FAZER LOGINNaomi menjerit histeris, memeluk tubuh Attila yang berlumuran darah di bawah guyuran hujan. Pernikahan yang selama ini ia impikan berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap. Di sekelilingnya, para tamu berlarian mencari perlindungan, sementara beberapa orang berusaha menghubungi ambulans. Drone yang merekam peristiwa itu jatuh terhempas ke pasir, mengakhiri rekaman tragedi yang akan menghantui ingatan mereka.Namun, di tengah keputusasaan itu, Attila masih memiliki denyut nadi yang sangat lemah.“Attila, dengar aku!” Naomi mengguncang bahunya dengan lembut. “Kau sudah berjanji akan menemaniku. Kau tidak boleh meninggalkanku sekarang. Kita bahkan belum sempat mewujudkan impian kita.”Attila tak lagi menjawab. Matanya terpejam, sementara petugas medis yang baru tiba segera membawanya ke ambulans. Naomi ikut naik dengan gaun pengantin yang basah dan berlumuran darah, menggenggam tangan suaminya sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.Di ruang gawat darurat, tim medis bekerja keras menyel
Semburat jingga dan keunguan merajai langit barat, menandai sang mentari yang bersiap pulang ke peraduan. Di sebuah sudut dermaga yang tenang di Kota Palu, angin sore berembus pelan, membawa aroma garam laut yang khas.Naomi berdiri di ujung dermaga, membiarkan angin memainkan helai rambutnya. Tatapannya tertuju pada garis cakrawala, sementara jemarinya menggenggam sebuah buku yang sejak tadi tak benar-benar ia baca. Pikirannya melayang, dipenuhi berbagai hal yang belum sepenuhnya menemukan jawaban.“Naomi.”Suara yang tiba-tiba memanggil namanya membuat ia menoleh. Langkahnya seketika terhenti ketika mendapati seorang pria berdiri beberapa meter di belakangnya.Attila.Pria itu menyusulnya hingga ke Kota Palu.Naomi menatapnya dengan mata membesar, seolah masih berusaha meyakinkan diri bahwa sosok yang berdiri di hadapannya bukan sekadar bayangan yang tercipta dari kerinduannya sendiri.“Attila?” suaranya terdengar lirih. “Apa yang kau lakukan di sini?”Attila melangkah mendekat, tet
Aku berlari sekencang-kencangnya menyusuri trotoar, mengabaikan udara dingin yang menusuk paru-paruku. Begitu berbelok di ujung Sydney Street, langkahku mendadak terhenti. Jantungku serasa berhenti berdetak.Di hadapanku, rumah yang seharusnya menjadi tempatku pulang kini dilalap api. Kobaran merah keemasan membubung tinggi ke langit malam, melahap setiap sudut bangunan kolonial itu. Suara kayu yang patah dan ledakan-ledakan kecil dari dalam rumah bercampur dengan raungan sirene pemadam kebakaran yang terdengar dari kejauhan.Namun, pemandangan di balik jendela lantai dua membuat duniaku benar-benar runtuh. Di antara kepulan asap hitam yang pekat, aku melihat Mama dan Filix. Mereka terperangkap di dalam rumah, dikepung kobaran api yang menjilat dinding.“Tidak! Mama! Filix!” jeritku, memecah kesunyian malam.Tangisku pecah. Tanpa memedulikan hawa panas yang mulai menyengat wajahku, aku berlari menuju pintu depan yang sudah runtuh. Aku harus masuk. Aku harus menyelamatkan mereka. Aku t
“Apakah kau Naomi Saraswati?”“Benar, Kak,” jawabku, menatap wanita paruh baya di hadapanku dengan cemas.“Apakah kau memiliki adik laki-laki?”“Aku punya, tetapi ia hilang ketika berusia sebelas tahun.” Tenggorokanku mendadak tercekat. Kenangan kelam itu selalu berhasil membuat dadaku sesak.“Apakah ia hilang saat bencana 28 September 2002?”“Itu benar. Namun, bagaimana Tante bisa tahu? Maksudku, tentang aku yang punya seorang adik laki-laki?” tanyaku heran.Wanita bersyal merah itu menatap wajahku lekat-lekat. “Saat melihat wajahmu, aku teringat seseorang. Tunggu sebentar, aku akan menunjukkan sesuatu padamu.”Ia berdiri dan meninggalkanku yang masih terpaku di tengah ruang keluarga megah itu. Interiornya bergaya Prancis klasik. Dinding-dindingnya dihiasi ukiran beton putih atau boiserie yang rumit dan elegan. Di sudut ruangan, sebuah perapian batu besar menyala, memancarkan kehangatan disertai suara gemertak kayu terbakar. Nyala api itu seolah mengusir hawa dingin Sydney yang menus
Kak Sunny saat itu sudah duduk di bangku SMP. Usianya 14 tahun, tiga tahun lebih tua dariku yang baru menginjak 11 tahun. Sambil melangkah menyusuri puing-puing, ia menoleh ke arahku dengan sorot mata sayu.“Aku turut sedih, Naomi. Kalian harus kehilangan adikmu,” ucapnya pelan.Aku hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Jemariku meremas gagang jeriken plastik kosong yang kupegang erat-erat, seolah benda itu menjadi satu-satunya pegangan yang tersisa dalam hidupku. Di sampingku, tangan kanan Kak Sunny menggenggam erat tanganku yang bebas. Genggamannya begitu kuat, seolah ia takut aku akan ikut lenyap dalam sekejap, ditelan kekacauan yang melanda kota kami.Kami terus berjalan melewati lorong yang kini berubah begitu jauh dari ingatanku. Jalan beraspal yang dahulu membentang lurus kini meliuk-liuk aneh, menyerupai tubuh ular. Masjid di ujung jalan, tempatku biasa mampir untuk belajar mengaji, juga telah roboh rata dengan tanah.Kondisi jalan di sekitar kami sungguh mengerikan. Aspa
Tak lama kemudian, dari kejauhan, di antara kegelapan malam, kulihat sosok perempuan paruh baya berjalan terseok-seok mendekati terpal tempat kami berkumpul. Aku langsung mengenali langkahnya.Mama!Aku segera bangkit dan berlari sekencang mungkin, lalu menghambur ke pelukannya. Tubuhnya gemetar dan pakaiannya basah oleh sisa air laut.“Papamu mana? Belum pulang?” tanya Mama dengan suara serak.“Papa pergi ke pantai untuk mencari Mama dan Filix.” Aku mendongak menatapnya, merasakan firasat buruk yang mendadak mencengkeram dada. “Filix mana, Ma?” tanyaku, menatap wajahnya lekat-lekat.Mama terdiam sesaat sebelum tangisnya pecah membelah kesunyian malam.“Filix hilang, Naomi ... mungkin terbawa gelombang tsunami. Mama sudah mencarinya ke mana-mana setelah air surut, tetapi tidak menemukannya.”Mendengar kalimat itu, duniaku serasa runtuh. Aku tak sanggup memikirkan apa pun selain menangis sejadi-jadinya, meratapi adik laki-lakiku yang siang tadi masih tersenyum di sampingku. Di sela-sel







