로그인Keinginan kami pun akhirnya terkabul. Setengah bulan kemudian, kakakku benar-benar menemukan anakku yang diculik di sebuah desa nelayan terpencil.Hasil perbandingan DNA menunjukkan 99% bahwa dia adalah anak kandungku yang memiliki hubungan darah denganku.Aku begitu bersemangat sepanjang malam, menangis hingga mataku membengkak.Aku hanya menunggu Kakak membawa pulang anakku.Namun sialnya, saat baru keluar pintu untuk menyambut anakku, aku kembali melihat Armando di depan gerbang.Penampilannya sangat mengenaskan, tubuhnya kotor, berjanggut tak terurus, tatapannya kosong.Saat melihatku, kilasan emosi rumit muncul di matanya: penyesalan, ketidakrelaan, juga kesedihan.Dia terhuyung-huyung berlari ke arahku. Saat tiba di depanku, dia segera berlutut dengan bunyi "buk".Ayah segera menendangnya menjauh."Armando, aku peringatkan kamu cepat pergi! Jangan ganggu putriku lagi!"Para pengawal di sekitar segera bergerak hendak menyeretnya pergi, tetapi aku menghentikan mereka."Ayah ...."K
Namun, melihat rambut putih yang tiba-tiba muncul di pelipis Ayah hanya dalam semalam, aku tidak melanjutkan bertanya apa pun lagi. Mungkin, kehilangan anakku juga adalah hal yang baik.Semua yang berkaitan dengan Armando akhirnya benar-benar terputus dengan tuntas.Hari-hari berikutnya, aku menjalani pemulihan di rumah sakit, Ayah dan Kakak menjagaku dengan sangat ketat.Armando berkali-kali mencoba muncul mencari perhatian, tetapi tidak pernah bisa mendekatiku sedikit pun.Bahkan saat tengah malam dia memanjat jendela, tetapi para pengawal yang khusus disewa Kakak sama sekali tidak berbelas kasihan.Mereka langsung mendorong Armando hingga terjun dari lantai empat.Selama dua bulan masa pemulihan, aku tidak pernah melihat Armando lagi.Hanya saja pada hari aku keluar dari rumah sakit, saat diantar Ayah dan Kakak naik ke mobil,Aku melihat sosok yang berdiri jauh di seberang jalan menatapku. Di bawah topi baseball, Armando sudah kurus hingga berubah bentuk.Berdiri jauh di balik tirai
"Pak Victor, bukan seperti yang Anda lihat. Sebenarnya, sifat Thalia yang terlalu manja dan keras kepala. Aku hanya ingin mendidiknya, bukan sengaja menyiksanya. Bahkan kalau Anda nggak datang pun, aku juga akan membawanya ke rumah sakit ....""Putriku apa perlu kamu yang mengajari? Kamu ini makhluk hina macam apa!"Belum sempat Armando selesai berbicara, Ayah kembali menendangnya keras hingga terpental.Namun karena menahan air mata, mata Ayah menjadi merah darah.Menyadari kondisiku makin memburuk, Ayah memberi peringatan terakhir kepada Armando,"Berengsek! Kalau hari ini terjadi apa-apa pada Lia dan anaknya, jangan harap kamu bisa keluar hidup-hidup dari sini!"Ayah menggendongku hendak pergi.Sementara itu, aku mengabaikan suara bisik-bisik di sekitarku, hanya menatap tajam ke arah Flora, Mirabel, serta semua orang yang pernah menyakitiku.Dengan jelas aku berkata, "Tunggulah dan siap-siap menerima hukuman. Semua yang kalian lakukan padaku hari ini, akan kubalas berkali-kali lipat
Belum sempat kalimat itu selesai diucapkan, pintu aula tiba-tiba ditendang hingga terbuka. Sekelompok pengawal berbaju jas hitam dengan wajah dingin segera menerobos masuk.Begitu mendengar suara tersebut, ekspresi wajah seluruh hadirin di ruangan menjadi pucat pasi.Mirabel dan Flora juga seketika kaku tak berani bergerak, mereka ingin menoleh.Namun kepala mereka sudah ditodong dengan senjata sehingga tak bisa bergerak.Para pengawal dengan cepat berdiri di depanku. Dalam beberapa gerakan, mereka segera melumpuhkan orang-orang yang mencoba merobek pakaianku.Kepala pengawal yang memimpin itu menatap tajam sekeliling, lalu akhirnya matanya berhenti menyorot ke arah Armando.Wajah Armando seketika berubah muram.Melihat aku yang tergeletak di lantai, dia berteriak marah, "Thalia! Apa yang kamu lakukan? Sudah cukup belum?""Orang-orang ini kamu dapat dari mana lagi?"Tanpa mengatakan sepatah kata pun, aku hanya diam diselimuti dengan jas pengawal. Aku lalu menatap ke arah belakang Arman
Melihat kemarahanku yang keluar kata demi kata dari tenggorokan, para pejabat tinggi dan orang berkuasa di kerumunan makin diliputi kecurigaan."Ini ... jangan-jangan Thalia benar-benar istri sah? Kalau begitu yang selingkuh itu Mirabel, oh ... pantas saja pernikahannya nggak diumumkan ....""Lihat cara Armando menatap perutnya dengan perasaan bersalah, jangan-jangan anak itu memang miliknya ...."Suara bisik-bisik di aula makin keras, membuat wajah Armando makin terlihat bersalah.Sementara merasakan detak janin dalam perutku yang makin melemah, aku tidak ingin lagi terlibat dengan mereka, hanya ingin segera pergi dari sini."Armando! Sekarang, kembalikan Terry padaku, segera bawa aku ke rumah sakit. Selama bayi ini nggak apa-apa, aku nggak akan mempermasalahkan kejadian hari ini.""Kita berpisah secara damai ... cerai"Namun sebelum selesai berbicara, Flora melempar gelas ke kepalaku, pecahan kaca segera menggores pipiku.Dia berteriak keras, "Diam! Kata-kata orang gila seperti kamu
"Justru kamu pelakor yang merusak keluarga anakku!"Makian tajam Flora terdengar.Punggungku terhantam keras ke dinding, seluruh perutku tiba-tiba terasa terpelintir kesakitan.Bayi di pelukanku juga direbut dariku dan diserahkan ke tangan Mirabel.Tak lama kemudian, para anggota kepolisian juga ikut meradang,"Benar! Seluruh anggota kantor polisi tahu kalau Kak Mando dan Kak Mirabel itu pasangan!""Kalau bukan karena Kak Mirabel yang memberi petunjuk, bagaimana mungkin bisa memecahkan begitu banyak kasus besar, dan kenaikan jabatan Pak Armando bisa secepat itu?""Kamu mantan istri nggak berguna, cuma bisa jadi beban bagi Kak Mando, justru kamulah yang seharusnya malu!"Memberi petunjuk? Memecahkan kasus? Naik jabatan?Bukankah semua itu justru aku yang membantu Armando mendapatkannya?Bukan hanya merebut identitasku, Armando bahkan ingin menyerahkan semua jasa itu kepada Mirabel, memberinya kehormatan yang cemerlang.Atas dasar apa!"Benar! Sekalipun kamu gila, merusak pernikahan mili







