Home / Romansa / Menjemput Senja di Langit Palu / 37 - LIMA TAHUN YANG LALU

Share

37 - LIMA TAHUN YANG LALU

Author: Celine Alo08
last update publish date: 2026-08-21 20:28:21
Tepat pukul 09.00, workshop hari kedua dimulai.

Sesi awal berlangsung cukup ramai. Beberapa perwakilan perusahaan mulai memperdebatkan jangka waktu penyelesaian pekerjaan yang dianggap tidak sebanding dengan jumlah madrasah yang harus direhabilitasi.

Suara-suara dari berbagai penjuru ruangan saling bersahutan.

Di tengah suasana itu, seorang pria memasuki ruangan.

Kemeja putih lengan panjang dengan nama kementerian tersemat di bagian dada melekat rapi di tubuhnya. Sebuah ID card tergantung di leh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjemput Senja di Langit Palu   119 - LUKA

    Debur ombak Laut Mediterania yang menghantam lambung kapal luxury yacht mewah itu tersamarkan oleh dentum musik pesta di geladak utama. Namun, di dalam kamar mandi privat yang tersembunyi di balik pintu kayu mahoni, suasananya terasa begitu kontras. Udara mendadak pengap, dipenuhi uap panas, aroma parfum mahal, dan kepanikan yang memacu adrenalin.Berk bersandar pada dinding marmer, sementara jemariku mencengkeram bahunya erat. Napas kami memburu, sesekali diselingi bisikan tergesa.“Cepatlah, seseorang akan menemukan kita di kamar mandi kalau kau tidak segera mengeluarkannya,” bisikku sambil melirik cemas ke arah pintu. Siapa pun bisa saja mengetuknya kapan saja.Berk mempercepat gerakannya. Peluh menetes di pelipisnya. Dengan suara serak, ia berbisik di telingaku, “Apakah tidak apa-apa aku buang di dalam?”“Jangan khawatir, aku meminum obatku,” sahutku tanpa ragu.Beberapa menit kemudian, ketegangan itu mencapai puncaknya. Hembusan napas lega akhirnya lolos dari bibir kami. Berk men

  • Menjemput Senja di Langit Palu   118 - HELENA

    “Dan kau... sama sekali tidak menolakku?”Erul tersenyum tipis. Namun, ada sesuatu yang terasa getir dalam tatapannya.“Tentu saja tidak, Naomi. Aku pria normal. Kau sangat cantik, dan kau tahu pasti bahwa aku sudah mencintaimu sejak lama.”Aku terenyak. Lidahku mendadak kelu mendengar pengakuannya.Tentu saja, batinku sinis. Mana ada kucing yang disodori ikan gratis akan menolak?Pikiranku langsung melayang pada perkataan Guntur. Bayangan menjijikkan saat memergoki mantan suamiku itu berciuman dengan Jena di ruang kerjanya kembali berputar di benakku.Yah, apa yang kau harapkan, Naomi? Semua pria sama saja.Namun, sesaat kemudian, aku buru-buru menarik kembali kesimpulan itu.Tidak. Tidak semua pria sama.Pemikiran tersebut runtuh ketika wajah Attila melintas di benakku. Pria itu sama sekali tidak menyentuhku ketika kami terpaksa tidur di ranjang yang sama malam itu. Ia bahkan tidak mencoba menciumku.Aku masih ingat samar-samar sentuhan lembut tangannya ketika menarik selimut dan me

  • Menjemput Senja di Langit Palu   117 - PRIA SETELAN HITAM

    Hawa steril khas kamar perawatan The Mater Hospital terasa begitu pekat. Aku duduk membungkuk di samping ranjang, menopang kening dengan kepalan tangan, sementara tangan kiriku masih menggenggam jemari Naomi yang kini mulai menghangat. Di bawah cahaya lampu bangsal, wajahnya tampak begitu tenang. Namun, ia belum juga siuman setelah kehilangan kesadaran akibat hipotermia parah semalam.Cklek.Pintu kamar rawat terbuka perlahan. Langkah kaki tegas memecah kesunyian, disusul sosok detektif muda berjaket kulit yang masuk bersama Mr. Robinson. Wajahnya tampak lelah, tetapi sorot matanya memancarkan keyakinan bahwa penyelidikan telah mencapai titik terang.“Semuanya sudah berakhir, Attila,” ujar detektif itu dengan suara rendah, sekilas memandang Naomi yang masih terpejam. “Dilara sudah diringkus setengah jam yang lalu di jalur keluar North Sydney.”Aku mendongak. Mataku menyipit, menuntut penjelasan lebih lanjut.“Bagaimana bisa secepat itu?”“Orang suruhannya yang bertugas mengunci Naomi

  • Menjemput Senja di Langit Palu   116 - KARTU AS

    Aku berdiri mematung di sudut koridor lantai bawah gedung 100 Mount Street, menatap Erul yang kini menunduk kaku di hadapanku. Keheningan di antara kami terasa begitu pekat, hanya diisi dengung pendingin udara gedung yang berembus konstan. Kepalaku masih pening setelah rentetan kenyataan pahit yang menghantamku sejak berada di resor Australia Barat hingga pagi ini.“Kalian tidur sekamar?” tanyaku lirih, menuntut kejelasan tentang kejadian yang disaksikan Attila pagi tadi.Erul menghela napas berat. Matanya enggan menatapku.“Iya. Karena saat itu hanya tersisa satu kamar.”Jantungku berdegup kencang. Rasa sesak mulai merayap di dada.“Tidak ada yang terjadi, kan?”“Tidak ada,” sahutnya cepat, seolah ingin segera meyakinkanku.Aku mengepalkan tangan di balik saku blazer. Pikiranku kembali tertuju pada kotak kue sus yang memicu kekacauan saat acara doa bersama kemarin.“Jelaskan padaku, mengapa kau menukar kotak kue untuk para undangan?”“Aku terpaksa melakukannya, Naomi,” bisik Erul. Su

  • Menjemput Senja di Langit Palu   115 - SAKSI KUNCI

    Satu jam sebelum acara tahlilan dimulai.Lampu-lampu hias di area The Pool Bar belum sepenuhnya menyala. Permukaan kolam di depanku tampak hitam pekat, memantulkan langit malam yang masih diselimuti sisa awan badai. Angin laut berembus dingin, menusuk kulit yang hanya terlindung gaun tipis.Aku duduk menyilangkan kaki di salah satu sudut bar yang sepi.Malam ini, semuanya akan berjalan sesuai rencanaku.Derap langkah kaki terdengar dari kejauhan.Aku mengangkat sudut bibir.Seorang pria berjaket kulit muncul dari balik deretan kursi. Begitu melihatku, langkahnya terhenti.“Apa yang ingin kau katakan?”Wajahnya tampak kaku di bawah cahaya temaram.Aku tidak langsung menjawab. Tanganku masuk ke dalam tas, lalu mengeluarkan benda kecil berbentuk persegi.Sebuah Micro SD Card.Aku mengangkatnya tepat di depan wajahnya.“Kau pasti mengenal benda ini, kan?”Rahangnya mengeras.“Jadi, kau yang mencuri benda itu dari apartemenku?”Aku tersenyum kecil.“Itu mudah bagiku.” Aku menyandarkan pung

  • Menjemput Senja di Langit Palu   114 - SEKAMAR

    Kamar di bagian paling pojok ini tidak terlalu luas. Aroma kayu pinus yang lembap bercampur dengan hawa dingin yang menyusup dari sela-sela jendela. Di tengah ruangan, sebuah ranjang berukuran queen-size berdiri dengan selimut tebal bermotif kotak-kotak. Tidak ada sofa ataupun kursi panjang. Hanya sebuah karpet wol tipis yang terbentang di atas lantai kayu.Aku melangkah masuk lebih dahulu, sementara Naomi masih berdiri kaku di dekat pintu sambil memegangi tas tangannya.Aku tahu situasi ini membuatnya serba salah. Namun, setelah seharian menyetir di tengah badai, tubuhku sudah terasa berat. Aku melepaskan mantel dan melemparkannya ke sisi ranjang.“Kau tidur di atas karpet. Aku sudah lelah menyetir seharian.”Naomi langsung mengangkat alis.“No... no! Tidak bisa! Perempuan harus tidur di ranjang.”Aku menghentikan gerakanku, lalu berbalik menghadapnya. Senyum tipis muncul di sudut bibirku.“Bukankah kau selalu mencetuskan ide tentang kesetaraan gender? Apakah malam ini kau berubah men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status