LOGINSelama dalam perjalanan saja Livia dibuat khawatir. Arka masih tampak sadar di kursi sampingnya, tapi karena dia terus memegangi dadanya dan keluhan kesakitan itu masih terdengar, membuatnya merasa takut. Tangannya yang berada di kemudi ikut dibuat gemetaran.
Rumah sakit saja rasanya begitu jauh lokasinya. Padahal jaraknya kalau hitungan kilometer nggak begitu jauh juga.
Dia sakit apa?
Sakitnya seperti apa, hingga wajahnya sampai begitu pucat?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggerogoti pikiran Livia. Seorang Arka yang terkesan diam dan dingin, kini seperti berada di titik paling lemah.
Sampai di rumah sakit, Arka langsung dibawa ke UGD. Kali ini kondisinya benar-benar tak sadarkan diri.
“Livia, Pak Arka kenapa?” tanya Hagia saat sampai dihadapan Livia. Barusan ia yang membawa mobil milik Livia, makanya baru sampai.
“Gue nggak tahu, Gi. Tadi gue lagi cek-cok sama Melisa dan dia dorong gue. Ternyata di belakang gue ada Pak Arka dan akhirnya ketimpa. Tiba-tiba langsung roboh dan kesakitan gitu,” jelas Livia karena ia juga bingung dengan apa yang terjadi.
Seorang cowok lebih punya kekuatan kan. Dorongan Melisa tadi sepertinya masih bisa ketahan. Tapi kenapa Arka tak bisa dan justru jadi kesakitan begitu.
Di saat yang bersamaan seorang suster keluar dari ruangan itu. Langsung dicegat oleh Livia.
“Suster, gimana kondisinya?”
Tak memberikan jawaban, tapi suster itu malah berlalu pergi begitu saja dengan sedikit gegas. Jelas membuat Livia dan Hagia saling lempar pandang dengan tatapan takut.
“Gi, Pak Arka kenapa ya?”
Hagia hanya memberikan gelengan perlahan, karena ia juga nggak tahu jawabannya.
Selang beberapa saat, suster tadi kembali lagi. Kali ini tak sendirian, tapi justru dengan dua orang dokter yang datang bersamanya. Bisa dilihat jika dua dokter itu bukan dokter umum biasa.
Mereka segera masuk ke dalam ruang UGD. Sedangkan Livia dan Hagia masih mondar mandir di depan pintu dengan perasaan campur aduk, menunggu hasilnya.
Pintu dibuka dari arah dalam. Livia langsung gegas menghampiri seorang dokter yang keluar dari sana.
“Dokter, gimana kondisi Pak Arka?” tanya Livia langsung.
“Kamu siapa?”
“Kita berdua mahasiswinya, Dokter,” jawab Livia.
“Kondisinya belum membaik.”
Jawaban itu membuat jiwa tak tenang Livia makin parah.
“Tapi Pak Arka kenapa, Dokter? Atau ... sakit apa? Kenapa kondisinya seperti itu?”
Di saat yang bersamaan, ponsel yang ada di pegangan Livia berdering. Terlihat di layar datar itu jika yang menelepon adalah Narinda.
“HP milik Arka, kan,” ujar dokter itu buka suara, saat ia mengenali benda pipih itu.
“Maaf, dokter kenal Pak Arka?”
“Hem,” angguk dokter itu. “
“Ah, iya ini dokter. Tadi takut ada keluarga Pak Arka yang menghubungi, makanya ku bawa,” jelas Livia.
Livia menyerahkan HP milik Arka pada dokter. Tapi ia agak kaget juga saat dia langsung menjawab panggilan telepon dari Narinda.
“Kak, ini jadi nggak, sih? Aku sama Jeje udah lumutan nungguin kamu,” oceh Rinda langsung saat telepon terhubung.
“Kamu di mana?”
Pertanyaan yang dokter itu berikan pada Narinda, jelas membuat pandangan Livia dan Hagia agak kaget. Kayak... dua orang itu saling mengenal.
“Mas Zian?”
“Iya, ini aku.”
“Kok Hp Kak Arka ada sama kamu, Mas?”
“Ke rumah sakit sekarang, ya.”
Seolah paham apa yang terjadi, Rinda memutus panggilan begitu saja setelah mendengar apa yang Zian katakan.
“Maaf, dokter kenal sama Kak Rinda juga?” Ini Hagia yang bertanya karena ia penasaran.
“Narinda kekasihku.”
Mendadak Livia dan Jeje dibuat melongo. Pantas saja Rinda tak pernah dekat dengan mahasiswa di kampus, bahkan cowok manapun. Padahal untuk level cewek, dia berada di level atas, perihal fisik, otak dan keluarga pun. Ternyata karena dia sudah punya kekasih. Gini ya kalau cewek pintar, pasangannya pun nggak main-main. Seorang dokter.
“Sepertinya harus pintar dulu ya kalau mau dapat spek Pak Arka,” gumam Livia spontan.
“Hem, maksudnya?” tanya dokter bernama Zian itu.
Livia tersenyum, kemudian menggeleng.
Di saat yang bersamaan. Pintu ruang UGD dibuka dari arah dalam. Tampak beberapa suster keluar dengan Arka yang dalam keadaan tak sadar di atas bad emergency. Lengkap dengan alat bantu napas dan benda-benda lainnya yang terpasang di badan dia.
Nggak tahu dia sakit apa, tapi melihat alat-alat bantu pernapasan yang ada, Livia sudah berpikir jika Arka bukan sakit biasa.
“Terimakasih sudah tepat waktu membawa Arka ke sini,” ucap Zian. Kemudian berlalu pergi dari sana, mengikuti Arka yang sudah dibawa menuju ruang ICU untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Pikiran Livia kini makin sembrawut. Jujur, ia makin penasaran dengan apa yang terjadi. Minimal, setidaknya ia tahu penyakit apa yang Arka derita gitu.
“Kita nggak pulang?” tanya Gia.
“Gi, kira-kira Pak Arka sakit apa ya?”
“Gue juga nggak tahu,” jawab Gia. “Apa jangan-jangan separah itu, ya. Maksud gue, bisa dilihat dari alat-alat bantu pernapasan itu kan. Nggak mungkin cuman sekadar sakit perut atau sesak napas doang.”
“Ck, gara-gara Melisa sialan ini.”
Livia mengarahkan pandangannya pada Gia. “Lo balik duluan, gue nungguin Kak Rinda bentar. Kunci mobil Pak Arka juga masih ada di gue. Sekalian nanti gue mau jelasin semua.”
“Serius nih nggak apa-apa gue tinggal?”
“Iya,” jawab Livia. “Lo pake mobil gue aja pulangnya. Nanti malam gue main ke rumah.”
“Beneran, ya.”
“Iya.”
Jadilah, Gia balik duluan. Sementara Livia masih menunggu Narinda di sana. Ya, awalnya. Tapi karena penasaran dengan kondisi Arka, akhirnya memilih untuk menuju arah ruang ICU, di mana dia dirawat. Mendengar ICU saja sudah bikin tremor. Belum juga beberapa menit ia di sana, terlihat dari kejauhan Rinda dan Jeje tampak berlari ke arahnya.
“Livia kok kamu di sini?”
Belum pertanyaan itu Livia jawab, Rinda sudah berlalu dari hadapannya dan gegas menghampiri Zian yang keluar dari ruang ICU.
“Mas, Kak Arka kenapa? Kondisinya baik-baik aja, kan?”
Pertanyaan yang bodoh kadang. Jelas-jelas pasien yang masuk ruangan ICU, kondisinya pada buruk. Tapi kan ia juga butuh kepastian kondisi kakaknya.
“Ayo masuk,” ajak Zian pada Rinda, sedangkan Jeje menunggu di luar bersama Livia.
Livia merasa ngelag dengan semua ini.
“Livia, kenapa kamu ada di sini?” tanya Jeje juga merasa heran.
“Itu, Kak ... aku yang bawa Pak Arka ke sini tadi.”
“Maksudnya gimana?” Jeje makin bingung.
“Tadi pas di area parkiran Melisa nyari masalah lagi dan dia dorong aku. Aku nggak tahu, ternyata di belakangku ada Pak Arka. Dianya ketimpa dan jatuh, langsung kesakitan gitu. Tapi aku nggak tahu dia kenapa dan apa yang sakit,” jelas Livia.
Jeje mendadak diam. Tiba-tiba pikirannya jadi buruk sekarang.
Diamnya Jeje, jelas membuat Livia cemas. “Kak, Pak Arka kenapa ya? Aku takut banget.”
“Udah, nggak apa-apa. Nanti juga membaik. Sekarang mending kamu balik aja. Takut orang tua kamu nyariin karena pulang telat,” ujar Jeje.
“Ah iya, Kak. Ini aku cuman mau balikin kunci mobilnya Pak Arka. HP nya tadi ada sama dokter barusan,” jelasnya.
“Oke. Makasih, ya.”
Livia akhirnya berlalu pergi dari sana meskipun ia masih penasaran dengan kondisi Arka. Tapi nggak mungkin juga ia ikut-ikutan berada di sana, karena posisinya hanya berstatus mahasisiwi. Meskipun berharap dapat status yang lebih lagi.
Beberapa saat Jeje menunggu, tampak Rinda dan Zian keluar dari ruangan itu.
“Ada baiknya memang kasih tahu om dan tante. Arka bisa keluar dari ICU setelah kondisinya stabil dan kita nggak tahu hingga sampai kapan waktunya,” jelas Zian.
“Tapi dia baik-baik aja kan, Mas? Nggak akan terjadi hal yang buruk kan?”
“Semoga saja enggak. Makanya sekarang dia harus benar-benar dalam kondisi yang tenang. Detak jantungnya belum stabil, makanya akan sangat berbahaya jika dia tersadar sekarang. Anggap saja di dalam sana adalah masa untuk menstabilkan kondisinya,” jelas Zian menenangkan rsa cemas Rinda.
Rinda mengangguk paham dengan semua penjelasan Zian.
Rinda langsung bergeser, merengkuh Livia dari sisi lain hingga gadis itu kini terkunci di antara dua pelukan yang hangat.“Dengar ya, Livi. Kamu nggak pantas mendapatkan perlakuan kasar seperti itu dari siapa pun,” bisik Rinda, suaranya bergetar menahan geram sekaligus pedih. “Kamu berhak merasa aman. Kamu berhak dilindungi di dalam rumahmu sendiri.”“Tapi... beliau Mamaku, Kak,” cicit Livia di sela tangisnya yang mulai membasahi kaus Hagia. Kalimat itu terdengar seperti sebuah pembelaan putus asa, cara Livia menghibur dirinya sendiri agar tidak membenci darah dagingnya sendiri.“Dan kamu anaknya, Vi,” sahut Rinda tegas, menangkup kedua pipi Livia yang basah agar gadis itu menatapnya. “Hubungan darah itu seharusnya membuat kamu disayangi dan didekap, bukan dijadikan samsat pelampiasan amarah.”Tangis Livia pecah semakin hebat. Pertahanan egonya lebur total. Jeje, yang biasanya memegang rekor paling cerewet, kini hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Tangannya bergerak ritmis, m
“Pak Arka kenapa?”Pertanyaan Livia seketika memotong sisa tawa di udara. Rinda mengembuskan napas panjang, bahunya merosot seolah beban berat baru saja diletakkan di sana. Di sebelahnya, Jeje memilih bungkam, memberikan ruang penuh bagi Rinda untuk mengambil alih kendali pembicaraan.Hagia pun ikut terdiam di sudut tempat tidur. Gadis itu awalnya hanya berniat mampir untuk memastikan keadaan sahabatnya pasca-insiden, tetapi atmosfer ruangan yang mendadak berubah pekat membuatnya terseret ke dalam pusaran obrolan yang jauh lebih serius.“Vi, aku mau tanya sesuatu dulu sama kamu,” ujar Rinda, memajukan tubuhnya dengan tatapan mengunci manik mata Livia.“Apa, Kak?” Livia berkedip polos.“Kamu benar-benar suka sama Kak Arka?”Livia sempat kehilangan kata-kata selama beberapa detik. Pertanyaan macam apa ini? pikirnya. Bukankah selama ini dia sudah sekampung memperlihatkan ketertarikannya pada dosen super-menyebalkan itu? Bahkan Rinda sendiri yang paling sering menjadikannya bahan ledekan.
Livia tampak menangis, duduk di lantai bersandar pada dinding. Ketika mereka masuk, langsung kaget, menghentikan tangisannya dan berusaha menutupi semuanya.“Livi, lo kenapa?” Hagia gegas menghampiri dan mengecek keadaan Livia.Mau mengelak dan menutupi seperti apa? Jika saat ini dirinya pun sudah terlihat berantakan.“Ini kenapa?” Rinda langsung terfokus pada luka di sudut bibir Livia. Bahkan keadaannya saja tampak begitu terpuruk. “Siapa yang lakuin ini?”Bibik seolah tak perlu menunggu jawaban dari Livia. Yap, pasti kelakuan Selina. Siapa lagi yang bisa dan biasa bersikap kasar pada Livia kalau bukan wanita itu. Padahal ia pikir setelah cek cok dengan Selina tadi Livia tidur. Ternyata tidak.“Aku nggak apa-apa, Kak,” ujar Livia mengelak saat Rinda begitu penasaran dengan apa yang terjadi.“Nggak apa-apa gimana. Ini pasti ulah mama kamu, ya.” Rinda langsung menebak.“Bukan ...”Rinda beranjak dari posisinya dan hendak menemui Selina, tapi niatnya langsung terhenti saat Livia melaran
Livia sampai di rumah. Bersyukur, ternyata mamanya belum pulang. Gegas masuk ke dalam rumah, kemudian menghampiri bibik yang menyambutnya.“Non udah baik-baik saja?”“Bik, jangan bahas-bahas kalau aku dirawat, ya,” ujarnya memberikan peringatan pada Bibik.“Iya, Non.”Baru juga dibahas, tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang memasuki area pekarangan rumah.“Aku ke kamar, Bik. Kalau mama tanya tanya, bilang saja aku lagi ganti baju habis pulang kuliah,” peringatkan Livia.“Baik, Non.”Livia berlalu dari sana dan gegas menuju lantai atas menuju kamarnya. Langsung ganti baju dengan pakaian rumahan dan meletakkan tas nya di kursi seolah benar-benar seperti pulang kuliah. Kemudian menyemprotkan parfum di kamarnya demi menetralisir badannya yang bau obat.Pintu diketuk dari arah luar.“Ya, sebentar ...”Livia berjalan dan menuju arah pintu. Pintu terbuka, memperlihatkan Selina yang sudah berdiri di sana.Selina menatap Livia dari atas hingga bawah. “Apa semalam kamu berulah lagi?”“Ma, b
Di saat Livia berada dalam pikirannya, tiba-tiba tersentak ketika Arka memegang tangannya hingga membuatnya meringis. Ya sudah pasti karena dia memegang lukanya.“Pak, lepas ...”“Jelaskan. Tanganmu kenapa?” tanya Arka.Padahal sudah berpikiran jauh banget akan sikap Arka, tapi ternyata apa? Dia sedang terfokus pada luka di kedua lengannya. Padahal ia sudah mengenakan cardingan loh untuk menutupi, tetap saja terlihat.Livia menarik tangannya yang berada dalam pegangan Arka, bukannya melepas laki-laki itu justru malah menahan. Dia bahkan menyingsingkan lengan cardingannya.“Jangan dibuka.”Oke. Sekian. Hal yang ia tutupi, terbuka semua. Yakin akan bisa berbohong dihadapan dosen ini?“Ayo jelaskan!”Kembali menarik tangannya hingga akhirnya terlepas dari pegangan Arka dan menutupi kembali luka itu. “Nggak kenapa-kenapa. Ini cuman ...”“Kamu mendapatkan tindak kekerasan dari seseorang kah?”Awalnya terdiam, hingga merasa takut kalau dosen ini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kemudi
Setelah semuanya pergi, kini tinggal Livia bersama Fani dan Denis. Tadinya Liam tidur, tapi dibangunkan oleh Denis karena dia belum makan.“Pa, jangan bilang mama kalau aku di rumah sakit, ya,” ujar Livia pada papanya.“Ini karena kelakuan dia, dan kamu malah masih pura-pura baik-baik saja?”“Aku cuman nggak mau memperpajang masalah, Pa. Aku juga nggak mau nanti mama berpikiran dan menilai papa sama Mama Fani buruk,” balas Livia.“Mama kamu memperlakukan kamu seburuk ini. Kamu pikir papa bisa tenang dan menerima? Terus memaksa kamu bersamanya, tapi tak becus menjaga kamu bahkan malah menyakiti. Livia, seorang anak memang nggak boleh melawan dan membantah orang tuanya, tapi jika kamu diperlakukan buruk, dua hal itu bisa kamu lakukan. Jangankan kamu, itu juga berlaku untuk William. Dia boleh melawan dan membantah papa, jika apa yang papa atur padanya memberikan efek negative,” jelas Denis pada Livia.Fani memilih diam saat Denis sedang bicara dengan Livia. Hanya bisa memberikan kasih sa







