แชร์

BAB : 14

ผู้เขียน: Soffia
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-05 13:05:49

Di saat Livia berada dalam pikirannya, tiba-tiba tersentak ketika Arka memegang tangannya hingga membuatnya meringis. Ya sudah pasti karena dia memegang lukanya.

“Pak, lepas ...”

“Jelaskan. Tanganmu kenapa?” tanya Arka.

Padahal sudah berpikiran jauh banget akan sikap Arka, tapi ternyata apa? Dia sedang terfokus pada luka di kedua lengannya. Padahal ia sudah mengenakan cardingan loh untuk menutupi, tetap saja terlihat.

Livia menarik tangannya yang berada dalam pegangan Arka, bukannya melepas lak
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 16

    Livia tampak menangis, duduk di lantai bersandar pada dinding. Ketika mereka masuk, langsung kaget, menghentikan tangisannya dan berusaha menutupi semuanya.“Livi, lo kenapa?” Hagia gegas menghampiri dan mengecek keadaan Livia.Mau mengelak dan menutupi seperti apa? Jika saat ini dirinya pun sudah terlihat berantakan.“Ini kenapa?” Rinda langsung terfokus pada luka di sudut bibir Livia. Bahkan keadaannya saja tampak begitu terpuruk. “Siapa yang lakuin ini?”Bibik seolah tak perlu menunggu jawaban dari Livia. Yap, pasti kelakuan Selina. Siapa lagi yang bisa dan biasa bersikap kasar pada Livia kalau bukan wanita itu. Padahal ia pikir setelah cek cok dengan Selina tadi Livia tidur. Ternyata tidak.“Aku nggak apa-apa, Kak,” ujar Livia mengelak saat Rinda begitu penasaran dengan apa yang terjadi.“Nggak apa-apa gimana. Ini pasti ulah mama kamu, ya.” Rinda langsung menebak.“Bukan ...”Rinda beranjak dari posisinya dan hendak menemui Selina, tapi niatnya langsung terhenti saat Livia melaran

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 15

    Livia sampai di rumah. Bersyukur, ternyata mamanya belum pulang. Gegas masuk ke dalam rumah, kemudian menghampiri bibik yang menyambutnya.“Non udah baik-baik saja?”“Bik, jangan bahas-bahas kalau aku dirawat, ya,” ujarnya memberikan peringatan pada Bibik.“Iya, Non.”Baru juga dibahas, tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang memasuki area pekarangan rumah.“Aku ke kamar, Bik. Kalau mama tanya tanya, bilang saja aku lagi ganti baju habis pulang kuliah,” peringatkan Livia.“Baik, Non.”Livia berlalu dari sana dan gegas menuju lantai atas menuju kamarnya. Langsung ganti baju dengan pakaian rumahan dan meletakkan tas nya di kursi seolah benar-benar seperti pulang kuliah. Kemudian menyemprotkan parfum di kamarnya demi menetralisir badannya yang bau obat.Pintu diketuk dari arah luar.“Ya, sebentar ...”Livia berjalan dan menuju arah pintu. Pintu terbuka, memperlihatkan Selina yang sudah berdiri di sana.Selina menatap Livia dari atas hingga bawah. “Apa semalam kamu berulah lagi?”“Ma, b

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 14

    Di saat Livia berada dalam pikirannya, tiba-tiba tersentak ketika Arka memegang tangannya hingga membuatnya meringis. Ya sudah pasti karena dia memegang lukanya.“Pak, lepas ...”“Jelaskan. Tanganmu kenapa?” tanya Arka.Padahal sudah berpikiran jauh banget akan sikap Arka, tapi ternyata apa? Dia sedang terfokus pada luka di kedua lengannya. Padahal ia sudah mengenakan cardingan loh untuk menutupi, tetap saja terlihat.Livia menarik tangannya yang berada dalam pegangan Arka, bukannya melepas laki-laki itu justru malah menahan. Dia bahkan menyingsingkan lengan cardingannya.“Jangan dibuka.”Oke. Sekian. Hal yang ia tutupi, terbuka semua. Yakin akan bisa berbohong dihadapan dosen ini?“Ayo jelaskan!”Kembali menarik tangannya hingga akhirnya terlepas dari pegangan Arka dan menutupi kembali luka itu. “Nggak kenapa-kenapa. Ini cuman ...”“Kamu mendapatkan tindak kekerasan dari seseorang kah?”Awalnya terdiam, hingga merasa takut kalau dosen ini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kemudi

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 13

    Setelah semuanya pergi, kini tinggal Livia bersama Fani dan Denis. Tadinya Liam tidur, tapi dibangunkan oleh Denis karena dia belum makan.“Pa, jangan bilang mama kalau aku di rumah sakit, ya,” ujar Livia pada papanya.“Ini karena kelakuan dia, dan kamu malah masih pura-pura baik-baik saja?”“Aku cuman nggak mau memperpajang masalah, Pa. Aku juga nggak mau nanti mama berpikiran dan menilai papa sama Mama Fani buruk,” balas Livia.“Mama kamu memperlakukan kamu seburuk ini. Kamu pikir papa bisa tenang dan menerima? Terus memaksa kamu bersamanya, tapi tak becus menjaga kamu bahkan malah menyakiti. Livia, seorang anak memang nggak boleh melawan dan membantah orang tuanya, tapi jika kamu diperlakukan buruk, dua hal itu bisa kamu lakukan. Jangankan kamu, itu juga berlaku untuk William. Dia boleh melawan dan membantah papa, jika apa yang papa atur padanya memberikan efek negative,” jelas Denis pada Livia.Fani memilih diam saat Denis sedang bicara dengan Livia. Hanya bisa memberikan kasih sa

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 12

    Mungkin kisaran setengah jam berlalu, pintu diketuk dari arah luar. Setelah mendapatkan respon dari Livia, barulah pintu itu terbuka.Livia langsung bangun saat mendapati Fani yang datang. Langsung memeluk wanita paruh baya itu saat berhadapan dengannya.“Sayang kamu kenapa? Ini kenapa?”Pandangan Fani jelas langsung tertuju pada luka di lengan Livia. Mengarah pada Bibik yang saat itu datang bersamanya, hanya saja wanita itu memasang ekpressi takut dan menunduk.“Kak, jangan bilang kalau mama kamu mukulin lagi, ya.” Kali ini Liam yang menebak. Karena ini bukan hal yang pertama ia dapati, tapi sering. Sampai-sampai merasa gregetan sendiri untuk melabrak.“Maafin Bibik, Bu. Bibik nggak bisa berbuat banyak dan melindungi Non Livi,” ujar Bik Tina dengan nada penuh penyesalan.Posisinya di sini hanya sebagai pekerja. Sudah berusaha membuat posisi Livia aman, tapi jelas ia tak bisa terlalu ikut campur. Apalagi dengan watak seorang Selina yang harus ia hadapi.“Aku kan sudah berulang kali bi

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 11

    “Heh, ini kalian berdua lagi ngapain, sih?”“Bu, Melisa rusakin HP saya,” ujar Livia pada Clara —dosen di kampus ini. Lebih tepatnya lagi, Clara adalah kakak dari Justin. Jangan salah, karena mereka berdua adalah anak pemilik dari kampus ini.Wanita itu mengarah pada ponsel milik Livia yang kondisinya sudah pecah. Kemudian mengarah pada Melisa.“Kamu kenapa merusak HP milik Livia, Melisa?” tanya Clara pada gadis yang masih terlihat petantang-petenteng itu.“Karena dia nggak mau ngasihin HP nya ke saya, Bu. Saya cuman mau mastiin sesuatu kok di HP nya. Malah pelit banget.”Seperti dihadapkan pada pertengkaran bocah SD. Itulah yang Clara rasakan saat ini.“Dengar ya, Melisa. HP ini milik Livia, kamu nggak boleh seenaknya begitu dengan barang yang bukan milik kamu. Ini sampai rusak begini loh HP dia. Jadi, ini bagaimana urusan selanjutnya?”“Bu Clara, kan saya juga sudah memberikan alasan kenapa HP itu rusak.” Melisa kekeuh dengan sikapnya yang ia anggap sudah benar.Clara sampai menarik

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status