Kalau bukan memikirkan tugas, sepertinya hari ini ia akan memilih untuk izin tak masuk kuliah. Iya, itu juga rencana. Tapi jika mamanya tak memberikan izin juga nggak akan bisa terjadi.Setelah selesai mandi dan berbenah diri, mengarah pada kedua lengannya yang tampak seperti habis kena amuk. Dan pada nyatanya memang begitu. Bekas sabetan rotan masih terpampang jelas di sana.Pintu kamar diketuk dari arah luar, jangan berpikir jika itu adalah mamanya.“Non!”“Iya, Bik,” sahut Livia berjalan menuju arah pintu dan membukanya. Mendapati Bik Tini yang ada di sana.Wanita paruh baya itu diam, tapi memasang ekpressi sedih saat mengarah pada luka di lengan Livia.“Bik ...”“Hem, maaf Non. Bibik obati lukanya, ya. Biar cepat pulih.”Livia mengangguk, kemudian mengajak Bik Tini masuk ke dalam kamarnya. Keduanya duduk berhadapan.“Non, lain kali kalau butuh bantuan Bibik bilang aja, ya. Jangan kabur-kaburan sendiri begitu. Bibik sedih tahu ngeliat Non begini. Udah jadi anak baik, penurut, tapi
Última actualización : 2026-09-04 Leer más