Share

118 - HELENA

Author: Celine Alo08
last update publish date: 2026-10-02 20:16:01

“Dan kau... sama sekali tidak menolakku?”

Erul tersenyum tipis. Namun, ada sesuatu yang terasa getir dalam tatapannya.

“Tentu saja tidak, Naomi. Aku pria normal. Kau sangat cantik, dan kau tahu pasti bahwa aku sudah mencintaimu sejak lama.”

Aku terenyak. Lidahku mendadak kelu mendengar pengakuannya.

Tentu saja, batinku sinis. Mana ada kucing yang disodori ikan gratis akan menolak?

Pikiranku langsung melayang pada perkataan Guntur. Bayangan menjijikkan saat memergoki mantan suamiku itu berciuman
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjemput Senja di Langit Palu   121 - TERLARANG

    Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku, sarat kemarahan yang membakar dada.“Kau dan Berk adalah iblis!”Kami berdiri di dalam ruang kerja Dilara yang mewah. Alih-alih terkejut, perempuan itu justru membalas tatapanku dengan senyum meremehkan.“Oh, jadi kau sudah tahu tentang hubungan kami?” sahutnya santai, seolah perselingkuhan itu hanyalah obrolan cuaca yang sepele.“Mengapa kalian tega berselingkuh di belakang Ines?!” Air mataku mendesak keluar saat membayangkan wajah sahabatku. “Ines sudah meninggal, Dilara! Dan kalian adalah penyebab kematiannya!”Dilara terkekeh hambar, lalu melangkah mendekat dengan sikap angkuh.“Aku kira dia seharusnya berterima kasih kepadaku. Aku memudahkan kematiannya.”Jantungku berdegup semakin kencang. Hawa dingin yang aneh merayap di tengkukku.“Apa maksudmu?”“Aku yang membunuh Ines,” ucapnya tanpa berkedip. Seringai di bibirnya semakin lebar. “Sebenarnya aku tidak berniat seperti itu. Tapi aku ingin kaulah yang menjadi tersangka utama kemat

  • Menjemput Senja di Langit Palu   120 - MANTAN ISTRI

    “Bagaimana jarak antar-tanaman zaitun yang sudah di-mapping dengan shop drawing?”Suaraku terdengar dingin saat memecah keheningan di area proyek siang itu. Angin pesisir Sydney berembus cukup kencang, menerbangkan debu dari permukaan tanah dasar yang baru saja dipadatkan.“Miss Naomi yang membuat konsep penempatannya. Namun, kurasa tidak masalah jika kita menyelesaikan marking lebih dulu sambil menunggunya,” sahut Guntur dengan tenang.Ia berdiri santai, seperti kontraktor berpengalaman yang merasa mampu mengendalikan segala situasi di lapangan.Aku menggeleng tegas dan menatapnya lurus-lurus.“Tidak bisa, Mr. Guntur. Kita tidak mungkin mengerjakan pekerjaan yang sama dua kali. Bagaimana jika marking sudah terlanjur dilakukan, tetapi jaraknya ternyata tidak sesuai dengan konsep lanskap yang dia rancang? Kita hanya akan membuang waktu.”Aku beralih menatap pria yang berdiri di sampingku.“Mr. Robinson, tolong hubungi Naomi sekarang.”Baru saja Mr. Robinson menggeser layar ponselnya un

  • Menjemput Senja di Langit Palu   119 - LUKA

    Debur ombak Laut Mediterania yang menghantam lambung kapal luxury yacht mewah itu tersamarkan oleh dentum musik pesta di geladak utama. Namun, di dalam kamar mandi privat yang tersembunyi di balik pintu kayu mahoni, suasananya terasa begitu kontras. Udara mendadak pengap, dipenuhi uap panas, aroma parfum mahal, dan kepanikan yang memacu adrenalin.Berk bersandar pada dinding marmer, sementara jemariku mencengkeram bahunya erat. Napas kami memburu, sesekali diselingi bisikan tergesa.“Cepatlah, seseorang akan menemukan kita di kamar mandi kalau kau tidak segera mengeluarkannya,” bisikku sambil melirik cemas ke arah pintu. Siapa pun bisa saja mengetuknya kapan saja.Berk mempercepat gerakannya. Peluh menetes di pelipisnya. Dengan suara serak, ia berbisik di telingaku, “Apakah tidak apa-apa aku buang di dalam?”“Jangan khawatir, aku meminum obatku,” sahutku tanpa ragu.Beberapa menit kemudian, ketegangan itu mencapai puncaknya. Hembusan napas lega akhirnya lolos dari bibir kami. Berk men

  • Menjemput Senja di Langit Palu   118 - HELENA

    “Dan kau... sama sekali tidak menolakku?”Erul tersenyum tipis. Namun, ada sesuatu yang terasa getir dalam tatapannya.“Tentu saja tidak, Naomi. Aku pria normal. Kau sangat cantik, dan kau tahu pasti bahwa aku sudah mencintaimu sejak lama.”Aku terenyak. Lidahku mendadak kelu mendengar pengakuannya.Tentu saja, batinku sinis. Mana ada kucing yang disodori ikan gratis akan menolak?Pikiranku langsung melayang pada perkataan Guntur. Bayangan menjijikkan saat memergoki mantan suamiku itu berciuman dengan Jena di ruang kerjanya kembali berputar di benakku.Yah, apa yang kau harapkan, Naomi? Semua pria sama saja.Namun, sesaat kemudian, aku buru-buru menarik kembali kesimpulan itu.Tidak. Tidak semua pria sama.Pemikiran tersebut runtuh ketika wajah Attila melintas di benakku. Pria itu sama sekali tidak menyentuhku ketika kami terpaksa tidur di ranjang yang sama malam itu. Ia bahkan tidak mencoba menciumku.Aku masih ingat samar-samar sentuhan lembut tangannya ketika menarik selimut dan me

  • Menjemput Senja di Langit Palu   117 - PRIA SETELAN HITAM

    Hawa steril khas kamar perawatan The Mater Hospital terasa begitu pekat. Aku duduk membungkuk di samping ranjang, menopang kening dengan kepalan tangan, sementara tangan kiriku masih menggenggam jemari Naomi yang kini mulai menghangat. Di bawah cahaya lampu bangsal, wajahnya tampak begitu tenang. Namun, ia belum juga siuman setelah kehilangan kesadaran akibat hipotermia parah semalam.Cklek.Pintu kamar rawat terbuka perlahan. Langkah kaki tegas memecah kesunyian, disusul sosok detektif muda berjaket kulit yang masuk bersama Mr. Robinson. Wajahnya tampak lelah, tetapi sorot matanya memancarkan keyakinan bahwa penyelidikan telah mencapai titik terang.“Semuanya sudah berakhir, Attila,” ujar detektif itu dengan suara rendah, sekilas memandang Naomi yang masih terpejam. “Dilara sudah diringkus setengah jam yang lalu di jalur keluar North Sydney.”Aku mendongak. Mataku menyipit, menuntut penjelasan lebih lanjut.“Bagaimana bisa secepat itu?”“Orang suruhannya yang bertugas mengunci Naomi

  • Menjemput Senja di Langit Palu   116 - KARTU AS

    Aku berdiri mematung di sudut koridor lantai bawah gedung 100 Mount Street, menatap Erul yang kini menunduk kaku di hadapanku. Keheningan di antara kami terasa begitu pekat, hanya diisi dengung pendingin udara gedung yang berembus konstan. Kepalaku masih pening setelah rentetan kenyataan pahit yang menghantamku sejak berada di resor Australia Barat hingga pagi ini.“Kalian tidur sekamar?” tanyaku lirih, menuntut kejelasan tentang kejadian yang disaksikan Attila pagi tadi.Erul menghela napas berat. Matanya enggan menatapku.“Iya. Karena saat itu hanya tersisa satu kamar.”Jantungku berdegup kencang. Rasa sesak mulai merayap di dada.“Tidak ada yang terjadi, kan?”“Tidak ada,” sahutnya cepat, seolah ingin segera meyakinkanku.Aku mengepalkan tangan di balik saku blazer. Pikiranku kembali tertuju pada kotak kue sus yang memicu kekacauan saat acara doa bersama kemarin.“Jelaskan padaku, mengapa kau menukar kotak kue untuk para undangan?”“Aku terpaksa melakukannya, Naomi,” bisik Erul. Su

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status