LOGINSebulan setelah pernikahanku,Aroma karbol yang menyengat bercampur dengan udara dingin yang pengap menyambutku begitu melangkah masuk ke ruang kunjungan lapas. Dinding beton berwarna abu-abu tampak mengelupas di beberapa bagian. Dari kejauhan, sesekali terdengar gemerincing rantai besi, disusul derap langkah yang menggema di lorong.Aku datang untuk menemui Guntur.Ia duduk di kursi besi yang tertanam di lantai. Sebuah kaca transparan memisahkan kami, dengan lubang-lubang kecil. Aku menarik kursi di seberangnya, lalu meletakkan kedua tangan di atas meja. Jemariku saling mencengkeram hingga buku-bukunya memutih.Guntur duduk bersandar dengan wajah tenang. Tak ada kerutan penyesalan di dahinya, tak ada kegelisahan dalam gerak-geriknya. Bahkan, ketika pandangan kami bertemu, ia justru menyunggingkan senyum tipis, seolah kami sedang duduk berhadapan di sebuah kafe, bukan di ruang kunjungan penjara.“Aku sudah bilang, Sayang. Setelah kontrakmu berakhir, seharusnya kau ikut denganku ke Palu
“Naomi, ikutlah. Ada tempat yang ingin kutunjukkan.”Aku tak menjawab. Langkahku mengikuti Attila menaiki belasan anak tangga yang melingkar di dalam mercusuar. Napasku sedikit memburu ketika akhirnya kami tiba di puncak menara putih itu.Angin Samudra Hindia langsung menerpa wajahku begitu kami melangkah ke balkon luar Mercusuar Cape Naturaliste. Ujung hijabku berkibar, sementara rambut Attila berantakan diterpa embusan angin. Di hadapan kami, langit sore pesisir barat daya Australia terbentang cerah. Matahari bergerak turun menuju cakrawala, menumpahkan cahaya keemasan di atas hamparan laut.Dari ketinggian, Geographe Bay tampak tenang dengan perairan birunya yang membentang luas. Berbeda dengan itu, ombak Samudra Hindia bergulung menuju pantai sebelum pecah menghantam tebing-tebing granit di bawah mercusuar. Aku teringat, dulu aku pernah bertanya kepadamu, Naomi, “Maukah kau pergi bersamaku ke Cape Naturaliste?” Aku tidak menyangka kita akhirnya akan bertemu di sini.“Aku kira kau
Tiga hari setelah melamar Naomi, kami memutuskan untuk menikah. Namun, kabar bahwa Guntur masih buron terus membayangi pikiranku. Ada kecemasan yang tak bisa kuabaikan, meski aku berusaha menikmati hari bahagia ini.Aku berdiri di depan altar kayu sederhana yang dihiasi rangkaian bunga pastel. Setelan jas berwarna soft ice green yang kukenakan serasi dengan kemeja putih di baliknya. Sesekali, aku merapikan ujung lengan jas, berusaha menyembunyikan kegugupan yang terus mengusik.Ketika pintu ruang rias pondok kayu terbuka, aku langsung menoleh.Naomi muncul dalam balutan gaun pengantin ice green berbahan organza yang menjuntai anggun hingga menyapu rumput. Sulaman perak, payet, kristal, dan mutiara kecil menghiasi kainnya, berkilauan lembut setiap kali ia melangkah. Potongan sheer mesh transparan di bagian punggungnya menampilkan detail manik-manik yang mempercantik gaun itu. Namun, di antara semua keindahan tersebut, senyumnya tetap menjadi hal yang paling sulit kuabaikan.Aku terpaku.
Filix jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Naomi Saraswati.Aku menyesal telah mengikuti saran temanku untuk membiarkan Filix mengikuti kencan buta. Filix bukan tipe laki-laki yang mudah menaruh hati kepada seseorang. Ketika ia akhirnya mencintai seorang perempuan, aku tahu perasaan itu bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.Karena itu, aku mulai menyelidiki latar belakang perempuan itu. Aku mengetahui bahwa ia adalah seorang Principal Architect yang bekerja di sebuah firma arsitektur. Ia juga telah bercerai dan pernah mengalami keguguran.Semakin banyak informasi yang kukumpulkan, semakin besar kegelisahan yang kurasakan. Hingga akhirnya, aku menemukan fakta yang membuat seluruh tubuhku seolah kehilangan tenaga.Naomi Saraswati adalah putri kandung dari Papa Filix Baskara.Perempuan yang dicintai Filix itu ternyata adalah kakak perempuan yang selama ini ia cari.Aku terdiam lama setelah mengetahui kenyataan tersebut. Selama bertahun-tahun, aku berusaha melindungi Filix dari
Pertemuanku dengan Filix terjadi di tengah puing-puing bencana yang masih menyisakan bau tanah basah dan duka mendalam. Saat itu, aku telah berpisah dari suamiku, seorang pelaksana teknis yang bekerja di Balai. Aku mengabdikan diri sebagai relawan dalam kegiatan penyaluran bantuan bagi anak-anak korban bencana. Ketika menyusuri kawasan terdampak, pandanganku tertuju pada pemandangan yang membuat langkahku terhenti.Tim evakuasi menemukan seorang anak laki-laki tersangkut di sebuah pohon. Tubuh kecilnya tampak ringkih, bersimbah darah, dan nyaris tak berdaya. Kedua matanya mengalami kerusakan parah akibat serpihan tajam yang melukainya. Ia membutuhkan operasi besar sesegera mungkin untuk menyelamatkan sisa penglihatannya.Namun, luka pada matanya bukan satu-satunya penderitaan yang harus ditanggung bocah itu. Menurut keterangan dokter, kepalanya terbentur keras oleh material yang menghantamnya saat bencana terjadi. Benturan tersebut menyebabkan kehilangan ingatan. Masa lalunya seolah te
Angin sore menyapu Pantai Bondi, membawa aroma garam laut dan udara dingin yang membuatku merapatkan jaket. Setelah memarkir Ford Ranger putih di area parkir dekat pantai, aku turun mengikuti Filix. Kami menyusuri hamparan pasir, sementara ombak bergulung menuju bibir pantai dan pecah di dekat kaki kami.Sejak tadi aku lebih banyak diam. Sesekali pandanganku tertuju pada laut, membiarkan suara ombak mengisi jeda di antara kami.Filix melirikku. “Apakah kau suka pantainya?”“Aku selalu suka pantai.”“Namun, pantai di sini mungkin tidak seindah pantai di Indonesia. Menurutku, Seminyak di Bali jauh lebih indah.”Langkahku melambat. Filix ikut berhenti, lalu mengangkat tangan ke dagu seolah sedang mengingat sesuatu.“Jadi, kau pernah ke Bali?” tanyaku.“Pernah, sudah lama sekali. Aku pergi bersama seorang teman. Dia bekerja di perusahaan Epson, tidak jauh dari kantormu. Dia pria Turki.”Aku menoleh cepat. Jantungku berdegup lebih kencang. Perkataan Filix barusan membangkitkan rasa ingin ta







