Share

BAB : 4

Author: Soffia
last update publish date: 2026-08-09 17:30:54

 Tak berapa lama, benar saja. Revan dan Selvi yang merupakan orang tua dari Arka datang. Keduanya tampak begitu cemas, apalagi Selvi. Sebagai ibu kali ini ia berasa kecolongan. Mengatur segala hal agar putranya tetap aman dan kondisinya baik, tapi ternyata tetap saja ada yang tak bisa ia kontrol.

“Zian, gimana kondisi Arka? Dia baik-baik saja, kan?”

Zian mengarah pada Rinda, tapi kembali tertuju pada wanita paruh baya itu dan mengangguk dengan senyuman simpul.

“Ayo, Tante,” ajaknya pada wanita paruh baya itu.

Keduanya masuk ke dalam ruangan di mana Arka berada. Pun dengan Revan yang mengikuti.

Ponsel milik Arka yang berada dalam pegangan Rinda berdering. Terlihat nama Sagara yang tertera di layar.

“Ya, Kak?”

“Rinda, Arka mana? Katanya janjian makan, ini aku udah nungguin dari tadi nggak muncul-muncul. Kamu sama dia?”

“Kita lagi di rumah sakit.”

“Arka kenapa?”

“Nanti ku jelaskan.”

“Aku ke sana.”

Percakapan terhenti dan sambungan telepon pun terputus.

Kini semua hanya bisa menunggu dalam perasaan cemas. Mungkin kalau sesak napas atau keluhan biasa bisa lebih cepat diatasi. Tapi sesuai dengan penjelasan Livia pada Jeje, jelas akan membuat perasaan lebih cemas.

Kisaran jam 5 sore, Selvi kembali masuk untuk mengecek kondisi putranya itu. Perasaan takut dan khawatir selalu muncul jika berada di ruangan ini. Seakan malaikat maut sedang berputar-putar dalam ruangan ini.

“Arka, ayo cepetan sadar. Mama takut dan cemas sekali rasanya kalau kamu ada di ruangan ini. Apa rasanya masih sakit, atau ...”

Perkataan Selvi terhenti saat erangan pelan itu terdengar. Langsung beranjak dari posisi duduknya, kemudian mengecek keadaan Arka. Tampak melakukan pergerakan, hingga kedua mata itu perlahan terbuka.

Selvi gegas berlalu dari sana dan menemui dokter yang berjaga. Dokter segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan keadaan dia.

“Kenapa, Ma?” tanya Rinda saat mamanya keluar dengan wajah yang tak biasa.

“Arka baik-baik saja, kan?” Giliran Revan yang bertanya.

“Barusan dia mulai sadar,” ungkap Selvi. “Sekarang dokter sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Semoga kondisinya makin membaik.”

Ada kelegaan yang terpancar dari ekpressi semuanya. Memang belum mendapatkan info pasti dari dokter, tapi info yang Selvi berikan setidaknya bisa membuat perasaan agak tenang.

Mungkin kisaran 15 menit berlalu, pintu ruangan dibuka dari arah dalam. Tampak Zian keluar dari sana.

“Gimana kondisi Arka, Zi?” tanya Revan.

“Kondisinya sudah stabil, Om. Sudah sadar juga, tapi masih lemah. Setidaknya dia nggak merasa sesak dan kesakitan lagi,” jelasnya.

“Syukurlah,” lega Selvi saat mendengar hal itu.

“Asli bikin panik,” tambah Sagara kembali duduk di kursi tunggu.

Sebagai sahabat, Reno tahu betul seperti apa kondisi kesehatan Arka, makanya ia ikutan cemas. Dia kalau demam saja bikin semua yang ada di sekitarnya was-was, apalagi dengan kondisi sekarang karena sebuah kejadian.

Rinda sampai menyenderkan badannya pada Jeje saking leganya.

“Gue laper,” ungkapnya.

“Yee ...”

“Tadi kita nggak jadi makan, Beb. Padahal makanan udah di depan mata, kan.”

Zian tersenyum mendengar obrolan Rinda dan Jeje. “Ayo makan denganku. Aku belum makan siang.”

“Yok, Mas,” balas Rinda bersemangat.

“Gue pulang duluan nggak apa-apa? Mau nganterin mama ke rumah nenek. Makanya tadi pas lo ngajakin main ke rumah, gue nggak bisa,” jelas Jeje.

“Oo, gitu. Yaudah nggak apa-apa.”

Jeje pamit pada semuanya, kemudian berlalu pergi dari sana.

Rinda malah mengulum senyumannya dengan tatapan tertuju pada Sagara. “Malah ditatap doang sampai orangnya ilang. Minimal anterin pulang gitu Kak. Jeje nggak bawa mobil itu,” jelasnya seakan paham sekali isi hati Sagara.

“Ish, kenapa nggak bilang dari tadi kamu,” respon Sagara pada info yang Rinda berikan. “Om, Tante ... aku nanti balik ke sini, ya,” ujarnya pada Revan dan Selvi, kemudian segera gegas menyusul langkah Jeje.

“Sana makan dulu bareng Zian. Nanti ketemuan di ruang rawat, ya,” ujar Selvi pada Rinda.

“Iya, Ma.”

Rinda dan Zian berlalu dari sana, dengan tangan Rinda yang berada dalam gandengan Zian. Penampakan yang sudah biasa, karena saking seringnya Rinda ada di sini. Entah karena bertemu Zian, atau karena kondisi Arka yang tiba-tiba drop.

“Ke ruanganku sebentar, ya. Mau ganti baju.”

“Mau ganti baju ngajakin aku gitu?”

Zian mengarahkan pandangannya pada Rinda yang ada di sampingnya. “Jangan menggodaku, ya.”

“Siapa yang menggoda. Aku lagi nanya itu, Mas Zian.”

Keduanya berjalan melewati lorong lorong rumah sakit sambil ngobrol. Sampai di salah satu belokan, tiba-tiba ada yang memanggil Zian hingga membuat langkahnya terhenti. Pun dengan Rinda yang berada dalam gandengannya.

Tampak seorang dokter wanita datang menghampiri dengan senyuman manis, tapi senyuman itu langsung berubah masam saat mengarah pada Rinda.

“Ada apa?” tanya Zian.

“Kok kamu belum siap-siap, kan kita mau datang ke acaranya Dokter Yudha.”

“Maaf, aku nggak ikut,” ujar Zian.

“Beliau bilang kan harus ikut, Zi. Apalagi kamu juga free tugas, kan.”

“Dokter Yudha mengatakan diharapkan semua datang, jika tak ada kepentingan lain. Berhubung aku ada kepentingan, makanya tak bisa datang. Nanti akan ku infokan pada beliau,” jelas Zian.

“Kepentingan macam apa yang kamu maksud?”

“Waktu kosong ku akan ku habiskan bersama Narinda. Itu artinya, dia adalah hal yang lebih penting dari apapun,” terangnya tepat di depan wanita bernama Velia itu.

Pandangan Velia mengarah pada Rinda.

“Maaf ya dokter Velia, berhubung kekasihku lagi free ... aku memaksa dia untuk menemaniku. Jadi, harap maklum ya. Soalnya aku orangnya agak maksa, sih,” balas Rinda pada Velia, seakan dengan sengaja membuat wanita itu panas.

Sejujurnya ia malas menanggapi setiap perdebatan dengan dokter yang satu ini, tapi kadang jiwa kekesalannya juga bisa meningkat tajam. Karena kalau dikasih sebuah kata-kata baik, Velia bukannya paham tapi malah makin menjadi-jadi.

Tak mengeluarkan kata-kata lagi, Zian segera berlalu pergi dari sana membawa Narinda.

“Dia nggak ada capek-capeknya banget deketin kamu, Mas. Usia dewasanya dikira bisa membuatku takut, ya? Kagak bakalan,” umpat Rinda dengan nada kesal.

“Udah, ngapain ngurusin dia, sih. Yang awalnya manis, jadi jutek kan sekarang.”

Keduanya sampai di ruangan pribadi Zian. Rinda duduk di kursi di depan meja kerja, menyenderkan punggungnya masih dengan muka jutek.

“Sayang, mau makan di mana?”

“Terserah Mas,” jawab Rinda singkat.

Zian yang berada di ruangan sebelah langsung datang menghampiri saat masih mendengar nada jutek yang Rinda berikan padanya.

“Mas Zian, kamu ngapain?!”

Rinda langsung terpekik dan menutupi kedua matanya dengan telapak tangan saat dihadapkan pada Zian yang muncul tepat di depannya. Masalahnya dia nggak pake baju alias bertelan jang dada. Gimana nggak langsung bikin heboh.

“Mas ...”

“Singkirkan tanganmu.”

“Nggak mau! Arrghhh... awas awas.” Kesannya horor banget kalau ngadepin Zian mode private begini. Tipikal cowok dewasa yang bikin oleng.

Bukannya menyingkir, Zian malah menarik tangan Rinda hingga membuat gadis itu langsung tertarik dan jatuh padanya. Kemudian melingkarkan kedua lengannya di badan kekasihnya itu.

“Masih jutek padaku?”

Rinda memasang muka kecut. Antara kesal sama takut sih ini. Bisa ia rasakan hangat tubuh Zian yang sedang merengkuhnya. Kebiasaan banget dia, kalau ia ngambek malah menghadapkannya pada sikap intens. Kan jadi ngeri.

“Maaf,” ucapnya singkat. Tapi kemudian menatap Zian dengan tatapan kesal. “Tapi aku memang kesal sama Mas. Minimal kasih dia komentar nyelekit, kasih pencerahan biar sadar kalau dia jangan deketin kamu, atau apa gitu. Masa aku terus yang heboh. Berasa cinta sendirian tahu nggak.”

“Apasih, Sayang. Masa cinta sendirian.”

“Yaiyalah, karena aku doang yang usaha biar dia jauh-jauh dari kita. Tapi Mas malah ...”

Perkataan Narinda terhenti saat ciuman itu menerpa bibirnya. Sekilas, tapi mampu membungkam bibirnya untuk berhenti bicara.

“Cerewet. Aku cuman malas berurusan sama dia, makanya memilih untuk berlalu pergi. Jangan berpikir kalau aku nggak memberikan dia peringatan, penjelasan, hingga ancaman. Tapi kalau tipenya yang nggak paham dengan kata-kata manusia normal ya sulit juga kan.”

Perlahan Rinda melingkarkan kedua lengannya di badan Zian, kemudian menyenderkan kepalanya di dada bidang itu.

Sebagai cowok normal, ini godaan baginya ya. Rinda memang masih jauh lebih muda daripada dirinya, tapi dia seolah paham saja jika berhadapan dengannya yang dewasa ini. Sentuhan di badannya, hembusan napas hangat itu, seperti aliran listrik yang memasuki aliran da-rah nya.

“Haruskah ku kunci pintu dulu biar aman,” ujar Zian.

Rinda mendongak, menatap Zian yang lebih tinggi darinya.

“Biarin. Nggak usah dikunci,” respon Rinda. “Siapa yang biasanya nggak ada sopan santun di rumah sakit ini? Cuman dokter yang satu biji itu, yang suka main langsung masuk tanpa ketuk dan izin, kan.”

“Jangan jutek begitu padaku ...”

“Katakan cinta padaku.”

“Aku mencintaimu, Narinda ...”

Sebuah senyuman manis langsung diterima oleh Zian. Kalau sudah berada di posisi ini, Zian biasanya akan lebih manja dari yang orang-orang ketahui. Hanya Rinda yang bisa merasakan dan menikmati semua sikap Zian.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 16

    Livia tampak menangis, duduk di lantai bersandar pada dinding. Ketika mereka masuk, langsung kaget, menghentikan tangisannya dan berusaha menutupi semuanya.“Livi, lo kenapa?” Hagia gegas menghampiri dan mengecek keadaan Livia.Mau mengelak dan menutupi seperti apa? Jika saat ini dirinya pun sudah terlihat berantakan.“Ini kenapa?” Rinda langsung terfokus pada luka di sudut bibir Livia. Bahkan keadaannya saja tampak begitu terpuruk. “Siapa yang lakuin ini?”Bibik seolah tak perlu menunggu jawaban dari Livia. Yap, pasti kelakuan Selina. Siapa lagi yang bisa dan biasa bersikap kasar pada Livia kalau bukan wanita itu. Padahal ia pikir setelah cek cok dengan Selina tadi Livia tidur. Ternyata tidak.“Aku nggak apa-apa, Kak,” ujar Livia mengelak saat Rinda begitu penasaran dengan apa yang terjadi.“Nggak apa-apa gimana. Ini pasti ulah mama kamu, ya.” Rinda langsung menebak.“Bukan ...”Rinda beranjak dari posisinya dan hendak menemui Selina, tapi niatnya langsung terhenti saat Livia melaran

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 15

    Livia sampai di rumah. Bersyukur, ternyata mamanya belum pulang. Gegas masuk ke dalam rumah, kemudian menghampiri bibik yang menyambutnya.“Non udah baik-baik saja?”“Bik, jangan bahas-bahas kalau aku dirawat, ya,” ujarnya memberikan peringatan pada Bibik.“Iya, Non.”Baru juga dibahas, tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang memasuki area pekarangan rumah.“Aku ke kamar, Bik. Kalau mama tanya tanya, bilang saja aku lagi ganti baju habis pulang kuliah,” peringatkan Livia.“Baik, Non.”Livia berlalu dari sana dan gegas menuju lantai atas menuju kamarnya. Langsung ganti baju dengan pakaian rumahan dan meletakkan tas nya di kursi seolah benar-benar seperti pulang kuliah. Kemudian menyemprotkan parfum di kamarnya demi menetralisir badannya yang bau obat.Pintu diketuk dari arah luar.“Ya, sebentar ...”Livia berjalan dan menuju arah pintu. Pintu terbuka, memperlihatkan Selina yang sudah berdiri di sana.Selina menatap Livia dari atas hingga bawah. “Apa semalam kamu berulah lagi?”“Ma, b

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 14

    Di saat Livia berada dalam pikirannya, tiba-tiba tersentak ketika Arka memegang tangannya hingga membuatnya meringis. Ya sudah pasti karena dia memegang lukanya.“Pak, lepas ...”“Jelaskan. Tanganmu kenapa?” tanya Arka.Padahal sudah berpikiran jauh banget akan sikap Arka, tapi ternyata apa? Dia sedang terfokus pada luka di kedua lengannya. Padahal ia sudah mengenakan cardingan loh untuk menutupi, tetap saja terlihat.Livia menarik tangannya yang berada dalam pegangan Arka, bukannya melepas laki-laki itu justru malah menahan. Dia bahkan menyingsingkan lengan cardingannya.“Jangan dibuka.”Oke. Sekian. Hal yang ia tutupi, terbuka semua. Yakin akan bisa berbohong dihadapan dosen ini?“Ayo jelaskan!”Kembali menarik tangannya hingga akhirnya terlepas dari pegangan Arka dan menutupi kembali luka itu. “Nggak kenapa-kenapa. Ini cuman ...”“Kamu mendapatkan tindak kekerasan dari seseorang kah?”Awalnya terdiam, hingga merasa takut kalau dosen ini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kemudi

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 13

    Setelah semuanya pergi, kini tinggal Livia bersama Fani dan Denis. Tadinya Liam tidur, tapi dibangunkan oleh Denis karena dia belum makan.“Pa, jangan bilang mama kalau aku di rumah sakit, ya,” ujar Livia pada papanya.“Ini karena kelakuan dia, dan kamu malah masih pura-pura baik-baik saja?”“Aku cuman nggak mau memperpajang masalah, Pa. Aku juga nggak mau nanti mama berpikiran dan menilai papa sama Mama Fani buruk,” balas Livia.“Mama kamu memperlakukan kamu seburuk ini. Kamu pikir papa bisa tenang dan menerima? Terus memaksa kamu bersamanya, tapi tak becus menjaga kamu bahkan malah menyakiti. Livia, seorang anak memang nggak boleh melawan dan membantah orang tuanya, tapi jika kamu diperlakukan buruk, dua hal itu bisa kamu lakukan. Jangankan kamu, itu juga berlaku untuk William. Dia boleh melawan dan membantah papa, jika apa yang papa atur padanya memberikan efek negative,” jelas Denis pada Livia.Fani memilih diam saat Denis sedang bicara dengan Livia. Hanya bisa memberikan kasih sa

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 12

    Mungkin kisaran setengah jam berlalu, pintu diketuk dari arah luar. Setelah mendapatkan respon dari Livia, barulah pintu itu terbuka.Livia langsung bangun saat mendapati Fani yang datang. Langsung memeluk wanita paruh baya itu saat berhadapan dengannya.“Sayang kamu kenapa? Ini kenapa?”Pandangan Fani jelas langsung tertuju pada luka di lengan Livia. Mengarah pada Bibik yang saat itu datang bersamanya, hanya saja wanita itu memasang ekpressi takut dan menunduk.“Kak, jangan bilang kalau mama kamu mukulin lagi, ya.” Kali ini Liam yang menebak. Karena ini bukan hal yang pertama ia dapati, tapi sering. Sampai-sampai merasa gregetan sendiri untuk melabrak.“Maafin Bibik, Bu. Bibik nggak bisa berbuat banyak dan melindungi Non Livi,” ujar Bik Tina dengan nada penuh penyesalan.Posisinya di sini hanya sebagai pekerja. Sudah berusaha membuat posisi Livia aman, tapi jelas ia tak bisa terlalu ikut campur. Apalagi dengan watak seorang Selina yang harus ia hadapi.“Aku kan sudah berulang kali bi

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 11

    “Heh, ini kalian berdua lagi ngapain, sih?”“Bu, Melisa rusakin HP saya,” ujar Livia pada Clara —dosen di kampus ini. Lebih tepatnya lagi, Clara adalah kakak dari Justin. Jangan salah, karena mereka berdua adalah anak pemilik dari kampus ini.Wanita itu mengarah pada ponsel milik Livia yang kondisinya sudah pecah. Kemudian mengarah pada Melisa.“Kamu kenapa merusak HP milik Livia, Melisa?” tanya Clara pada gadis yang masih terlihat petantang-petenteng itu.“Karena dia nggak mau ngasihin HP nya ke saya, Bu. Saya cuman mau mastiin sesuatu kok di HP nya. Malah pelit banget.”Seperti dihadapkan pada pertengkaran bocah SD. Itulah yang Clara rasakan saat ini.“Dengar ya, Melisa. HP ini milik Livia, kamu nggak boleh seenaknya begitu dengan barang yang bukan milik kamu. Ini sampai rusak begini loh HP dia. Jadi, ini bagaimana urusan selanjutnya?”“Bu Clara, kan saya juga sudah memberikan alasan kenapa HP itu rusak.” Melisa kekeuh dengan sikapnya yang ia anggap sudah benar.Clara sampai menarik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status