Share

97 - MARTABAK MANIS

Author: Celine Alo08
last update publish date: 2026-09-21 16:34:17

Begitu Naomi membuka pintu apartemen, aroma mentega cair dari adonan yang berasal dari pantry langsung menguar hangat. Naomi berdiri di ambang pintu dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya.

“Erul, kau datang di saat yang tepat!”

Aku sempat terdiam. Rupanya, ia mengira aku adalah orang lain.

Naomi baru menyadari kekeliruannya setelah mendongak. Tatapannya beralih kepadaku, lalu melebar sedikit.

“Attila, ternyata kau. Masuklah.”

Aku melangkah masuk sambil membawa buket mawar merah. Naomi me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjemput Senja di Langit Palu   99 - CALON SUAMI

    Dengan langkah lebar, aku menerobos kerumunan tamu yang masih sibuk berbisik-bisik, meninggalkan ruang utama rooftop menuju area terbuka di dekat kolam renang.Angin malam Sydney berembus kencang menerpa tubuhku. Aku berhenti sejenak, menatap riak air kolam yang jernih. Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh mencengkeram pergelangan tanganku dari belakang.“Naomi, dengarkan aku dulu,” pinta Attila dengan suara parau.Aku berbalik perlahan, lalu melepaskan tanganku. Kedua lenganku bersedekap di depan dada saat kutatap pria dalam setelan tuksedo itu dengan tatapan dingin.“Jadi, gopher itu malam ini berubah menjadi CEO. Sebaiknya penjelasanmu masuk akal, Pak Attila Donmez.”Attila menatapku. Mata hijaunya menyiratkan rasa bersalah yang begitu dalam.“Aku minta maaf, Naomi. Aku pikir ... kau tentu tidak akan sedekat ini denganku jika mengetahui identitas asliku.”Aku menahan napas sejenak sebelum maju selangkah.“Apa sebenarnya tujuan Anda?”Sesaat, aku membayangkan pria di depanku sebagai sosok

  • Menjemput Senja di Langit Palu   98 - PAK CEO

    Malam itu, rooftop gedung pencakar langit di kawasan North Sydney CBD disulap menjadi tempat perayaan yang luar biasa megah. Lumina Atelier menggelar Year-End Corporate Party untuk merayakan pergantian tahun sekaligus penyerahan plakat kepada Naomi Saraswati sebagai pemenang sayembara global.Alunan musik jazz bertempo cepat mengisi udara, berpadu dengan denting gelas kristal dan gelak tawa para undangan. Di bawah temaram lampu gantung, ratusan tamu berbalut busana elegan memenuhi area semi-terbuka. Sementara itu, di kejauhan, cahaya kota berpendar di permukaan Sydney Harbour, menambah kemeriahan malam.Aku sedang berada di tengah kerumunan ketika pergerakan di dekat pintu masuk utama menarik perhatianku.Langkahku terhenti.Naomi baru saja tiba. Di sampingnya berdiri seorang pria mengenakan setelan jas berwarna navy, lalu mereka melangkah bersama.Malam ini, Naomi menanggalkan pakaian kerja formal yang biasa dikenakannya. Sebagai gantinya, sebuah dress satin panjang berwarna hijau min

  • Menjemput Senja di Langit Palu   97 - MARTABAK MANIS

    Begitu Naomi membuka pintu apartemen, aroma mentega cair dari adonan yang berasal dari pantry langsung menguar hangat. Naomi berdiri di ambang pintu dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya.“Erul, kau datang di saat yang tepat!”Aku sempat terdiam. Rupanya, ia mengira aku adalah orang lain.Naomi baru menyadari kekeliruannya setelah mendongak. Tatapannya beralih kepadaku, lalu melebar sedikit.“Attila, ternyata kau. Masuklah.”Aku melangkah masuk sambil membawa buket mawar merah. Naomi menatap bunga-bunga itu sejenak, seolah berusaha menebak maksudku.“Apakah ini untukku?”Aku mengangguk kecil.“Aku melihat seorang nenek berjualan bunga. Sebenarnya, aku tidak tahu apakah kau akan menyukainya atau tidak. Namun, menurutku, mawar merah cocok denganmu.” Aku mengulurkan buket itu kepadanya. “Lagi pula, nenek itu memberiku potongan harga.”Naomi menerima bunga tersebut. Senyum samar menghiasi wajahnya, membuatku merasa lega karena keputusanku untuk membeli bunga ternyata tidak keliru.

  • Menjemput Senja di Langit Palu   96 - DILARA

    “Di mana Attila Dönmez?”Aku menoleh ketika seorang perempuan baru saja menduduki kursi CEO. Ia menyilangkan kaki dengan santai, seolah kursi itu memang miliknya.“Nona Dilara, mengapa tidak memberi tahu saya kalau Anda akan berkunjung ke kantor hari ini?” tanyaku, berusaha menjaga nada bicara tetap tenang.Ia menyandarkan tubuhnya.“Apakah aku harus memberitahukanmu? Terserah aku mau datang kapan saja.”Aku menahan napas sejenak.“Di mana Attila, Pak Robinson?” tanyanya lagi.“Tuan Attila sedang ada urusan di luar kantor.”“Apakah dia sedang melakukan kunjungan ke lokasi proyek?”“Tuan—”Aku mengurungkan kalimatku. Tatapan Dilara membuatku memilih kata-kata dengan hati-hati.“Saya akan menghubungi Tuan Attila untuk memberitahukan bahwa Nona Dilara sedang mencarinya.”“Itu tidak perlu.” Ia bangkit dari kursi. “Aku ini calon istrinya. Sudah sewajarnya aku menemuinya.”“Tapi, Nona—”“Antarkan aku sekarang.”Nada suaranya berubah tegas hingga membuatku tak punya alasan untuk menolaknya.“

  • Menjemput Senja di Langit Palu   95 - GOPHER

    Aku berjalan melewati barisan kolom yang baru mengering, mengamati para pekerja yang mulai menurunkan palet-palet material dari truk. Perempuan berhijab ungu itu berjalan beberapa langkah di belakang Naomi sambil mengetuk-ngetukkan pena pada papan jalan, sepertinya sedang mencatat beberapa poin penting.“Fondasi sudah stabil setelah injeksi semen kemarin,” kata Naomi. Suaranya sedikit bergema di ruang utama masjid yang dindingnya belum terpasang sepenuhnya. “Instalasi pipa air wudu juga sudah rapi.”Ia mendongak ke arah seorang tukang yang mengenakan full body harness. Pria itu berdiri di atas perancah, mulai menyusun blok-blok AAC pada ketinggian empat meter.Namun, cuaca North Sydney memang sulit ditebak. Tak lama kemudian, angin kencang khas pesisir berembus menerobos bagian bangunan yang masih terbuka.Susunan dinding AAC yang belum kering sempurna itu bergoyang.Aku melihatnya sesaat sebelum semuanya terjadi.Blok-blok beton ringan itu roboh dari atas perancah, meluncur ke arah Na

  • Menjemput Senja di Langit Palu   94 - HARI PERTAMA

    Pukul 08.45 pagi di North Sydney selalu menjadi waktu paling gila. Gelombang manusia berdasi dan berblazer hitam mengalir cepat dari Stasiun North Sydney, bergegas memasuki gedung-gedung kaca pencakar langit. Di lantai dasar, tak jauh dari lobi megah gedung 100 Mount Street, aroma biji kopi yang dipanggang dari sebuah kedai menyeruak, menjadi bahan bakar wajib bagi para pekerja korporat sebelum memulai hari.Aku setengah berlari keluar dari kedai kopi itu. Tangan kiriku menjepit bundelan kertas yang harus kuserahkan kepada Managing Director dalam rapat pukul 09.00. Sementara itu, tangan kananku menggenggam segelas besar espresso. Pikiranku masih dipenuhi hasil survei lapangan sehari sebelumnya.Aku tak sempat memperhatikan jalan di depanku. Mataku terpaku pada jam tangan digital.Sial, tinggal lima belas menit sebelum lift akses cepat ke lantai atas mulai penuh sesak.Di saat yang sama, seorang pria baru saja mundur dari konter pengambilan pesanan yang berada di dekat pintu keluar.Bra

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status