Share

Bab 3

Penulis: Nani
"Justru kamu pelakor yang merusak keluarga anakku!"

Makian tajam Flora terdengar.

Punggungku terhantam keras ke dinding, seluruh perutku tiba-tiba terasa terpelintir kesakitan.

Bayi di pelukanku juga direbut dariku dan diserahkan ke tangan Mirabel.

Tak lama kemudian, para anggota kepolisian juga ikut meradang,

"Benar! Seluruh anggota kantor polisi tahu kalau Kak Mando dan Kak Mirabel itu pasangan!"

"Kalau bukan karena Kak Mirabel yang memberi petunjuk, bagaimana mungkin bisa memecahkan begitu banyak kasus besar, dan kenaikan jabatan Pak Armando bisa secepat itu?"

"Kamu mantan istri nggak berguna, cuma bisa jadi beban bagi Kak Mando, justru kamulah yang seharusnya malu!"

Memberi petunjuk? Memecahkan kasus? Naik jabatan?

Bukankah semua itu justru aku yang membantu Armando mendapatkannya?

Bukan hanya merebut identitasku, Armando bahkan ingin menyerahkan semua jasa itu kepada Mirabel, memberinya kehormatan yang cemerlang.

Atas dasar apa!

"Benar! Sekalipun kamu gila, merusak pernikahan militer itu tetap melanggar hukum!"

"Wanita murahan sepertimu, jangan lagi pura-pura jadi istri Pak Armando dan mengotori mata kami. Untung saja Pak Armando masih baik hati, kalau aku sudah ...."

Cacian keji di sekeliling terus berdatangan tanpa henti.

Di tengah hawa dingin yang menusuk ini, aku menatap pria yang berdiri di samping, yang seolah menjauhkan diri dari semuanya.

"Armando."

Suaraku lemah.

"Kamu yang jelaskan ... jabatan kepala polisi itu, sebenarnya bagaimana kamu dapatkan?"

Jari Armando tiba-tiba mengepal, dia memalingkan wajah dan menatapku dingin. Di tatapan yang biasanya datar itu bahkan muncul sedikit kebencian yang jarang terlihat.

Aku tertawa.

"Kamu bilang garis depan terlalu berbahaya, nggak ingin mempertaruhkan nyawa, ingin tetap aman di belakang, aku setuju."

"Setelah bertunangan, kamu bilang pangkatmu terlalu rendah, nggak pantas denganku, aku juga pergi memohon pada ayahku."

"Kamu merasa kasus terlalu rumit dan sulit dipecahkan, aku bergadang tanpa istirahat memberimu petunjuk, dan sekarang kamu malah ...."

"Cukup!"

Armando tiba-tiba berteriak marah.

Dia melangkah cepat dan segera mencekik leherku. Dengan mata memerah yang penuh amarah, dia berteriak padaku, "Kamu bicara omong kosong! Semua yang kumiliki hari ini adalah hasil perjuanganku sendiri, apa hubungannya denganmu yang nggak berguna ini?"

Leherku terasa nyeri. Rasa sesak yang luar biasa membuat pandanganku seketika gelap, sementara wajahku memerah kebiruan.

Akan tetapi, melihat aku begitu yakin, Armando justru makin tersulut emosi.

Para pejabat dan wanita bangsawan seolah mencium sesuatu yang janggal, lalu mulai berbisik-bisik.

Melihat itu, kilatan licik muncul di mata Mirabel. Dia segera berlutut sambil menggendong bayi, menangis pilu.

"Kak Thalia, selama ini kamu sering mengigau dan berbicara sembarangan, aku masih bisa menahan."

"Tapi di acara seperti hari ini, kalau kamu bicara sembarangan, itu benar-benar bisa menghancurkan masa depan Mando!"

"Aku mohon padamu, Kak, aku bersujud padamu, jangan mengamuk lagi, boleh?"

Mirabel merangkak beberapa langkah, mencengkeram ujung celanaku dan hendak membenturkan kepala berkali-kali ke tanah.

Armando terkejut, tangannya yang mencekik leherku segera terlepas, dia berjongkok hendak membantu Mirabel berdiri.

Namun detik berikutnya, Mirabel memeluk kakiku dan menyentaknya ke atas, lalu tubuhnya terlempar jatuh ke belakang.

Dia menjerit, "Ah! Kak Thalia, sekalian saja kamu tendang aku sampai mati!"

Sebelum aku sempat bereaksi, detik berikutnya tamparan histeris Armando sudah mendarat dengan keras.

"Thalia! Kamu nggak tahu diri!"

Pipi kananku terasa nyeri tumpul. Aku hendak membalas, tetapi pinggangku ditendang Flora dengan keras dari belakang.

Tanpa sempat menghindar, aku terpental dan menghantam rak pajangan antik.

Saat tubuhku terhuyung jatuh, perutku tersiksa oleh rasa sakit yang menusuk sampai ke tulang. Darah merah menetes dari sela kedua kakiku.

Dalam sekejap, darah merah membanjiri bawah tubuhku.

Aku terduduk di genangan darah, seluruh tubuhku terasa seperti hancur berkeping-keping.

"Perutku ... Armando ... perutku sakit ...." Air mata bercampur darah mengalir, aku mengulurkan tangan meminta tolong pada Armando.

Namun Flora justru menginjak tanganku dengan keras, membuatku kesakitan seperti tulangku akan hancur.

"Wanita murahan! Kamu masih pura-pura, anakku nggak akan terpengaruh olehmu!"

Air mataku mengaburkan pandangan, bibirku gemetar. "Armando ... aku nggak pura-pura ... cepat ... bawa aku ke rumah sakit ...."

Namun Armando bahkan tidak menoleh sedikit pun, hanya melindungi Mirabel dengan hati-hati, suaranya dingin tanpa perasaan.

"Cukup! Thalia, berhenti berpura-pura, cepat minta maaf pada Mira!"

"Kamu selalu memakai alasan anak, apa kamu pikir aku akan percaya?"

Sambil berkata demikian, Armando dengan marah menoleh, tetapi saat melihat darah pekat di bawah tubuhku, ekspresi jijiknya seketika runtuh, tergantikan oleh ekspresi ketakutan.

Armando tahu siapa diriku, dia tidak mungkin tinggal diam.

Mataku menatap tajam ke arah Armando yang panik. Menahan rasa sakit bagaikan perutku dicabik-cabik, aku menggertakkan gigi, dan berucap dengan penuh kebencian,

"Ar ... Mando! Kalau anak dalam kandunganku sampai terjadi apa-apa ... kamu ... sebagai Ayah kandungnya ...."

"... adalah pembunuhnya!"

"Ayahku, kakakku, pasti akan membuat seluruh Keluarga Ludos membayar dengan nyawa! Cepat! Bawa aku ke rumah sakit!"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 8

    Keinginan kami pun akhirnya terkabul. Setengah bulan kemudian, kakakku benar-benar menemukan anakku yang diculik di sebuah desa nelayan terpencil.Hasil perbandingan DNA menunjukkan 99% bahwa dia adalah anak kandungku yang memiliki hubungan darah denganku.Aku begitu bersemangat sepanjang malam, menangis hingga mataku membengkak.Aku hanya menunggu Kakak membawa pulang anakku.Namun sialnya, saat baru keluar pintu untuk menyambut anakku, aku kembali melihat Armando di depan gerbang.Penampilannya sangat mengenaskan, tubuhnya kotor, berjanggut tak terurus, tatapannya kosong.Saat melihatku, kilasan emosi rumit muncul di matanya: penyesalan, ketidakrelaan, juga kesedihan.Dia terhuyung-huyung berlari ke arahku. Saat tiba di depanku, dia segera berlutut dengan bunyi "buk".Ayah segera menendangnya menjauh."Armando, aku peringatkan kamu cepat pergi! Jangan ganggu putriku lagi!"Para pengawal di sekitar segera bergerak hendak menyeretnya pergi, tetapi aku menghentikan mereka."Ayah ...."K

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 7

    Namun, melihat rambut putih yang tiba-tiba muncul di pelipis Ayah hanya dalam semalam, aku tidak melanjutkan bertanya apa pun lagi. Mungkin, kehilangan anakku juga adalah hal yang baik.Semua yang berkaitan dengan Armando akhirnya benar-benar terputus dengan tuntas.Hari-hari berikutnya, aku menjalani pemulihan di rumah sakit, Ayah dan Kakak menjagaku dengan sangat ketat.Armando berkali-kali mencoba muncul mencari perhatian, tetapi tidak pernah bisa mendekatiku sedikit pun.Bahkan saat tengah malam dia memanjat jendela, tetapi para pengawal yang khusus disewa Kakak sama sekali tidak berbelas kasihan.Mereka langsung mendorong Armando hingga terjun dari lantai empat.Selama dua bulan masa pemulihan, aku tidak pernah melihat Armando lagi.Hanya saja pada hari aku keluar dari rumah sakit, saat diantar Ayah dan Kakak naik ke mobil,Aku melihat sosok yang berdiri jauh di seberang jalan menatapku. Di bawah topi baseball, Armando sudah kurus hingga berubah bentuk.Berdiri jauh di balik tirai

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 6

    "Pak Victor, bukan seperti yang Anda lihat. Sebenarnya, sifat Thalia yang terlalu manja dan keras kepala. Aku hanya ingin mendidiknya, bukan sengaja menyiksanya. Bahkan kalau Anda nggak datang pun, aku juga akan membawanya ke rumah sakit ....""Putriku apa perlu kamu yang mengajari? Kamu ini makhluk hina macam apa!"Belum sempat Armando selesai berbicara, Ayah kembali menendangnya keras hingga terpental.Namun karena menahan air mata, mata Ayah menjadi merah darah.Menyadari kondisiku makin memburuk, Ayah memberi peringatan terakhir kepada Armando,"Berengsek! Kalau hari ini terjadi apa-apa pada Lia dan anaknya, jangan harap kamu bisa keluar hidup-hidup dari sini!"Ayah menggendongku hendak pergi.Sementara itu, aku mengabaikan suara bisik-bisik di sekitarku, hanya menatap tajam ke arah Flora, Mirabel, serta semua orang yang pernah menyakitiku.Dengan jelas aku berkata, "Tunggulah dan siap-siap menerima hukuman. Semua yang kalian lakukan padaku hari ini, akan kubalas berkali-kali lipat

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 5

    Belum sempat kalimat itu selesai diucapkan, pintu aula tiba-tiba ditendang hingga terbuka. Sekelompok pengawal berbaju jas hitam dengan wajah dingin segera menerobos masuk.Begitu mendengar suara tersebut, ekspresi wajah seluruh hadirin di ruangan menjadi pucat pasi.Mirabel dan Flora juga seketika kaku tak berani bergerak, mereka ingin menoleh.Namun kepala mereka sudah ditodong dengan senjata sehingga tak bisa bergerak.Para pengawal dengan cepat berdiri di depanku. Dalam beberapa gerakan, mereka segera melumpuhkan orang-orang yang mencoba merobek pakaianku.Kepala pengawal yang memimpin itu menatap tajam sekeliling, lalu akhirnya matanya berhenti menyorot ke arah Armando.Wajah Armando seketika berubah muram.Melihat aku yang tergeletak di lantai, dia berteriak marah, "Thalia! Apa yang kamu lakukan? Sudah cukup belum?""Orang-orang ini kamu dapat dari mana lagi?"Tanpa mengatakan sepatah kata pun, aku hanya diam diselimuti dengan jas pengawal. Aku lalu menatap ke arah belakang Arman

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 4

    Melihat kemarahanku yang keluar kata demi kata dari tenggorokan, para pejabat tinggi dan orang berkuasa di kerumunan makin diliputi kecurigaan."Ini ... jangan-jangan Thalia benar-benar istri sah? Kalau begitu yang selingkuh itu Mirabel, oh ... pantas saja pernikahannya nggak diumumkan ....""Lihat cara Armando menatap perutnya dengan perasaan bersalah, jangan-jangan anak itu memang miliknya ...."Suara bisik-bisik di aula makin keras, membuat wajah Armando makin terlihat bersalah.Sementara merasakan detak janin dalam perutku yang makin melemah, aku tidak ingin lagi terlibat dengan mereka, hanya ingin segera pergi dari sini."Armando! Sekarang, kembalikan Terry padaku, segera bawa aku ke rumah sakit. Selama bayi ini nggak apa-apa, aku nggak akan mempermasalahkan kejadian hari ini.""Kita berpisah secara damai ... cerai"Namun sebelum selesai berbicara, Flora melempar gelas ke kepalaku, pecahan kaca segera menggores pipiku.Dia berteriak keras, "Diam! Kata-kata orang gila seperti kamu

  • Menyelusuri Jalan Hidupku   Bab 3

    "Justru kamu pelakor yang merusak keluarga anakku!"Makian tajam Flora terdengar.Punggungku terhantam keras ke dinding, seluruh perutku tiba-tiba terasa terpelintir kesakitan.Bayi di pelukanku juga direbut dariku dan diserahkan ke tangan Mirabel.Tak lama kemudian, para anggota kepolisian juga ikut meradang,"Benar! Seluruh anggota kantor polisi tahu kalau Kak Mando dan Kak Mirabel itu pasangan!""Kalau bukan karena Kak Mirabel yang memberi petunjuk, bagaimana mungkin bisa memecahkan begitu banyak kasus besar, dan kenaikan jabatan Pak Armando bisa secepat itu?""Kamu mantan istri nggak berguna, cuma bisa jadi beban bagi Kak Mando, justru kamulah yang seharusnya malu!"Memberi petunjuk? Memecahkan kasus? Naik jabatan?Bukankah semua itu justru aku yang membantu Armando mendapatkannya?Bukan hanya merebut identitasku, Armando bahkan ingin menyerahkan semua jasa itu kepada Mirabel, memberinya kehormatan yang cemerlang.Atas dasar apa!"Benar! Sekalipun kamu gila, merusak pernikahan mili

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status