Share

53 - TOPENG

Author: Celine Alo08
last update publish date: 2026-08-30 23:49:58
Aku baru saja keluar dari kamar mandi ketika langkahku terhenti.

Guntur berdiri di depan meja rias.

Tangannya memegang botol parfum milikku.

Aku spontan menarik ujung gaun tidur yang kukenakan, lalu menatapnya tidak percaya.

“Apa yang kau lakukan?”

Guntur segera meletakkan botol kaca itu di atas meja.

“Aku tadi mengetuk pintu depan, tetapi tidak ada yang keluar. Pintu samping juga tidak dikunci, jadi aku masuk saja.”

Aku mengerutkan dahi.

“Mama sedang ke pasar.”

Aku berjalan mendekat. Begitu jar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjemput Senja di Langit Palu   97 - MARTABAK MANIS

    Begitu Naomi membuka pintu apartemen, aroma mentega cair dari adonan yang berasal dari pantry langsung menguar hangat. Naomi berdiri di ambang pintu dengan celemek yang masih melekat di tubuhnya.“Erul, kau datang di saat yang tepat!”Aku sempat terdiam. Rupanya, ia mengira aku adalah orang lain.Naomi baru menyadari kekeliruannya setelah mendongak. Tatapannya beralih kepadaku, lalu melebar sedikit.“Attila, ternyata kau. Masuklah.”Aku melangkah masuk sambil membawa buket mawar merah. Naomi menatap bunga-bunga itu sejenak, seolah berusaha menebak maksudku.“Apakah ini untukku?”Aku mengangguk kecil.“Aku melihat seorang nenek berjualan bunga. Sebenarnya, aku tidak tahu apakah kau akan menyukainya atau tidak. Namun, menurutku, mawar merah cocok denganmu.” Aku mengulurkan buket itu kepadanya. “Lagi pula, nenek itu memberiku potongan harga.”Naomi menerima bunga tersebut. Senyum samar menghiasi wajahnya, membuatku merasa lega karena keputusanku untuk membeli bunga ternyata tidak keliru.

  • Menjemput Senja di Langit Palu   96 - DILARA

    “Di mana Attila Dönmez?”Aku menoleh ketika seorang perempuan baru saja menduduki kursi CEO. Ia menyilangkan kaki dengan santai, seolah kursi itu memang miliknya.“Nona Dilara, mengapa tidak memberi tahu saya kalau Anda akan berkunjung ke kantor hari ini?” tanyaku, berusaha menjaga nada bicara tetap tenang.Ia menyandarkan tubuhnya.“Apakah aku harus memberitahukanmu? Terserah aku mau datang kapan saja.”Aku menahan napas sejenak.“Di mana Attila, Pak Robinson?” tanyanya lagi.“Tuan Attila sedang ada urusan di luar kantor.”“Apakah dia sedang melakukan kunjungan ke lokasi proyek?”“Tuan—”Aku mengurungkan kalimatku. Tatapan Dilara membuatku memilih kata-kata dengan hati-hati.“Saya akan menghubungi Tuan Attila untuk memberitahukan bahwa Nona Dilara sedang mencarinya.”“Itu tidak perlu.” Ia bangkit dari kursi. “Aku ini calon istrinya. Sudah sewajarnya aku menemuinya.”“Tapi, Nona—”“Antarkan aku sekarang.”Nada suaranya berubah tegas hingga membuatku tak punya alasan untuk menolaknya.“

  • Menjemput Senja di Langit Palu   95 - GOPHER

    Aku berjalan melewati barisan kolom yang baru mengering, mengamati para pekerja yang mulai menurunkan palet-palet material dari truk. Perempuan berhijab ungu itu berjalan beberapa langkah di belakang Naomi sambil mengetuk-ngetukkan pena pada papan jalan, sepertinya sedang mencatat beberapa poin penting.“Fondasi sudah stabil setelah injeksi semen kemarin,” kata Naomi. Suaranya sedikit bergema di ruang utama masjid yang dindingnya belum terpasang sepenuhnya. “Instalasi pipa air wudu juga sudah rapi.”Ia mendongak ke arah seorang tukang yang mengenakan full body harness. Pria itu berdiri di atas perancah, mulai menyusun blok-blok AAC pada ketinggian empat meter.Namun, cuaca North Sydney memang sulit ditebak. Tak lama kemudian, angin kencang khas pesisir berembus menerobos bagian bangunan yang masih terbuka.Susunan dinding AAC yang belum kering sempurna itu bergoyang.Aku melihatnya sesaat sebelum semuanya terjadi.Blok-blok beton ringan itu roboh dari atas perancah, meluncur ke arah Na

  • Menjemput Senja di Langit Palu   94 - HARI PERTAMA

    Pukul 08.45 pagi di North Sydney selalu menjadi waktu paling gila. Gelombang manusia berdasi dan berblazer hitam mengalir cepat dari Stasiun North Sydney, bergegas memasuki gedung-gedung kaca pencakar langit. Di lantai dasar, tak jauh dari lobi megah gedung 100 Mount Street, aroma biji kopi yang dipanggang dari sebuah kedai menyeruak, menjadi bahan bakar wajib bagi para pekerja korporat sebelum memulai hari.Aku setengah berlari keluar dari kedai kopi itu. Tangan kiriku menjepit bundelan kertas yang harus kuserahkan kepada Managing Director dalam rapat pukul 09.00. Sementara itu, tangan kananku menggenggam segelas besar espresso. Pikiranku masih dipenuhi hasil survei lapangan sehari sebelumnya.Aku tak sempat memperhatikan jalan di depanku. Mataku terpaku pada jam tangan digital.Sial, tinggal lima belas menit sebelum lift akses cepat ke lantai atas mulai penuh sesak.Di saat yang sama, seorang pria baru saja mundur dari konter pengambilan pesanan yang berada di dekat pintu keluar.Bra

  • Menjemput Senja di Langit Palu   93 - SURAT PENGUNDURAN DIRI

    “Sara, lama tak berjumpa. Aku dengar kau baru pulang dari Turki. Bagaimana kabarmu?” Nada suaranya tenang seperti biasa.“Mengapa kau ingin bertemu? Kau punya nyali juga setelah kusiram air panas.”“Sara, aku tidak pernah membencimu. Kau tentu tahu itu. Oh, ya, aku ingin menunjukkan sesuatu.”Pria dengan luka di punggung tangan kanannya itu mulai membuka galeri foto di ponselnya, lalu menyodorkannya kepadaku.Aku terkejut hingga spontan menutup mulut.Aku mengenali tulisan tangan itu. Tulisan Clara.Jadi, isu mengenai dirinya yang lesbian itu benar? Dia sudah memiliki perasaan kepadaku sejak kami duduk di bangku SMA.“Di mana diary-nya?” tanyaku dengan suara gemetar.“Aku tidak tahu. Wendy menemuiku di rumah. Aku hanya mengambil foto ini sebagai bukti. Aku juga ingin menanyakan soal CCTV di ruang rahasia milik Wendy. Apakah kau pernah masuk ke sana?”“Tidak. Aku belum pernah masuk ke ruangan itu. Hanya Erul yang pernah masuk ke sana karena dialah yang menemukan jasad Wendy.”“Jadi, Eru

  • Menjemput Senja di Langit Palu   92 - GHOST CEO

    Setelah taksi yang membawa kami melesat meninggalkan Avanos, ketegangan di dadaku perlahan mencair. Aku menikmati berendam air hangat sambil mendengarkan lagu Turki dari gramofon.Tunggu, mengapa aku merasa tidak asing dengan pria bermata hijau di toko karpet itu? Rasanya aku pernah melihatnya, tetapi di mana?Rambut pria itu hitam dan lebih bergelombang. Apakah seharusnya rambutnya berwarna cokelat dan tidak bergelombang? Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Aku hampir lupa seperti apa rupanya. Namun, wajah pria itu sepertinya mirip dengannya—seseorang yang telah menghilang dari kehidupanku.Satu-satunya hal yang masih kuingat dengan jelas adalah sepasang mata birunya dan kacamata yang selalu dikenakannya.Bukankah aku sudah memutuskan untuk melupakannya? Aku bahkan telah menghapus seluruh percakapan kami, menghapus pertemanan kami di media sosial, dan menyingkirkan semua foto tentangnya.Kalau memang dia orangnya, seharusnya dia juga mengingatku, bukan?Tak lama kemudian, gramofon mul

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status