Compartir

39 - SARA

Autor: Celine Alo08
last update Fecha de publicación: 2026-08-23 20:22:56
Hari ini, tim Regional 2 yang bertugas di wilayah Jawa Barat melakukan kunjungan ke lokasi calon penerima bantuan. Setelah bertemu dengan staf operasional yang sebelumnya mengajukan madrasah tersebut melalui aplikasi, kami diajak berkeliling untuk melihat kondisi enam ruang kelas Madrasah Ibtidaiyah.

Aku memperhatikan lantai keramik di selasar yang mulai menghitam. Dinding bangunan masih semipermanen. Bagian bawah setinggi satu meter menggunakan beton, sedangkan dua meter di atasnya terbuat dari
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menjemput Senja di Langit Palu   98 - PAK CEO

    Malam itu, rooftop gedung pencakar langit di kawasan North Sydney CBD disulap menjadi tempat perayaan yang luar biasa megah. Lumina Atelier menggelar Year-End Corporate Party untuk merayakan pergantian tahun sekaligus penyerahan plakat kepada Naomi Saraswati sebagai pemenang sayembara global.Alunan musik jazz bertempo cepat mengisi udara, berpadu dengan denting gelas kristal dan gelak tawa para undangan. Di bawah temaram lampu gantung, ratusan tamu berbalut busana elegan memenuhi area semi-terbuka. Sementara itu, di kejauhan, cahaya kota berpendar di permukaan Sydney Harbour, menambah kemeriahan malam.Aku sedang berada di tengah kerumunan ketika pergerakan di dekat pintu masuk utama menarik perhatianku.Langkahku terhenti.Naomi baru saja tiba. Di sampingnya berdiri seorang pria mengenakan setelan jas berwarna navy, lalu mereka melangkah bersama.Malam ini, Naomi menanggalkan pakaian kerja formal yang biasa dikenakannya. Sebagai gantinya, sebuah dress satin panjang berwarna hijau min

  • Menjemput Senja di Langit Palu   97 - MARTABAK MANIS

    Begitu Naomi membuka pintu apartemen, aroma mentega cair dari adonan yang berasal dari pantry langsung menguar hangat. Naomi berdiri di ambang pintu dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya.“Erul, kau datang di saat yang tepat!”Aku sempat terdiam. Rupanya, ia mengira aku adalah orang lain.Naomi baru menyadari kekeliruannya setelah mendongak. Tatapannya beralih kepadaku, lalu melebar sedikit.“Attila, ternyata kau. Masuklah.”Aku melangkah masuk sambil membawa buket mawar merah. Naomi menatap bunga-bunga itu sejenak, seolah berusaha menebak maksudku.“Apakah ini untukku?”Aku mengangguk kecil.“Aku melihat seorang nenek berjualan bunga. Sebenarnya, aku tidak tahu apakah kau akan menyukainya atau tidak. Namun, menurutku, mawar merah cocok denganmu.” Aku mengulurkan buket itu kepadanya. “Lagi pula, nenek itu memberiku potongan harga.”Naomi menerima bunga tersebut. Senyum samar menghiasi wajahnya, membuatku merasa lega karena keputusanku untuk membeli bunga ternyata tidak keliru.

  • Menjemput Senja di Langit Palu   96 - DILARA

    “Di mana Attila Dönmez?”Aku menoleh ketika seorang perempuan baru saja menduduki kursi CEO. Ia menyilangkan kaki dengan santai, seolah kursi itu memang miliknya.“Nona Dilara, mengapa tidak memberi tahu saya kalau Anda akan berkunjung ke kantor hari ini?” tanyaku, berusaha menjaga nada bicara tetap tenang.Ia menyandarkan tubuhnya.“Apakah aku harus memberitahukanmu? Terserah aku mau datang kapan saja.”Aku menahan napas sejenak.“Di mana Attila, Pak Robinson?” tanyanya lagi.“Tuan Attila sedang ada urusan di luar kantor.”“Apakah dia sedang melakukan kunjungan ke lokasi proyek?”“Tuan—”Aku mengurungkan kalimatku. Tatapan Dilara membuatku memilih kata-kata dengan hati-hati.“Saya akan menghubungi Tuan Attila untuk memberitahukan bahwa Nona Dilara sedang mencarinya.”“Itu tidak perlu.” Ia bangkit dari kursi. “Aku ini calon istrinya. Sudah sewajarnya aku menemuinya.”“Tapi, Nona—”“Antarkan aku sekarang.”Nada suaranya berubah tegas hingga membuatku tak punya alasan untuk menolaknya.“

  • Menjemput Senja di Langit Palu   95 - GOPHER

    Aku berjalan melewati barisan kolom yang baru mengering, mengamati para pekerja yang mulai menurunkan palet-palet material dari truk. Perempuan berhijab ungu itu berjalan beberapa langkah di belakang Naomi sambil mengetuk-ngetukkan pena pada papan jalan, sepertinya sedang mencatat beberapa poin penting.“Fondasi sudah stabil setelah injeksi semen kemarin,” kata Naomi. Suaranya sedikit bergema di ruang utama masjid yang dindingnya belum terpasang sepenuhnya. “Instalasi pipa air wudu juga sudah rapi.”Ia mendongak ke arah seorang tukang yang mengenakan full body harness. Pria itu berdiri di atas perancah, mulai menyusun blok-blok AAC pada ketinggian empat meter.Namun, cuaca North Sydney memang sulit ditebak. Tak lama kemudian, angin kencang khas pesisir berembus menerobos bagian bangunan yang masih terbuka.Susunan dinding AAC yang belum kering sempurna itu bergoyang.Aku melihatnya sesaat sebelum semuanya terjadi.Blok-blok beton ringan itu roboh dari atas perancah, meluncur ke arah Na

  • Menjemput Senja di Langit Palu   94 - HARI PERTAMA

    Pukul 08.45 pagi di North Sydney selalu menjadi waktu paling gila. Gelombang manusia berdasi dan berblazer hitam mengalir cepat dari Stasiun North Sydney, bergegas memasuki gedung-gedung kaca pencakar langit. Di lantai dasar, tak jauh dari lobi megah gedung 100 Mount Street, aroma biji kopi yang dipanggang dari sebuah kedai menyeruak, menjadi bahan bakar wajib bagi para pekerja korporat sebelum memulai hari.Aku setengah berlari keluar dari kedai kopi itu. Tangan kiriku menjepit bundelan kertas yang harus kuserahkan kepada Managing Director dalam rapat pukul 09.00. Sementara itu, tangan kananku menggenggam segelas besar espresso. Pikiranku masih dipenuhi hasil survei lapangan sehari sebelumnya.Aku tak sempat memperhatikan jalan di depanku. Mataku terpaku pada jam tangan digital.Sial, tinggal lima belas menit sebelum lift akses cepat ke lantai atas mulai penuh sesak.Di saat yang sama, seorang pria baru saja mundur dari konter pengambilan pesanan yang berada di dekat pintu keluar.Bra

  • Menjemput Senja di Langit Palu   93 - SURAT PENGUNDURAN DIRI

    “Sara, lama tak berjumpa. Aku dengar kau baru pulang dari Turki. Bagaimana kabarmu?” Nada suaranya tenang seperti biasa.“Mengapa kau ingin bertemu? Kau punya nyali juga setelah kusiram air panas.”“Sara, aku tidak pernah membencimu. Kau tentu tahu itu. Oh, ya, aku ingin menunjukkan sesuatu.”Pria dengan luka di punggung tangan kanannya itu mulai membuka galeri foto di ponselnya, lalu menyodorkannya kepadaku.Aku terkejut hingga spontan menutup mulut.Aku mengenali tulisan tangan itu. Tulisan Clara.Jadi, isu mengenai dirinya yang lesbian itu benar? Dia sudah memiliki perasaan kepadaku sejak kami duduk di bangku SMA.“Di mana diary-nya?” tanyaku dengan suara gemetar.“Aku tidak tahu. Wendy menemuiku di rumah. Aku hanya mengambil foto ini sebagai bukti. Aku juga ingin menanyakan soal CCTV di ruang rahasia milik Wendy. Apakah kau pernah masuk ke sana?”“Tidak. Aku belum pernah masuk ke ruangan itu. Hanya Erul yang pernah masuk ke sana karena dialah yang menemukan jasad Wendy.”“Jadi, Eru

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status