Home / Rumah Tangga / Menyala Istri Sah! / Bab 62. Mencari Ketenangan. 

Share

Bab 62. Mencari Ketenangan. 

Author: Ucing Ucay
last update Last Updated: 2026-02-11 09:09:27

Pagi itu, sinar matahari menembus tirai kamar Nayara dengan lembut. Namun, sinar hangat itu sama sekali tidak mampu menembus dingin yang menyelimuti hatinya. Malam sebelumnya masih segar dalam ingatan—suara Arga yang meninggi, tuduhan yang dilemparkan, dan tatapan penuh amarah yang terasa menusuk lebih dalam daripada pisau.

Nayara membuka mata dengan berat, lalu mengusap wajahnya. Ia memaksakan diri bangun, karena tahu dua anaknya harus segera bersiap sekolah. Shaila masih terlelap, pipinya kem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menyala Istri Sah!    Bab 101. Alasan Mahesa 

    Cahaya lampu malam menembus jendela kaca restoran kecil di pusat kota, menimpa wajah Indira yang menegang di balik kemudi mobilnya. Tangannya memegang erat ponsel dengan kamera menyala, merekam dari kejauhan sosok suaminya—Mahesa—yang duduk di meja pojok bersama seorang wanita yang tak asing lagi: Shanaya.Indira menggigit bibir bawahnya sampai hampir berdarah. Dada yang sesak itu berubah menjadi bara. Ia tak tahu harus marah dulu atau tertawa pada kebodohannya sendiri. Setelah semua gosip yang beredar tentang wanita itu—Shanaya si perusak rumah tangga orang—sekarang ia benar-benar melihat Mahesa duduk bersama wanita itu.Mereka tampak serius berbicara. Sesekali Shanaya menyentuh tangan Mahesa dengan ekspresi memelas. Mahesa menunduk, tampak bicara dengan nada pelan. Bagi Indira, pemandangan itu sudah cukup menghancurkan.“Aku tahu ada yang nggak beres,” gumamnya lirih. “Kamu pikir aku nggak bisa baca tanda-tanda, Mahesa?”Begitu Mahesa berdiri, Indira dengan cepat menunduk, pura-pura

  • Menyala Istri Sah!    Bab 100. Bersabar Sebentar Lagi. 

    Hujan belum reda ketika Arga kembali menatap dua kertas di meja: satu surat rumah sakit dengan hasil kehamilan Shanaya, satu lagi surat gugatan cerai dari Nayara. Ia menatap keduanya lama, lalu tanpa berpikir panjang, tangannya meraih surat gugatan itu. Dalam hitungan detik, kertas itu robek di tangannya—robek dengan suara tajam yang memecah sunyi ruang tamu.Potongan kertas itu jatuh berserakan di lantai.Arga menunduk, dadanya naik turun cepat. Napasnya berat, matanya gelap oleh tekad yang terlalu keras.“Aku tidak akan menceraikanmu, Nayara,” gumamnya lirih namun pasti. “Sekalipun kamu membenciku ... aku tidak akan biarkan semuanya berakhir begini.”Langkah lembut terdengar di tangga. Nayara muncul dengan wajah yang masih basah air mata. Ia menatap Arga yang kini berdiri dengan tangan gemetar, di antara serpihan surat cerainya sendiri.“Mas ....” Suaranya pelan, tapi sarat luka. “Kamu baru saja merobek hakku untuk berhenti terluka.”Arga menatapnya lama. “Aku tahu kamu benci aku se

  • Menyala Istri Sah!    Bab 99. Test DNA Rahim

    Suasana ruang tamu masih beraroma tegang ketika suara pintu tertutup keras membelah udara. Shanaya menatap Arga dengan mata berkilat, tapi sorot itu tak lagi lembut seperti dulu. Ia berdiri tegak di hadapan pria yang dulu selalu melindunginya, kini berubah menjadi sosok dingin dan asing.“Aku hanya datang karena kamu tidak memberi kabar, Arga,” ucap Shanaya dengan nada yang dibuat sehalus mungkin. “Tiga hari aku menunggu. Katamu, kamu akan menemuiku setelah urusan kantor selesai. Tapi sampai hari ini, tidak satu pesan pun kamu kirim. Jadi, aku pikir … mungkin kamu memang tak berniat menemuiku.”Arga menarik napas berat, menahan amarah yang sudah sampai di ujung tenggorokan. “Dan karena itu kamu merasa pantas datang ke rumahku? Rumah yang kamu tahu masih ada istriku di dalamnya?”Nada suaranya tegas, dingin, tapi matanya menyimpan kekecewaan yang dalam. Shanaya tersenyum samar, menatap ke arah tangga di mana Nayara berdiri diam, tubuhnya kaku seperti patung.“Justru karena itu aku data

  • Menyala Istri Sah!    Bab 98. Dua Surat

    Dua hari sejak kepergian Arga ke Surabaya, rumah terasa terlalu tenang. Terlalu sunyi hingga suara detik jam di ruang makan terdengar jelas setiap kali Nayara melintas. Anak-anak selalu menanyakan kapan Ayah mereka pulang, dan mereka dibantu dijaga oleh Mbok Darmi. Tapi sekalipun rumah itu tidak benar-benar kosong, heningnya tetap menekan dada Nayara setiap kali malam tiba.Sejak pagi, ia berusaha sibuk. Menyapu, mencuci, memasak sesuatu yang bahkan tidak disentuh siapa pun. Mbok Darmi berkali-kali memintanya duduk, istirahat, tapi Nayara menolak halus.“Kalau diam, rasanya makin sesak, Mbok,” katanya pelan, sambil menata piring yang seharusnya tak perlu dipindahkan lagi.Mbok Darmi menghela napas, menatap nyonya mudanya itu dengan iba. “Bu, kalau memang kepikiran Pak Arga, jangan disimpan terus di dada. Kadang marah itu juga perlu keluar, biar nggak bikin sakit.”Nayara tersenyum, tapi pahit. “Saya sudah terlalu banyak marah, Mbok. Sekarang malah capek sendiri.”Anak-anak berlarian d

  • Menyala Istri Sah!    Bab 97. Mengurus Surat

    Ia menarik napas dalam-dalam, bangkit dari tempat tidur, dan berjalan ke cermin.Wajahnya tampak tenang, tapi di balik mata itu ada retakan halus yang tak lagi bisa disembunyikan.“Kalau aku terus di sini, aku cuma nyakitin diri sendiri,” bisiknya pelan.Kantor pengacara itu terletak di lantai dua sebuah ruko sederhana di Jalan Haryono. Tidak terlalu besar, tapi reputasinya baik — tempat orang-orang datang diam-diam ketika rumah tangga mereka mulai retak.Nayara mengenakan blouse krem dan celana panjang hitam, rambut diikat rapi. Tidak ingin menarik perhatian siapa pun. Ia duduk di ruang tunggu dengan jantung berdebar, sementara suara printer dan percakapan pelan terdengar dari ruangan lain.“Bu Nayara?” panggil resepsionis. “Silakan masuk, Pak Rian sudah menunggu.”Langkahnya pelan saat ia masuk ke ruang kerja pengacara itu. Rian, pria muda berusia awal empat puluhan, berdiri menyambutnya dengan sopan.“Silakan duduk, Bu Nayara. Saya sudah menerima pesan Anda kemarin. Ibu ingin mengu

  • Menyala Istri Sah!    Bab 96. Dilema Arga

    Hujan masih turun deras malam itu. Wiper mobil Arga bergerak cepat, menyapu air yang terus menetes di kaca depan, tapi pandangannya tetap buram—bukan karena hujan, melainkan karena pikirannya yang berantakan.Sejak ia melihat Shanaya bersama Mahesa di mobil tadi, otaknya seperti dipenuhi gema yang tak berhenti menggema:Apa mungkin anak itu bukan milikku?Tangannya mengepal di setir, sendi-sendi jarinya memutih. Napasnya pendek, seperti menahan amarah yang berusaha menembus kulitnya.Ia memperlambat laju mobil, tapi pikirannya justru melaju lebih cepat dari kecepatan apa pun.Semua hal yang sempat ia abaikan kini kembali satu per satu.Ucapan Shanaya yang sering berubah.Reaksi Mahesa yang selalu tampak terlalu tahu.Dan cara Mahesa menyarankan agar ia “bertanggung jawab” pada Shanaya, seolah sudah tahu segalanya lebih dulu.“Bisa jadi … dari awal mereka memang mainin aku,” gumamnya lirih.Tapi begitu kata-kata itu keluar, dada Arga justru semakin sesak. Ia menggigit bibir bawahnya, m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status