Share

BAB : 6

Author: Soffia
last update publish date: 2026-09-04 22:40:58

 Rinda tak bisa berkata apa-apa lagi dan ini bukanlah ocehannya yang pertama. Bahkan sudah sekian kali ia berikan saran, tapi Sean tetap kukuh dengan pendiriannya.

“Termasuk Kak Prisha?”

“Apa hubungan dengannya?”

“Kak Prisha itu mau sama kamu. Dia juga tahu dengan detail seperti apa kondisi kamu, Kak. Serius, kamu nggak mau sama dia?” tanya Rinda memastikan.

“Rinda, kamu sudah dewasa kan. Sebuah hubungan akan lebih baik tercipta dengan modal perasaan. Anggap saja Mas Zian yang cinta sama kamu, tapi kamu enggak. Masihkah kamu mau menjalaninya?”  tanya Arka balik.

“Ya enggak lah, ngapain juga,” balas Rinda cepat.

“Nah, itu jawabanku,” balas Arka.

“Tapi kayaknya mama sama papa memang sedang mengusahakan hal itu, Kak.”

Kening Arka berkerut karena bingung dengak balasan Narinda. “Maksudmu?”

“Ya ... sepertinya mama sama papa sedang mengusahakan agar kamu sama Kak Prisha,” jelas Rinda lebih detail.

“Aku yang punya perasaan dan aku yang akan menjalaninya. Jadi, nggak akan pernah terjadi sebuah hubungan itu jika bukan aku yang berikan kata setuju. Orang normal saja akan berpikir panjang pada hubungan tanpa cinta, apalagi aku yang usianya nggak bisa ditebak ini,” jelas Arka pada Rinda.

“Ck, ribet banget kamu. Dikasih spek dewasa dan mode kalem seperti Kak Prisha malah nggak mau. Padahal dia naksir berat sama kamu dan paham kondisi kesehatanmu. Yaudah, gimana kalau kamu sama Livia saja.”

“Narinda ...” Arka malah geram sendiri dengan ocehan adiknya.

Rinda terkekeh dengan reaksi Arka akan usulannya. “Kak, Livia itu teman dekatku dan kita satu jenis. Udah anaknya manis, cantik, ceria dan pintar. Eh, tapi kalau dipikir-pikir kayaknya sejenis manusia dingin sepertimu emang cocoknya sama cewek yang heboh deh, Kak.”

“Kamu mau memperpendek usiaku, ya?”

Rinda malah tertawa. “Kebetulan Livia kan ngejar-ngejar kamu terus, Kak. Malah blak-blakan banget lagi. Sekarang hayuklah dikejar balik. Kali aja sesuai.”

“Dia itu mahasiswiku, ya.”

“Lah, apa salahnya? Jodoh kan nggak pandang status. Aku noh contohnya, doktermu ku gaet,” ujar Rinda mengarahkan pandangannya pada Zian yang sedang tidur.

“Intinya, aku nggak akan pernah memikirkan sebuah hubungan apalagi perkara cinta. Sudah ku tutup.”

“Arghhh ... si Arka Sean ini ngeyel banget,” gerutunya.

 Rinda sampai bingung harus mengeluarkan jurus apalagi agar kakaknya mau punya pasangan. Maksudnya tuh biar dia nggak terlalu fokus pada sakitnya loh. Ditambah lagi, kalau ada seseorang yang dicinta, setidaknya dia makin semangat untuk sehat.

Di saat yang bersamaan, ponsel milik Rinda berdering. Ia buru-buru lari mengambil benda pipih itu karena posisinya ada di samping Zian yang lagi tidur. Bisa-bisa deringan HP membuat kekasihnya itu terbangun.

Kembali pada Arka dan menjawab panggilan telepon yang ternyata dari Livia.

“Ya, Vi?”

“Kak Rinda sekarang ada di mana?” tanya Livia.

“Aku lagi di rumah sakit. Kenapa?”

“Itu ... ada masalah sedikit, Kak.”

Rinda sedikit terdiam dengan maksud dari perkataan Livia.

“Masalah apa?”

“Tas ku ketinggalan di mobilnya Pak Arka,” ungkapnya.

“Heh,” tawa Rinda malah lepas. “Kok bisa?”

“Maaf, sebelum ngasih balik kunci mobil milik Pak Arka, aku lupa ambil tas ku dulu. Tadinya berniat mau ambil besok aja atau pas ketemu sama Pak Arka di kampus, karena isinya cuman buku. Tapi masalahnya buku tugasku ada di dalam tas itu juga,” jelasnya mendadak lemes.

“Trus ...”

“Jadi Kak, bisa nggak aku izin buat ambil tas ku sekarang? Muka songongnya Pak Dion sudah terbayang di mataku saat tugasku nggak ku kerjakan. Pliss, Kak. Ini emergency banget.”

“Sekarang?”

“Iya sekarang, Kak. Kalau boleh, aku segera ke sana.”

Rinda mengarahkan pandangannya pada jam dinding yang terlihat waktu menunjukkan pukul setengah 9 malam. “Udah malam gini tapi, Vi.”

“Demi buku tugasku, aku rela manjat tembok ntar buat kabur.”

“Heh, yang bener aja dong. Masa kabur.”

“Mamaku ribet. Jadi, cara cepatnya ya aku kabur. Bisa kan Kak? Aku ke sana sekarang ya. Nanti kalau sudah sampai di sana, aku hubungi lagi.”

“Yaudah, aku tunggu. Tapi serius mau manjat tembok?”

“Nanti ku spill sekalian temboknya,” ujarnya tertawa. Kemudian memutus percakapan itu.

“Anak ini ... perkara tembok juga mau dispill,” gumam Rinda.

“Dari siapa?”

“Livia,” jawab Rinda. “Tas nya ada di dalam mobilmu, tadi ketinggalan pas nganterin kamu ke sini, Kak. Buku tugasnya ada di dalam tas itu. Dia izin mau ngambil.”

“Trus tembok apa?”

Rinda kembali tertawa. “Itu, Kak. Dia mau kabur. Katanya kalau minta izin, nggak akan dibolehin sama mamanya karena sudah malam. Jadinya dia mau manjat tembok buat kabur.”

“Bocah ini,” gerutu Arka dengan kelakuan Livia. Nggak di kampus, ternyata memang aslinya gadis itu pecicilan.

Sekian waktu berlalu, ponsel Rinda kembali berdering. Terlihat jika yang menelepon adalah Livia.

“Ya?”

“Kak, aku baru sampai. Kak Rinda di mana?”

“Sebentar ya, aku ke sana.”

Arka mengambil alih kunci mobil miliknya yang berada di tangan Rinda.

“Mobilku kan, itu artinya minta izin padaku,” ujarnya.

“Tapi ...”

“Kak Rinda, kenapa?”

“Yang punya mobil tiba-tiba kumat, Vi. Jadi, sepertinya kamu harus menghadap pemiliknya sendiri buat izin, ya.”

Arka bersidekap dada, membenarkan pemahaman Rinda.

“Kak, masa izin sama Pak Arka dulu? Aku takut ke sana. Nanti ketemu suster ngesot di lorongnya.”

“Mana ada suster ngesot astaga, Livia.”

“Takut sama Pak Arka juga,” tambahnya mode pelan.

“Udah, tenang aja. Dia lagi mode jinak.”

Rinda memutus percakapan dengan Livia, kemudian mengirim lokasi posisinya saat ini. Kemudian mengarah pada Arka.

“Jangan ngomelin dia ya ntar. Kejadian tadi siang itu bukan salah dia loh, Kak,” peringatkan Rinda pada sikap Arka yang suka ngomel kalau sama anak didiknya.

“Terserah aku mau ngomel atau tidak. Ini urusan dosen dan mahasiswinya kan.”

Di saat yang bersamaan Zian ternyata bangun dan menghampiri. Kemudian mengecek kondisi Arka, mulai dari tekanan darah, cairan infus dan lainnya.

“Jangan ngomel-ngomel, ya. Nanti tekanan darahmu makin naik,” peringatkan Zian.

Rinda malah tertawa.

“Aku ke kantin bentar, ya.”

“Ikut ...”

Zian mengarah pada Arka.

“Aku baik-baik saja. Mama sama papa juga sebentar lagi balik,” ungkap Arka seakan tahu jika Zian sedang mempertanyakan kondisinya.

Jadilah, Rinda pergi bersama Zian menuju kantin. Sedangkan Arka tinggal sendirian. Duduk bersandar, dengan sebuah bantal yang berada di bagian punggungnya. Meraih ponsel, kemudian menelepon Reiga—sahabatnya.

Di saat yang bersamaan, pintu diketuk perlahan dari arah luar. Membuat pandangannya mengarah ke sana. Pintu terbuka, perlahan memperlihatkan seorang gadis yang datang dengan sebuah penutup wajah.

Masih melanjutkan percakapannya dengan Reiga, meskipun gadis ini sudah berdiri di dekat ranjangnya, menatapnya mode diam. Setelah selesai, Arka menutup pembicaraan itu dengan Reiga dan meletakkan ponselnya di nakas samping.

Mengarah pada dia yang ada dihadapannya. Tahu kan siapa orangnya? Yap, Livia.

“Ada apa?”

“Pak Arka, saya mau izin ambil tas di dalam mobil Bapak. Tadi lupa,” ungkap Livia.

“Lupa, trus ingatnya kapan?”

“Langsung ingat, tapi karena berpikir isinya nggak ada yang penting jadinya saya abaikan. Ternyata saya juga lupa kalau ada buku tugas di dalam sana. Jadi, Pak ... boleh nggak?”

“Buka maskermu.”

“Ini muka bangun tidur, Pak. Jadi, jangan deh. Nanti Bapak shock.”

“Saya berasa jadi manusia yang menularkan penyakit kesannya kalau kamu menggunakan masker itu,” balas Arka .

“Eh, bukan gitu, Pak. Tapi ...” Menghentikan kata-katanya. Daripada makin ribet urusannya. Mendingan ia mengalah saja.

Livia akhirnya melepas menutup wajah itu. Niatnya memang mau ngambil tas doang, ya sudah pasti mukanya tampang-tampang rumahan. Ngapain pake dandan segala kan. Memangnya mau ketemuan sama pacar. Iya, ngarepnya ini cowok yang ada dihadapannya inilah calon pasangan masa depan.

Di kampus kelakuan Livia berasa cegil bar-bar, apalagi tak ada kapoknya mendekatinya. Tapi ternyata mode bare face nya sebocah ini. Penampakannya benar-benar setara anak sekolahan, bukan kuliahan. Manis, imut, bahkan kalau dia mengaku sebagai anak SMA pun orang-orang akan percaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 18

    Rinda langsung bergeser, merengkuh Livia dari sisi lain hingga gadis itu kini terkunci di antara dua pelukan yang hangat.“Dengar ya, Livi. Kamu nggak pantas mendapatkan perlakuan kasar seperti itu dari siapa pun,” bisik Rinda, suaranya bergetar menahan geram sekaligus pedih. “Kamu berhak merasa aman. Kamu berhak dilindungi di dalam rumahmu sendiri.”“Tapi... beliau Mamaku, Kak,” cicit Livia di sela tangisnya yang mulai membasahi kaus Hagia. Kalimat itu terdengar seperti sebuah pembelaan putus asa, cara Livia menghibur dirinya sendiri agar tidak membenci darah dagingnya sendiri.“Dan kamu anaknya, Vi,” sahut Rinda tegas, menangkup kedua pipi Livia yang basah agar gadis itu menatapnya. “Hubungan darah itu seharusnya membuat kamu disayangi dan didekap, bukan dijadikan samsat pelampiasan amarah.”Tangis Livia pecah semakin hebat. Pertahanan egonya lebur total. Jeje, yang biasanya memegang rekor paling cerewet, kini hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Tangannya bergerak ritmis, m

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 17

    “Pak Arka kenapa?”Pertanyaan Livia seketika memotong sisa tawa di udara. Rinda mengembuskan napas panjang, bahunya merosot seolah beban berat baru saja diletakkan di sana. Di sebelahnya, Jeje memilih bungkam, memberikan ruang penuh bagi Rinda untuk mengambil alih kendali pembicaraan.Hagia pun ikut terdiam di sudut tempat tidur. Gadis itu awalnya hanya berniat mampir untuk memastikan keadaan sahabatnya pasca-insiden, tetapi atmosfer ruangan yang mendadak berubah pekat membuatnya terseret ke dalam pusaran obrolan yang jauh lebih serius.“Vi, aku mau tanya sesuatu dulu sama kamu,” ujar Rinda, memajukan tubuhnya dengan tatapan mengunci manik mata Livia.“Apa, Kak?” Livia berkedip polos.“Kamu benar-benar suka sama Kak Arka?”Livia sempat kehilangan kata-kata selama beberapa detik. Pertanyaan macam apa ini? pikirnya. Bukankah selama ini dia sudah sekampung memperlihatkan ketertarikannya pada dosen super-menyebalkan itu? Bahkan Rinda sendiri yang paling sering menjadikannya bahan ledekan.

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 16

    Livia tampak menangis, duduk di lantai bersandar pada dinding. Ketika mereka masuk, langsung kaget, menghentikan tangisannya dan berusaha menutupi semuanya.“Livi, lo kenapa?” Hagia gegas menghampiri dan mengecek keadaan Livia.Mau mengelak dan menutupi seperti apa? Jika saat ini dirinya pun sudah terlihat berantakan.“Ini kenapa?” Rinda langsung terfokus pada luka di sudut bibir Livia. Bahkan keadaannya saja tampak begitu terpuruk. “Siapa yang lakuin ini?”Bibik seolah tak perlu menunggu jawaban dari Livia. Yap, pasti kelakuan Selina. Siapa lagi yang bisa dan biasa bersikap kasar pada Livia kalau bukan wanita itu. Padahal ia pikir setelah cek cok dengan Selina tadi Livia tidur. Ternyata tidak.“Aku nggak apa-apa, Kak,” ujar Livia mengelak saat Rinda begitu penasaran dengan apa yang terjadi.“Nggak apa-apa gimana. Ini pasti ulah mama kamu, ya.” Rinda langsung menebak.“Bukan ...”Rinda beranjak dari posisinya dan hendak menemui Selina, tapi niatnya langsung terhenti saat Livia melaran

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 15

    Livia sampai di rumah. Bersyukur, ternyata mamanya belum pulang. Gegas masuk ke dalam rumah, kemudian menghampiri bibik yang menyambutnya.“Non udah baik-baik saja?”“Bik, jangan bahas-bahas kalau aku dirawat, ya,” ujarnya memberikan peringatan pada Bibik.“Iya, Non.”Baru juga dibahas, tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang memasuki area pekarangan rumah.“Aku ke kamar, Bik. Kalau mama tanya tanya, bilang saja aku lagi ganti baju habis pulang kuliah,” peringatkan Livia.“Baik, Non.”Livia berlalu dari sana dan gegas menuju lantai atas menuju kamarnya. Langsung ganti baju dengan pakaian rumahan dan meletakkan tas nya di kursi seolah benar-benar seperti pulang kuliah. Kemudian menyemprotkan parfum di kamarnya demi menetralisir badannya yang bau obat.Pintu diketuk dari arah luar.“Ya, sebentar ...”Livia berjalan dan menuju arah pintu. Pintu terbuka, memperlihatkan Selina yang sudah berdiri di sana.Selina menatap Livia dari atas hingga bawah. “Apa semalam kamu berulah lagi?”“Ma, b

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 14

    Di saat Livia berada dalam pikirannya, tiba-tiba tersentak ketika Arka memegang tangannya hingga membuatnya meringis. Ya sudah pasti karena dia memegang lukanya.“Pak, lepas ...”“Jelaskan. Tanganmu kenapa?” tanya Arka.Padahal sudah berpikiran jauh banget akan sikap Arka, tapi ternyata apa? Dia sedang terfokus pada luka di kedua lengannya. Padahal ia sudah mengenakan cardingan loh untuk menutupi, tetap saja terlihat.Livia menarik tangannya yang berada dalam pegangan Arka, bukannya melepas laki-laki itu justru malah menahan. Dia bahkan menyingsingkan lengan cardingannya.“Jangan dibuka.”Oke. Sekian. Hal yang ia tutupi, terbuka semua. Yakin akan bisa berbohong dihadapan dosen ini?“Ayo jelaskan!”Kembali menarik tangannya hingga akhirnya terlepas dari pegangan Arka dan menutupi kembali luka itu. “Nggak kenapa-kenapa. Ini cuman ...”“Kamu mendapatkan tindak kekerasan dari seseorang kah?”Awalnya terdiam, hingga merasa takut kalau dosen ini tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kemudi

  • Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh   BAB : 13

    Setelah semuanya pergi, kini tinggal Livia bersama Fani dan Denis. Tadinya Liam tidur, tapi dibangunkan oleh Denis karena dia belum makan.“Pa, jangan bilang mama kalau aku di rumah sakit, ya,” ujar Livia pada papanya.“Ini karena kelakuan dia, dan kamu malah masih pura-pura baik-baik saja?”“Aku cuman nggak mau memperpajang masalah, Pa. Aku juga nggak mau nanti mama berpikiran dan menilai papa sama Mama Fani buruk,” balas Livia.“Mama kamu memperlakukan kamu seburuk ini. Kamu pikir papa bisa tenang dan menerima? Terus memaksa kamu bersamanya, tapi tak becus menjaga kamu bahkan malah menyakiti. Livia, seorang anak memang nggak boleh melawan dan membantah orang tuanya, tapi jika kamu diperlakukan buruk, dua hal itu bisa kamu lakukan. Jangankan kamu, itu juga berlaku untuk William. Dia boleh melawan dan membantah papa, jika apa yang papa atur padanya memberikan efek negative,” jelas Denis pada Livia.Fani memilih diam saat Denis sedang bicara dengan Livia. Hanya bisa memberikan kasih sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status