Mag-log inHutan itu begitu lebat, menyerupai labirin hijau yang menyesakkan. Long Xuan melangkah di atas dedaunan kering, namun telapak kakinya tak mengeluarkan suara sedikit pun. Semuanya terasa ganjil. Cahaya matahari nyaris tak mampu menembus tajuk pohon yang rapat, menyisakan keremangan yang mencekam. Tiba-tiba, sebuah suara memecah kesunyian: tangisan bayi yang menyayat hati.Telinganya yang terlatih segera menangkap arah suara itu—di balik semak belukar yang rimbun di dekat sebuah pohon raksasa. Xuan mendekat dengan langkah tanpa suara, namun gerakannya terhenti seketika. Di sana, ia melihat seorang wanita bersimpuh, mendekap erat bayi yang masih memerah di dadanya.Isak tangis sang ibu terdengar jauh lebih memilukan daripada tangis bayinya sendiri."Nak, maafkan ibu. Ibu bukanlah ibu yang baik," bisik wanita itu, air matanya jatuh membasahi bedung sang bayi. "Ibu tidak tega melihatmu tumbuh besar dengan penyakit yang kuturunkan ini. Andai ayahmu masih ada, aku mungkin akan lebih kuat
Gema derap kaki kuda membelah kesunyian lembah berbatu di barat Dan Xue. Long Xuan memacu tunggangannya layaknya kesetanan, mengabaikan kerikil yang beterbangan serta embusan angin gunung yang menusuk tulang. Di belakangnya, pasukan Beiyuan mengekor dalam formasi rapat, namun pikiran Xuan telah jauh melesat melampaui garis depan."SHISHI! MURONG SHI!" teriak Xuan dengan suara parau yang memantul pada dinding-dinding tebing terjal.Setiap pantulan suaranya terasa bagai ejekan takdir. Ia baru saja menyaksikan nyawa Na Ying melayang, wanita yang di detik terakhir ia akui sebagai ibu. Kini, ketakutan kehilangan Liya—wanita yang menjadi poros dunianya—membuatnya nyaris gila."Tuan Adipati! Di sana!" seru salah seorang prajurit sembari menunjuk ke ujung ceruk tebing.Xuan melompat turun bahkan sebelum kudanya benar-benar berhenti. Matanya yang memerah menyisir tanah. Jejak tapak kuda berakhir tepat di bibir jurang curam. Di bawah sana, sungai deras bergemuruh, memuntahkan uap dingin yan
Debu jalanan masih berterbangan saat deru kaki kuda pasukan Beiyuan berhenti mendadak di depan penginapan. Long Xuan melompat turun dari kudanya dengan tergesa. Jantungnya bertalu hebat, seirama dengan firasat buruk yang kini terbukti di depan mata.Pemandangan di depannya adalah neraka yang membeku; keheningan yang mencekam menyelimuti halaman yang kini dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan dengan luka sabetan yang mengerikan. Aroma amis darah menyeruak, memenuhi udara malam yang dingin."Shishi! Na Ying!" teriak Xuan, suaranya pecah membelah kesunyian.Langkahnya menerjang masuk ke dalam lobi yang hancur berantakan. Kursi dan meja kayu hancur berkeping-keping, guci porselen pecah berserakan di lantai yang kini licin oleh cairan merah. Ia mengabaikan mayat-mayat penyerbu yang tewas di tangan Na Ying. Matanya liar menyisir setiap sudut, jantungnya berdegup kencang oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya."Cari Nyonya Adipati! Geledah setiap jengkal tempat ini! Ja
Kegelapan seketika menyergap kamar penginapan itu saat Na Ying menjentikkan kepingan logam kecil dari sakunya, memadamkan sisa lilin yang menyala dengan presisi maut. Di bawah cahaya rembulan yang tipis, Liya bisa menyaksikan gerak-gerik mertuanya yang begitu taktis dan efisien. "Shishi, lekas!" bisik Na Ying rendah, napasnya sedikit tertahan guna meredam perih yang menghunjam punggungnya. Dengan ketangkasan yang lahir dari desakan rasa takut, Liya membantu Na Ying menyusun bantal-bantal di balik selimut sutra. Dalam keremangan, gundukan itu tampak identik dengan dua insan yang tengah terlelap. Begitu umpan terpasang, Na Ying mencengkeram lengan Liya, menariknya mendekati ambang pintu kamar. BRAAAK!!! Tepat saat daun pintu terkatup rapat di belakang mereka, suara jendela kamar didobrak dari luar terdengar memekakkan telinga. Derap langkah kaki yang berat menghujam lantai kayu, disusul desingan tajam mata pedang yang menghujam bantal-bantal kosong di atas ranjang. "Mereka sud
Cahaya fajar perlahan melalui celah jendela kayu, menyentuh permukaan kulit Liya yang halus. Kesadarannya terjaga saat merasakan hembusan napas hangat yang teratur menyapu keningnya, diikuti sebuah kecupan lembut yang mendarat lama di bibirnya. Liya membuka mata, mendapati wajah Long Xuan hanya berjarak seujung kuku darinya. Namun, ia terkesiap melihat penampilan suaminya. Tidak ada lagi jubah sutra megah dengan sulaman naga atau baju zirah perak yang berkilau; yang ada hanyalah pakaian kasar dari serat rami yang kusam, ikat kepala kain kumal, dan corengan jelaga di rahang tegasnya."Xuan?" bisik Liya parau, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. "Kau ... kau sudah akan pergi?""Waktunya tiba, Shishi," jawab Xuan dengan suara rendah. Ia mengelus pipi istrinya dengan jemari yang kasar.Liya segera bangkit, duduk di tepi ranjang sementara jemarinya meraba kain rami yang dikenakan Xuan. Ia memandangi suaminya dari ujung kepala hingga kaki. "Penyamaranmu ... kau terlihat sangat
Liya berdiri mematung di lorong penginapan yang remang, menatap punggung suaminya yang kian menjauh dan menghilang di balik kegelapan tangga. Hatinya seperti diremas melihat kehancuran di mata Xuan. Isak tangis dari dalam kamar memanggilnya kembali; Na Ying sedang meratap, sebuah suara yang sarat akan penyesalan yang terlambat.Liya masuk kembali dan mendapati Na Ying berusaha duduk, tangannya mencengkeram kain seprai. Wajahnya yang pucat kini basah oleh air mata yang tak terbendung."Dia membenciku, Shishi ... Dia benar-benar membenciku," isak Na Ying parau. "Setiap kata yang ia ucapkan ... semuanya benar. Aku adalah seorang pengecut."Liya duduk di tepi ranjang, merangkul bahu wanita yang gemetar itu. "Dia tidak membencimu, Na Ying. Dia hanya sedang terluka. Seluruh dunianya baru saja terbalik. Bayangkan, pria yang dibesarkan untuk menjadi pedang Beiyuan kini mengetahui bahwa selama ini darah yang ia perangi adalah darahnya sendiri.""Tapi aku punya alasan yang kuat!" Na Ying men
Mendengar suara kecil Long Yuan yang bergetar, pertahanan Long Xuan runtuh seketika. Amarah yang sedari tadi membakar dadanya padam oleh embun ketulusan dari keponakannya. Ia melihat binar harapan yang begitu murni di mata bocah itu, binar yang tak sanggup ia padamkan dengan segala kekalutan ego ma
Kerasnya suara pintu Paviliun Anggrek yang ditutup masih menyisakan getaran di udara pagi yang dingin saat Long Xuan melangkah pergi dengan napas memburu. Di balik pilar selasar yang diselimuti kabut tipis, Lin Yuexin berdiri mematung, menyaksikan drama itu dengan senyum yang tersembunyi di balik s
Cahaya mentari senja yang jingga keemasan menerobos masuk melalui celah tirai sutra, menyinari wajah Long Yuan yang tampak jauh lebih tenang. Bocah itu duduk merapat, menggenggam jemari Liya dengan posesif. "Bibi," panggil Long Yuan lirih. Suaranya memecah keheningan yang sejak tadi membeku di an
Begitu selesai mengantarkan Long Yuan ke akademi Shin Yue, Liya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia butuh ruang untuk bernapas, sebuah tempat di mana statusnya sebagai istri yang terabaikan tidak lagi relevan. Dengan suara tegas, ia memerintahkan kusir untuk memacu kereta menuju pasar dist







