LOGIN“Meskipun pelaku utama itu akhirnya tertangkap, kau tetap tidak akan pernah kembali. Lalu untuk apa, Babe? Untuk apa semua ini?”Suaraku menggantung di udara. Dinding-dinding kamar vila seolah memantulkan kembali kata-kataku, tetapi tidak ada suara yang menyahut.Tidak ada tawa renyahmu.Tidak ada suara lembutmu yang biasanya memanggil namaku.Hanya keheningan.Aku menundukkan kepala. Jemariku mengepal di atas lutut, berusaha menahan sesak yang semakin memenuhi dada.Pikiranku kembali pada malam-malam ketika kita berbicara tentang masa depan.“Aku ingin punya anak-anak yang lucu kelak,” katamu suatu malam sambil menyusupkan jemari ke sela rambutku. “Anak-anak dengan mata biru terang yang indah, persis sepertimu, Berk.”Aku masih mengingat senyummu ketika mengatakan itu.Kau juga pernah merengek memintaku membawamu ke Turki untuk bulan madu. Aku selalu mengatakan akan mengajakmu suatu hari nanti.Suatu hari.Betapa bodohnya aku karena terus menganggap kita memiliki banyak waktu.Kini,
“Apa yang kau lakukan di kamarku?”Suara serak itu menyambutku begitu aku melangkah masuk.Aku menutup pintu di belakang tubuhku, lalu mengarahkan senyum tipis kepada pria tua yang berdiri di hadapanku.“Kakek sebaiknya tetap di vila. Tidak perlu repot-repot datang ke pesta pernikahan itu.”“Apa maksudmu mengaturku?” sahutnya ketus. “Aku akan berangkat bersama cucuku, Attila.”“Attila sudah berangkat lima menit yang lalu.”Aku mengangkat tangan, memperhatikan kuteks merah menyala yang baru saja kupoles di jemari. Warnanya begitu sempurna.“Aku akan meneleponnya.”Baru saja tangannya hendak meraih ponsel, aku lebih dahulu menyambar benda itu dari atas bufet, tepat di samping lampu meja yang memancarkan cahaya temaram.“Berikan ponselku, perempuan gila!” bentaknya.Aku terkekeh.“Perempuan gila?”Kubalikkan tubuh dan melangkah mendekatinya.“Kau yang gila, Pak Tua. Kau sungguh tidak adil kepadaku.”Aku berhenti beberapa langkah di hadapannya.“Siapa yang membantumu menaruh obat tidur ke
Hari KeempatMakam Kakek Attila diletakkan tepat di sebelah makam cucunya, Aras Donmez.Ines tidak ikut bersama kami ke pemakaman. Kondisinya memburuk sejak pesta resepsi yang terpaksa diakhiri secara tiba-tiba semalam. Ia masih sangat terpukul setelah menyaksikan Kakek Attila ditemukan tewas di kamar resor.Tiga jam kemudian, kami meninggalkan area pemakaman. Sepanjang perjalanan pulang, tak banyak percakapan terjadi. Hanya suara mesin mobil dan deru angin yang mengisi ruang di antara kami.Begitu mobil memasuki pelataran Pullman Bunker Bay Resort, suasana di sekitar penginapan itu terasa lebih dingin dan mencekam dari biasanya.Berk turun lebih dulu dan melangkah cepat menuju unit vila mereka. Kecemasan tampak jelas di wajahnya. Ia terpaksa meninggalkan Ines sendirian di kamar, dan kini ingin segera memastikan keadaan istrinya.Pintu kayu kamarnya ternyata tidak terkunci.Aku, Attila, dan Erul menuju kamar kami masing-masing.“Sayang, aku pulang,” panggil Berk lembut saat memasuki ka
Matahari pagi di kawasan Stevens Road, Margaret River, memancarkan cahaya keemasan yang menyelinap di antara barisan tanaman anggur yang tertata rapi di Voyager Estate. Hari ini merupakan hari ketiga kami berada di ujung barat Australia. Hari Kamis yang sakral bagi kedua sahabatku, Ines Zafira dan Berk Can Tekin.Halaman rumput luas bergaya kolonial Eropa di Voyager Estate telah disulap menjadi tempat akad nikah. Kursi-kursi tertata rapi menghadap area prosesi, berpadu dengan desau angin yang membawa aroma segar dari hamparan kebun anggur di sekeliling kami.Sebagai maid of honor, aku berdiri bersama barisan pengiring pengantin perempuan. Kami mengenakan gaun panjang berwarna ungu pekat yang anggun—warna pilihan Ines untuk menyelaraskan suasana pernikahan dengan perkebunan anggur khas Margaret River.Jantungku berdegup lebih cepat ketika prosesi dimulai.Di ujung karpet putih, Berk telah duduk tegap di hadapan penghulu dan para saksi. Pria Turki itu tampak gagah dalam setelan jas putih
Kami melangkah menuju teras luar Other Side of the Moon Restaurant yang siang itu tampak lengang karena jam makan siang hampir usai. Angin samudra yang kencang langsung menerpa wajahku, menerbangkan ujung hijabku. Kami duduk di meja sudut dekat pagar pembatas kaca. Di bawah kami, pasir putih Bunker Bay membentang luas, bersanding dengan air laut yang biru pekat.Begitu pelayan pergi setelah mencatat pesanan minuman kami, Ines langsung menyenggol bahu tunangannya.“Jadi, Berk... waktu kau bersama Aras di Cape Naturaliste dulu, di sanalah pertama kali kau melihat Kak Naomi?” tanya Ines penasaran.“Itu benar.” Berk mengangguk pelan, tatapannya menerawang menembus cakrawala laut. “Tapi aku tidak menyadari bahwa teman apartemen sekaligus teman kantormu yang sering kau ceritakan adalah perempuan yang sama. Bicara soal Cape Naturaliste, alangkah menyenangkan jika Aras bisa menyaksikan hari pernikahanku...”“Aku tahu, sayang. Kau sedih karena kehilangan sahabatmu itu.” Ines bersandar di bahu t
Ketukan dari pintu kamar apartemen perlahan menembus deru air shower yang sejak tadi mengalir. Aku segera mematikan keran, menyeka sisa air di wajah, lalu meraih handuk yang tergantung di dekatku. Kutarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sebelum keluar dari kamar mandi.Begitu melangkah keluar, aku mendapati Ines sudah berdiri di dalam apartemen.“Kak Naomi!” serunya. Matanya berbinar saat menggenggam kedua tanganku. “Aku punya kabar besar! Aku akan menikah minggu depan!”Aku terdiam sesaat sebelum memaksakan senyum.“Wah... selamat, Ines. Aku ikut bahagia mendengarnya.” Aku menepuk pundaknya pelan.“Aku ingin Kak Naomi dan Erul menjadi pengiring pengantinku nanti,” lanjutnya penuh semangat. “Aku sudah memesankan tiket pesawat untuk kalian berdua langsung ke Margaret River!”Senyumku perlahan memudar.Ingatan tentang pria bermata biru itu seketika muncul. Bukankah Aras pernah mengatakan bahwa ia melakukan perjalanan dinas ke tempat itu?“Aku dengan senang hati mau, Ines,” j







