LOGIN“Tuan Aras sudah meninggal, Nona.”Kalimat itu seketika meremukkan sesuatu di dalam diriku. Tenggorokanku tercekat. Lidahku kelu, seolah kehilangan kemampuan untuk merangkai kata.“Meninggal? Tapi... bagaimana bisa?”Mr. Robinson memandangku dengan sorot mata sendu. Ia tidak langsung menjawab. Keheningan di antara kami terasa begitu panjang.“Tuan Aras menderita Kardiomiopati Hipertrofik sejak kecil, Nona Naomi. Kelainan jantung yang menyebabkan otot jantungnya menebal secara tidak normal. Keluarga Donmez sudah melakukan berbagai upaya. Beliau dibawa berobat ke berbagai tempat, tetapi kondisi fisiknya terus melemah seiring waktu.”Pria paruh baya itu membenarkan posisi duduknya, lalu melirik foto yang tergeletak di atas meja.“Nona perlu tahu, meskipun fisik mereka nyaris serupa, kepribadian keduanya justru sangat bertolak belakang. Perbedaan itu sudah terbentuk sejak masa kecil.” Ia menunjuk foto tersebut. “Mata Tuan Aras yang biru jernih menuruni mata ibunya, sedangkan mata Tuan Att
Kafe yang terletak di Saunders Close, Macquarie Park itu mengusung arsitektur modern dengan lantai beton ekspos dan dinding kaca besar yang membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan.Aroma pekat kopi bercampur dengan wangi roti panggang bermentega memenuhi udara. Kehangatan aroma itu justru terasa kontras dengan kegelisahan yang sejak tadi menggangguku.Kami memilih meja di sudut paling pojok, cukup jauh dari bar utama.“Aku merasa terhormat Mr. Robinson mau memenuhi undanganku untuk bertemu di kafe ini,” kataku.Pria paruh baya dengan setelan jas hitam dan dasi senada itu terkekeh pelan.“Aku justru yang tersanjung. Nona Muda memilih ‘kencan’ denganku di jam istirahat makan siangnya.” Ia membetulkan posisi kacamata bacanya, lalu menatapku dengan sorot mata hangat, seperti seorang ayah kepada putrinya. “Jadi, apa yang ingin Miss Naomi tanyakan kepadaku?”Aku belum sempat menjawab ketika seorang pelayan datang membawa pesanan kami. Dua cangkir flat white diletakkan di atas meja
“Nona, saya tidak bisa mendekati Naomi lagi. Calon suami Anda menyewa seorang bodyguard yang selalu mengikuti ke mana pun Naomi pergi. Bahkan, sepertinya Naomi sendiri tidak menyadari hal itu.”“Apa?!” Suaraku meninggi. Rahangku mengeras. “Demi melindungi janda itu?!”Belum sempat pria di seberang telepon menjawab, ketukan berat mengguncang pintu ruang kerjaku.“Nanti kuhubungi lagi,” bisikku cepat.Aku segera mengakhiri panggilan dan meletakkan ponsel di atas meja. Jemariku merapikan beberapa berkas di hadapan, berusaha bersikap seolah tak ada sesuatu yang perlu disembunyikan.Pintu terbuka.Sosok pria jangkung melangkah masuk. Kehadirannya seketika membuat suasana ruangan terasa menegang. Aku mengangkat wajah, lalu memaksakan senyum tipis.“Attila? Tumben sekali kau mampir ke ruanganku.”“Aku ingin meminjam ID card-mu. Aku lupa membawa punyaku,” katanya langsung pada intinya.Keningku berkerut. “Kau bisa menghubungi Pak Robinson untuk membuatkan yang baru. Apa perlu aku yang menelep
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...Baru saja aku meletakkan tas tangan Naomi di atas meja samping tempat tidur, getarannya membuatku menoleh. Aku membuka ritsletingnya dan mengeluarkan ponsel. Layar menyala, menampilkan panggilan masuk dari Erul.Aku menempelkan ponsel ke telinga.“Halo.”“Mengapa kau yang mengangkat telepon Naomi? Di mana Naomi?!” Suara Erul langsung meninggi. Kepanikannya terdengar jelas.Aku menarik napas dalam-dalam. “Akan kukirimkan lokasinya. Datanglah kemari. Naomi sedang tidur.”Tanpa menunggu jawabannya, kuakhiri panggilan.Hampir tiga puluh menit kemudian, deru mesin mobil berhenti di depan pintu gerbang. Aku mengamati sosok pria berjaket hitam yang turun dari mobil.Pelayan rumahku bahkan belum sempat membuka pintu sepenuhnya ketika Erul menerobos masuk. Matanya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti padaku yang berdiri di bawah undakan tangga.“Apa yang terjadi pada Naomi?” desaknya.Belum sempat aku menjawab, seorang pria berjubah putih keluar dari kamar. Ia m
Aku mengetukkan jemari ke permukaan meja kaca, berusaha menahan gejolak yang sejak tadi mengusik pikiranku. Di seberang meja, seorang pria berpakaian serba gelap berdiri tegap sambil menunggu perintahku. Jaket hitamnya tampak lusuh, sementara topi yang dikenakannya menutupi sebagian wajahnya.“Naomi Saraswati, kau benar-benar berurusan dengan orang yang salah,” desisku.Senyum tipis tersungging di bibirku.Kalau saja Attila tidak berada di sana, mungkin kau sudah mati tenggelam. Anggap saja kau beruntung waktu itu.Pria di hadapanku mengulurkan sebuah map cokelat. Aku segera meraihnya.“Apa kau sudah menemukan data yang kuminta mengenai teman-teman Naomi?”“Sudah, Nona.”Ia meluruskan bahunya sebelum melanjutkan laporannya.“Ines Zafira sudah bertunangan dengan pria bernama Berk Chan Tekin. Pertunangan mereka dilaksanakan di Margaret River setelah Ines menyelesaikan studi S2-nya di University of New South Wales.”Tanganku terhenti di atas map."Tunggu ... mengapa nama itu terasa tidak
“Jadi, Pak Attila itu CEO? Ya Tuhan, apakah aku akan dipecat? Sepertinya sikapku sangat menyebalkan saat bertemu dengannya di lokasi proyek tempo hari,” gumam Ines sambil menatap nanar tumpukan berkas di atas meja.Aku, yang sedang mengecek approval material di kubikel sebelah, mendongak. Tawa kecil lolos dari bibirku.“Tidak. Menurutku, Pak Attila bukan orang yang mudah tersinggung.”“Semoga saja. Lalu, mengapa dia menyembunyikan identitasnya?”“Entahlah. Mungkin dia tidak ingin disorot media?”“Kalau tidak ingin disorot, dia nggak mungkin terjun ke kolam renang untuk menyelamatkanmu, Kak. Sepertinya dia menyukaimu.“Itu tidak masuk akal.”“Itu justru paling masuk akal. Bisa saja dia memang dijodohkan dengan Dilara, tetapi belum tentu dia mencintai perempuan itu. Mungkin dia sengaja menyembunyikan identitasnya karena ingin dekat dengan Kak Naomi. Sekaligus, itu caranya melindungi Kak Naomi agar tidak mendapat tekanan dari keluarga besarnya.”“Melindungi?” tanyaku ragu. “Kau terlalu ba







