공유

Bab 2

작가: Nani
Armando seketika terdiam, membuka mulutnya, tetapi tetap tidak mampu mengatakan apa pun.

Seluruh pejabat tinggi dan keluarga yang hadir pun terpaku, sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.

Di tengah suasana yang membeku, tangisan bayi tiba-tiba terdengar, membuat para hadirin tersentak.

Flora segera menggendong bayi itu untuk menenangkannya, lalu di detik berikutnya segera memarahiku,

"Thalia! Kamu wanita gila, sudah cerai masih berani datang mengganggu anakku! Kalau masih tahu diri cepat pergi. Kalau nggak, sampai pejabat besar di sini tersinggung, kamu bisa masuk penjara!"

Istri wakil kepala polisi itu pun segera membentak dengan keras.

"Bagaimanapun juga, walau kamu mantan istri Pak Armando, kamu nggak boleh memukul orang di depan umum. Kalau dianggap serius, ini sudah termasuk menyerang polisi!"

Begitu mengetahui identitasku, suasana aula segera ricuh, orang-orang berteriak ingin memasukkanku ke penjara untuk diberi pelajaran.

Aku malah mengerutkan kening, mencengkeram kerah Armando dan hendak bertanya, bagaimana mungkin aku yang istri sah malah berubah menjadi mantan istri.

Namun Mirabel justru lebih dulu menyusut ke pelukan Armando, menatapku dengan mata berkaca-kaca.

"Kak Thalia ... Mando sudah bercerai denganmu, kenapa kamu masih ingin mengganggu kami ...."

Air matanya mengalir tanpa henti. "Ini semua salahku, aku akan mengembalikan Mando kepadamu, bagaimana ...."

Begitu wanita itu berbicara, wajah Armando segera berubah, menahan amarah dan memarahiku,

"Thalia! Sudah kubilang aku nggak akan kembali padamu! Jangan datang mengganggu kami lagi!"

"Selagi kesabaranku masih ada, enyah dari sini! Aku nggak punya waktu untuk berurusan denganmu!"

Sambil berkata demikian, Armando memberi isyarat, beberapa polisi segera maju hendak menyeretku pergi secara paksa.

Ketika meronta, aku tersandung dan menabrak Flora.

Namun saat sekilas melihat wajah bayi dalam pelukannya, seluruh tubuhku seperti disambar petir!

Karena bayi yang dipeluk Flora, yang disebut sebagai anak Mirabel, justru adalah anak pertamaku yang lahir setelah tujuh jam kesakitan, Terry!

Padahal anakku, jelas sudah meninggal tiga bulan lalu, bahkan dikremasi sendiri oleh Armando ....

Armando ... napasku tercekat, rasa sakit yang hebat bergejolak di mataku.

Berengsek Armando! Dia bahkan memalsukan kematian anakku untuk menipuku, hanya demi menyerahkannya kepada Mirabel untuk diasuh!

"Kembalikan anakku! Dia adalah Terryku!"

Gigi-gigiku bergemeretak. Aku merebut bayi itu, menabrak Flora, lalu menenangkan bayi yang menangis. Hatiku terasa hancur hingga air mata mengalir deras.

Namun Mirabel tiba-tiba panik, menangis sambil berlari hendak merebut bayi itu.

Suaranya tersendat gemetar,

"Thalia, dia bukan anakmu!"

"Aku tahu setelah Terry meninggal, kamu terpukul sampai kehilangan kendali. Bahkan setelah cerai pun, kamu masih memaksa Mando untuk punya anak lagi ...."

"Karena kasihan kamu yang telah kehilangan anak, aku selalu mengalah. Walau begitu, kamu nggak boleh merebut anakku!"

"Tolong lepaskan kami ... aku bisa bercerai dengan Mando, kumohon kembalikan anak itu padaku!"

Mendengar itu, ekspresi wajah Armando tampak tersakiti, dia mencengkeram bahu Mirabel dan menghentikannya,

"Mirabel, aku nggak mengizinkan!"

"Jangan pernah kamu pikirkan untuk bercerai, nggak ada yang boleh memisahkan keluarga kita bertiga."

"Lalu, aku bagaimana?" Aku berteriak menyelanya.

Melihat mereka berdua saling mengungkapkan perasaan dengan enggan berpisah, aku menunjuk perut besarku, menatap Armando dan berkata dengan tegas,

"Armando, di dalam perutku masih ada anakmu, di depan mataku kamu berselingkuh, bahkan menjadikanku mantan istri, kamu nggak merasa menjijikkan?"

Jakun Armando bergerak, tatapannya menghindar dariku.

Air mata Mirabel justru mengalir lebih deras, seolah sangat teraniaya. Dia lalu berpaling kepada para tamu dan menangis menjelaskan,

"Maaf semuanya, Kak Thalia adalah mantan istri Mando, setelah kehilangan anak karena sulit melahirkan, dia jadi nggak waras."

"Lalu terus memaksa Mando punya anak lagi. Setelah ditolak, dia mencari banyak preman untuk meminjam ... benih ...."

"Mando karena masih mengingat hubungan lama, jadi sering memperhatikannya. Siapa sangka dia malah memaksa Mando mengakui anak haram itu, bahkan ... bahkan memaksa kami bercerai ...."

Ucapan itu segera menyulut kemarahan semua hadirin di tempat.

Para wanita bangsawan segera mencibir dan berteriak,

"Gila dan pelacur, semua dia borong! Pelayan! Cepat usir wanita kasar ini!"

Sambil menenangkan bayi dalam pelukanku, aku mendengus dingin, sampai tertawa sinis.

Menatap Mirabel, tatapanku membeku bagai es.

"Siapa yang jadi pelacur tapi masih ingin berpura-pura suci, Mirabel, kamu sendiri apa nggak tahu? Perlu aku ingatkan, berapa harga satu mililiter darahmu?"

"Yang sudah menerima enam puluh miliar dariku, lalu berlutut di depanku meminta pekerjaan tetap, bukankah itu kamu?"

Wajah Mirabel makin pucat seiring kata-kataku, tetapi aku tidak berhenti.

"Kenapa, merasa uang dari Armando nggak cukup? Sekarang malah datang menghancurkan hidupku?"

"Kamu selingkuhan tapi memaksa jadi istri sah, nggak tahu malu?"

Belum selesai aku bicara, tetapi dalam keadaan hamil, aku tiba-tiba didorong hingga terhuyung.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 8

    Keinginan kami pun akhirnya terkabul. Setengah bulan kemudian, kakakku benar-benar menemukan anakku yang diculik di sebuah desa nelayan terpencil.Hasil perbandingan DNA menunjukkan 99% bahwa dia adalah anak kandungku yang memiliki hubungan darah denganku.Aku begitu bersemangat sepanjang malam, menangis hingga mataku membengkak.Aku hanya menunggu Kakak membawa pulang anakku.Namun sialnya, saat baru keluar pintu untuk menyambut anakku, aku kembali melihat Armando di depan gerbang.Penampilannya sangat mengenaskan, tubuhnya kotor, berjanggut tak terurus, tatapannya kosong.Saat melihatku, kilasan emosi rumit muncul di matanya: penyesalan, ketidakrelaan, juga kesedihan.Dia terhuyung-huyung berlari ke arahku. Saat tiba di depanku, dia segera berlutut dengan bunyi "buk".Ayah segera menendangnya menjauh."Armando, aku peringatkan kamu cepat pergi! Jangan ganggu putriku lagi!"Para pengawal di sekitar segera bergerak hendak menyeretnya pergi, tetapi aku menghentikan mereka."Ayah ...."K

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 7

    Namun, melihat rambut putih yang tiba-tiba muncul di pelipis Ayah hanya dalam semalam, aku tidak melanjutkan bertanya apa pun lagi. Mungkin, kehilangan anakku juga adalah hal yang baik.Semua yang berkaitan dengan Armando akhirnya benar-benar terputus dengan tuntas.Hari-hari berikutnya, aku menjalani pemulihan di rumah sakit, Ayah dan Kakak menjagaku dengan sangat ketat.Armando berkali-kali mencoba muncul mencari perhatian, tetapi tidak pernah bisa mendekatiku sedikit pun.Bahkan saat tengah malam dia memanjat jendela, tetapi para pengawal yang khusus disewa Kakak sama sekali tidak berbelas kasihan.Mereka langsung mendorong Armando hingga terjun dari lantai empat.Selama dua bulan masa pemulihan, aku tidak pernah melihat Armando lagi.Hanya saja pada hari aku keluar dari rumah sakit, saat diantar Ayah dan Kakak naik ke mobil,Aku melihat sosok yang berdiri jauh di seberang jalan menatapku. Di bawah topi baseball, Armando sudah kurus hingga berubah bentuk.Berdiri jauh di balik tirai

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 6

    "Pak Victor, bukan seperti yang Anda lihat. Sebenarnya, sifat Thalia yang terlalu manja dan keras kepala. Aku hanya ingin mendidiknya, bukan sengaja menyiksanya. Bahkan kalau Anda nggak datang pun, aku juga akan membawanya ke rumah sakit ....""Putriku apa perlu kamu yang mengajari? Kamu ini makhluk hina macam apa!"Belum sempat Armando selesai berbicara, Ayah kembali menendangnya keras hingga terpental.Namun karena menahan air mata, mata Ayah menjadi merah darah.Menyadari kondisiku makin memburuk, Ayah memberi peringatan terakhir kepada Armando,"Berengsek! Kalau hari ini terjadi apa-apa pada Lia dan anaknya, jangan harap kamu bisa keluar hidup-hidup dari sini!"Ayah menggendongku hendak pergi.Sementara itu, aku mengabaikan suara bisik-bisik di sekitarku, hanya menatap tajam ke arah Flora, Mirabel, serta semua orang yang pernah menyakitiku.Dengan jelas aku berkata, "Tunggulah dan siap-siap menerima hukuman. Semua yang kalian lakukan padaku hari ini, akan kubalas berkali-kali lipat

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 5

    Belum sempat kalimat itu selesai diucapkan, pintu aula tiba-tiba ditendang hingga terbuka. Sekelompok pengawal berbaju jas hitam dengan wajah dingin segera menerobos masuk.Begitu mendengar suara tersebut, ekspresi wajah seluruh hadirin di ruangan menjadi pucat pasi.Mirabel dan Flora juga seketika kaku tak berani bergerak, mereka ingin menoleh.Namun kepala mereka sudah ditodong dengan senjata sehingga tak bisa bergerak.Para pengawal dengan cepat berdiri di depanku. Dalam beberapa gerakan, mereka segera melumpuhkan orang-orang yang mencoba merobek pakaianku.Kepala pengawal yang memimpin itu menatap tajam sekeliling, lalu akhirnya matanya berhenti menyorot ke arah Armando.Wajah Armando seketika berubah muram.Melihat aku yang tergeletak di lantai, dia berteriak marah, "Thalia! Apa yang kamu lakukan? Sudah cukup belum?""Orang-orang ini kamu dapat dari mana lagi?"Tanpa mengatakan sepatah kata pun, aku hanya diam diselimuti dengan jas pengawal. Aku lalu menatap ke arah belakang Arman

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 4

    Melihat kemarahanku yang keluar kata demi kata dari tenggorokan, para pejabat tinggi dan orang berkuasa di kerumunan makin diliputi kecurigaan."Ini ... jangan-jangan Thalia benar-benar istri sah? Kalau begitu yang selingkuh itu Mirabel, oh ... pantas saja pernikahannya nggak diumumkan ....""Lihat cara Armando menatap perutnya dengan perasaan bersalah, jangan-jangan anak itu memang miliknya ...."Suara bisik-bisik di aula makin keras, membuat wajah Armando makin terlihat bersalah.Sementara merasakan detak janin dalam perutku yang makin melemah, aku tidak ingin lagi terlibat dengan mereka, hanya ingin segera pergi dari sini."Armando! Sekarang, kembalikan Terry padaku, segera bawa aku ke rumah sakit. Selama bayi ini nggak apa-apa, aku nggak akan mempermasalahkan kejadian hari ini.""Kita berpisah secara damai ... cerai"Namun sebelum selesai berbicara, Flora melempar gelas ke kepalaku, pecahan kaca segera menggores pipiku.Dia berteriak keras, "Diam! Kata-kata orang gila seperti kamu

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 3

    "Justru kamu pelakor yang merusak keluarga anakku!"Makian tajam Flora terdengar.Punggungku terhantam keras ke dinding, seluruh perutku tiba-tiba terasa terpelintir kesakitan.Bayi di pelukanku juga direbut dariku dan diserahkan ke tangan Mirabel.Tak lama kemudian, para anggota kepolisian juga ikut meradang,"Benar! Seluruh anggota kantor polisi tahu kalau Kak Mando dan Kak Mirabel itu pasangan!""Kalau bukan karena Kak Mirabel yang memberi petunjuk, bagaimana mungkin bisa memecahkan begitu banyak kasus besar, dan kenaikan jabatan Pak Armando bisa secepat itu?""Kamu mantan istri nggak berguna, cuma bisa jadi beban bagi Kak Mando, justru kamulah yang seharusnya malu!"Memberi petunjuk? Memecahkan kasus? Naik jabatan?Bukankah semua itu justru aku yang membantu Armando mendapatkannya?Bukan hanya merebut identitasku, Armando bahkan ingin menyerahkan semua jasa itu kepada Mirabel, memberinya kehormatan yang cemerlang.Atas dasar apa!"Benar! Sekalipun kamu gila, merusak pernikahan mili

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status