Share

144 - RESTU

Author: Celine Alo08
last update publish date: 2026-10-15 21:42:16

“Apakah kau Naomi Saraswati?”

“Benar, Kak,” jawabku, menatap wanita paruh baya di hadapanku dengan cemas.

“Apakah kau memiliki adik laki-laki?”

“Aku punya, tetapi ia hilang ketika berusia sebelas tahun.” Tenggorokanku mendadak tercekat. Kenangan kelam itu selalu berhasil membuat dadaku sesak.

“Apakah ia hilang saat bencana 28 September 2002?”

“Itu benar. Namun, bagaimana Tante bisa tahu? Maksudku, tentang aku yang punya seorang adik laki-laki?” tanyaku heran.

Wanita bersyal merah itu menatap wa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjemput Senja di Langit Palu   145 - SI JAGO MERAH

    Aku berlari sekencang-kencangnya menyusuri trotoar, mengabaikan udara dingin yang menusuk paru-paruku. Begitu berbelok di ujung Sydney Street, langkahku mendadak terhenti. Jantungku serasa berhenti berdetak.Di hadapanku, rumah yang seharusnya menjadi tempatku pulang kini dilalap api. Kobaran merah keemasan membubung tinggi ke langit malam, melahap setiap sudut bangunan kolonial itu. Suara kayu yang patah dan ledakan-ledakan kecil dari dalam rumah bercampur dengan raungan sirene pemadam kebakaran yang terdengar dari kejauhan.Namun, pemandangan di balik jendela lantai dua membuat duniaku benar-benar runtuh. Di antara kepulan asap hitam yang pekat, aku melihat Mama dan Filix. Mereka terperangkap di dalam rumah, dikepung kobaran api yang menjilat dinding.“Tidak! Mama! Filix!” jeritku, memecah kesunyian malam.Tangisku pecah. Tanpa memedulikan hawa panas yang mulai menyengat wajahku, aku berlari menuju pintu depan yang sudah runtuh. Aku harus masuk. Aku harus menyelamatkan mereka. Aku t

  • Menjemput Senja di Langit Palu   144 - RESTU

    “Apakah kau Naomi Saraswati?”“Benar, Kak,” jawabku, menatap wanita paruh baya di hadapanku dengan cemas.“Apakah kau memiliki adik laki-laki?”“Aku punya, tetapi ia hilang ketika berusia sebelas tahun.” Tenggorokanku mendadak tercekat. Kenangan kelam itu selalu berhasil membuat dadaku sesak.“Apakah ia hilang saat bencana 28 September 2002?”“Itu benar. Namun, bagaimana Tante bisa tahu? Maksudku, tentang aku yang punya seorang adik laki-laki?” tanyaku heran.Wanita bersyal merah itu menatap wajahku lekat-lekat. “Saat melihat wajahmu, aku teringat seseorang. Tunggu sebentar, aku akan menunjukkan sesuatu padamu.”Ia berdiri dan meninggalkanku yang masih terpaku di tengah ruang keluarga megah itu. Interiornya bergaya Prancis klasik. Dinding-dindingnya dihiasi ukiran beton putih atau boiserie yang rumit dan elegan. Di sudut ruangan, sebuah perapian batu besar menyala, memancarkan kehangatan disertai suara gemertak kayu terbakar. Nyala api itu seolah mengusir hawa dingin Sydney yang menus

  • Menjemput Senja di Langit Palu   143 - DITELAN BUMI

    Kak Sunny saat itu sudah duduk di bangku perkuliahan. Usianya 15 tahun, tiga tahun lebih tua dariku yang baru menginjak 12 tahun. Sambil melangkah menyusuri puing-puing, ia menoleh ke arahku dengan sorot mata sayu.“Aku turut sedih, Naomi. Kalian harus kehilangan adikmu,” ucapnya pelan.Aku hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Jemariku meremas gagang jeriken plastik kosong yang kupegang erat-erat, seolah benda itu menjadi satu-satunya pegangan yang tersisa dalam hidupku. Di sampingku, tangan kanan Kak Sunny menggenggam erat tanganku yang bebas. Genggamannya begitu kuat, seolah ia takut aku akan ikut lenyap dalam sekejap, ditelan kekacauan yang melanda kota kami.Kami terus berjalan melewati lorong yang kini berubah begitu jauh dari ingatanku. Jalan beraspal yang dahulu membentang lurus kini meliuk-liuk aneh, menyerupai tubuh ular. Masjid di ujung jalan, tempatku biasa mampir untuk belajar mengaji, juga telah roboh rata dengan tanah.Kondisi jalan di sekitar kami sungguh mengeri

  • Menjemput Senja di Langit Palu   142 - 3315

    Tak lama kemudian, dari kejauhan, di antara kegelapan malam, kulihat sosok perempuan paruh baya berjalan terseok-seok mendekati terpal tempat kami berkumpul. Aku langsung mengenali langkahnya.Mama!Aku segera bangkit dan berlari sekencang mungkin, lalu menghambur ke pelukannya. Tubuhnya gemetar dan pakaiannya basah oleh sisa air laut.“Papamu mana? Belum pulang?” tanya Mama dengan suara serak.“Papa pergi ke pantai untuk mencari Mama dan Filix.” Aku mendongak menatapnya, merasakan firasat buruk yang mendadak mencengkeram dada. “Filix mana, Ma?” tanyaku, menatap wajahnya lekat-lekat.Mama terdiam sesaat sebelum tangisnya pecah membelah kesunyian malam.“Filix hilang, Naomi ... mungkin terbawa gelombang tsunami. Mama sudah mencarinya ke mana-mana setelah air surut, tetapi tidak menemukannya.”Mendengar kalimat itu, duniaku serasa runtuh. Aku tak sanggup memikirkan apa pun selain menangis sejadi-jadinya, meratapi adik laki-lakiku yang siang tadi masih tersenyum di sampingku. Di sela-sel

  • Menjemput Senja di Langit Palu   141 - 28 SEPTEMBER 2002

    Bagaimanapun gigihnya Filix memohon agar tetap diizinkan mengayuh sepeda berkeranjang kami, keputusan Papa sudah bulat. Kami tidak lagi diperbolehkan berjualan nasi kuning di area pertambangan setelah sebuah kabar mengerikan berembus. Seorang anak perempuan penjual gorengan keliling meninggal dunia secara tragis setelah diperkosa bergiliran oleh sekelompok penambang liar yang mabuk. Meskipun para pelakunya berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara, nyawa anak perempuan itu tetap tidak bisa diselamatkan.Dengan segala keberaniannya, Filix bersikeras bahwa di usianya yang baru sebelas tahun, ia sanggup pasang badan untuk melindungiku. Namun, menghadapi orang-orang kalap yang bisa mengeroyoknya kapan saja tentu merupakan perkara lain. Sebagai kakak perempuannya, aku tidak akan pernah sudi mengambil risiko sekecil apa pun yang bisa mengancam keselamatannya.Hari itu, 28 September 2002, bertepatan dengan ulang tahun Filix yang kedua belas. Alih-alih merayakannya di rumah, pagi-pagi but

  • Menjemput Senja di Langit Palu   140 - KUPU-KUPU MALAM

    Kepingan masa lalu yang selama ini terkunci rapat dalam ingatanku akhirnya terbuka kembali. Sejak malam mencekam di meja makan itu, aku mulai memahami siapa sebenarnya anak laki-laki yang usianya hanya terpaut satu tahun dariku.Malam itu, melalui celah pintu yang sedikit terbuka, aku menguping pembicaraan di kamar sebelah. Suara Papa terdengar parau. Ia memohon kepada Mama agar bersedia menerima anak itu dan membiarkannya tinggal bersama kami.Dalam percakapan malam itu, Papa mengakui semuanya. Petaka ini bermula dari kekalahannya di meja judi. Frustrasi karena uangnya ludes tak tersisa, Papa melarikan diri ke dalam minuman keras hingga mabuk berat. Dalam keadaan kehilangan kendali, ia akhirnya tidur dengan seorang perempuan yang ditemuinya di tempat maksiat itu.Belakangan, kami baru mengetahui fakta yang lebih kejam. Pria yang memperkenalkan perempuan blasteran Australia-Manado itu kepada Papa ternyata orang yang sama dengan provokator yang mengerahkan massa untuk menghancurkan kac

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status