مشاركة

Bab 4

مؤلف: Nani
Melihat kemarahanku yang keluar kata demi kata dari tenggorokan, para pejabat tinggi dan orang berkuasa di kerumunan makin diliputi kecurigaan.

"Ini ... jangan-jangan Thalia benar-benar istri sah? Kalau begitu yang selingkuh itu Mirabel, oh ... pantas saja pernikahannya nggak diumumkan ...."

"Lihat cara Armando menatap perutnya dengan perasaan bersalah, jangan-jangan anak itu memang miliknya ...."

Suara bisik-bisik di aula makin keras, membuat wajah Armando makin terlihat bersalah.

Sementara merasakan detak janin dalam perutku yang makin melemah, aku tidak ingin lagi terlibat dengan mereka, hanya ingin segera pergi dari sini.

"Armando! Sekarang, kembalikan Terry padaku, segera bawa aku ke rumah sakit. Selama bayi ini nggak apa-apa, aku nggak akan mempermasalahkan kejadian hari ini."

"Kita berpisah secara damai ... cerai"

Namun sebelum selesai berbicara, Flora melempar gelas ke kepalaku, pecahan kaca segera menggores pipiku.

Dia berteriak keras, "Diam! Kata-kata orang gila seperti kamu juga bisa dipercaya!"

"Aku tegaskan di sini, Mira barulah menantu yang sah dinikahi Keluarga Ludos!"

"Yang diakui oleh hukum!"

Setelah berkata demikian, dia segera membuka tas Mirabel, mengeluarkan dua buku nikah yang masih baru, memperlihatkannya kepada semua orang.

Lalu, dia mencibir dan melemparkannya ke wajahku dengan kasar.

Seluruh ruangan kembali heboh, semua orang berbalik arah, memakiku sebagai wanita gila yang kejam.

Ketika aku benar-benar melihat dengan jelas nama Armando dan Mirabel serta cap merah yang mencolok itu di kolom pasangan, kepalaku segera berdengung.

Aku lalu tiba-tiba tertawa. Akhirnya aku mengerti kenapa selama beberapa tahun ini Armando selalu menolak aku kembali ke kawasan vila dengan alasan "khawatir".

Ternyata ... akulah yang menjadi wanita simpanan yang dipelihara di luar.

Sepertinya Mirabel sudah lama merebut Armando, sementara aku justru yang paling bodoh.

Aku makin tertawa makin keras, tubuhku tiba-tiba menegang. Aku lalu memuntahkan darah beku, dan darah di bagian bawah tubuhku mengalir makin deras.

Tubuh Armando segera bergetar, dia mendorong Mirabel dan hendak menyentuh perutku. "Tha ... Thalia ... aku ... aku bukan ...."

Melihat Armando mulai goyah, mata Mirabel seketika dipenuhi kebencian. Dia menunjuk darah yang terus mengalir dari tubuhku.

"Kak Thalia, warna darahmu nggak normal, kamu nggak mungkin menggunakan kantong darah palsu untuk sengaja membalas Mando, 'kan?"

Suaranya tersendat tepat pada waktunya. "Kak Thalia ... kumohon jangan seperti ini, pikirkan bayi dalam kandunganmu ...."

Sambil berkata, Mirabel mendekat sambil menggendong bayi, suaranya sangat pelan.

"Thalia, kamu belum tahu ya, Terry dari awal memang anakku ... hanya saja sempat kutitipkan padamu beberapa hari saja."

"Soal anakmu ... hehe!" Dia tersenyum jahat padaku.

Telingaku berdengung, seluruh tubuhku terpaku seketika, aku menatap wajah bayi dalam pelukannya.

Apa ... anak ini milik Mirabel?

Lalu, anakku di mana?

"Kamu apakan anakku!" Tersadar dari lamunan, aku seperti orang gila menerjangnya, mencengkeram dan merobeknya mati-matian. "Mirabel, wanita hina! Kamu apakan Terry! Kembalikan anakku!"

Mirabel berpura-pura ketakutan dan berteriak, "Mando, Kakak ... ingin membunuhku ...." Akan tetapi, matanya penuh perhitungan.

"Thalia! Kamu kenapa gila begitu!"

Wajah Armando berubah drastis. Dia menarik Mirabel menjauh, lalu dengan marah menendang perutku, membuatku terjatuh lemas di dekat dinding.

Seiring itu, bagian bawah tubuhku terasa robek hebat, darah mengalir deras, dan dari perutku muncul rasa sakit yang mengguncang jiwa.

Seolah setiap saraf dalam tubuhku diremas kuat oleh dua tangan kecil.

Seperti seluruh ususku akan terputus.

Namun yang lebih menyakitkan daripada nyeri di tubuhku adalah kata-kata Armando, keluar dari wajahnya yang menyeramkan seperti iblis.

"Berani menyakiti Mira, ini kamu yang memaksaku!"

"Seseorang! Di depan semua orang, lepas pakaiannya! Aku ingin lihat berapa banyak kantong darah yang dia sembunyikan!"

"Armando, berani kamu!" Aku batuk keras, berteriak dengan mulut penuh darah.

"Lihat saja aku berani atau nggak!"

Begitu dia selesai bicara, beberapa bawahannya segera maju lebih dulu.

Mereka langsung dengan kasar menarik dan merobek pakaianku.

"Berani kamu mengganggu Kak Mira, dipermalukan seperti ini memang pantas!"

Banyak tangan yang mulai menyentuh tubuhku.

"Pergi!"

Rasa sakit, malu, dan hinaan, keputusasaan yang belum pernah kurasakan menyelimutiku, suaraku serak.

"Aku adalah putri Victor dari Badan Keamanan Nasional! Kalian berani ...."

Seluruh orang di tempat itu tertawa terbahak-bahak.

Istri wakil kepala polisi mengejek dengan sinis, "Kamu kira kami bodoh? Semua orang tahu Pak Victor hanya punya satu anak laki-laki, dari mana datangnya anak perempuan?"

"Benar-benar orang bodoh yang mencari celaka sendiri, cepat keluarkan kantong darahmu! Siapa yang mau melihat tubuh telanjangmu!"

Para polisi itu juga ikut mencibir, "Orang gila memang pandai mengarang, ya?"

"Kalau kamu benar anak Pak Direktur, maka aku ini sudah jadi penguasa langit!"

Gerakan dalam perutku makin lemah.

Aku berjuang sambil hendak berteriak, "Bajingan! Aku memang ...."

Namun detik berikutnya, mulutku segera ditutup oleh Armando, dia menatapku dari atas dengan penuh ancaman.

"Kamu bukan! Pak Victor nggak mungkin punya anak perempuan gila seperti kamu!"

"Thalia, masih punya tenaga untuk berteriak, sepertinya perutmu juga nggak apa-apa!"

"Cepat lepaskan, setelah kantong darahnya ditemukan, kurung dia di ruang bawah tanah, biar dia merenung!"

Beberapa orang tersenyum licik. Pakaian musim panasku yang tipis robek dengan suara "sret!", memperlihatkan kulitku.

Aku menggertakkan gigi, mencengkeram erat potongan kain terakhir yang menutupi tubuhku.

Namun tangan-tangan kasar itu tetap menyerang tanpa perasaan, hatiku segera tenggelam ke titik paling dalam.

Di detik berikutnya, "Berhenti!"

Sebuah suara dingin dan tegas terdengar. "Anak perempuan Victor, coba kalian menyentuhnya lagi!"
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 8

    Keinginan kami pun akhirnya terkabul. Setengah bulan kemudian, kakakku benar-benar menemukan anakku yang diculik di sebuah desa nelayan terpencil.Hasil perbandingan DNA menunjukkan 99% bahwa dia adalah anak kandungku yang memiliki hubungan darah denganku.Aku begitu bersemangat sepanjang malam, menangis hingga mataku membengkak.Aku hanya menunggu Kakak membawa pulang anakku.Namun sialnya, saat baru keluar pintu untuk menyambut anakku, aku kembali melihat Armando di depan gerbang.Penampilannya sangat mengenaskan, tubuhnya kotor, berjanggut tak terurus, tatapannya kosong.Saat melihatku, kilasan emosi rumit muncul di matanya: penyesalan, ketidakrelaan, juga kesedihan.Dia terhuyung-huyung berlari ke arahku. Saat tiba di depanku, dia segera berlutut dengan bunyi "buk".Ayah segera menendangnya menjauh."Armando, aku peringatkan kamu cepat pergi! Jangan ganggu putriku lagi!"Para pengawal di sekitar segera bergerak hendak menyeretnya pergi, tetapi aku menghentikan mereka."Ayah ...."K

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 7

    Namun, melihat rambut putih yang tiba-tiba muncul di pelipis Ayah hanya dalam semalam, aku tidak melanjutkan bertanya apa pun lagi. Mungkin, kehilangan anakku juga adalah hal yang baik.Semua yang berkaitan dengan Armando akhirnya benar-benar terputus dengan tuntas.Hari-hari berikutnya, aku menjalani pemulihan di rumah sakit, Ayah dan Kakak menjagaku dengan sangat ketat.Armando berkali-kali mencoba muncul mencari perhatian, tetapi tidak pernah bisa mendekatiku sedikit pun.Bahkan saat tengah malam dia memanjat jendela, tetapi para pengawal yang khusus disewa Kakak sama sekali tidak berbelas kasihan.Mereka langsung mendorong Armando hingga terjun dari lantai empat.Selama dua bulan masa pemulihan, aku tidak pernah melihat Armando lagi.Hanya saja pada hari aku keluar dari rumah sakit, saat diantar Ayah dan Kakak naik ke mobil,Aku melihat sosok yang berdiri jauh di seberang jalan menatapku. Di bawah topi baseball, Armando sudah kurus hingga berubah bentuk.Berdiri jauh di balik tirai

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 6

    "Pak Victor, bukan seperti yang Anda lihat. Sebenarnya, sifat Thalia yang terlalu manja dan keras kepala. Aku hanya ingin mendidiknya, bukan sengaja menyiksanya. Bahkan kalau Anda nggak datang pun, aku juga akan membawanya ke rumah sakit ....""Putriku apa perlu kamu yang mengajari? Kamu ini makhluk hina macam apa!"Belum sempat Armando selesai berbicara, Ayah kembali menendangnya keras hingga terpental.Namun karena menahan air mata, mata Ayah menjadi merah darah.Menyadari kondisiku makin memburuk, Ayah memberi peringatan terakhir kepada Armando,"Berengsek! Kalau hari ini terjadi apa-apa pada Lia dan anaknya, jangan harap kamu bisa keluar hidup-hidup dari sini!"Ayah menggendongku hendak pergi.Sementara itu, aku mengabaikan suara bisik-bisik di sekitarku, hanya menatap tajam ke arah Flora, Mirabel, serta semua orang yang pernah menyakitiku.Dengan jelas aku berkata, "Tunggulah dan siap-siap menerima hukuman. Semua yang kalian lakukan padaku hari ini, akan kubalas berkali-kali lipat

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 5

    Belum sempat kalimat itu selesai diucapkan, pintu aula tiba-tiba ditendang hingga terbuka. Sekelompok pengawal berbaju jas hitam dengan wajah dingin segera menerobos masuk.Begitu mendengar suara tersebut, ekspresi wajah seluruh hadirin di ruangan menjadi pucat pasi.Mirabel dan Flora juga seketika kaku tak berani bergerak, mereka ingin menoleh.Namun kepala mereka sudah ditodong dengan senjata sehingga tak bisa bergerak.Para pengawal dengan cepat berdiri di depanku. Dalam beberapa gerakan, mereka segera melumpuhkan orang-orang yang mencoba merobek pakaianku.Kepala pengawal yang memimpin itu menatap tajam sekeliling, lalu akhirnya matanya berhenti menyorot ke arah Armando.Wajah Armando seketika berubah muram.Melihat aku yang tergeletak di lantai, dia berteriak marah, "Thalia! Apa yang kamu lakukan? Sudah cukup belum?""Orang-orang ini kamu dapat dari mana lagi?"Tanpa mengatakan sepatah kata pun, aku hanya diam diselimuti dengan jas pengawal. Aku lalu menatap ke arah belakang Arman

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 4

    Melihat kemarahanku yang keluar kata demi kata dari tenggorokan, para pejabat tinggi dan orang berkuasa di kerumunan makin diliputi kecurigaan."Ini ... jangan-jangan Thalia benar-benar istri sah? Kalau begitu yang selingkuh itu Mirabel, oh ... pantas saja pernikahannya nggak diumumkan ....""Lihat cara Armando menatap perutnya dengan perasaan bersalah, jangan-jangan anak itu memang miliknya ...."Suara bisik-bisik di aula makin keras, membuat wajah Armando makin terlihat bersalah.Sementara merasakan detak janin dalam perutku yang makin melemah, aku tidak ingin lagi terlibat dengan mereka, hanya ingin segera pergi dari sini."Armando! Sekarang, kembalikan Terry padaku, segera bawa aku ke rumah sakit. Selama bayi ini nggak apa-apa, aku nggak akan mempermasalahkan kejadian hari ini.""Kita berpisah secara damai ... cerai"Namun sebelum selesai berbicara, Flora melempar gelas ke kepalaku, pecahan kaca segera menggores pipiku.Dia berteriak keras, "Diam! Kata-kata orang gila seperti kamu

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 3

    "Justru kamu pelakor yang merusak keluarga anakku!"Makian tajam Flora terdengar.Punggungku terhantam keras ke dinding, seluruh perutku tiba-tiba terasa terpelintir kesakitan.Bayi di pelukanku juga direbut dariku dan diserahkan ke tangan Mirabel.Tak lama kemudian, para anggota kepolisian juga ikut meradang,"Benar! Seluruh anggota kantor polisi tahu kalau Kak Mando dan Kak Mirabel itu pasangan!""Kalau bukan karena Kak Mirabel yang memberi petunjuk, bagaimana mungkin bisa memecahkan begitu banyak kasus besar, dan kenaikan jabatan Pak Armando bisa secepat itu?""Kamu mantan istri nggak berguna, cuma bisa jadi beban bagi Kak Mando, justru kamulah yang seharusnya malu!"Memberi petunjuk? Memecahkan kasus? Naik jabatan?Bukankah semua itu justru aku yang membantu Armando mendapatkannya?Bukan hanya merebut identitasku, Armando bahkan ingin menyerahkan semua jasa itu kepada Mirabel, memberinya kehormatan yang cemerlang.Atas dasar apa!"Benar! Sekalipun kamu gila, merusak pernikahan mili

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status