Share

BAB : 10

Author: Soffia
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-04 23:22:18

“Gi, sorry ya. Gara-gara gue, lo jadinya ikut-ikutan kena.”

“Udah udah, tenang. Perkara seorang Pak Justin doang mah gempil,” respon Hagia.

“Pala lo gempil. Setidaknya lo juga harus sadar, nyali sebesar apa yang harus kita pakai kalau menghadapi dosen lagi mode bringas sedang ngamuk,” balas Livia pada respon santai

“Makanya, lo berdua kalau nyari perkara sama gue liat-liat sikon deh. Secara tidak langsung Pak Justin itu melindungi gue. Tapi tenang ... hati gue masih terfokus buat Pak Arka kok,”
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 18

    Rinda langsung bergeser, merengkuh Livia dari sisi lain hingga gadis itu kini terkunci di antara dua pelukan yang hangat.“Dengar ya, Livi. Kamu nggak pantas mendapatkan perlakuan kasar seperti itu dari siapa pun,” bisik Rinda, suaranya bergetar menahan geram sekaligus pedih. “Kamu berhak merasa aman. Kamu berhak dilindungi di dalam rumahmu sendiri.”“Tapi... beliau Mamaku, Kak,” cicit Livia di sela tangisnya yang mulai membasahi kaus Hagia. Kalimat itu terdengar seperti sebuah pembelaan putus asa, cara Livia menghibur dirinya sendiri agar tidak membenci darah dagingnya sendiri.“Dan kamu anaknya, Vi,” sahut Rinda tegas, menangkup kedua pipi Livia yang basah agar gadis itu menatapnya. “Hubungan darah itu seharusnya membuat kamu disayangi dan didekap, bukan dijadikan samsat pelampiasan amarah.”Tangis Livia pecah semakin hebat. Pertahanan egonya lebur total. Jeje, yang biasanya memegang rekor paling cerewet, kini hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Tangannya bergerak ritmis, m

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 17

    “Pak Arka kenapa?”Pertanyaan Livia seketika memotong sisa tawa di udara. Rinda mengembuskan napas panjang, bahunya merosot seolah beban berat baru saja diletakkan di sana. Di sebelahnya, Jeje memilih bungkam, memberikan ruang penuh bagi Rinda untuk mengambil alih kendali pembicaraan.Hagia pun ikut terdiam di sudut tempat tidur. Gadis itu awalnya hanya berniat mampir untuk memastikan keadaan sahabatnya pasca-insiden, tetapi atmosfer ruangan yang mendadak berubah pekat membuatnya terseret ke dalam pusaran obrolan yang jauh lebih serius.“Vi, aku mau tanya sesuatu dulu sama kamu,” ujar Rinda, memajukan tubuhnya dengan tatapan mengunci manik mata Livia.“Apa, Kak?” Livia berkedip polos.“Kamu benar-benar suka sama Kak Arka?”Livia sempat kehilangan kata-kata selama beberapa detik. Pertanyaan macam apa ini? pikirnya. Bukankah selama ini dia sudah sekampung memperlihatkan ketertarikannya pada dosen super-menyebalkan itu? Bahkan Rinda sendiri yang paling sering menjadikannya bahan ledekan.

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 16

    Livia tampak menangis, duduk di lantai bersandar pada dinding. Ketika mereka masuk, langsung kaget, menghentikan tangisannya dan berusaha menutupi semuanya.“Livi, lo kenapa?” Hagia gegas menghampiri dan mengecek keadaan Livia.Mau mengelak dan menutupi seperti apa? Jika saat ini dirinya pun sudah terlihat berantakan.“Ini kenapa?” Rinda langsung terfokus pada luka di sudut bibir Livia. Bahkan keadaannya saja tampak begitu terpuruk. “Siapa yang lakuin ini?”Bibik seolah tak perlu menunggu jawaban dari Livia. Yap, pasti kelakuan Selina. Siapa lagi yang bisa dan biasa bersikap kasar pada Livia kalau bukan wanita itu. Padahal ia pikir setelah cek cok dengan Selina tadi Livia tidur. Ternyata tidak.“Aku nggak apa-apa, Kak,” ujar Livia mengelak saat Rinda begitu penasaran dengan apa yang terjadi.“Nggak apa-apa gimana. Ini pasti ulah mama kamu, ya.” Rinda langsung menebak.“Bukan ...”Rinda beranjak dari posisinya dan hendak menemui Selina, tapi niatnya langsung terhenti saat Livia melaran

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 15

    Livia sampai di rumah. Bersyukur, ternyata mamanya belum pulang. Gegas masuk ke dalam rumah, kemudian menghampiri bibik yang menyambutnya.“Non udah baik-baik saja?”“Bik, jangan bahas-bahas kalau aku dirawat, ya,” ujarnya memberikan peringatan pada Bibik.“Iya, Non.”Baru juga dibahas, tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang memasuki area pekarangan rumah.“Aku ke kamar, Bik. Kalau mama tanya tanya, bilang saja aku lagi ganti baju habis pulang kuliah,” peringatkan Livia.“Baik, Non.”Livia berlalu dari sana dan gegas menuju lantai atas menuju kamarnya. Langsung ganti baju dengan pakaian rumahan dan meletakkan tas nya di kursi seolah benar-benar seperti pulang kuliah. Kemudian menyemprotkan parfum di kamarnya demi menetralisir badannya yang bau obat.Pintu diketuk dari arah luar.“Ya, sebentar ...”Livia berjalan dan menuju arah pintu. Pintu terbuka, memperlihatkan Selina yang sudah berdiri di sana.Selina menatap Livia dari atas hingga bawah. “Apa semalam kamu berulah lagi?”“Ma, b

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 14

    Di saat Livia berada dalam pikirannya, tiba-tiba tersentak ketika Arka memegang tangannya hingga membuatnya meringis. Ya sudah pasti karena dia memegang lukanya.“Pak, lepas ...”“Jelaskan. Tanganmu kenapa?” tanya Arka.Padahal sudah berpikiran jauh banget akan sikap Arka, tapi ternyata apa? Dia sedang terfokus pada luka di kedua lengannya. Padahal ia sudah mengenakan cardingan loh untuk menutupi, tetap saja terlihat.Livia menarik tangannya yang berada dalam pegangan Arka, bukannya melepas laki-laki itu justru malah menahan. Dia bahkan menyingsingkan lengan cardingannya.“Jangan dibuka.”Oke. Sekian. Hal yang ia tutupi, terbuka semua. Yakin akan bisa berbohong dihadapan dosen ini?“Ayo jelaskan!”Kembali menarik tangannya hingga akhirnya terlepas dari pegangan Arka dan menutupi kembali luka itu. “Nggak kenapa-kenapa. Ini cuman ...”“Kamu mendapatkan tindak kekerasan dari seseorang kah?”Awalnya terdiam, hingga merasa takut kalau dosen ini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kemudi

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 13

    Setelah semuanya pergi, kini tinggal Livia bersama Fani dan Denis. Tadinya Liam tidur, tapi dibangunkan oleh Denis karena dia belum makan.“Pa, jangan bilang mama kalau aku di rumah sakit, ya,” ujar Livia pada papanya.“Ini karena kelakuan dia, dan kamu malah masih pura-pura baik-baik saja?”“Aku cuman nggak mau memperpajang masalah, Pa. Aku juga nggak mau nanti mama berpikiran dan menilai papa sama Mama Fani buruk,” balas Livia.“Mama kamu memperlakukan kamu seburuk ini. Kamu pikir papa bisa tenang dan menerima? Terus memaksa kamu bersamanya, tapi tak becus menjaga kamu bahkan malah menyakiti. Livia, seorang anak memang nggak boleh melawan dan membantah orang tuanya, tapi jika kamu diperlakukan buruk, dua hal itu bisa kamu lakukan. Jangankan kamu, itu juga berlaku untuk William. Dia boleh melawan dan membantah papa, jika apa yang papa atur padanya memberikan efek negative,” jelas Denis pada Livia.Fani memilih diam saat Denis sedang bicara dengan Livia. Hanya bisa memberikan kasih sa

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status