MasukGema derap kaki kuda membelah kesunyian lembah berbatu di barat Dan Xue. Long Xuan memacu tunggangannya layaknya kesetanan, mengabaikan kerikil yang beterbangan serta embusan angin gunung yang menusuk tulang. Di belakangnya, pasukan Beiyuan mengekor dalam formasi rapat, namun pikiran Xuan telah jauh melesat melampaui garis depan."SHISHI! MURONG SHI!" teriak Xuan dengan suara parau yang memantul pada dinding-dinding tebing terjal.Setiap pantulan suaranya terasa bagai ejekan takdir. Ia baru saja menyaksikan nyawa Na Ying melayang, wanita yang di detik terakhir ia akui sebagai ibu. Kini, ketakutan kehilangan Liya—wanita yang menjadi poros dunianya—membuatnya nyaris gila."Tuan Adipati! Di sana!" seru salah seorang prajurit sembari menunjuk ke ujung ceruk tebing.Xuan melompat turun bahkan sebelum kudanya benar-benar berhenti. Matanya yang memerah menyisir tanah. Jejak tapak kuda berakhir tepat di bibir jurang curam. Di bawah sana, sungai deras bergemuruh, memuntahkan uap dingin yan
Debu jalanan masih berterbangan saat deru kaki kuda pasukan Beiyuan berhenti mendadak di depan penginapan. Long Xuan melompat turun dari kudanya dengan tergesa. Jantungnya bertalu hebat, seirama dengan firasat buruk yang kini terbukti di depan mata.Pemandangan di depannya adalah neraka yang membeku; keheningan yang mencekam menyelimuti halaman yang kini dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan dengan luka sabetan yang mengerikan. Aroma amis darah menyeruak, memenuhi udara malam yang dingin."Shishi! Na Ying!" teriak Xuan, suaranya pecah membelah kesunyian.Langkahnya menerjang masuk ke dalam lobi yang hancur berantakan. Kursi dan meja kayu hancur berkeping-keping, guci porselen pecah berserakan di lantai yang kini licin oleh cairan merah. Ia mengabaikan mayat-mayat penyerbu yang tewas di tangan Na Ying. Matanya liar menyisir setiap sudut, jantungnya berdegup kencang oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya."Cari Nyonya Adipati! Geledah setiap jengkal tempat ini! Ja
Kegelapan seketika menyergap kamar penginapan itu saat Na Ying menjentikkan kepingan logam kecil dari sakunya, memadamkan sisa lilin yang menyala dengan presisi maut. Di bawah cahaya rembulan yang tipis, Liya bisa menyaksikan gerak-gerik mertuanya yang begitu taktis dan efisien. "Shishi, lekas!" bisik Na Ying rendah, napasnya sedikit tertahan guna meredam perih yang menghunjam punggungnya. Dengan ketangkasan yang lahir dari desakan rasa takut, Liya membantu Na Ying menyusun bantal-bantal di balik selimut sutra. Dalam keremangan, gundukan itu tampak identik dengan dua insan yang tengah terlelap. Begitu umpan terpasang, Na Ying mencengkeram lengan Liya, menariknya mendekati ambang pintu kamar. BRAAAK!!! Tepat saat daun pintu terkatup rapat di belakang mereka, suara jendela kamar didobrak dari luar terdengar memekakkan telinga. Derap langkah kaki yang berat menghujam lantai kayu, disusul desingan tajam mata pedang yang menghujam bantal-bantal kosong di atas ranjang. "Mereka sud
Cahaya fajar perlahan melalui celah jendela kayu, menyentuh permukaan kulit Liya yang halus. Kesadarannya terjaga saat merasakan hembusan napas hangat yang teratur menyapu keningnya, diikuti sebuah kecupan lembut yang mendarat lama di bibirnya. Liya membuka mata, mendapati wajah Long Xuan hanya berjarak seujung kuku darinya. Namun, ia terkesiap melihat penampilan suaminya. Tidak ada lagi jubah sutra megah dengan sulaman naga atau baju zirah perak yang berkilau; yang ada hanyalah pakaian kasar dari serat rami yang kusam, ikat kepala kain kumal, dan corengan jelaga di rahang tegasnya."Xuan?" bisik Liya parau, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. "Kau ... kau sudah akan pergi?""Waktunya tiba, Shishi," jawab Xuan dengan suara rendah. Ia mengelus pipi istrinya dengan jemari yang kasar.Liya segera bangkit, duduk di tepi ranjang sementara jemarinya meraba kain rami yang dikenakan Xuan. Ia memandangi suaminya dari ujung kepala hingga kaki. "Penyamaranmu ... kau terlihat sangat
Liya berdiri mematung di lorong penginapan yang remang, menatap punggung suaminya yang kian menjauh dan menghilang di balik kegelapan tangga. Hatinya seperti diremas melihat kehancuran di mata Xuan. Isak tangis dari dalam kamar memanggilnya kembali; Na Ying sedang meratap, sebuah suara yang sarat akan penyesalan yang terlambat.Liya masuk kembali dan mendapati Na Ying berusaha duduk, tangannya mencengkeram kain seprai. Wajahnya yang pucat kini basah oleh air mata yang tak terbendung."Dia membenciku, Shishi ... Dia benar-benar membenciku," isak Na Ying parau. "Setiap kata yang ia ucapkan ... semuanya benar. Aku adalah seorang pengecut."Liya duduk di tepi ranjang, merangkul bahu wanita yang gemetar itu. "Dia tidak membencimu, Na Ying. Dia hanya sedang terluka. Seluruh dunianya baru saja terbalik. Bayangkan, pria yang dibesarkan untuk menjadi pedang Beiyuan kini mengetahui bahwa selama ini darah yang ia perangi adalah darahnya sendiri.""Tapi aku punya alasan yang kuat!" Na Ying men
Xuan mengembuskan napas panjang dengan kasar, sebuah geraman frustrasi tertahan di tenggorokannya. Untuk kesekian kalinya, ia harus menelan kembali gairah yang sudah di ujung tanduk karena gangguan yang tak terduga. Liya, yang masih berada di pelukan Xuan, menatap wajah suaminya yang nampak kesal dengan binar jenaka. Ia memberikan senyum meledek, menyadari bahwa suaminya sedang berjuang keras menekan hasrat yang masih terjebak di dalam dirinya. "Jangan menertawakanku, Shishi," bisik Xuan parau, matanya masih berkilat gelap. Liya terkekeh kecil, lalu mengecup hidung Xuan. "Aku tidak tertawa, Xuan. Hanya saja ... sepertinya semesta memang sedang menguji kesabaran sang Adipati Beiyuan malam ini." Xuan memejamkan mata sejenak, mencoba menstabilkan degup jantungnya. Ia memberi kode melalui gerakan kepala agar Liya segera bangkit dan memenuhi panggilan Na Ying. Sebelum benar-benar keluar dari bak mandi, Liya sempat mengecup bibir suaminya dengan ringan, sebuah kecupan manis yang seo
Pagi di Paviliun Anggrek terasa lebih sejuk, namun pikiran Song Liya justru membara oleh berbagai teka-teki. Sambil duduk di depan cermin, ia membiarkan Xiao Cui menyisir rambut hitamnya yang panjang. Bayangan tanda lahir daun lotus di paha dalam Long Xuan semalam terus terngiang. Jika pria itu ben
Malam makin merayap di Paviliun Phoenix, namun suasana di dalam kamar Long Xuan masih terperangkap dalam sisa-sisa ketegangan malam yang liar. Song Liya terpaku, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia baru saja menyentuh rahasia terbesar suaminya, tanda lahir daun lotus itu, ketika sebuah gerakan t
Pagi itu, denting sumpit yang beradu dengan porselen menjadi satu-satunya melodi yang mengisi ruang makan kediaman Keluarga Long. Long Xuan duduk dengan punggung tegak, wajahnya sedingin marmer, tak sekalipun melirik ke arah istrinya. Begitu suapan terakhir selesai, ia langsung berdiri tanpa sepata
Kereta kuda yang membawa Song Liya kembali ke Kediaman Long berguncang pelan di atas jalanan berbatu. Di dalamnya, suasana terasa mencekam, bukan karena ancaman luar, melainkan karena rencana yang sedang disusun Liya di dalam kepalanya. Di depannya, Lu Chen duduk dengan posisi siaga, pengawal setia







