Share

Bab 5

Author: Juju
Aku membeku. Meskipun aku ingin bercerai dari Alvaro, di dunia kami, menghilang tidak pernah semudah tersesat.

“Bagaimana dia bisa menghilang?” Suaraku menjadi dingin, nada yang hanya kugunakan saat mengancam.

Melisa terisak dan berkata, “Alvaro hampir memenangkan kejuaraan, tapi kemudian, mobil balap biru di belakangnya tiba-tiba meningkatkan kecepatan. Tidak hanya sengaja menghentikan mobilnya, tetapi juga menjulurkan kepalanya keluar jendela sambil menodongkan pistol.”

“Untuk menghindari peluru, dia harus membanting setir, menyimpang dari jalur semula dan berbelok ke jalan setapak terbengkalai di sebelah timur... dan mobil itu mengikutinya!”

Aku merasakan sakit kepala tiba-tiba menyerang, wajahku pucat pasi. “Berhenti menangis! Daripada menangis, pikirkan cara untuk menyelamatkannya!”

Teman-teman Alvaro berdiri di depan Melisa, menatapku dengan marah.

“Kenapa kamu berteriak pada Melisa? Tidak ada yang menyangka ini akan terjadi malam ini. Jalan itu penuh batu kerikil, mobil biasa bahkan tidak bisa melaju sampai dua meter. Kita hanya bisa menunggu bantuan profesional... Raina, apa yang mau kamu lakukan?”

Aku sudah masuk ke dalam mobil. Mesin menderu dan aku memakai sarung tangan. Tatapan mataku setenang air.

“Menunggu tidak akan menyelamatkannya,” kataku sambil mengganti gigi. “Kecuali kalian semua berencana membawa Alvaro pulang dalam kantong mayat.”

Setelah mengatakan itu, mobil balapku melesat seperti anak panah.

Semua orang terkejut dan tertegun untuk waktu yang lama.

“Dia sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang belum pernah mengendarai mobil balap... Apa kita salah paham padanya?”

Mereka tidak memperhatikan jari-jari Melisa yang mencengkeram telapak tangannya, tatapannya dipenuhi rasa iri saat dia melihat ke arahku.

Aku dengan cepat menemukan jalan setapak yang tersembunyi di balik rerumputan.

Dahulu, tempat ini merupakan jalur darurat bagi konvoi penyelundupan mafia zaman dulu.

Sekarang, bagi siapa pun yang tidak menyadari bahayanya, tempat ini adalah jebakan maut.

Untungnya, aku mengerti.

Aku menginjak pedal gas dengan keras, mengikuti jejak ban yang samar-samar terlihat, dan melaju ke gang.

Kenapa aku mau menyelamatkan Alvaro? Alasannya sederhana.

Pertama, lintasan balap ini atas namaku. Jika Alvaro sampai terkena masalah di sini, Keluarga Munandar pasti akan mempersulitku.

Kedua, karena aku juga berutang nyawa pada Alvaro.

Bertahun-tahun lalu, tak lama setelah aku kembali ke Keluarga Ashari, aku diculik oleh musuh bebuyutan Keluarga Ashari.

Orang tuaku sibuk mengadakan pesta ulang tahun untuk adikku dan bahkan tidak menjawab panggilan telepon untuk menebusku.

Alvaro yang melakukannya.

Dia merobohkan dinding gudang untuk menemukanku, dia tertembak di punggung, pelurunya dekat jantungnya.

Dia hampir mati.

Utang itu bukan lelucon, harus dilunasi.

Aku tidak tahu berapa lama aku mengemudi, tetapi aku melihat puing-puing mobil lebih dulu.

Serpihan logam ditemukan di sekitar pohon yang mati. Asap tebal mengepul ke atas.

Alvaro tergeletak lemas di atas kemudi, tak sadarkan diri, darah mengalir di pelipisnya.

Tangki bahan bakarnya... astaga, terbakar.

Aku menarik pintu mobilnya hingga terbuka, meraih bahunya dengan lenganku, dan menyeretnya keluar.

Matanya yang tertutup rapat tiba-tiba bergerak, bergumam pada dirinya sendiri, “Melisa, ketika aku mendapatkan kalung itu... aku akan memberikannya padamu.”

Senyum pahit tersungging di sudut mulutku.

“Alvaro, apa kamu rela mempertaruhkan nyawamu untuk menyenangkan Melisa?”

Dia tidak menjawabku.

Tepat saat itu, suara mesin terdengar dari belakang.

Itu mobil balap biru, dia menemukan kami.

Aku mendorong Alvaro ke kursi penumpang mobilku, masuk ke dalam, dan memundurkan mobil. Bumper mobil si pembunuh menabrak kami dengan keras di posisi semula.

Aku mengeluarkan pistol yang telah kusiapkan sebelumnya, menarik pelatuknya, dan menembakkan peluru langsung ke tangki bahan bakarnya.

Dengan suara keras, penutup depan mobil balap biru itu meledak, mengeluarkan asap tebal.

Tetapi bajingan itu belum selesai. Sebuah peluru menembus kaca dan mengarah tepat ke dada Alvaro.

Saat itu, aku tidak memikirkan apa pun.

Aku hanya bergerak, melindungi Alvaro dengan tubuhku seperti perisai manusia.

Peluru itu mengenai bahuku, dan rasa sakit yang tajam langsung terasa.

Aku menarik napas dingin, mengangkat pistol lagi, dan menembakkan semua peluru yang tersisa di magazin ke arah si pembunuh sampai dia roboh ke tanah, tak bergerak.

Baru setelah kekacauan mereda aku menyadari ada darah yang menetes di lenganku.

Penglihatanku mulai kabur.

Tetapi Alvaro masih hidup.

Seperti halnya dia menyelamatkanku, aku menyelamatkannya.

Aku mencengkeram erat kemudi dengan tanganku yang tak terluka dan memacu mobil, mengemudikannya kembali ke lintasan balap dengan sekuat tenaga.

Ketika orang-orang melihatku berlumuran darah, mereka terkejut dan hanya bisa ternganga.

Aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk mendorong Alvaro ke arah Melisa, suaraku begitu lemah hingga hampir tak terdengar.

“Katakan pada Alvaro, aku telah membalas nyawa yang kuhutang padanya…”

Setelah bicara, pandanganku menjadi gelap dan aku pingsan.

……

Ketika aku terbangun lagi, aku sudah terbaring di ranjang rumah sakit.

Luka tembak di bahuku sudah diobati.

Tanpa sadar aku bertanya, “Di mana pria yang dibawa ke sini bersamaku?”

Seorang perawat menuntunku ke bangsalnya.

Namun ketika aku berjalan ke pintu bangsal, aku mendengar teman Alvaro berkata, “Alvaro, kali ini kamu selamat berkat Melisa yang mempertaruhkan keselamatannya sendiri untuk menyelamatkanmu, kamu harus membalas budinya dengan baik!”

Jantungku langsung berhenti berdetak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menyerahkan Gairahnya Padanya   Bab 20

    Aku mengikuti orang tuaku kembali ke Negara Yila.Kami menetap di kota kecil yang indah.Kehidupan terasa bahagia dan damai hingga seorang teman berkunjung dan dengan ragu bertanya, “Raina, setelah kamu pergi, apa kamu mendengar kabar tentang Alvaro?”Aku menggelengkan kepala dengan lembut.Jika tidak ada yang menyebutkannya, aku hampir melupakannya.“Tidak lama setelah kamu pergi, Keluarga Munandar dan Keluarga Ashari tidak dapat bertahan lebih lama dan bangkrut.”“Alvaro tidak dapat menerima pukulan seperti itu dan menjadi gila. Dia sering duduk di kantor sambil memegang jaket wanita, menggumamkan nama, tetapi tidak ada yang bisa memahami kata-katanya.”“Aku tahu, dia merindukanmu.”“Beberapa bulan kemudian, dia dibunuh oleh musuh-musuhnya. Sebelum meninggal, dia menggenggam sesuatu erat-erat di tangannya, cincin pernikahan.”Aku terkejut sejenak. Aku ingat cincin itu adalah perhiasan peninggalan yang diwariskan dari generasi ke generasi di Keluarga Munandar.Saat melamar, dia mengat

  • Menyerahkan Gairahnya Padanya   Bab 19

    Wajah Alvaro mendadak pucat. Dokter itu tergagap-gagap mengungkapkan kebenaran, lalu buru-buru menjelaskan, “Ketua, Nyonya melarang saya memberi tahu Anda.”Pada saat ini, dia akhirnya menyadari bahwa aku sudah mempertimbangkan perceraian saat itu.Dia tidak berani memikirkannya, apalagi menerimanya.Pada saat ini, harga dirinya sebagai Ketua Keluarga Munandar hancur total. Mengabaikan upaya para penjaga untuk menghentikannya, dia menyerbu ke arahku, berantakan dan kelelahan, ditemani oleh anak buah Keluarga Munandar. Dia tidak lagi terlihat seperti Ketua Grup Munandar, dia lebih mirip pengemis di jalanan.Kali ini, aku tidak mengusirnya.Aku menatapnya, suaraku tenang dan datar, “Ada apa mencariku?”Alvaro tidak menyangka aku akan setenang ini. Jakunnya naik-turun beberapa kali sebelum akhirnya dia bicara, suaranya serak dan nadanya memohon, “Raina, maafkan aku, ya? Aku sudah tahu kebenarannya sekarang, kamulah yang menyelamatkanku...”“Kamu sebenarnya tidak ingin bercerai denganku,

  • Menyerahkan Gairahnya Padanya   Bab 18

    Alvaro merasa seperti seseorang telah menuangkan seember air es ke atas kepalanya, membuatnya kedinginan sampai ke tulang.Dia mengepalkan tinjunya, buku-buku jarinya memutih, suaranya bergetar karena tak percaya, “Apa kamu bilang? Ulangi lagi!”Teman Alvaro berkata dengan suara gemetar, “Pada hari kamu diserang, Raina seorang diri menyelamatkanmu dari pembunuh bayaran itu. Ketika dia membawamu keluar, kamu berlumuran darah, dan dokter bilang dia tertembak di bahu...”Wajah Melisa memucat, dia langsung berteriak, “Bukan seperti itu!”“Alvaro, akulah yang menyelamatkanmu, bukan Raina!”Alvaro sedikit menyipitkan matanya dan berkata, “Kalau begitu katakan padaku, berapa banyak pembunuh bayaran yang ada di sana hari itu?!”Melisa terkejut, dan sedetik kemudian dia buru-buru berkata, “Du... dua!” Mobil balap itu hanya bisa menampung dua orang, jadi dia tidak punya pilihan selain mengambil risiko.Perasaan buruk baru muncul dalam dirinya ketika ekspresi Alvaro berubah dingin.Jejak terakhi

  • Menyerahkan Gairahnya Padanya   Bab 17

    Begitu aku selesai bicara, suasana di dek kapal hening sejenak, lalu meledak dengan tawa.Teman Alvaro menunjukku, tertawa terbahak-bahak hingga membungkuk. “Hanya orang desa sepertimu yang berani mengucapkan omong kosong seperti itu. Kamu mungkin sudah kehilangan akal sehat setelah menjadi simpanan pria!”Ibu kandungku mengerutkan kening, suaranya tajam, “Ketua dari Kru Bajak Laut Pasifik hampir tiba. Jangan sampai kita terbunuh karena omong kosongmu, atau kamu akan dilempar ke laut untuk memberi makan ikan!”Melisa yang entah bagaimana berhasil menyelinap di samping Alvaro, meraih lengannya dan berkata dengan suara lemah, “Kakak, aku tahu kamu kesal, tapi kamu tidak bisa bercanda tentang hal seperti ini. Alvaro sudah lama mencarimu. Tolong ikut kembali bersama kami, ya? Jangan permalukan dirimu di sini.”Wajah Alvaro berubah muram dan dia berkata, “Jangan membuat keributan!”Dia melambaikan tangannya, dan dua anak buahnya segera melangkah maju, mengulurkan tangan untuk meraih lengank

  • Menyerahkan Gairahnya Padanya   Bab 16

    Aku telah menyaksikan pertunjukkan itu tidak jauh dari sana.Awalnya, tidak ada yang mengenaliku, sampai seorang tamu yang jeli memperhatikan jam tangan buatan khusus di pergelangan tanganku dan berbisik, “Gadis muda ini tampak tidak asing. Anak siapa dia?”“Sepertinya dia datang bersama penilai aset itu, ‘kan? Aku melihat mereka berdiri bersama tadi.”“Mungkin dia asisten? Tapi temperamen dan pakaiannya tidak seperti asisten biasa…” Bisikan-bisikan itu sampai ke telinga orang tua kandungku. Ibu kandungku menyipitkan mata, tetapi ketika melihat wajahku dengan jelas, dia menarik ayah kandungku dan bergegas menghampiriku.“Raina! Aku tahu kamu sedang merencanakan sesuatu. Di mana kamu selama ini?”Ibu kandungku mencengkeram lenganku, kukunya hampir menusuk dagingku, suaranya melengking dan menusuk, “Apa kamu yang menyuruh pria itu membujuk Kru Bajak Laut Pasifik untuk mengakhiri kerja sama?!”Aku menepis tangannya, mengerutkan kening dan berkata tanpa ekspresi, “Lepaskan!”Ibu kandungku

  • Menyerahkan Gairahnya Padanya   Bab 15

    Ekspresi Alvaro berubah.Kemudian panggilan telepon dari ayah kandungku membuat ponselnya berdering, dan detik berikutnya dia berteriak.“Alvaro, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Kru Bajak Laut Pasifik tiba-tiba membatalkan kerja sama mereka dengan Keluarga Ashari?!”“Mereka bahkan meminta kita mengembalikan semua uang muka untuk proyek itu!”Kru Bajak Laut Pasifik adalah mitra terbesar Keluarga Ashari dan Keluarga Munandar, sebuah kemitraan yang dibangun selama bertahun-tahun, dengan kepentingan yang terjalin erat dengan fondasi keluarga mereka.Penghentian kerja sama secara tiba-tiba akan membuat keduanya berisiko bangkrut.Mereka mengabaikan upaya bunuh diri Melisa, dan malah fokus pada negosiasi dengan Kru Bajak Laut Pasifik.Mereka berharap dapat menyelamatkan kerja sama dengan klien utama ini.Pada saat yang sama, para anak buahnya juga memiliki hasil investigasi terbaru.“Ketua, kami telah menemukan bahwa pemilik kapal itu adalah orang yang misterius dan kaya raya. Itu kapal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status