulis...
Moshi machigatta densha ni notte shimattara, moyorieki de orinasai.
Aku tertarik dengan kalimat itu karena kebetulan aku juga bekerja di perusahaan Jepang. Lalu, aku memutuskan mengirimimu pujian.”
“Aku mengerti. Boleh aku tahu apa tujuanmu menggunakan aplikasi kencan?”
“Tentu saja untuk mencari teman hidup, meskipun aku tahu kebanyakan orang hanya memasang topeng. Tentu saja tidak semua orang. Cukup sulit mengenal seseorang tanpa bertemu langsung. Bagaimana menurutmu?”
“Aku punya teman yang menikah dengan pacar online-nya. Hubungan mereka berhasil meskipun baru bertemu pada hari pernikahan.”
“I see. Tapi, di posisiku, aku tidak bisa berkata bahwa aku menyukaimu dengan mudah. Aku butuh waktu. Bertemu dulu, sering mengobrol, lalu memastikan lagi apakah kami cocok atau tidak. Aku takut membuat kesalahan seumur hidup.”
“Aku juga tidak berpikir kau menyukaiku,” balasku ketus. “Mungkin karena kau masih sendiri, kupikir itu sama saja denganku. Lagi pula, aku tidak bisa mengajukan lima belas pertanyaan yang intens kecuali jika kau memang berniat untuk menikah.”
“Aku menyukai cara berpikirmu dan pengalaman yang kau bagikan. Kau jujur. Kaulah yang membuat percakapan kita tetap mengalir. Aku juga ingin menikah, tetapi tentu saja kita perlu memastikan apakah kita berada di perahu yang sama. Meskipun begitu, aku masih ingin tahu tentang lima belas pertanyaan itu, kalau kau tidak keberatan. Seperti biasanya, kita hanya mengobrol.”
Kubaca ulang pesannya.
Sekali.
Lalu sekali lagi.
Aku menyandarkan tubuh ke kursi.
Tiba-tiba, pertanyaan-pertanyaanku sendiri terasa berlebihan.
Baiklah.
Aku mengetik balasan, membacanya sekali lagi, lalu menekan tombol kirim.
“Oke. Jika kau yang ingin tahu, kita sudah mengobrol selama lebih dari tiga bulan. Jadi, aku setuju. Ini hanyalah obrolan biasa.”
Setelah itu, satu per satu pertanyaan mulai kuketik.
“Apakah kau punya penyakit serius atau penyakit keturunan? Kau tidak harus menjawab sekarang. Kau bisa memikirkannya dulu.”
Dua detik kemudian, balasannya masuk.
“Aku tidak punya penyakit. Itu berdasarkan hasil check-up-ku tahun lalu.”
Sesaat kemudian, sebuah berkas P*F muncul di ruang obrolan.
Rupanya, ia mengirimkan hasil check-up-nya.
“Apakah kau punya utang yang sulit dilunasi?”
“Aku tidak punya utang.”
“Apakah ada keluarga yang kau biayai?”
“Aku pernah membantu membangun rumah, tetapi sudah selesai.”
“Apa arti komitmen bagimu?”
“Komitmen, bagiku, adalah memiliki seorang istri yang juga menjadi sahabatku. Kami tumbuh dan berkembang bersama.”
“Apa yang akan kau lakukan jika bertengkar dengan pasanganmu?”
“Aku tipe orang yang tidak suka berdebat. Mungkin aku akan pergi sejenak.”
“Apa yang membuatmu kecewa?”
“Pengabaian membuatku kecewa.”
“Apa kebiasaan burukmu?”
“Kebiasaan buruk... sepertinya tidak ada. Aku tidak merokok dan tidak minum alkohol. Oh ya, shalatku masih bolong-bolong. Tapi, istri bisa mengingatkanku agar tetap lurus.”
“Bagaimana jika pasanganmu bekerja? Bagaimana kalau tidak?”
“Itu pilihan istriku. Dia bisa bekerja kalau dia mau, tetapi keluarga adalah yang utama. Apalagi ketika sudah punya anak. Semua akan berbeda.”
“Apakah kau membantu mengerjakan pekerjaan rumah?”
“Tentu saja. Bahkan, mungkin saja aku ahli dalam beberapa hal.”
“Apakah kau pencemburu?”
“Aku pencemburu. Dia mungkin punya teman kerja, tetapi dia harus mengerti kekhawatiranku.”
“Bagaimana jika istrimu curhat kepada lawan jenis?”
“Dia punya aku. Jadi, masalah kami selesaikan berdua, tanpa keterlibatan orang lain.”
“Apa yang ingin kaucapai dalam hidup?”
“Aku ingin meningkatkan kemampuan sosialisasiku.”
“Apakah kau bersedia menanggung semua keperluan istrimu, termasuk memberikan uang bulanan kepada ibunya?”
“Jika dia bisa mengatur keuangan, itu tidak masalah.”
“Apakah kau menyukai anak-anak?”
“Tentu saja.”
“Apakah kau bersedia membuat perjanjian pranikah?”
“Ini tentang apa?”
“Misalnya, tentang pemisahan harta. Atau hak asuh anak jika terjadi perselingkuhan.”
“Apakah di Indonesia umum menggunakan perjanjian pranikah?”
“Semenjak perselingkuhan tidak punya tempat rehabilitasi.”
“I see.”
“Lalu, bagaimana menurutmu jika ada seorang laki-laki yang sangat tampan dan kaya? Meskipun sudah menikah, dia seperti kelinci dan selalu melihat ke luar.”
“Menurutku, laki-laki tampan yang punya value hanya akan menjaga dirinya untuk satu orang. Begitu pula dengan perempuan. Orang yang tahu nilai dirinya tidak akan membiarkan siapa pun menikmati tubuhnya tanpa komitmen.”
“Itu jarang sekali terjadi,” sambung Attila lagi, pantang menyerah.
“Itulah mengapa ia langka dan mahal,” balasku ringan.
“Baiklah, Arsitek Hati.”
Aku tersenyum tipis.
Obrolan kami berhenti sampai di sana.
Kuletakkan ponsel di samping laptop, lalu kembali menatap layar.
Jemariku menghapus komponen perempuan 2D yang tadi kutambahkan.
Tok.
Pintu ruang kerja terbuka.
Seorang perempuan berkemeja hijau toska melongok ke dalam.
“Naomi, ada yang mencarimu.”
Aku melangkah keluar, merapatkan jaket untuk menghalau udara dingin yang menusuk kulit. Sisa hujan deras semalam masih menyisakan kabut tipis dan genangan air di pelataran parkir. Langkah kakiku mendadak terhenti saat melihat sebuah siluet berdiri di bawah pohon trembesi di depan ruko. Suasana hari itu sangat sepi. Hanya satu atau dua pemilik ruko yang masih berada di dalam bangunan.Aku mengernyitkan dahi, lalu berjalan menghampiri gadis berambut keriting sebahu itu dengan alis terangkat. “Bagaimana kau tahu aku ada di sini, Ra?”Aku melanjutkan langkahku dan Clara menyusul di belakangku. Kami menyusuri sisi tanggul. Angin bertiup kencang menerpa tubuh kami. Sungai Teluk Palu membentang luas di bawah sana."Naomi bilang kau memiliki distro di sini," sahut Clara akhirnya. Suaranya terdengar datar, membelah keheningan. Dia memegang dua gelas cup kopi yang masih mengepulkan asap.Aku terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana yang mendadak terasa kaku. "Hal apa yang membuatmu mencariku
Perlahan, aku mulai menyadari ada sesuatu yang berubah di antara aku dan Naomi.Jantungku berdetak lebih cepat setiap kali ia menyandarkan kepala di bahuku. Begitu pula ketika ia tiba-tiba memelukku karena mendengar kabar bahagia.Aku tidak tahu harus menyebut apa yang kurasakan. Mungkin karena sepanjang hidupku, belum pernah ada seseorang yang memperhatikanku dengan cara yang membuatku merasa benar-benar dilihat.Namun, di balik kehangatan itu, ada ketakutan yang perlahan mencekik.Bagaimana jika Naomi tahu?Bagaimana jika ia melihatku dengan cara yang berbeda?Aku takut ia akan menjauh dan menganggapku sebagai monster yang menjijikkan.Karena itu, aku mati-matian menyembunyikan semuanya. Dan entah bagaimana, aku berhasil.Kami lulus SMA dan melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan jurusan yang sama.Di bangku kuliah, kegemaranku mulai bergeser. Aku suka mengabadikan berbagai momen melalui lensa kameraku. Seiring berjalannya waktu, aku mulai lebih sering mengambil potret Naomi.
Pagi itu, udara di dalam ruang kelas XI-A terasa sedikit lebih riuh dari biasanya. Desas-desus tentang kedatangan seorang murid pindahan telah menyebar sejak bel masuk berbunyi. Aku hanya diam di bangku belakang, tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan mereka.Ketika langkah kaki terdengar mendekat, keheningan mendadak tercipta. Pintu terbuka, dan di belakang guru, seorang gadis melangkah masuk dengan seragam yang masih tampak baru dan rapi.“Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru yang pindah dari sekolah luar kota. Silakan introduce dirimu, Nak,” ujar sang guru sambil mempersilakannya maju.Gadis itu berdiri tegak di depan kelas. Dengan jemari yang bertautan tenang di depan roknya, ia mengumbar sebuah senyuman yang luar biasa cerah.Aku tanpa sadar mengangkat wajah dari buku sketsa yang sejak tadi kubuka.“Halo semuanya, selamat pagi. Perkenalkan, namaku Naomi Saraswati,” ucapnya dengan suara renyah yang terdengar begitu ramah dan percaya diri.Tak lama kemudian, sang wali
Baru selesai aku berganti pakaian, mataku tertuju pada sebuah kotak kecil dengan pita berwarna merah yang melilit pembungkusnya. Aku membuka kotak itu perlahan dan mendapati sebuah jam tangan klasik dengan leather strap berwarna cokelat. Di bawahnya terselip sebuah kartu ucapan dengan tulisan,Semoga kau menyukai hadiahmu.Jam tangan itu serupa dengan yang pernah diberikan Guntur saat ulang tahunku. Namun, jam tangan tersebut sudah kubuang. Aku bahkan menyaksikan langsung benda itu tenggelam ke dalam sungai yang tidak jauh dari rumah Papa di Braga.Mustahil jam tangan ini adalah benda yang sama.Aku membawa kotak itu keluar kamar dan menghampiri Mama yang sedang membalik adonan kue di atas wajan.“Kau sudah selesai mandi?”Aku mengangguk.“Ma, jam tangan ini dari siapa?” tanyaku sambil menunjukkan benda yang kumaksud.Mama menggeleng kecil.“Mama juga tidak tahu, sayang. Tadi siang, sebelum kau sampai di rumah, ada kurir GoSend yang mengantarkan hadiah itu.”Matanya melirik isi kotak
Suasana Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta siang itu begitu hidup. Di salah satu sudut ruang tunggu keberangkatan yang luas dan berlantai mengilap, aku duduk bersandar sambil sesekali mengalihkan pandangan dari layar ponsel ke balik dinding kaca besar. Beberapa burung besi tampak terparkir gagah di apron.Boarding pass masih tergenggam di tanganku. Beberapa saat lagi, aku akan terbang menuju Palu. Riuh suara pengumuman keberangkatan dan derap langkah para penumpang yang berlalu-lalang menjadi latar yang menemaniku menghabiskan menit-menit terakhir sebelum boarding.Aku sedang menunggu Clara yang beberapa saat lalu mampir ke salah satu retail bandara untuk membeli camilan sebagai buah tangan.Tak lama kemudian, Clara muncul sambil membawa tas tangan berbahan kardus. Baru saja ia hendak duduk, panggilan untuk memasuki pesawat menggema di ruang tunggu.Aku segera bangkit, menyampirkan tas kecil ke bahu, lalu mengikuti antrean penumpang yang mulai mengular menuju garbarata.Di tengah baris
“Ini... ini wangi parfum bajingan itu!”Suara teriakan yang lolos dari mulutku ternyata cukup keras. Botol kaca itu langsung kubanting ke atas ranjang.Clara buru-buru keluar dari kamar mandi. Handuk masih melilit tubuhnya.“Ada apa, Naomi?”“Tidak salah lagi. Pasti ini ulah Guntur.”“Tapi, kenapa botol parfummu kau banting?”Clara memungut botol yang isinya tinggal setengah. Ia mengangkatnya ke hidung dan menghirup aromanya.“Bukankah kau memilih parfum ini sendiri?”“Aku sudah lama mengganti aroma parfumku.”Clara kembali mendekatkan botol itu ke hidungnya. Ia menghirupnya sekali lagi, lalu mengernyitkan dahi.“Kau benar. Hanya Kak Guntur yang masih memakai parfum dengan aroma seperti ini.”Tanganku langsung terulur.Clara menyerahkan botol itu kepadaku. Aku menutupnya rapat, lalu menggenggamnya lebih erat dari yang seharusnya.“Naomi, kau mau ke mana?”Aku tidak menjawab.Begitu sampai di ruang rapat, pandanganku langsung menemukan pria berambut cokelat yang masih berbicara dengan







