LOGINVanesha duduk bersedekap di sudut kafe dengan muka ditekuk. Gadis cantik berambut panjang itu menatap marah pada Mili yang ada di seberang meja.
“Gila! Sebenernya apa, sih, yang kamu lakuin ke dia sampai dia ngehubungin keluargaku buat komit lanjut perjodohan?” Vanesha berkata cepat, menahan geram.
“Aku gak—"
“Pokoknya, aku gak mau tahu!” Vanesha langsung memotong ucapan Mili dengan tak sabar. “Kalian harus bertanggung jawab! Balikin duit 30 juta itu sekarang atau kalian urus si Jonatahan itu!” ujarnya ketus.
Mili gemetaran. Panik, takut, semua jadi satu. Ia tak mungkin meminta kembali uang yang sudah dikirimnya ke kampung.
Gadis itu melirik Julia yang duduk di sampingnya. Kawannya tersebut duduk bersilang kaki sambil memijat dahi.
“Aku gak ada juga duit segitu. Baru kemaren aku bayar sewa apartemen sama cicilan mobil.” Julia berbisik pada Mili.
“Bereskan!” Vanesha melempar ponselnya yang menyala ke meja kafe. Di layar ponselnya tampak sebuah email yang rupanya dikirim pihak Jonathan. Dalam email tersebut, tertera sebuah alamat yang akan menjadi tempat pertemuan kedua.
“Pokoknya kalau kalian gak bisa batalin perjodohan ini atau balikin uang tiga puluh juta sekarang, pengacaraku yang bakal turun tangan urus kalian!” cetus Vanesha sengit. Ia langsung bangkit berdiri, menyambar ponselnya di meja, lalu menambahkan dengan nada menuntut, “Aku kirim alamatnya ke Julia. Pergi selesaikan sekarang, atau siap-siap aja terima akibatnya!”
Mili terhenyak, begitu pula Julia.
Julia sendiri takut kariernya meredup jika bersitegang dengan Vanesha. Padahal selama ini, ia banyak mendapat endorse dan job karena hubungan baiknya dengan gadis kaya itu. Sebagai mantan penata rambut kepercayaan Vanesha, ia telah mendapat banyak koneksi. Dan ia tak ingin semuanya menjadi buruk karena masalah ini.
“Aku gak nyalahin kamu, Mil. Toh, ini juga ada andilku. Aku yang ngasih kerjaan ini ke kamu,” ucap Julia demi mendengar kata maaf yang kesekian kali dari Mili.
“Karena uang itu udah terlanjur habis, kita gak ada pilihan lain selain menuntaskan misi ini. Tapi sekarang, kamu harus pastiin semuanya berakhir. Kita harus evaluasi dulu kencan waktu itu agar kencan kali ini berhasil kita gagalkan.”
Mili mengangguk. Keduanya bertatapan penuh tekad.
***
Mili diantar Julia hingga pelataran sebuah hotel bintang lima. Kencan kali ini konon berupa makan malam romantis di restoran yang ada di dalam hotel tersebut.
“Juuull!” Mili meremas jari jemarinya yang sudah dingin dan licin karena keringat. Ia begitu tegang. Takut jika rencana yang sudah disusunnya bersama Julia kembali gagal.
“Kamu pasti bisa, Mil. Kerahkan semua kemampuanmu. Ini menyangkut hidup dan mati kita!” ucap Julia serius.
Mili menggigit bibir. Ia belum juga mau turun dari mobil.
Sejujurnya, selain takut misi gagal, ia juga takut bertemu Jonathan. Pertemuan terakhir mereka benar-benar sukses membuat Mili terus menerus bergidik gara-gara pria itu mendadak berubah agresif.
Julia berteori, alasan Jonathan ingin melanjutkan perjodohan adalah karena penampilan Mili.
“Fetishnya si Jonathan itu yang modelan mbak-mbak biduan dangdut kayaknya. Makanya liat kamu seksi aduhay mendadak gragas. Anunya yang biasa loyo mendadak on. Itu sebabnya dia minta ketemu lagi.”
Mili seketika merinding mengingat ucapan Julia kemarin.
“Aku takut diapa-apain, deh!” celetuk Mili tiba-tiba sambil menyilangkan dua tangan di dada.
“Tenang. Aku tungguin kamu. Kalau dia macem-macem, langsung telepon. Udah sana! Biar cepet kelar.”
Mili mengangguk dan turun dari mobil. Sebelum melangkah, mulutnya komat-kamit merapalkan doa-doa agar semua lancar. Ia juga merapikan dulu dress panjang hitamnya. Ya, hari ini ia tak memakai pakaian seronok lagi. Malah serba tertutup. Riasan pun tak semedok sebelumnya meski tetap saja terbilang menor.
Sesuai keyakinan Julia bahwa Jonathan tertarik karena penampilan seksi Mili sebelumnya, maka kali ini gadis itu didandani dengan gaya lain.
Mili melangkah menuju restoran dengan jantung berdegup liar. Kakinya serasa kebas saat jarak ke tempat pertemuannya dengan pria itu semakin dekat.
“Ya Tuhan, kenapa ruang private lagi,” keluh Mili ketika diantar pelayan restoran ke tempat kencan keduanya itu.
Saat pintu terbuka, Jonathan sudah datang lebih dulu. Pria itu duduk bersilang kaki sambil menghidu secangkir kopi. Alisnya langsung terangkat ketika melihat Mili masuk ke ruangan.
“Hai,” sapa Mili datar, ogah-ogahan. Sikapnya bertolak belakang dengan pertemuan pertama kemarin yang penuh aura centil.
“Senang bertemu lagi.” Jonathan balas menyapa. Sebaliknya, pria itu bersikap lebih ramah dari sebelumnya.
“Aku gak senang bertemu denganmu lagi!” sahut Mili blak-blakan. Berjalan malas menuju kursinya. Tak disangka, Jonathan tiba-tiba bangkit, lalu menarik kursi untuk Mili dengan gaya selayaknya gentleman.
Mili sampai memutar tubuhnya dengan mata membelalak. Menatap Jonathan seakan-akan melihat matahari terbit dari barat.
Jonathan tersenyum tipis, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit. Begitu sopan dan penuh respek. Namun, sikap Jonathan yang seperti itu malah membuat Mili semakin merinding.
Jonathan kembali ke kursinya setelah memastikan Mili duduk. Pria itu menepuk tangan dua kali dan pintu ruangan private langsung terbuka. Makanan pembuka yang begitu cantik-cantik dan menggugah selera datang.
Tetapi kali ini, Mili tak tergiur sama sekali. Gadis itu tengah bersikap waspada.
“Kita makan dulu. Bukankah kamu suka makan?” ucap Jontahan. “Kenapa?” tanya pria itu kemudian demi melihat Mili yang diam saja dan malah menatapnya penuh curiga.
“Apa makanannya gak sesuai seleramu? Mau aku pesankan yang lain?”
Mili menggeleng cepat. Ia mulai gelisah melihat segala perubahan Jonathan yang menurutnya sangat aneh itu.
“Langsung saja! Aku bersedia datang lagi menemuimu untuk menegaskan kalau kita gak cocok. Kamu bukan tipeku dan aku yakin aku juga bukan tipemu sama sekali. Tolong! Kamu jangan hubungi aku lagi. Aku sama sekali gak tertarik sama kamu! Kalau kita lanjutkan, gak cuma aku yang akan menderita. Kamu juga. Memang kamu mau punya hubungan yang toksik yang isinya hanya menderita?” Mili tak mau berbasa-basi. Ia bicara penuh api-api.
Jonathan menghela napas panjang, lalu menegakkan tubuhnya. Ia keluarkan sebuah kartu dari dalam saku kemeja. Lalu, disorongkannya kartu yang tak lain adalah kunci hotel tersebut ke hadapan Mili.
“Apa ini?” tanya Mili.
“Bukankah masalahmu padaku hanya karena aku belum berpengalaman soal ranjang?”
“Lalu?” tanya Mili lagi. Dua alisnya bertaut.
“Walaupun mungkin aku belum berpengalaman, tapi aku bisa belajar dengan baik. Ayo kita lakukan sekarang. Aku akan berusaha memuaskanmu. Aku sudah pesankan kamar suite di hotel ini untuk kita.”
GUBRAAAAKKK!
Mili tiba-tiba terjungkal dari kursinya saking syok mendengar ucapan Jonathan. Matanya melotot dengan mulut menganga lebar.
Jonathan refleks berdiri. Menghampiri Mili yang terkapar di lantai. Ia mencoba meraih tangan gadis itu, hendak membantu. Namun tak disangka, Mili malah berguling-guling menjauh. Tak sudi terkena sentuhan Jonathan!
“Jangaaaann!” Mili langsung menyilangkan dua tangan di dadanya. Ia tak bisa untuk berpura-pura santai lagi. Dengan perangai yang selalu memberi kesan buruk dari pria itu, Mili takut tiba-tiba diseret ke kamar yang sudah dipesan.
Jonathan mengernyit melihat tingkah Mili. Ia semakin mendekat dan akhirnya berhasil meraih tangan Mili. Terang saja gadis itu sontak menjerit.
“Neneeeeeekkk! Gak mauuuuu!”
“Kamu kenapa?” Jonathan berjongkok di depan Mili yang berusaha bangkit duduk. Pria itu bertanya dengan alis menukik.
“Jangan seret aku ke kamar hotel!”
“Aku hanya ingin menolongmu,” jawab Jonathan. Keduanya bertatapan sejenak, lalu tak lama pria itu terkekeh. Wajah merah padam penuh ketakutan Mili membuatnya geli. Entah kemana sikap petantang-petenteng sok centil menyebalkan gadis itu.
Mili buru-buru menepis kasar tangan Jonathan, lalu berdiri.
“Aku mau pulang! Pertemuan kita selesai sampai di sini dan gak ada pertemuan-pertemuan berikutnya lagi! We’re done!” Mili setengah berteriak, lalu memalingkan wajah dan bergegas menuju jalan keluar. Namun, tangan Jonathan terulur lebih cepat. Pria itu menahan pintu, menjegal langkah Mili.
“Mau apa kamu?” Mili melotot.
“Kenapa buru-buru? Kamu bahkan belum menghabiskan makan malammu,” ujar Jonathan dengan sangat tenang. Seakan-akan tak ada yang terjadi sama sekali.
“Urusan kita sudah selesai! Minggir!” bentak Mili seraya mendorong Jonathan agar tak menghalangi jalannya.
“Kata siapa?” Jonathan bergeming. Satu tangannya meraih pinggang Mili hingga tubuh keduanya beradu. Mili menjerit tertahan berusaha berontak. Apalagi saat wajah pria itu merunduk mendekat ke telinganya. Geli!
“Urusan kita belum selesai … Mili,” bisik Jonathan.
***
Julia sudah pergi sejak pagi buta untuk urusan pekerjaan, lalu akan lanjut berpesta bersama Vanesha demi merayakan batalnya perjodohan. Pihak Jonathan memang sudah resmi mengonfirmasi tak akan melanjutkan kencan tersebut.Mili yang sempat diajak memilih menolak. Bukan tak mau ikut bersenang-senang, melainkan karena ia teringat janjinya dengan Jonathan. Pukul satu siang nanti, ia harus menghadap keluarga besar pria itu.Sungguh, sampai detik ini pun Mili masih tak percaya kalau dirinya resmi berstatus sebagai pacar Jonathan. Saking absurdnya kenyataan ini, ia bahkan belum berani membuka mulut pada Julia.“Ya Tuhan! Kapan penderitaan ini berakhir?” keluh Mili meremat rambutnya frustrasi seraya menatap tanktop merah dan rok leopard di dalam lemari.Dengan malas, Mili memaksakan diri bersiap. Pukul satu siang tinggal hitungan jam. Berbekal video tutorial di internet, ia mulai memoles riasan bold di wajahnya. Namun, begitu menatap cermin, hasilnya justru membuat ia menjerit ngeri.“Astaga!
“Dilarang ada sentuhan fisik?” Jonathan mengulang ucapan Mili dengan seringai lebar yang terkesan meremehkan.Mili mengangguk mantap. Ia harus membangun benteng keamanan tingkat tinggi. Setelah berkali-kali berhadapan langsung dengan Jonathan, Mili mulai meragukan rumor burung yang beredar. Ia malah meyakini jika gosip soal pria itu tak suka wanita atau mengalami disfungsi seksual jelas bohong belaka! Tatapan serta gerak-geriknya terlalu berbahaya untuk ukuran pria yang dikabarkan impoten dan ‘tidak bernafsu’.Mili merinding membayangkannya. Tak boleh! Ia tak akan membiarkan tangan pria sombong itu menjamah tubuhnya walau seinci pun!“Kamu sebelumnya selalu membicarakan ranjang. Bukankah itu artinya kamu suka sentuhan laki-laki?” tanya Jonathan seraya menaikkan satu alis.“Suka. Tapi bukan sama kamu!” jawab Mili asal.“Hmmm. Begitu?” Jonathan manggut-manggut. “Tapi … kalau gak sentuhan fisik, mana percaya orang-orang pada hubungan kita?”“Orang-orang?” Mili langsung menyela.“Kenapa o
Mili?Ruangan private itu mendadak seperti kehabisan oksigen. Mili tak bisa bernapas. Sesak! Matanya membeliak. Tubuhnya lemas seketika saat bisikan halus Jonathan menyebut namanya. Nama aslinya!Jonathan menegakkan tubuhnya dengan seringai tipis di bibir. Pria itu menunduk, menatap Mili yang sepucat mayat dengan raut penuh kemenangan.“Ternyata memang harus pakai cara begini supaya kamu bisa diam dan menurut,” ucap Jonathan mundur selangkah seraya perlahan melepaskan kungkungan tangannya dari tubuh Mili.“K-kamu...!” Lidah Mili mendadak kelu, kata-katanya tertahan di tenggorokan.“Ya, Mili.” Jonathan kembali mengeja nama itu dengan artikulasi yang begitu jelas.“Jadi... kamu sudah tahu kalau aku bukan Vanesha?!” tanya Mili. Suaranya dibuat setegas mungkin walaupun dalam hati sudah histeris setengah mati. Penyamarannya terbongkar total!Jonathan hanya mengangguk sekilas, lalu melangkah kembali ke kursinya. Pria itu duduk anggun, menyilangkan kakinya yang panjang dengan gerakan elegan.
Vanesha duduk bersedekap di sudut kafe dengan muka ditekuk. Gadis cantik berambut panjang itu menatap marah pada Mili yang ada di seberang meja.“Gila! Sebenernya apa, sih, yang kamu lakuin ke dia sampai dia ngehubungin keluargaku buat komit lanjut perjodohan?” Vanesha berkata cepat, menahan geram.“Aku gak—"“Pokoknya, aku gak mau tahu!” Vanesha langsung memotong ucapan Mili dengan tak sabar. “Kalian harus bertanggung jawab! Balikin duit 30 juta itu sekarang atau kalian urus si Jonatahan itu!” ujarnya ketus.Mili gemetaran. Panik, takut, semua jadi satu. Ia tak mungkin meminta kembali uang yang sudah dikirimnya ke kampung.Gadis itu melirik Julia yang duduk di sampingnya. Kawannya tersebut duduk bersilang kaki sambil memijat dahi. “Aku gak ada juga duit segitu. Baru kemaren aku bayar sewa apartemen sama cicilan mobil.” Julia berbisik pada Mili.“Bereskan!” Vanesha melempar ponselnya yang menyala ke meja kafe. Di layar ponselnya tampak sebuah email yang rupanya dikirim pihak Jonat
Seluruh darah di tubuh Mili rasanya mendadak tersedot habis ke telapak kaki. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai serasa hendak melompat keluar dari dada, sementara kedua lututnya mendadak lembek seperti jeli. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria yang mengajaknya melangkah sejauh ini!"P-pesan... k-kamar?!" bisiknya gelagapan, matanya membelalak ngeri.Jonathan mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangan. "I-itu... nggak bisa," jawab Mili terbata sambil terkekeh canggung. Berusaha untuk tetap tampil tenang. "Aku... aku masih ada janji party sama teman-teman setelah ini." "Oh?" Jonathan mengangguk pelan, seolah memahami. "Kamu bisa datang ke partymu setelah kita selesai.”Mata Mili semakin membelalak lebar. "Hah?!""Gimana?" tantang Jonathan. Pria itu makin mengikis jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.Jantung Mili serasa mau meledak. Karena panik setengah mati, ia refleks memejamkan mata rapat-rapat. Takut!Dalam kegelapan yang dipaksakan itu, aroma parfum
Pria yang membuat wawancaranya gagal juga pria yang ia siram di mall adalah pasangan kencan buta pura-puranya?!Apakah Jakarta tak punya penduduk laki-laki selain orang itu?!Mili terperangah tak percaya. Optimisme yang tadi membumbung mendadak menguap.‘Jangan-jangan dia masih ingat aku?’ batin Mili panik.Namun dugaan itu sedikit memudar ketika Jonathan justru mempersilahkannya duduk tanpa menunjukkan reaksi berarti."Tak masalah, silakan duduk," ujar Jonathan tenang, meski kilat terkejut sempat melintas di matanya saat melihat penampilan Mili."O–oke."Mili menghembuskan napas lega sambil duduk di kursinya. Mungkin karena riasannya terlalu menor dan penampilannya sekarang jauh berbeda dari saat mereka bertemu siang tadi.Rasa lega itu perlahan mengembalikan kepercayaan dirinya.Lagi pula, tujuan Mili datang ke sini hanya satu, yaitu membuat Jonathan membatalkan kencan buta ini dan membawa pulang 30 juta rupiah. Ia melirik Jonathan yang sedang meraih gelas mocktailnya.Mili, kamu pa







