Share

BAB : 5

Author: Soffia
last update publish date: 2026-09-04 22:27:42

 Selvi dan Revan kini berada di ruangan rawat Arka. Seperti kebanyakan para orang tua yang akan merasa begitu terpuruk saat buah hatinya dalam keadaan sakit. Itulah yang keduanya rasakan kini. Sedewasa apapun seorang anak, di mata orang tua tetaplah seorang anak. Apalagi dengan kondisi Arka yang tak memang tak seperti anak normal lainnya.

“Ma, aku baik-baik saja,” ujar Arka dengan napasnya yang masih terasa sesak. Tapi karena tak ingin orang tuanya begitu cemas, hingga berusaha menahan semua itu.

Selvi mengusap lembut dada putranya itu.

“Masih sakit?”

“Nggak, Ma. Aku cuman merasa agak pusing saat ini, mungkin karena pengaruh obat juga,” balasnya berusaha membuat wanita paruh baya itu tenang.

Selang infus, selang oksigen dan entah benda-benda apalagi yang kini berada di tubuh Arka. Bilang baik-baik saja, tapi jelas itu tak membuat semua tenang jika benda-benda itu sudah menempel di badan dia.

“Tadi aku janjian sama Rinda dan Jeje, Ma. Takut mereka nungguin di restoran,” ujar Arka mengingat.

“Udah. Rinda sekarang lagi sama Zian karena belum makan. Jeje juga sudah pulang bareng Reino tadi.”

“Siapa yang membawaku ke sini?”

“Salah satu mahasiswi kamu. Rinda bilang namanya Livia, sepertinya mereka juga saling kenal,” ungkap Selvi.

“Dia ada di mana?”

“Sudah diminta Rinda untuk pulang tadi siang. Takut kalau orang tuanya nyariin,” jelas Selvi.

Arka mengangguk paham dan menyetujui perkataan mamanya.

“Beneran mahasiswi kamu kan?”

“Iya,” jawab Arka.

“Karena khawatir sama kondisi kamu, mama sama papa sampai nggak sempat bilang makasih dan bicara sama dia. Next time sepertinya mama akan ketemu sama dia.”

Arka tak memberikan balasan lagi pada perkataan mamanya. Jujur, fokusnya masih pada rasa nyeri di tubuhnya.

“Beneran udah baik kan, Nak? Atau masih sakit?”

Tersenyum simpul menanggapi pertanyaan dan kekhawatiran mamanya. “Bukan sakit, Ma. Tapi mataku. Maaf, aku boleh istirahat sebentar?”

Selvi mengangguk, kemudian membenarkan selimut yang menutupi tubuh Arka.

Sesak dan masih sangat terasa nyeri itu menerpa dadanya. Saat menarik napas, seakan ada yang tertarik di dalam sana. Tapi jika semua ia ungkap, itu hanya akan menambah rasa khawatir orang tuanya. Setidaknya saat pura-pura tidur, akan membuatnya bisa menetralisir rasa tak mengenakkan ini secara perlahan.

Selvi dan Revan menunggu di ruang sebelah, di mana tersedia kursi dan sebuah ranjang yang diperuntukkan bagi keluarga yang menemani pasien.

“Mas sudah ketemu sama dokter Handoko?”

Revan mengangguk.

“Bagaimana hasilnya? Kejadian tadi apakah membuat efek buruk pada kondisi Arka?”

Tak langsung memberikan jawaban, tapi diamnya Revan seolah bisa ditebak oleh Selvi, penjelasan apa yang akan suaminya berikan.

“Maaf, aku benar-benar minta maaf,” ucap Revan pada Selvi.

“Mas nggak salah apa-apa? Jangan bersikap begini terus.”

“Kalau bukan karena aku, Arka nggak mungkin sakit begini. Semua karena gen ku yang nggak sehat, hingga membuat dia juga ikut merasakan hal yang seharusnya tak dia rasakan. Padahal masa depannya begitu bagus, tapi ...”

“Jangan berkata seperti itu terus,” sanggah Selvi pada perkataan suaminya. “Kalau bukan kamu, trus kamu berharap dia anak siapa? Kamu nggak merasa bangga kah jadi papanya, di saat dia begitu bangga jadi anakmu?”

Meskipun Selvi selalu mengatakan hal itu, pun dengan Arka yang selalu memberikan respon terbaik untuknya, tapi tetap saja sebagai seorang ayah ia merasa salah. Masa depan putranya seolah hancur karena jadi anaknya.

“Mas, nggak semua anak bisa menerima sebuah suratan takdir yang sudah ditentukan untuknya. Sedangkan Arka, dia justru berbesar hati dengan apa yang sudah ditakdirkan padanya. Dia tetap bertahan karena support dari kita keluarganya, tapi kalau papanya sendiri yang terkesan pesimis, bagaimana dia bisa bertahan.”

Di saat pasangan suami istri itu bicara, yang sedang mereka bicarakan justru jadi pendengar diam-diam. Sedih, itulah yang selalu ia rasakan jika orang tuanya membahas hal ini. Tak menuntut apa-apa, apalagi menyesali semua yang terjadi, karena semua bukan manusia yang mengatur alur. Termasuk perihal kesehatannya.

******

Malam ini Rinda dan Zian berada di rumah sakit. Sudah pulang tadi, tapi kembali karena Rinda maunya di sini. Berhubung Zian belum tidur sama sekali, bahkan semalam pun begadang, alhasil dia justru tidur di ranjang ruang tunggu.

“Sudah makan kan tadi?”

“Sudah, Ma,” jawab Rinda.

“Harusnya kamu di rumah saja tadi. Kasihan Zian, malah jadi tidur di rumah sakit lagi. Padahal dia butuh istirahat loh.”

“Aku nggak ngajakin kok, Ma. Dia nya yang ngeyel. Katanya kalau di rumah juga sendiri, makanya ngikut ke sini,” balas Rinda.

Selvi menyodorkan selimut ke arah Rinda, kemudian dia segera menghampiri Zian dan menyelimutinya. Mengusap lembut pucuk kepala Zian. Tindakan itu malah membuat Zian terjaga.

“Tidur saja.”

Menyetujui perkataan Rinda, Zian kembali memejamkan kedua matanya dan memasuki alam tidur.

“Rinda, mama sama papa mau makan dulu. Kamu di sini ya nemenin Arka. Dia lagi tidur. Tapi takutnya nanti dia kebangun dan butuh sesuatu,” ujar Selvi pada putrinya itu.

“Iya, Ma,” sahut Rinda.

Selvi dan Revan berlalu dari kamar itu, meninggalkan Rinda yang duduk di kursi samping ranjang Arka. Baru juga pasangan suami istri itu keluar, Arka langsung membuka kedua matanya dan mengarah pada Rinda.

“Kamu nggak tidur, Kak?”

“Mama mastiin kondisiku terus. Sudah ku bilang baik-baik saja, mama malah nggak yakin,” balasnya.

“Karena nyatanya kondisimu memang belum baik-baik saja, kan.”

Arka mencubit pipi Rinda. “Jangan sama kayak mama. Sudah ku bilang kalau aku baik-baik saja.”

“Kak, tadi rasanya bagaimana? Sakit, atau ...”

“Rasanya seperti napasku sudah bersiap untuk berhenti,” sambung Arka langsung.

“Jangan bilang begitu.”

“Benar, Narinda,” respon Arka. “Mungkin karena kondisiku memang posisinya lagi drop juga, jadi efeknya jadi makin buruk. Tapi ya ... sepertinya memang sudah waktunya juga.”

Arka yang bicara begitu, Rinda yang malah memasang ekpressi sedih. “Kamu menyebalkan, ya. Aku sama yang lain berusaha agar kondisimu semakin membaik, kamu malah terlihat pesimis begitu, Kak.”

“Bukan pesimis, tapi karena ku tahu kalau waktu itu pasti akan tiba. Makanya aku menganggap jika kondisiku yang sering drop akhir-akhir ini, dengan sakit tadi yang lebih sakit, mungkin memang kondisiku makin memburuk.”

“Ck, udah ah. Jangan bicarakan hal itu lagi. Aku belum nikah, kamu juga belum punya kekasih dan nikah. Jadi, berpikir positif lah, Kak. Hidupmu akan lebih panjang.”

“Kapan kamu akan nikah sama Mas Zian? Lebih cepat lebih baik. Takutnya nanti aku keburu pergi.”

“Kak, udah ya. Pergi-pergi mau kemana kamu hah,” oceh Rinda. “Makanya kamu harus cari pasangan. Pacar, atau nikah sekalian juga oke. Biar hatimu nggak kosong. Biar kamu punya semangat hidup dan berpikir jika kamu pergi, dia akan sedih.”

“Sudah ku tutup, kan. Jadi nggak akan ada yang namanya orang lain di hatiku.”

“Tapi ...”

“Kalau terus memaksaku, itu artinya aku akan membawa anak orang ke dalam situasi terburuk, Narinda. Kebayang, kan ... udah bersama, tiba-tiba aku pergi. Itu akan menambah kesedihan pada dia. Cukup keluargaku saja yang akan sedih, aku nggak akan mengajak orang lain lagi,” jelas Arka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 16

    Livia tampak menangis, duduk di lantai bersandar pada dinding. Ketika mereka masuk, langsung kaget, menghentikan tangisannya dan berusaha menutupi semuanya.“Livi, lo kenapa?” Hagia gegas menghampiri dan mengecek keadaan Livia.Mau mengelak dan menutupi seperti apa? Jika saat ini dirinya pun sudah terlihat berantakan.“Ini kenapa?” Rinda langsung terfokus pada luka di sudut bibir Livia. Bahkan keadaannya saja tampak begitu terpuruk. “Siapa yang lakuin ini?”Bibik seolah tak perlu menunggu jawaban dari Livia. Yap, pasti kelakuan Selina. Siapa lagi yang bisa dan biasa bersikap kasar pada Livia kalau bukan wanita itu. Padahal ia pikir setelah cek cok dengan Selina tadi Livia tidur. Ternyata tidak.“Aku nggak apa-apa, Kak,” ujar Livia mengelak saat Rinda begitu penasaran dengan apa yang terjadi.“Nggak apa-apa gimana. Ini pasti ulah mama kamu, ya.” Rinda langsung menebak.“Bukan ...”Rinda beranjak dari posisinya dan hendak menemui Selina, tapi niatnya langsung terhenti saat Livia melaran

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 15

    Livia sampai di rumah. Bersyukur, ternyata mamanya belum pulang. Gegas masuk ke dalam rumah, kemudian menghampiri bibik yang menyambutnya.“Non udah baik-baik saja?”“Bik, jangan bahas-bahas kalau aku dirawat, ya,” ujarnya memberikan peringatan pada Bibik.“Iya, Non.”Baru juga dibahas, tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang memasuki area pekarangan rumah.“Aku ke kamar, Bik. Kalau mama tanya tanya, bilang saja aku lagi ganti baju habis pulang kuliah,” peringatkan Livia.“Baik, Non.”Livia berlalu dari sana dan gegas menuju lantai atas menuju kamarnya. Langsung ganti baju dengan pakaian rumahan dan meletakkan tas nya di kursi seolah benar-benar seperti pulang kuliah. Kemudian menyemprotkan parfum di kamarnya demi menetralisir badannya yang bau obat.Pintu diketuk dari arah luar.“Ya, sebentar ...”Livia berjalan dan menuju arah pintu. Pintu terbuka, memperlihatkan Selina yang sudah berdiri di sana.Selina menatap Livia dari atas hingga bawah. “Apa semalam kamu berulah lagi?”“Ma, b

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 14

    Di saat Livia berada dalam pikirannya, tiba-tiba tersentak ketika Arka memegang tangannya hingga membuatnya meringis. Ya sudah pasti karena dia memegang lukanya.“Pak, lepas ...”“Jelaskan. Tanganmu kenapa?” tanya Arka.Padahal sudah berpikiran jauh banget akan sikap Arka, tapi ternyata apa? Dia sedang terfokus pada luka di kedua lengannya. Padahal ia sudah mengenakan cardingan loh untuk menutupi, tetap saja terlihat.Livia menarik tangannya yang berada dalam pegangan Arka, bukannya melepas laki-laki itu justru malah menahan. Dia bahkan menyingsingkan lengan cardingannya.“Jangan dibuka.”Oke. Sekian. Hal yang ia tutupi, terbuka semua. Yakin akan bisa berbohong dihadapan dosen ini?“Ayo jelaskan!”Kembali menarik tangannya hingga akhirnya terlepas dari pegangan Arka dan menutupi kembali luka itu. “Nggak kenapa-kenapa. Ini cuman ...”“Kamu mendapatkan tindak kekerasan dari seseorang kah?”Awalnya terdiam, hingga merasa takut kalau dosen ini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kemudi

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 13

    Setelah semuanya pergi, kini tinggal Livia bersama Fani dan Denis. Tadinya Liam tidur, tapi dibangunkan oleh Denis karena dia belum makan.“Pa, jangan bilang mama kalau aku di rumah sakit, ya,” ujar Livia pada papanya.“Ini karena kelakuan dia, dan kamu malah masih pura-pura baik-baik saja?”“Aku cuman nggak mau memperpajang masalah, Pa. Aku juga nggak mau nanti mama berpikiran dan menilai papa sama Mama Fani buruk,” balas Livia.“Mama kamu memperlakukan kamu seburuk ini. Kamu pikir papa bisa tenang dan menerima? Terus memaksa kamu bersamanya, tapi tak becus menjaga kamu bahkan malah menyakiti. Livia, seorang anak memang nggak boleh melawan dan membantah orang tuanya, tapi jika kamu diperlakukan buruk, dua hal itu bisa kamu lakukan. Jangankan kamu, itu juga berlaku untuk William. Dia boleh melawan dan membantah papa, jika apa yang papa atur padanya memberikan efek negative,” jelas Denis pada Livia.Fani memilih diam saat Denis sedang bicara dengan Livia. Hanya bisa memberikan kasih sa

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 12

    Mungkin kisaran setengah jam berlalu, pintu diketuk dari arah luar. Setelah mendapatkan respon dari Livia, barulah pintu itu terbuka.Livia langsung bangun saat mendapati Fani yang datang. Langsung memeluk wanita paruh baya itu saat berhadapan dengannya.“Sayang kamu kenapa? Ini kenapa?”Pandangan Fani jelas langsung tertuju pada luka di lengan Livia. Mengarah pada Bibik yang saat itu datang bersamanya, hanya saja wanita itu memasang ekpressi takut dan menunduk.“Kak, jangan bilang kalau mama kamu mukulin lagi, ya.” Kali ini Liam yang menebak. Karena ini bukan hal yang pertama ia dapati, tapi sering. Sampai-sampai merasa gregetan sendiri untuk melabrak.“Maafin Bibik, Bu. Bibik nggak bisa berbuat banyak dan melindungi Non Livi,” ujar Bik Tina dengan nada penuh penyesalan.Posisinya di sini hanya sebagai pekerja. Sudah berusaha membuat posisi Livia aman, tapi jelas ia tak bisa terlalu ikut campur. Apalagi dengan watak seorang Selina yang harus ia hadapi.“Aku kan sudah berulang kali bi

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 11

    “Heh, ini kalian berdua lagi ngapain, sih?”“Bu, Melisa rusakin HP saya,” ujar Livia pada Clara —dosen di kampus ini. Lebih tepatnya lagi, Clara adalah kakak dari Justin. Jangan salah, karena mereka berdua adalah anak pemilik dari kampus ini.Wanita itu mengarah pada ponsel milik Livia yang kondisinya sudah pecah. Kemudian mengarah pada Melisa.“Kamu kenapa merusak HP milik Livia, Melisa?” tanya Clara pada gadis yang masih terlihat petantang-petenteng itu.“Karena dia nggak mau ngasihin HP nya ke saya, Bu. Saya cuman mau mastiin sesuatu kok di HP nya. Malah pelit banget.”Seperti dihadapkan pada pertengkaran bocah SD. Itulah yang Clara rasakan saat ini.“Dengar ya, Melisa. HP ini milik Livia, kamu nggak boleh seenaknya begitu dengan barang yang bukan milik kamu. Ini sampai rusak begini loh HP dia. Jadi, ini bagaimana urusan selanjutnya?”“Bu Clara, kan saya juga sudah memberikan alasan kenapa HP itu rusak.” Melisa kekeuh dengan sikapnya yang ia anggap sudah benar.Clara sampai menarik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status