Share

Bab 57

Author: Wei Yun
last update publish date: 2026-02-11 17:24:23

Malam telah mencapai puncaknya di Kediaman Long. Di dalam ruang kerja Paviliun Phoenix, Long Xuan duduk tegak di atas kursi jati yang dipahat rumit. Cahaya lilin yang kian meredup membiaskan bayangan tajam pada garis rahangnya yang kokoh dan berwibawa.

​Pintu berderit pelan, menampakkan siluet Lu Chen yang masuk dengan pakaian serba hitam, membawa serta aroma udara malam yang menggigit.

​"Katakan hasilnya," perintah Long Xuan dingin tanpa mengalihkan pandangan. Suaranya rendah, namun mengandung
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 153

    Hutan itu begitu lebat, menyerupai labirin hijau yang menyesakkan. Long Xuan melangkah di atas dedaunan kering, namun telapak kakinya tak mengeluarkan suara sedikit pun. Semuanya terasa ganjil. Cahaya matahari nyaris tak mampu menembus tajuk pohon yang rapat, menyisakan keremangan yang mencekam. Tiba-tiba, sebuah suara memecah kesunyian: tangisan bayi yang menyayat hati.​Telinganya yang terlatih segera menangkap arah suara itu—di balik semak belukar yang rimbun di dekat sebuah pohon raksasa. Xuan mendekat dengan langkah tanpa suara, namun gerakannya terhenti seketika. Di sana, ia melihat seorang wanita bersimpuh, mendekap erat bayi yang masih memerah di dadanya.​Isak tangis sang ibu terdengar jauh lebih memilukan daripada tangis bayinya sendiri.​"Nak, maafkan ibu. Ibu bukanlah ibu yang baik," bisik wanita itu, air matanya jatuh membasahi bedung sang bayi. "Ibu tidak tega melihatmu tumbuh besar dengan penyakit yang kuturunkan ini. Andai ayahmu masih ada, aku mungkin akan lebih kuat

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 152

    Gema derap kaki kuda membelah kesunyian lembah berbatu di barat Dan Xue. Long Xuan memacu tunggangannya layaknya kesetanan, mengabaikan kerikil yang beterbangan serta embusan angin gunung yang menusuk tulang. Di belakangnya, pasukan Beiyuan mengekor dalam formasi rapat, namun pikiran Xuan telah jauh melesat melampaui garis depan.​"SHISHI! MURONG SHI!" teriak Xuan dengan suara parau yang memantul pada dinding-dinding tebing terjal.​Setiap pantulan suaranya terasa bagai ejekan takdir. Ia baru saja menyaksikan nyawa Na Ying melayang, wanita yang di detik terakhir ia akui sebagai ibu. Kini, ketakutan kehilangan Liya—wanita yang menjadi poros dunianya—membuatnya nyaris gila.​"Tuan Adipati! Di sana!" seru salah seorang prajurit sembari menunjuk ke ujung ceruk tebing.​Xuan melompat turun bahkan sebelum kudanya benar-benar berhenti. Matanya yang memerah menyisir tanah. Jejak tapak kuda berakhir tepat di bibir jurang curam. Di bawah sana, sungai deras bergemuruh, memuntahkan uap dingin yan

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 151

    Debu jalanan masih berterbangan saat deru kaki kuda pasukan Beiyuan berhenti mendadak di depan penginapan. Long Xuan melompat turun dari kudanya dengan tergesa. Jantungnya bertalu hebat, seirama dengan firasat buruk yang kini terbukti di depan mata.​Pemandangan di depannya adalah neraka yang membeku; keheningan yang mencekam menyelimuti halaman yang kini dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan dengan luka sabetan yang mengerikan. Aroma amis darah menyeruak, memenuhi udara malam yang dingin.​"Shishi! Na Ying!" teriak Xuan, suaranya pecah membelah kesunyian.​Langkahnya menerjang masuk ke dalam lobi yang hancur berantakan. Kursi dan meja kayu hancur berkeping-keping, guci porselen pecah berserakan di lantai yang kini licin oleh cairan merah. Ia mengabaikan mayat-mayat penyerbu yang tewas di tangan Na Ying. Matanya liar menyisir setiap sudut, jantungnya berdegup kencang oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.​"Cari Nyonya Adipati! Geledah setiap jengkal tempat ini! Ja

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 150

    Kegelapan seketika menyergap kamar penginapan itu saat Na Ying menjentikkan kepingan logam kecil dari sakunya, memadamkan sisa lilin yang menyala dengan presisi maut. Di bawah cahaya rembulan yang tipis, Liya bisa menyaksikan gerak-gerik mertuanya yang begitu taktis dan efisien. ​"Shishi, lekas!" bisik Na Ying rendah, napasnya sedikit tertahan guna meredam perih yang menghunjam punggungnya. ​Dengan ketangkasan yang lahir dari desakan rasa takut, Liya membantu Na Ying menyusun bantal-bantal di balik selimut sutra. Dalam keremangan, gundukan itu tampak identik dengan dua insan yang tengah terlelap. Begitu umpan terpasang, Na Ying mencengkeram lengan Liya, menariknya mendekati ambang pintu kamar. ​BRAAAK!!! ​Tepat saat daun pintu terkatup rapat di belakang mereka, suara jendela kamar didobrak dari luar terdengar memekakkan telinga. Derap langkah kaki yang berat menghujam lantai kayu, disusul desingan tajam mata pedang yang menghujam bantal-bantal kosong di atas ranjang. ​"Mereka sud

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 149

    Cahaya fajar perlahan melalui celah jendela kayu, menyentuh permukaan kulit Liya yang halus. Kesadarannya terjaga saat merasakan hembusan napas hangat yang teratur menyapu keningnya, diikuti sebuah kecupan lembut yang mendarat lama di bibirnya. ​Liya membuka mata, mendapati wajah Long Xuan hanya berjarak seujung kuku darinya. Namun, ia terkesiap melihat penampilan suaminya. Tidak ada lagi jubah sutra megah dengan sulaman naga atau baju zirah perak yang berkilau; yang ada hanyalah pakaian kasar dari serat rami yang kusam, ikat kepala kain kumal, dan corengan jelaga di rahang tegasnya.​"Xuan?" bisik Liya parau, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. "Kau ... kau sudah akan pergi?"​"Waktunya tiba, Shishi," jawab Xuan dengan suara rendah. Ia mengelus pipi istrinya dengan jemari yang kasar.​Liya segera bangkit, duduk di tepi ranjang sementara jemarinya meraba kain rami yang dikenakan Xuan. Ia memandangi suaminya dari ujung kepala hingga kaki. "Penyamaranmu ... kau terlihat sangat

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 148

    Liya berdiri mematung di lorong penginapan yang remang, menatap punggung suaminya yang kian menjauh dan menghilang di balik kegelapan tangga. Hatinya seperti diremas melihat kehancuran di mata Xuan. Isak tangis dari dalam kamar memanggilnya kembali; Na Ying sedang meratap, sebuah suara yang sarat akan penyesalan yang terlambat.​Liya masuk kembali dan mendapati Na Ying berusaha duduk, tangannya mencengkeram kain seprai. Wajahnya yang pucat kini basah oleh air mata yang tak terbendung.​"Dia membenciku, Shishi ... Dia benar-benar membenciku," isak Na Ying parau. "Setiap kata yang ia ucapkan ... semuanya benar. Aku adalah seorang pengecut."​Liya duduk di tepi ranjang, merangkul bahu wanita yang gemetar itu. "Dia tidak membencimu, Na Ying. Dia hanya sedang terluka. Seluruh dunianya baru saja terbalik. Bayangkan, pria yang dibesarkan untuk menjadi pedang Beiyuan kini mengetahui bahwa selama ini darah yang ia perangi adalah darahnya sendiri.""Tapi aku punya alasan yang kuat!" Na Ying men

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 22

    Matahari siang menyengat ubun-ubun di Distrik Timur, namun panasnya tak menyurutkan kesibukan di depan toko Qin Feng. Song Liya sedang serius menekuni lembaran kertas di atas meja kayu panjang. Di sampingnya, Ibu Han tampak mengangguk-angguk takjub melihat desain pakaian yang belum pernah ia lihat

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 17

    Malam itu, Paviliun Anggrek telah tenggelam dalam keheningan yang dalam. Song Liya memejamkan matanya setelah hari yang panjang di pasar. Namun, ketenangan itu pecah seketika saat pintu kamarnya diketuk dengan suara yang keras dan beruntun.​Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Liya bangk

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 19

    Pagi itu, sebuah kilasan memori tentang Long Yuan melintasi benak Liya. Ia teringat betapa ringkihnya jemari bocah itu saat dipaksa menggenggam senjata yang tak sesuai porsi tubuhnya. Liya memutuskan untuk membelikan busur yang lebih proporsional bagi keponakan suaminya tersebut; ia tak ingin membi

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 16

    Qin Feng membawa Liya melewati tumpukan kain kusam di tokonya menuju sebuah pintu kayu kecil di bagian belakang. Di baliknya, terdapat sebuah rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas untuk ukuran bangunan di tengah pasar. Liya memperhatikan bagaimana Qin Feng terus memastikan istri dan anak-a

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status