Share

Bab 3

Author: Amellia
Hujan berderai di jendela mobil. Yudha menggedor pintu mobil. Suaranya terdengar menembus hujan. "Windy! Dengar dulu penjelasanku!"

Windy duduk di kursi pengemudi. Jari-jarinya mengetuk setir dengan pelan. Melihat sosok kedua orang yang menyedihkan di luar, dia tiba-tiba merasa agak geli. Dia perlahan-lahan menurunkan jendela dan langsung mendengar Yudha bertanya, "Kapan kamu sampai di sini?"

"Baru saja," jawab Windy sambil tersenyum sinis.

Ekspresi Yudha langsung berubah. Dia buru-buru menjelaskan, "Ini anak tetangga yang kumaksud sebelumnya! Listrik rumahnya tiba-tiba padam hari ini, makanya aku datang untuk mengecek!"

Windy tidak ingin mendengar lebih banyak lagi dan menekan tombol menutup jendela.

"Kakak!" Nadia tiba-tiba berlari mendekat dan mengadang di depan mobil. Hujan membasahi gaun putihnya hingga gaun itu menempel di tubuhnya. Dia terlihat menyedihkan. "Ini semua salahku! Kami benar-benar nggak melakukan apa-apa. Tolong jangan marah pada Kak Yudha!"

Windy mengerutkan kening, lalu menyalakan mesin mobil, dan memutar kemudi untuk memutar melewati Nadia.

"Brak!"

Dengan suara gedebuk teredam, Nadia tiba-tiba menerjang ke bagian depan mobil, lalu melangkah mundur dengan terhuyung-huyung dan jatuh ke atas aspal yang basah.

Windy segera menginjak rem. Jantungnya hampir berhenti berdetak.

"Nadia!" Yudha bergegas menghampiri Nadia dan memapahnya. Dia menoleh ke arah Windy dengan mata penuh amarah.

"Aku baik-baik saja," Nadia menggeleng dengan lemah. Wajahnya terlihat pucat. "Yudha, cepat pergi hibur Kakak."

"Aku sudah menghiburnya selama bertahun-tahun!" Yudha tiba-tiba meraung, "Di matanya, aku nggak ada bedanya sama seekor anjing! Sekarang, kamu sudah seperti ini, tapi masih memikirkannya? Kenapa kamu bisa begitu baik!"

Windy pun duduk membeku di kursi pengemudi. Jari-jarinya tanpa sadar mengepal. Dia belum pernah mendengar Yudha berbicara dengan nada seperti itu sebelumnya. Tajam dan penuh kebencian, seolah-olah topengnya akhirnya tersingkap.

"Dia sendiri yang tabrak mobilku," ucap Windy setelah terdiam beberapa saat.

"Cukup!" Yudha menyela, "Sudah cukup kamu salah paham padaku. Sekarang, kamu masih mau memfitnahnya? Apa kamu tahu dia lagi hamil?"

Setiap kata itu terasa seperti pisau yang menusuk jantung Windy.

"Apa itu anakmu?" tanya Windy.

Ekspresi Yudha tiba-tiba membeku, seolah-olah akhirnya menyadari apa yang telah dia katakan. Bibirnya bergerak sedikit. "Windy, jangan asal bicara."

"Ah!" Nadia tiba-tiba berteriak kesakitan dan jatuh dengan lemas.

"Nadia!" Yudha pun panik. Dia membuka pintu mobil dengan kasar. "Pinjamkan mobilnya padaku! Aku harus membawanya ke rumah sakit!"

Windy berpindah ke kursi penumpang depan. Dia memperhatikan jari-jari Yudha yang gemetar saat mencengkeram setir. Di kursi belakang, Nadia terbaring tak sadarkan diri, tetapi bulu matanya bergerak beberapa kali.

"Kamu begitu khawatir sama dia? Apa anak itu benar-benar anakmu?" tanya Windy pelan.

Yudha menginjak pedal gas dan menjawab dengan suara tegang, "Ini masalah hidup dan mati, bisa nggak kamu berhenti membuat keributan di saat seperti ini?"

Windy menoleh ke luar jendela. Dia sangat mengenal jalan ini. Tiga bulan lalu, ketika dia menderita radang lambung dan usus akut, Yudha juga mengantarnya ke rumah sakit dengan melaju cepat di jalan ini. Hari itu, dia sangat cemas hingga tidak menyadari sepatunya terbalik. Dia terus bergumam, "Windy, jangan takut."

"Yudha, kamu benar-benar hebat," ucap Windy dengan lelah sambil bersandar di jendela mobil.

Yudha membunyikan klakson dengan kuat dan menyalip mobil lain. "Kita bicarakan lagi semuanya setelah pulang nanti!"

Begitu mobil berhenti di rumah sakit, Yudha langsung turun, lalu menggendong Nadia dan berlari masuk. Windy berdiri diam di samping sambil memperhatikan tampang Yudha yang terlihat panik. Rasanya persis seperti saat dia demam tinggi bertahun-tahun lalu, Yudha juga menggendongnya sambil berlari panik seperti ini.

"Minggir!" seru Yudha. Sikunya menyenggol bahu Windy.

Windy yang lengah pun jatuh ke atas aspal yang basah. Telapak tangannya tergores permukaan yang kasar. Saat mendongak, dia hanya melihat Yudha menggendong Nadia menghilang di ruang gawat darurat.

Seorang perawat bergegas memapah Windy, "Bu, kamu baik-baik saja?"

Windy menggeleng dan menggunakan dinding sebagai penopang untuk berdiri. Lututnya terasa sangat sakit, tetapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lubang menganga di hatinya.

Dari dalam ruang gawat darurat, terdengar suara Yudha yang bertanya panik, "Dokter! Gimana keadaannya? Apa bayinya baik-baik saja?"

Ketika perawat menyodorkan tisu, Windy baru menyadari dirinya sedang menangis. Dia mengambil tisu itu, tetapi tidak bisa menghapus air mata yang terus mengalir.

Ternyata, ketika hati sudah mati, tubuh masih bisa merasa sakit.

Pintu ruang gawat darurat terbuka. Yudha bergegas keluar dan membeku saat melihat Windy. Dia membuka mulutnya dan pandangannya tertuju pada telapak tangan Windy yang berdarah. "Pulanglah dulu, aku akan menjelaskannya nanti."

Windy mengangguk tanpa suara, lalu menoleh. Namun, dunia sekelilingnya terasa berputar dan dia langsung ambruk.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 28

    Kabar kehamilan Windy diketahui pada suatu sore yang cerah.Axel memegang hasil tes dengan jari-jari yang agak gemetar. Suaranya yang biasanya tenang kini juga terdengar bergetar. "Se ... serius?"Dokter tersenyum dan mengangguk. "Selamat, istrimu sudah hamil enam minggu."Axel tiba-tiba berbalik, lalu mengangkat Windy dan memutarnya. Setelah tiba-tiba teringat sesuatu, dia menurunkan Windy secara perlahan dan dengan panik menyentuh perut Windy yang masih rata. "Apa aku akan melukai bayinya? Aku meremasmu terlalu kuat."Windy tertawa, lalu mencubit wajah Axel yang tegang, "Mana mungkin bayinya serapuh itu."Namun, Axel masih sangat gugup. Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, dia memperlambat laju kendaraan menjadi 40 km/jam. Setiap kali bertemu polisi tidur, dia bahkan ingin keluar dan meratakan jalan.Sesampainya di rumah, Axel segera mengeluarkan buku catatan dan mulai membuat daftar. Dia menulis tentang nutrisi kehamilan, jadwal pemeriksaan rutin, hal yang harus diperhatikan wa

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 27

    Pada hari pernikahan mereka, Windy yang mengenakan gaun pengantin putih bersih berdiri di ujung karpet merah. Dia menggandeng lengan Irfan sambil tersenyum lembut.Mata Irfan memerah. Tangannya yang menggenggam tangan putrinya sedikit gemetar. Dia menarik napas dalam-dalam dan berbisik, "Windy, keinginan terbesarku dalam hidup ini adalah melihatmu bahagia." Windy pun merasa ingin menangis. Dia dengan lembut membalas genggaman tangan Irfan. "Ayah, aku sangat bahagia sekarang."Irfan mengangguk, lalu menahan air mata dan menuntun Windy berjalan selangkah demi selangkah ke arah Axel yang berdiri di ujung karpet merah.Axel mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Dia menatap Windy dengan mata membara dan penuh cinta yang tak tersembunyi. Ketika Windy akhirnya berdiri di hadapannya, dia menelan ludah dan berkata dengan suara agak serak, "Windy, aku sudah menunggu hari ini begitu lama."Pendeta tersenyum dan memberi isyarat agar mereka bertukar sumpah. Axel menarik napas dalam-dalam dan men

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 26

    Windy berdiri di depan jendela. Axel memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya dengan lembut di atas kepalanya."Lagi mikir apa?" Napas hangat Axel menyapu telinga Windy.Windy bersandar ke pelukannya dan tanpa sadar tersenyum. "Aku lagi mikir soal pertemuan kita waktu itu dan kamu masukkan katak ke dalam tasku."Axel terkekeh dan Windy dapat merasakan getaran dadanya. "Kamu tahu nggak? Habis kamu dorong aku ke air mancur, aku mimpi buruk selama tiga hari berturut-turut!"Tawa dan percakapan riang terdengar dari lantai bawah. Irfan dan Rayyan sedang bermain catur di taman, sedangkan ibunya Axel dan koki Keluarga Lorandi sedang mendiskusikan menu untuk resepsi pernikahan.Sejak Windy dan Axel resmi berpacaran, kedua keluarga berkumpul hampir setiap minggu."Windy, ayo cicipi ini." Linda, ibunya Axel berjalan mendekat dengan membawa sepiring kue. "Aku sudah modifikasi kue osmanthus ini sesuai seleramu. Gulanya dikurangi jadi setengah saja." Windy menggigitnya. Aroma manis dan se

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 25

    Yudha berdiri di luar vila Keluarga Lorandi dan menggenggam erat tas edisi terbatas yang mahal itu. Manset jasnya sudah usang, sedangkan sepatunya kehilangan kilaunya. Namun, matanya terlihat penuh tekad."Windy!" Ketika melihat Windy keluar, Yudha segera menghampirinya. "Lihat, ini tas yang kamu suka. Aku sudah membelinya."Hari ini, Windy mengenakan setelan berwarna krem ​​dan rambutnya diikat dengan asal. Penampilannya terlihat santai sekaligus berkelas. Dia melirik tas di tangan Yudha dan tersenyum tipis."Oh?" Windy mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Di bawah tatapan penuh harap Yudha, dia tiba-tiba melepaskannya. Dengan bunyi "gedebuk", tas itu jatuh ke lantai.Windy mengangkat kakinya, lalu menginjak dan menggesek tas itu dengan sepatu hak tingginya tanpa menunjukkan belas kasihan."Kamu!" Mata Yudha melebar. Dia menyaksikan hal ini dengan tidak percaya."Apa yang kusuka kemarin sudah nggak kusuka hari ini," ucap Windy dengan santai. Matanya terlihat dingin, seolah-olah seda

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 24 

    Windy berbaring malas dalam pelukan Axel. Jari-jarinya bermain-main dengan kancing kemeja Axel.Sinar matahari masuk melalui jendela. Axel sedang mengupas anggur untuk Windy. Jari-jarinya yang panjang bergerak dengan cekatan. Daging buah yang berkilauan pun jatuh sempurna ke dalam mangkuk buah."Axel, aku pengen makan macaron dari toko di timur kota itu," kata Windy dengan manja. Axel segera meletakkan anggur dan mengambil ponselnya. "Aku akan suruh orang untuk membelinya sekarang juga." Windy menyipitkan mata dengan puas. Perasaan dimanja sangat menyenangkan. Baru saja dia mendekat dan hendak mencium Axel, tiba-tiba terdengar teriakan melengking dari luar jendela."Windy! Aku akan tunjukkan tekadku!"Yudha berdiri di luar gerbang vila Keluarga Lorandi. Dia masih mengenakan jubah rumah sakit. Luka cambukan di punggungnya membuatnya tidak dapat berdiri tegak, tetapi matanya terlihat penuh tekad.Windy mengerutkan kening dengan kesal. "Dia datang lagi ...."Axel menepuk-nepuk tangan Wi

  • Menulis Surat Perpisahan di Malam yang Hening   Bab 23

    Yudha perlahan-lahan membuka matanya di tengah bau disinfektan. Rasa sakit yang membakar di punggungnya membuatnya meringis. "Hk."Sinar matahari menerobos tirai dan menciptakan bayangan berbintik di ranjang pasien. Yudha masih terhanyut dalam mimpi yang baru saja dibuatnya. Dalam mimpi itu, dia tidak mengkhianati Windy. Mereka hidup bahagia bersama dan memiliki anak kembar yang menggemaskan.Dalam mimpi, senyum lembut Windy terasa begitu nyata. Yudha bahkan masih bisa mengingat aroma melati dari rambutnya. Sebelum senyum itu memudar, kenyataan menghantamnya seperti tersiram air dingin.Kamar rawat inap ini kosong, hanya terdengar suara peralatan medis yang teratur. Tidak ada rumah hangat dari mimpinya, apalagi istri yang menyelimutinya."Heh." Yudha menertawakan dirinya sendiri. Bekas cambukan di punggungnya berdenyut kesakitan setiap kali dia bergerak. Namun, rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penyesalan di hatinya.Yudha teringat tatapan dingin Windy hari itu, j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status