LOGINHari KeempatMakam Kakek Attila diletakkan tepat di sebelah makam cucunya, Aras Donmez.Ines tidak ikut bersama kami ke pemakaman. Kondisinya memburuk sejak pesta resepsi yang terpaksa diakhiri secara tiba-tiba semalam. Ia masih sangat terpukul setelah menyaksikan Kakek Attila ditemukan tewas di kamar resor.Tiga jam kemudian, kami meninggalkan area pemakaman. Sepanjang perjalanan pulang, tak banyak percakapan terjadi. Hanya suara mesin mobil dan deru angin yang mengisi ruang di antara kami.Begitu mobil memasuki pelataran Pullman Bunker Bay Resort, suasana di sekitar penginapan itu terasa lebih dingin dan mencekam dari biasanya.Berk turun lebih dulu dan melangkah cepat menuju unit vila mereka. Kecemasan tampak jelas di wajahnya. Ia terpaksa meninggalkan Ines sendirian di kamar, dan kini ingin segera memastikan keadaan istrinya.Pintu kayu kamarnya ternyata tidak terkunci.Aku, Attila, dan Erul menuju kamar kami masing-masing.“Sayang, aku pulang,” panggil Berk lembut saat memasuki ka
Matahari pagi di kawasan Stevens Road, Margaret River, memancarkan cahaya keemasan yang menyelinap di antara barisan tanaman anggur yang tertata rapi di Voyager Estate. Hari ini merupakan hari ketiga kami berada di ujung barat Australia. Hari Kamis yang sakral bagi kedua sahabatku, Ines Zafira dan Berk Can Tekin.Halaman rumput luas bergaya kolonial Eropa di Voyager Estate telah disulap menjadi tempat akad nikah. Kursi-kursi tertata rapi menghadap area prosesi, berpadu dengan desau angin yang membawa aroma segar dari hamparan kebun anggur di sekeliling kami.Sebagai maid of honor, aku berdiri bersama barisan pengiring pengantin perempuan. Kami mengenakan gaun panjang berwarna ungu pekat yang anggun—warna pilihan Ines untuk menyelaraskan suasana pernikahan dengan perkebunan anggur khas Margaret River.Jantungku berdegup lebih cepat ketika prosesi dimulai.Di ujung karpet putih, Berk telah duduk tegap di hadapan penghulu dan para saksi. Pria Turki itu tampak gagah dalam setelan jas putih
Kami melangkah menuju teras luar Other Side of the Moon Restaurant yang siang itu tampak lengang karena jam makan siang hampir usai. Angin samudra yang kencang langsung menerpa wajahku, menerbangkan ujung hijabku. Kami duduk di meja sudut dekat pagar pembatas kaca. Di bawah kami, pasir putih Bunker Bay membentang luas, bersanding dengan air laut yang biru pekat.Begitu pelayan pergi setelah mencatat pesanan minuman kami, Ines langsung menyenggol bahu tunangannya.“Jadi, Berk... waktu kau bersama Aras di Cape Naturaliste dulu, di sanalah pertama kali kau melihat Kak Naomi?” tanya Ines penasaran.“Itu benar.” Berk mengangguk pelan, tatapannya menerawang menembus cakrawala laut. “Tapi aku tidak menyadari bahwa teman apartemen sekaligus teman kantormu yang sering kau ceritakan adalah perempuan yang sama. Bicara soal Cape Naturaliste, alangkah menyenangkan jika Aras bisa menyaksikan hari pernikahanku...”“Aku tahu, sayang. Kau sedih karena kehilangan sahabatmu itu.” Ines bersandar di bahu t
Ketukan dari pintu kamar apartemen perlahan menembus deru air shower yang sejak tadi mengalir. Aku segera mematikan keran, menyeka sisa air di wajah, lalu meraih handuk yang tergantung di dekatku. Kutarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sebelum keluar dari kamar mandi.Begitu melangkah keluar, aku mendapati Ines sudah berdiri di dalam apartemen.“Kak Naomi!” serunya. Matanya berbinar saat menggenggam kedua tanganku. “Aku punya kabar besar! Aku akan menikah minggu depan!”Aku terdiam sesaat sebelum memaksakan senyum.“Wah... selamat, Ines. Aku ikut bahagia mendengarnya.” Aku menepuk pundaknya pelan.“Aku ingin Kak Naomi dan Erul menjadi pengiring pengantinku nanti,” lanjutnya penuh semangat. “Aku sudah memesankan tiket pesawat untuk kalian berdua langsung ke Margaret River!”Senyumku perlahan memudar.Ingatan tentang pria bermata biru itu seketika muncul. Bukankah Aras pernah mengatakan bahwa ia melakukan perjalanan dinas ke tempat itu?“Aku dengan senang hati mau, Ines,” j
“Tuan Aras sudah meninggal, Nona.”Kalimat itu seketika meremukkan sesuatu di dalam diriku. Lidahku kelu, seolah kehilangan kemampuan untuk merangkai kata.“Meninggal? Tapi... bagaimana bisa?”Mr. Robinson memandangku dengan sorot mata sendu. Ia tidak langsung menjawab. Keheningan di antara kami terasa begitu panjang.“Nona perlu tahu, meskipun fisik mereka nyaris serupa, kondisi kesehatan keduanya berbeda. Tuan Aras menderita kardiomiopati hipertrofik sejak kecil, yaitu kelainan jantung yang menyebabkan otot jantungnya menebal secara tidak normal. Keluarga Donmez sudah melakukan berbagai upaya. Beliau dibawa berobat ke berbagai tempat, tetapi kondisi fisiknya terus melemah seiring waktu.”Pria paruh baya itu membenarkan posisi duduknya, lalu melirik foto yang tergeletak di atas meja.“Mata Tuan Aras yang biru jernih menuruni mata ibunya, sedangkan mata Tuan Attila yang hijau zamrud menuruni mata ayahnya.”Aku mengernyit.“Aras pernah menunjukkan kepadaku foto kedua orang tuanya ketika
Kafe yang terletak di Saunders Close, Macquarie Park itu mengusung arsitektur modern dengan lantai beton ekspos dan dinding kaca besar yang membiarkan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan.Aroma pekat kopi bercampur dengan wangi roti panggang bermentega memenuhi udara. Kehangatan aroma itu justru terasa kontras dengan kegelisahan yang sejak tadi menggangguku.Kami memilih meja di sudut paling pojok, cukup jauh dari bar utama.“Aku merasa terhormat Mr. Robinson mau memenuhi undanganku untuk bertemu di kafe ini,” kataku.Pria paruh baya dengan setelan jas hitam dan dasi senada itu terkekeh pelan.“Aku justru yang tersanjung. Nona memilih ‘kencan’ dengan pria tua di jam istirahat makan siangnya.” Ia membetulkan posisi kacamata bacanya, lalu menatapku dengan sorot mata hangat, seperti seorang ayah kepada putrinya. “Jadi, apa yang ingin Miss Naomi tanyakan kepadaku?”Aku belum sempat menjawab ketika seorang pelayan datang membawa pesanan kami. Dua cangkir flat white diletakkan di atas mej







